Pengendalian Scorpionida Secara Biologi dan Kimia

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Berkembangnya, meluasnya, dan timbulnya kembali penyakit-penyakit yang ditularkan oleh arthropoda masih menjadi masalah yang kita hadapi. Arthropoda (dalam bahasa latin, Arthra = ruas , buku, segmen ; podos = kaki) merupakan hewan yang memiliki ciri kaki beruas, berbuku, atau bersegmen. Segmen tersebut juga terdapat pada tubuhnya.

Tubuh Arthropoda merupakan simeri bilateral dan tergolong tripoblastik selomata. Arthropoda adalah filum yang paling besar dalam dunia hewan dan mencakup serangga, laba-laba, udang, lipan dan hewan mirip lainnya. Arthropoda adalah nama lain hewan berbuku-buku. Hampir dari 90% dari seluruh jenis hewan yang diketahui orang adalah Arthropoda. Filum Arthropoda sebagian berperan sebagai mangsa dari sejumlah hewan predator yang terdiri atas arthropoda lain dan spesies bukan arthropoda.

Dari berbagai mcam kelas arthropoda, salah satunya yaitu arachnida. Arachnida adalah turunan dari Subphylum Chelicerata. Pada saat ini hanya terdiri dari 11 subkelas kurang lebih 65000 spesies, dan dahulu adalah 16 subkelas derta 5 kelas telah menjadi fosil. Salah satu Subkelas yang terpenting dari kelas arachnida adalah subkelas scorpionida (kalajengking). Scorpionida merupakan serangga malam yang hidup di daerah tropis, dan pada bagian posterior terdapat alat yang sangat berfungsi sebagai pertahanan diri bila diserang dan mengandung toksik bersifat hemolotik serta neurotoksik. Toksik ini jarang membunuh tetapi pada anak dibawah umur prasekolah dapat mematikan karena terjadinya paralisis pernapasan.

Oleh karena itu, perlu dipelajari tentang scorpionida sehingga kita dapat mengetahui segala sesuatu tentang scorpionida dan mampu mengatasi atau menanggulangi masalah-masalah yang ditimbulkan dari scorpionida baik dari racun yang dikeluarkannya maupun keberadaannya yang dapat mengganggu kenyamanan lingkungan baik secara fisik, biologi, maupun kimia.

B.     Tujuan

Adapun tujuan dari makalah yang kami susun adalah:

  1. Untuk mengetahui tentang scorpionida,
  2. Untuk mengetahui efek yang ditimbulkan akibat racun scorpionida,
  3. Untuk mengetahui pengendalian scorpionida secara biologi dan kimia.

BAB II
PEMBAHASAN

 A.    Pengertian Scorpionida / Kalajengking

Kalajengking adalah hewan penyengat yang sangat berbahaya. Hewan ini sudah ada  sejak 400 juta tahun lalu. Diperkirakan ada sekitar 600 spesies yang tersebar di bumi ini.

Kalajengking tergolong artropoda pengganggu kesehatan. Ia menjadi perhatian manusia karena kemampuannya menimbulkan kesakitan dan ketakutan akan racun yang dikeluarkan ketika menyengat. Kalajengking juga merupakan komponen penting di dalam suatu ekosistem, dan merupakan satu di antara artropoda terstian tertua. Fosilnya ditemukan sejak zaman Paleozoik 430 juta tahun yang lalu dengan penanpilan yang serupa dengan yang ditemukan saat ini.

Kalajengking merupakan artropoda beracun, kerabat labah-labah, tungau, caplak dan lain-lain. Kini diketahui 1400 jenis di seluruh dunia. Kalajengking punya tubuh yang panjang dan ekor beruas yang berujung sebagai penyengat beracun. Kakinya terdiri atas empat pasang dan sepasang pedipalpi dengan bentuk seperi pinset di ujung, yang digunakan untuk menangkap mangsa.

Kalajengking mendiami habitat yang luas mulai dari gurun, hingga hutan, gua dan padang rumput luas, bahkan ditemukan di bawah tumpukan batu salju pada ketinggia di atas 12000 kaki di pegunungan Himalaya Asia. Contoh jenis kalajengking yang banyak ditemukan di Asia termasuk Indonesia adalah jenis Heterometrus spinifer (Asian forest scorpion).

