Laporan Kunjungan di PT Geo Dipa Dieng

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar belakang

Indonesia adalah salah satu Negara berkembang yang memiliki berbagai sektor dibidang pekerjaan, mulai dari pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, pertambangan hingga industri dan perusahaan yang lainnya. Semua pekerjaan yang ada selalu membutuhkan tenaga manusia. Tenaga manusia sebagai salah satu faktor produksi di perusahaan, merupakan salah satu kesatuan biologis yang mempunyai peran sama dengan faktor produksi lainnya (dana permodalan, alat produksi, dan sebagainya). Karena itu pemeliharaan dan pengembangan tenaga manusia, memerlukan perhatian khusus di samping perhatian terhadap faktor produksi lainnya, tidak akan  punya apa-apa ditinjau dari produktivitas kerja di perusahaan.

Di era globalisasi menuntut pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di setiap tempat kerja terutama di sektor industri dan perusahaan – perusahaan besar. Seperti salah satu industri di wilayah Dieng terdapat sebuah industri Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi yaitu PT Geo Dipa yang memiliki beberapa titik rawan pada daerah kerjaanya apabila tidak memperhatikan hygiene kesehatan dan kesehatan kerja.

Untuk itu kita perlu mengembangkan dan meningkatkan K3 disektor industri dalam rangka menekan serendah mungkin risiko kecelakaan dan penyakit yang timbul akibat hubungan kerja, serta meningkatkan produktivitas dan efesiensi. Dalam pelaksanaan pekerjaan sehari-hari karyawan atau pekerja di sektor kesehatan, industri tidak terkecuali di rumah sakit maupun perkantoran, akan terpajan dengan resiko bahaya di tempat kerjanya. Resiko ini bervariasi mulai dari yang paling ringan sampai yang paling berat tergantung jenis pekerjaannya.

Seperti halnya yang ada di PT Geo Dipa yang memiliki beberapa faktor resiko dari pekerjaannya, diantaranya yaitu berbagai penyakit akibat kerja misalnya akibat kebisingan, radiasi sinar komputer, bau, dan asap. Para pekerja harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) agar dapat meminimalisir penyakit dan kecelakaan akibat kerja.

Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas.

Banyak pekerja yang meremehkan risiko kerja, sehingga tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) walaupun sudah tersedia. Dalam penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan telah mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus melaksanakan upaya kesehatan kerja, agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat dan lingkungan disekitarnya. Dalam bekerja Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan faktor yang sangat penting untuk diperhatikan karena seseorang yang mengalami sakit atau kecelakaan dalam bekerja akan berdampak pada diri, keluarga dan lingkungannya. Salah satu komponen yang dapat meminimalisir kecelakaan dalam kerja adalah penggunaan APD dengan benar. APD mempunyai peran sangat penting dalam bekerja karena dengan adanya APD maka kecelakaan kerja dapat di minimalisir dengan baik. Oleh karena itu, kami melaksanakan praktikum kunjungan lapangan di PT Geo Dipa agar mengetahui berbagai macam Alat Pelindung Diri (APD) yang ada dan mengetahui tentang berbagai penyakit yang ditimbulkan akibat kerja di PT Geo Dipa Dieng tersebut.

B.     TUJUAN

Adapun tujuan dari makalah yang kami susun yaitu:

  1. Untuk mengetahui gambaran umum PT Geo Dipa Dieng
  2. Untuk mengetahui tentang Alat Pelindung Diri di PT Goe Dipa Dieng
  3. Untuk mengetahui penyakit yang ditimbulkan akibat kerja di PT Geo Dipa Dieng
  4. Untuk mengetahui sistem manajemen K3 di PT Geo Dipa Dieng

C.    WAKTU DAN TEMPAT

Praktikum dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 03 April 2012 pukul 10.00 – 17.00 WIB di PT Geo Dipa Dieng.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Higiene, perusahaan, kesehatan, dan keselamatan kerja adalah perlindungan terhadap tenaga kerja kearah pencegahan kepada kemungkinan terjadinya kecelakaan, peledakan, kebakaran, penyakit akibat kerja dan pencemaran lingkungan yang dapat menimbulkan kerugian nyawa, waktu, dan harta benda. Kesehatan kerja dapat pula diartikan sebagai spesialisasi dalam ilmu kesehatan atau kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar pekerja atau masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya baik fisik, mental, maupun sosial, terhadap penyakit-penyakit atau gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja, serta terhadap penyakit-penyakir umum. Keselamatan kerja sama dengan hygiene perusahaan, sasarannya adalah manusia dan bersifat medis. (Sumakmur, 1988)

Keselamatan kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan, dan proses pengolahannya. Pengistilahan keselamatan dan kesehatan kerja atau sebaliknya bermacam-macam: ada yang menyebutnya hygiene perusahaan dan kesehatan kerja (hiperkes) dan ada yang hanya disingkat K3, dan dalam istilah asingnya dikenal dengan sebutan Occupational Safety dan Health. (Sumakmur, 1993)

