PLASMODIUM KNOWLESI

BAB I

PENDAHULUAN

 A.    Latar Belakang

Lebih dari 500 juta penduduk dunia per tahun terinfeksi malaria dan lebih dari sejuta orang per tahun meninggal dunia. Kasus malaria terbanyak terdapat di kawasan Afrika dan beberapa negara Asia, termasuk Indonesia. Pertarungan negara-negara itu melawan malaria semakin mendapatkan tantangan dengan adanya jenis baru malaria yang disebabkan Plasmodium knowlesi. Malaysia lebih dulu berhadapan dengan infeksi Plasmodium knowlesi.

Ada empat jenis parasit malaria pada manusia yang diketahui, yakni Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax , Plasmodium malariae, dan Plasmodium ovale. Parasit ini ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles yang terinfeksi. Kini Plasmodium knowlesi yang selama ini dikenal hanya ada pada monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), ditemukan pula di tubuh manusia. Penelitian sebuah tim internasional yang dimuat jurnal Clinical Infectious Diseases memaparkan, hasil tes pada 150 pasien malaria di rumah sakit di Sarawak, Malaysia, Juli 2006 sampai Januari 2008, menunjukkan, dua pertiga kasus malaria disebabkan infeksi Plasmodium knowlesi.

Kasus yang diduga kuat infeksi Plasmodium knowlesi juga terjadi di China, Thailand, Filipina, Myanmar, dan Indonesia. Jurnal Emerging Infectious Diseased (CDC) memuat studi berjudul Plasmodium knowlesi in Human, Indonesian Borneo. Artikel itu tentang seorang turis Australia yang terinfeksi Plasmodium knowlesi setelah ke Kalimantan. Oleh karena itu kami membuat makalah ini untuk mengetahui lebih lanjut tentang Plasmodium Knowlesi.

B.     Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu:

  1. Untuk mengetahui gambaran umum tentang Plasmodium Knowlesi
  2. Untuk mengetahui Penyebaran Plasmodium Knowlesi yang telah terjadi di Indonesia
  3. Untuk mengetahui bagaimana cara diagnosis Plasmodium Knowlesi

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Gambaran Umum Plasmodium Knowlesi

Plasmodium knowlesi adalah parasit dari genus Plasmodium yang secara alami menginfeksi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).  Parasit ini banyak ditemui di Asia Tenggara dan sudah menyerang manusia. Plasmodium knowlesi ditransmisikan dengan menggunakan nyamuk dari kelompok Anophleles leucosphyrus sebagai vektor perantara, salah satunya adalah Anophleles latens. Parasit ini memiliki kemampuan untuk bereproduksi setiap 24 jam di dalam darah dan hal ini dapat berpotensi menyebabkan kematian. Manusia yang terinfeksi Plasmodium knowlesi cenderung mengalami penurunan jumlah trombosit di dalam darah dan hal ini dapat digunakan untuk mendeteksi penyakit tersebut.

Saat ini telah dilaporkan beberapa spesies ‘simian malaria’ yang berhubungan erat dengan infeksi malaria padsa manusia, diantaranya plasmodium knowlesi, plasmodium simiun, plasmodium brasilianum, plasmodium cynomologi dan plasmodium inul. Telah dilaporkan bahwa simian malaria ini memberikan gejala simptomatik malaria pada manusia dengan infeksi alamiah. Diagnosis malaria pada simian malaria masih merupakan kendala sehingga banyak terjadi kesalahan diagnosis malaria karena kemiripan dengan empat spesies plasmodium penyebab malaria pada manusia. Terdapat beberapa laporan mengenai infeksi malaria oleh plasmodium knowlesi pada manusia yang terjadi secara alamiah oleh vector Anopheles lateens di Malaysia dan Thailand. Hal ini menggambarkan kemungkinan terjadinya transinfeksi penyakit dari primate (binatang) ke manusia (zoonosis).

Plasmodium knowlesi memiliki kemampuan berkembang biak di dalam darah setiap 24 jam – artinya berpotensi membahayakan. Meski tingkat kematiannya dibawah 2%, Plasmodium knowlesi menjadi sama mematikannya dengan Plasmodium falciparum malaria. Para peneliti itu menegaskan bahwa sangat sulit untuk mengukur akurasi tingkat kematian karena kecilnya jumlah kasus yang diteliti.