Scorpionida memiliki klasifikasi:

Kingdom         : Animalia

Filum               : Arthropoda

Sub filum        : Chelicerata

Kelas               : Arachnida

Sub kelas         : Scorpionida

B.     Morfologi

Sebagaimana Arachnida, kalajengking mempunyai mulut yang disebut khelisera, sepasang pedipalpi, dan empat pasang tungkai. Pedipalpi seperti capit terutama digunakan untuk menangkap mangsa dan alat pertahanan, tetapi juga dilengkapi dengan berbagai tipe rambut sensor. Tubuhnya dibagi menjadi dua bagian yaitu sefalotoraks dan abdomen. Sefalotoraks ditutup oleh karapas atau pelindung kepala yang biasanya mempunyai sepasang mata median dan 2-5 pasang mata lateral di depan ujung depan. Sefalotoraks tidak bersegmen

Beberapa kalajengking yang hidup di guwa dan di liter sekitar permukiman tidak mempunyai mata. Abdomen terdiri atas 12 ruas yang jelas, dengan bagian lima ruas terakhir membentuk ruas metasoma yang oleh kebanyakan orang menyebutnya ekor. Ujung abdomen disebut telson, yang bentuknya bulat mengandung kelenjar racun (venom). Alat penyengat berbentuk lancip tempat mengalirkan venom. Pada bagian ventral, kalajengking mempunyai sepasang organ sensoris yang bentuknya seperti sisir unik disebut pektin. Pektin ini biasanya lebih besar dan mempunyai gigi lebih banyak pada yang jantan dan digunakan sebagai sensor terhadap permukaan tekstur dan vibrasi. Pektin juga bekerja sebagai kemoreseptor (sensor kimia) untuk mendeteksi feromon (komunikasi kimia).

Kalajengking mempunyai sepasang umbai-umbai yang kuat dan cakar bentuk penjepit (pedipalpus) yang terletak tepat didepan 4 pasang kaki. Kaki disesuaikan untuk berjalan, cephalothorax tidak bersegmen dan tertutup oleh selembar lempeng kitin tebal yang disebut dengan carapace. Terdapat 2-12 buah mata ocelli, abdomen bersegmen 12 buah, yang 7 segmen disebut mesosoma besar dan 5 segmen terminal (metasoma) sangat menyempit. Pada ujung ekor terdapat telson yang berpangkal pada sepasang sisir pada sisi ventral segmen II abdomen. Alat nafas berupa 4 pasang paru-paru buku terletak sebelah ventral diantara segmen III dan XV abdomen. Tidak mempunyai antenna.

A.    Sistem Reproduksi

Kalajengking berkembang biak secara ovovivipar dan anak-anaknya dibawa untuk beberapa waktu dipunggung yang betina. Metamorfosis Kalajengking tidak sempurna yaitu telur – larva – nimpa – dewasa, masa hidupnya sekitar 2-6 tahun.

B.     Lingkaran Hidup

    1. Periode kehamilan dari 2-18 bulan,
    2. Tiap betina melahirkan 25-35 anak yang memanjat ke punggung induknya,
    3. Mereka ada di punggung induknya 1-2 minggu setelah kelahiran,
    4. Setelah turun dari punggung, mereka butuh 2-6 tahun untuk mencapai kematangan,
    5. Rata-rata kalajengking hidup 3-5 tahun, tapi sejumlah spesies dapat hidup hingga 10-15 tahun.

 C.    Perilaku

Kalajengking tergolong serangga yang aktif di malam hari (nokturnal) dan siang hari (diurnal). Ia juga merupakan hewan predator pemakan serangga, laba-laba, kelabang, dan kalajengking lain yang lebih kecil. Kalajengking yang lebih besar kadang-kadang makan vertebrata seperti kadal, ular dan tikus. Mangsa terdeteksi oleh kalajengking melalui sensor vibrasi organ pektin. Pedipalpi mempunyai susunan rambut sensor halus yang merasakan vibrasi dari udara. Ujung-ujung tungkai mempunyai organ kecil yang dapat mendeteksi vibrasi di tanah. Kebanyakan kalajengking adalah predator penyerang yang mendeteksi mangsa ketika ia datang mendekat.