Kondisi berbahaya (Unsafe Conditions / kondisi-kondisi yang tidak standar) yaitu tindakan yang akan menyebabkan kecelakaan, misalnya (Budiono, Sugeng, 2003):

  1. Peralatan yang tidak memadai atau tidak memenuhi syarat
  2. Bahan, alat-alat, atau peralatan rusak
  3. Terlalu sesak atau sempit
  4. Sistem-sistem tanda peringatan yang kurang memadai
  5. Bahaya-bahaya kebakaran dan ledakan
  6. Kerapian atau tata letak (Housekeeping) yang buruk
  7. Lingkungan berbahaya / beracun: gas, debu, asap, uap, dll
  8. Bising
  9. Paparan radiasi
  10. Ventilasi dan penerangan yang kurang.

Keselamatan dan kesehatan kerja difilosofikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat makmur dan sejahtera. Sedangkan pengertian secara keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tidak dapat dipisahkan dengan proses produksi baik jasa maupun industri. Perkembangan pembangunan setelah Indonesia merdeka menimbulkan konsekwensi meningkatkan intensitas kerja yang mengakibatkan pula meningkatnya resiko kecelakaan di lingkungan kerja. Hal tersebut juga mengakibatkan meningkatnya tuntutan yang lebih tinggi dalam mencegah terjadinya kecelakaan yang beraneka ragam bentuk maupun jenis kecelakaannya.

Kondisi  keselamatan dan kesehatan kerja (K3) perusahaan di Indonesia secara umum diperkirakan termasuk rendah. Pada tahun 2005 Indonesia menempati posisi yang buruk jauh di bawah Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand. Kondisi  tersebut mencerminkan kesiapan daya saing perusahaan Indonesia di dunia internasional masih sangat rendah. Indonesia akan sulit menghadapi pasar global karena mengalami ketidakefisienan pemanfaatan tenaga kerja (produktivitas kerja yang rendah). Padahal kemajuan perusahaan sangat ditentukan peranan mutu tenaga kerjanya.

Karena itu disamping perhatian perusahaan, pemerintah juga perlu memfasilitasi dengan peraturan atau aturan perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Nuansanya harus bersifat manusiawi atau bermartabat. Faktor keselamatan kerja menjadi penting karena sangat terkait dengan kinerja karyawan dan pada gilirannya pada kinerja perusahaan. Semakin tersedianya fasilitas keselamatan kerja semakin sedikit kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja.

Di era globalisasi dan pasar bebas WTO dan GATT yang akan berlaku tahun 2020 mendatang, kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu prasyarat yang ditetapkan dalam hubungan ekonomi perdagangan barang dan jasa antar negara yang harus dipenuhi oleh seluruh negara anggota, termasuk bangsa Indonesia. Untuk mengantisipasi hal tersebut serta mewujudkan perlindungan masyarakat pekerja Indonesia; telah ditetapkan Visi Indonesia Sehat 2010 yaitu gambaran masyarakat Indonesia di masa depan, yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Pembangunan sektor industri saat ini merupakan salah satu andalan dalam pembangunan nasional Indonesia yang berdampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan dan pemerataan pembangunan. Disisi lain kegiatan industri dalam proses produksinya selalu disertai faktor-faktor yang mengandung resiko bahaya dengan terjadinya kecelakaan maupun penyakit akibat kerja. Setiap ancaman terhadap keselamatan dan kesehatan kerja harus dicegah. Karena ancaman seperti itu akan membawa kerugian baik material, moril maupun waktu terutama terhadap kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya. Lebih-lebih perlu disadari bahwa pencegahan terhadap bahaya tersebut jauh lebih baik dari pada menunggu sampai kecelakaan terjadi yang biasanya memerlukan biaya yang lebih besar untuk penanganan dan pemberian kompensasinya. Mengingat kegiatan sektor industri tidak terlepas dengan penggunaan teknologi maju yang dapat berdampak terhadap keselamatan dan kesehatan kerja. Selain itu masih banyak perusahaan yang belum melaksanakan ketentuan-ketentuan yang mengarah kepada penggunaan APD, hal ini disebabkan karena kurangnya perhatian, waktu dan memerlukan biaya yang tinggi. Dari pihak pekerja sendiri disamping pengertian dan pengetahuan masih terbatas, ada sebagian dari mereka masih segan menggunakan alat pelindung atau mematuhi aturan yang sebenarnya. Oleh karena itu masalah keselamatan dan kesehatan kerja tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri tetapi harus dilakukan secara terpadu yang melibatkan berbagai pihak baik pemerintah, perusahaan, tenaga kerja serta organisasi lainnya.