Berbagai studi menunjukkan, pada infeksi Plasmodium knowlesi, siklus reproduksi aseksual (pembelahan diri dalam tubuh manusia atau hewan) terjadi dalam waktu 24 jam. Lebih cepat dibandingkan siklus 48 jam pada Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, dan Plasmodium falciparum, sedangkan 72 jam pada Plasmodium malariae. Setiap kali sel-sel membelah akan terjadi serangan demam. Gejala pada infeksi Plasmodium knowlesi disebut-sebut mirip dengan malaria berat Plasmodium falciparum. Hal ini terungkap dalam studi bertajuk Clinical and Laboratory Features of Human Plasmodium knowlesi infection oleh sejumlah peneliti Malaysia dan Australia di Kapit Hospital, Sarawak, Malaysia.

Gejala yang tidak spesifik, antara lain demam dan rasa dingin. Kadang muncul kesulitan bernapas dan batuk. Selain itu, ada trombositopenia, yakni berkurangnya jumlah sel keping darah merah pada 98 persen pasien. Semula tiga pasien dalam studi itu tidak mengalami tromobositopenia dan level parasit dalam tubuh rendah. Namun, hanya dalam waktu 24 jam semua pasien mengalami trombositopenia. Ada pula yang mengalami gangguan pada hati. Pengobatan standar malaria dapat menyembuhkan penyakit itu.

B.     Sejarah ditemukannya Plasmodium knowlesi

Parasit malaria Plasmodium knowlesi pertama kali ditemukan oleh Franchini (1927) dengan menemukan parasit  dalam darah Silenus cynomolgus (=Macaca fascicularis, Macaca irus) dimana morfologinya berbeda dengan simian malaria lainnya yaitu Plasmodium inul dan Plasmodium cynomolgi. Pada tahun 1931, Dr. H.M. Campbell menemukan Plasmodium knowlesi dalam darah Macaca fascularis, selanjutnya Dr. Napier melakukan percobaan dengan mengambil darah dari kera yang positif tersebut dan diinokulasikan pada tiga ekor kera lain. Ketiga kera tersebut memperlihatkan adanya infeksi.

Bentuk parasit Plasmodium knowlesi dideskripsikan oleh Knowles dan Das Gupta (1932) dan kemungkinannya untuk menginfeksi manusia, dengan melakukan percobaan inokulasi parasit tersebut dari darah yang diambil dari kera Malysia, Malaria irus pada manusia. Parasit ini selanjutnya dinamakan Plasmodium knowlesi sebagai penghargaan pada Dr. R. Knowles.

Pada tahun 1965, Chin dkk telah melakukan penelitian dengan menginfeksi secara alamiah malaria Plasmodium knowlesi yang didapat di hutan Malaysia pada manusia. Saat ini mulai banyak dilaporkan infeksi alamiah malaria Plasmodium knowlesi pada orang yang bekerja di hutan Thailand dan Malaysia tetapi mereka sering salah diagnosis sebagai malaria kuartana (Plasmodium malariae).

C.    Penyebaran Plasmodium Knowlesi

Sebuah penelitian baru menemukan bahwa satu jenis baru penyakit malaria berpotensi mengancam manusia. Sebelumnya parasit Plasmodium knowlesi diperkirakan hanya menjangkiti kera. Namun ternyata parasit itu menyebar secara luas pada manusia di Malaysia, dan penyelidikan paling baru membenarkan bahwa parasit itu bisa menyebabkan kematian jika tidak diobati dengan cepat. Hasil penelitian yang dilakukan oleh satu tim internasional ini diterbitkan dalam jurnal Penyakit Klinis Menular. Meski jenis baru penyakit ini hanya menyebar di Asia Tenggara, para peneliti memperingatkan bahwa akibat arus wisatawan ke wilayah ini kasus di negara barat akan segera muncul. Setiap tahun penyakit malaria menewaskan lebih 1 juta orang. Penyakit ini disebabkan oleh parasit malaria yang masuk ke dalam aliran darah manusia oleh nyamuk yang terjangkit parasit itu. Dari empat parasit malaria yang sering menyebabkan penyakit itu pada manusia, Plasmodium falciparum yang lebih umum ditemukan di Afrika adalah yang paling ganas. Parasit lain, Plasmodium malariae yang berkembang di wilayah sub tropis dunia, memiliki gejala yang biasanya tidak begitu membahayakan. Plasmodium knowlesi sebelumnya diduga hanya menjangkiti kera, khususnya makaka berekor panjang dan pendek yang ditemukan di hutan Asia Tenggara.