Permukaan tungkai, pedipalpi, dan tubuh juga ditutupi dengan rambut seta yang sensitif terhadap sentuhan langsung. Meskipun kalajengking dilengkapi dengan venom untuk pertahanan dan mendapat mangsa, kalajengking sendiri jatuh menjadi mangsa bagi mahluk kalin seperti kelabang, tarantula, kadal pemakan serangga, ular, unggas (terutama burung hantu), dan mamalia (termasuk kelelawar, bajing dan tikus pemakan serangga). Seperti halnya predator lainnya, kalajengking cenderung mencari makan di daerah teritori yang jelas dan terpisah, dan kembali ke tempat yang sama pada setiap malam. Kalajengking bisa masuk ke dalam komplek perumahan dan gedung ketika daerah teritorialnya hancur oleh pembangunan, penebangan hutan atau banir dan sebagainya.

D.    Siklus hidup

Kalajengking mempunyai ritual perkawinan yang kompleks, jantan menggunakan pedipalpinya mencengkeram pedipalpi betina. Jantan kemudian membimbing betina melakukan tarian percumbuan. Detailnya setiap jenis berbeda, dengan memperlihatkan alat penyengatnya yang panjang pada jantan. Sperma dari jantan dimasukkan ke dalam struktur yang disebut spermatofor, yang diletakkan oleh jantan ke atas permukaan yang kelak akan diambil oleh betina. Yang jantan menyapukan pektin ke atas permukaan tanah untuk mebantu menentukan lokasi yang sesuai untuk meletakkan spermatofor. Selanjutnya kalajengkin betina akan menarik sperma ini ke dalam lubang kelamin, yang letaknya dekat ventral abdomen.

Kalajengking mempunyai masa hamil dari beberapa bulan sampai lebih satu tahun, tergantung jenis, tempat embrio berkembang di dalam ovariuterus atau dalam divertikula khusus yang bercabang dari ovariuterus. Anak-anak yang dilahirkan hidup akan anaik ke punggung ibunya. Ibunya membantu mereka dengan membuatkan kantong melahirkan dengan kaki terlipat untuk menangkap mereka ketika lahir dan untuk menyediakan mereka menaiki punggung ibunya. Beberapa jenis kalajengking tidak membentuk kantong lahir.

Rata-rata, seekor betina bisa melahirkan 25-35 ekor anak. Mereka tetap pada punggungnya, sampai mereka molting untuk pertama kali. Setelah kalajengking muda putih turun dari punggung betina, moling, kemudian balik lagi ke punggung induk selama 4-5 har hari sebelum meninggalkan induk, biasanya dalam waktu 1-3 minggu setelah lahir.

Sekali mereka turun, mereka sudah mampu bebas, dan secara periodik molting untuk mencapai dewasa. Biasanya molting terjadi 5 atau 6 kali selama 2-6 tahun untuk mencapai dewasa. Rata-rata kalajengking kemungkinan hidup 3-5 tahun, tetapi beberapa spesies bisa hidup sampai 25 tahun. Beberapa jenis menunjukkan perilaku sosial, seperti membentuk agregasi selama musim dingin, menggali koloni dan mencari makan bersama.

E.     Habitat & Kebiasaan

Kalajengking spesies Buthus Tamulus misalnya, aktif pada malam hari, berdiam dibawah batu, potongan kayu, dan ditempat yang gelap dan lembab. Binatang ini kadang-kadang masuk ke dalam tempat tinggal manusia terutama selama musim hujan di negeri tropic. Mereka menangkap mangsanya, biasanya laba-laba serangga, diplopoda dan rodent, di dalam kukunya dan dengan dorongan kebelakang dan kebawah dari abdomen yang menyerupai ekor memasukkan sengat dengan racunnya yang dapat membuat lumpuh.

Sebagian besar kalajengking aktif di malam hari. Sebagaimana di tempat yang panas dan kering, kalajengking juga ditemukan di padang rumput, savana, gua, dan hutan hujan/hutan berganti daun/hutan pinus. Bisa dari kalajengking berdampak pada sistem syaraf korban. Setiap spesies memiliki perpaduan yang unik.