Plasmodium knowlesi sebagai spesies plasmodium terbaru ditemukan pada manusia, telah diidentifikasi pertama kali pada tahun 1931 pada monyet jenis long-tailed macaque (Macaca fascicularis) dan dapat menginfeksi manusia dengan menginokulasikan darah terinfeksi pada tahun 1932. Pada tahun 2004 telah dilaporkan Plasmodium knowlesi sebagai penyebab malaria di Kapit division of Malaysian Borneo dan telah diidentifikasi secara biomolekuler dengan nested PCR screening. Plasmodium knowlesi diperkirakan telah berevolusi mulai dari 98000 ribu tahun yang lalu, dan diduga lebih tua atau sama tua dengan plasmodium yang paling sering didapati pada manusia yaitu Falciparum dan Vivax.

D.    Aspek Parasitologi Infeksi Plasmodium knowlesi pada Manusia

Telah diketahui bahwa malaria mempunyai hospes definitive dan hospes perantara. Pada hospes definitive terjadi siklus seksual dan pada hospes perantara terjadi siklus seksual dan hal inilah yang menerangkan kenapa Plasmodium  digolongkan dalam kelas sporozoa. Untuk menjadi bentuk infektif (sporozoit) dalam tubuh nyamuk (vector penyakit) maka diperlukan siklus seksual (sporogoni), dan terdapat perbedaan perkembangan pada masing-masing spesies.

Kemampuan vector malaria untuk dapat menginfeksi manusia ditentukan oleh beberapa hal yaitu kebiasaan nyamuk menghisap darah manusia (Zooantropofilik), lama hidup nyamuk betina dewasa (harus lebih dari 10 hari), mempunyai kepadatan yang tinggi dan mendominasi spesies lain dan kemampuan nyamuk mengembangkan plasmodium. Di Asia Tenggara nyamuk yang digolongkan Anopheles dari grup leuchosphyrus merupakan vector malaria pada Plasmodium knowlesi di mana nyamuk ini mempunyai kebiasaan menggigit manusia dan hewan (zooantropofilik) yang hidup hidup di daerah hutan tropis (rain forest) di Asia. Untuk dapat menginfeksi manusia maka sporozoit yang masuk ke darah manusia saat nyamuk menggigit harus dapat mengembangkan diri untuk dapat berkembang biak menjadi bentuk tertentu (tropozoit) yang mampu menginvasi eritrosit. Dan pada Plasmodium knowlesi hal ini dapat terjadi sehingga dapat menginfeksi manusia.

Secara filogenetik maka penggolongan plasmodium dalam taksonomi justru lebih dekat dengan Plasmodium yang menginfeksi manusia. Adapun Plasmodium knowlesi berada dalam satu genus dengan keempat spesies plasmodium yang menginfeksi manusia.

E.     Pemeriksaan mikroskopis

Hingga saat ini pemeriksaan mikroskopis malaria masih merupakan Gold Standard dalam mendiagnosis malaria. Adanya Plasmodium merupakan diagnosis pasti malaria. Pada pemeriksaan mikroskopis dapat dilakukan pemeriksaan dengan tetes tebal dan hapusan darah tipis dengan pewarnaan giemsa. Morfologi secara jelas dapat dilihat dengan hapusan darah tipis. Namun demikian pada prakteknya pemeriksaan mikroskopis ini sulit untuk membedakan Plasmodium knowlesi dengan Plasmodium malariae karena kemiripannya itu kadang terjadi salah diagnosis.

Kesulitan diagnostic laboratorium mikroskopik karena kemiripan dengan Plasmodium falcifarum dab Plasmodium malariae, saat ini dapat dibantu dengan menggunakan teknik ‘Polymerase Chain Reaction’ (PCR). Keunggulan dari teknik ini adalah memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, karena mampu mendeteksi dengan sejumlah kecil DNA spesifik untuk DNA organism yang akan diperiksa. Suatu teknik PCR untuk metode diagnostic berdasarkan DNA pada malaria Plasmodium knowlesi di manusia saat ini telah dikembangkan dan digunakna. Dan target pemeriksaan ini adalah ‘small subunit ribosomal RNA’ (SSU rRNA). Gen sitokrom mitokondria b dari isolate, dengan menggunakan PCR primer (mtPk-F. 5’-AGGTATTATATTCTTTATACAAATATTAC-3’ dan rntPk-R. 5’-TCTTTTATAATGAACAAGTGTAAATAATC-3’) akan memperlihatkan sekuens DNA Plasmodium knowlesi strain H dari kera.

6 thoughts on “PLASMODIUM KNOWLESI

  1. thanks banget atas bahan kuliahnya….saya dapat membuat makalah saya malam ini…jika bisa kita sharing bisa lewat apa y….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s