F.     Venom atau Racun Kalajengking

Venom kalajengking digunakan untuk menangkap mangsa, proses pertahanan diri dan untuk proses perkawinan. Semua kalajengking mempunyai venom dan dapat menyengat, tetapi secara alamiah kalajengking cenderung bersembunyi atau melarikan diri. Kalajengking dapat mengendalikan aliran venom, oleh karena itu pada beberapa kasus sengatan tidak mengeluarkan racun atau hanya menimbulkan keracunan ringan. Racun kalajengking adalah campuran kompleks dari neurotoksin atau racun syaraf dan bahan lainnya. Setiap jenis mempunyai campuran unik.

Di Amerika Serikat diketahui hanya jenis yang dianggap berbahaya bagi manusia, yaitu: Centruroides exilicauda dan sekitar 25 jenis lain diketahui menghasilkan racun berpotensi merugikan manusia, tersebar di seluruh dunia. Adapun kalajengking berbahaya di Afrka Utara dan Timur Tengah adalah genus Androctonus, Buthus, Hottentotta, Leiurus), Amerika Selatan (Tityus), India (Mesobuthus), and Mexico (Centruroides). Di beberapa daerah ini, sengatan kalajengking dapat menyebabkan kematian, tetapi data realistis tidak tersedia.

Beberapa studi menduga angka kematian pada kasus-kasus di rumah sakit sekitar 4% pada anak-anak yang lebih rentan daripada yang lebih tua. Bila terjadi kematian akibat sengatan ini umunya disebabkan oleh kegagalan jantung dan pernafasan beberapa jam setelah kematian. Selama tahun 1980 di Meksiko terjadi kematian rata-rata 800 orang per tahun. Namun demikian, dalam 20 tahun terakhir di Amerika Serikat tidak ada laporan kematian akibat sengatan kalajengking, demikian pula di Indonesia tidak pernah terdengar.

G.    Efek  yang di timbulkan Akibat Racun Scorpianida

Racun kalajengking sangat bervariasi. Mulai dari yang sekadar menimbulkan nyeri seperti pada kalajengking Jawa, hingga yang mematikan seperti Kalajengking Meksiko atau Kalajengking Afrika. Sekilas, perbedaan antara satu spesies kalajengking dengan jenis yang lain, tidak tampak. Kecuali dari ukuran dan warnanya.

Spesies yang kecil walaupun tidak dapat masuk kedalam kulit manusia tetapi dapat menyengat. Manusia biasanya disengat apabila tangan / kakinya yang tidak terlindung secara kebetulan menyentuh Buthus Tamulus yang bersembunyi di dalam pakaian, sepatu / tempat persembunyian lain. Telah dilaporkan kasus yang besar dan bahkan fatal, dengan reaksi sistemik, terutama pada anak. Angka kematian pada anak dibawah umur 5 tahun dilaporkan tinggi di India dan mesir.

Racun Buthus Tamulus adalah suatu toksalbumin yang menimbulkan paralisis, gangguan saraf, kejang otot, dan kerusakan paru-paru, gejala setempat relative adalah ringan, tetapi sakit sekali. Bisa dari kalajengking berdampak pada sistem syaraf korban. Setiap spesies memiliki perpaduan yang unik. Secara sistemik, ada suatu perasaan panas yang menjalar, dan gejala paraesthesi umum, bergetarnya otot, dan gatal mulai dengan cepat. Pada penderita yang berat, terdapat kontraksi otot dan kejang otot menyerupai keracunan strychin dan gejala shock. Kasus fatal terdapat pada penderita yang keadaannya memperlihatkan pernafasan yang cepat dan sembab paru-paru.

Pada bagian posterior kalajengking terdapat alat yang sangat berfungsi sebagai pertahanan diri bila diserang dan mengandung toksik bersifat hemolotik serta neurotoksik. Toksik ini jarang membunuh tetapi pada anak dibawah umur prasekolah dapat mematikan karena terjadinya paralisis pernapasan dengan gejala mual, muntah, hipersaliva, hiperhidrosis, paralisa otot lidah maupun tenggorokan, terjadi kejang diperut, sianosis, dan konvulsie.

H.    Pengendalian Scorpionida

Tingginya populasi kalajengking dapat menjadi masalah dalam beberapa keadaan. Kalajengking sulit dikendalikan dengan hanya dengan menggunakan insektisida. Oleh karena itu, strategi pengendalian pertama yaitu untuk memodifikasi daerah sekitar struktur permukiman atau pengendalian fisik yang dapat dilakukan yaitu:

1.    Buanglah semua tempat persembunyian kalajengking seperti sampah, tumpukan kayu, papan, batu, bata dan berbagai benda di sekitar gedung.

2.    Pelihara rumput di sekitar perumahan dengan rutin memotongnya. Pangkas pohon dan cabang-cabang pohon yang menggantung di sekitar rumah. Cabang pohon dapat menjadi jalan ke atap bagi kalajengking.

3.    Taruhlah kontainer sampah di dalam kerangka yang membuat tempat sampah tidak langsung berhubungan dengan tanah.

4.    Jangan sekali-kali membawa masuk kayu bakar ke dalam rumah, kecuali ditempatkan langsung di api.

5.    Tutuplah celah dan retakan yang ada di atap, dinding, pipa dan bagian bangunan lainnya.

6.    Pasanglah kawat kasa pada jendela, pintu, dan tetap dijaga dari kerusakan dan lain-lain.

7.    Gunakan lampu “black light” pada malam hari untuk memeriksa keberadaan kalajengking. Tangkaplah dengan menggunakan tang yang besar dan panjang, kemudian lepas kembali di alam atau anda hancurkan.

8.    Berbagai jenis insektisida dapat digunanakan, meski kurang begitu efektif. Aplikasi insektisida residual dapat dilakukan pada bagian dasar rumah yang dicurigai banyak terdapat kalajengking.

9.    Apabila disengat kalajengking, segeralah lakukan pengompresan dingin dengan ice pack, dan segera pergi ke dokter.

Selain pengendalian secara fisik tersebut, terdapat pula pengendalian secara biologi yaitu menggunakan hewan pemangsa atau predator kalajengking. Meski memiliki sengatan yang mematikan, kalajengking tidak lepas juga dari sasaran predatornya. Predator kalajengking antara lain kelabang, kadal, ular, burung, dan kera. Kadang-kadang kalajengking juga saling memangsa. Biasanya kalajengking perempuan yang memangsa kalajengking laki-laki.

Sedangkan pengendalian secara kimia yang dapat dilakukan adalah dengan usaha mengurangi populasi kalajengking, yaitu melakukan penyemprotan dengan bahan kimia Dieldrin 0,5% atau DDT 10%, Chlordane 20% dan piretrum 0,2% di dalam minyak yang encer dan telah dianjurkan.

 

I.       Pengobatan

Pengobatan menggunakan obat Tourniquet hendaknya dipergunakan segera, dan racunnya dikeluarkan dengan menghisap luka yang dibuat oleh sengat kalajengking yang besar. Sakitnya dapat dihilangkan dengan pemakaian kompres es setempat, semprotan etilklorida, ammonia, obat yang menghilangkan sakit, suntikan novokain atau epinefrin disekitar luka ataupun dengan memanfaatkan tumbuhan disekitar misalnya getah batang pisang dengan cara digosokkan di bekas sengatan. Pengobatan sistemik bertujuan untuk mengatasi shock dan sembab paru-paru. Obat kortison berguna sekali pada penderita yang berat. Dan antivenin, apabila tersedia harus diberikan pula.

 BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Dari pembahasan yang ada, dapat disimpulkan:

  1. Kalajengking adalah hewan penyengat yang sangat berbahaya. Kalajengking tergolong artropoda pengganggu kesehatan karena racun yang dikeluarkan dari tubuhnya.
  2. Racun kalajengking sangat bervariasi. Mulai dari yang sekedar menimbulkan nyeri seperti pada kalajengking Jawa, hingga yang mematikan seperti Kalajengking Meksiko atau Kalajengking Afrika.
  3. Pengendalian kalajengking dapat secara fisik (menggunakan kawat kasa pada jendela, menangkap kalajengking, dan lain-lain), secara biologi (menggunakan predator seperti kadal, ular), maupun secara kimia dengan menyemprotkan bahan-bahan kimia seperti Dieldrin, DDT, Piretrum
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s