Seperti yang telah didefinisikan oleh Dainur, 1995 bahwa Hiperkes merupakan cabang dari Ilmu Kesehatan Masyarakat, yang mempelajari cara-cara pengawasan serta pemeliharaan kesehatan tenaga kerja dan masyarakat disekitar perusahaan, dan segala kemungkinan gangguan kesehatan dan keselamatan akibat proses produksi di perusahaan. Banyak kenyataan menunjukkan bahwa, dalam setiap kegiatan tersebut. Ancaman dapat langsung pada manusia yang bersangkutan, ataupun tidak langsung pada manusia lain di sekitarnya. Dapat ditimbulkan proses produksi, namun dapat juga ditimbulkan bahan baku, bahan jadi, serta bahan sisa produksi yang bersangkutan.

Ada 2 jenis ancaman yaitu kesehatan (fisik, mental dan sosial) tenaga kerja maupun masyarakat, serta kecelakaan yang menimbulkan cacat fisik, mental dan sosial. Oleh karena itu, baik secara individual maupun secara bersama-sama diperlukan upaya pemeliharaan atau pencegahan terhadap berbagai kemungkinan yang diakibatkan oleh kegiatan perusahaan.

Pemeliharaan dan pengawasan kesehatan kerja dilakukan sedini mungkin atau sejak menjadi tenaga kerja perusahaan yang bersangkutan. Demikian juga sebelum perusahaan memulai kegiatannya, seawal mungkin telah memperhitungkan segala kemungkinan akibat kegiatan tersebut terhadap masyarakat di sekitar perusahaan.

Dalam hal pemeliharaan kesehatan tenaga kerja, sesuai dengan Undang-undang dan ketentuan ketenagakerjaan serta ketentuan operasional perusahaan, perusahaan diharuskan mengikutsertakan semua tenaga kerja menjadi anggota asuransi sosial tenaga kerja. Dan untuk pemeliharaan kesehatan lingkungan masyarakat di sekitar perusahaan, sesuai dengan ketentuan-ketentuan perundang-undangan ynag berlaku, setiap perusahaan diwajibkan merencanakan serta melaksanakan upaya penyehatan lingkungan di sekitar perusahaan.

Hygiene perusahaan adalah upaya pemeliharaan lingkungan kerja (fisik, kimia, radiasi, dan sebagainya) dan lingkungan perusahaan. Terutama bertujuan pengamatan dengan pengumpulan data, merencanakan, dan melaksanakan pengawasan terhadap segala kemungkinan gangguan kesehatan tenaga kerja dan masyarakat disekitar perusahaan. Dengan demikian sasaran kegiatan perusahaan adalah lingkungan kerja serta lingkungan perusahaan. Penyehatan lingkungan kerja, merupakan upaya pencegahan timbulnya penyakit akibat kerja dan pencemaran lingkungan proses produksi perusahaan. (Dainur, 1995)

Lingkungan kerja adalah lingkungan tempat tenaga kerja melakukan kegiatan yang ada hubungannya dengan kegiatan perusahaan. Ada beberapa golongan lingkungan kerja, antara lain:

  1. Lingkungan fisik, misalnya kualitas cahaya, pertukaran udara, tekanan, suhu dan kelembaban udara, serta berbagai perangkat kerja (mesin dan bukan mesin).
  2. Lingkungan kimia, misalnya bahan baku, bahan jadi, dan bahan sisa yang ada hubungannya dengan kegiatan perusahaan, terutama sekali bahan kimia yang mempunyai sifat fisio-kimia radiasi dan sebagainya.
  3. Lingkungan biologi, misalnya flora dan fauna yang ada hubungannya dengan kegiatan perusahaan.
  4. Lingkungan sosial, misalnya terhadap sesama pekerja, masyarakat sekitar perusahaan, keluarga tenaga kerja, dan lain-lain. (Dainur, 1995)

Faktor lingkungan merupakan salah satu faktor penyebab timbulnya gangguan kesehatan. Demikian juga lingkungan kerja, merupakan salah satu faktor penyebab penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja. Lingkungan sosial tenaga kerja, dianggap ikut mempengaruhi kesehatan mental tenaga kerja. Lingkungan sosial yang kurang sehat, dapat menyebabkan kelengahan, kelalaian, serta keadaan mental lainnya yang sering menyebabkan gangguan kesehatan serta kecelakaan kerja diperusahaan. Maka hampir semua faktor lingkungan kerja sewaktu-waktu dapat mengganggu kesehatan serta menimbulkan kecelakaan kerja, terutama lingkungan kerja yang kurang sehat. (Dainur, 1995)

Penilaian lingkungan kerja merupakan penilaian terhadap semua segi (tenaga kerja, alat produksi bahan baku, bahan jadi serta bahan sisa, dan proses produksi sendiri) dalam merencanakan tindakan pencegahan penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja. Dalam melaksanakan tugasnya, unit penyehatan lingkungan biasanya bekerja sama (time work) dengan unit-unit lain diperusahaan (unit keselamatan kerja, unit program kerja masing-masing unit merupakan program terpadu dan saling menunjang untuk meningkatkan produktifitas kerja). Dengan demikian dapat dimengerti bahwa kegiatan unit penyehatan lingkungan kerja (hygiene perusahaan), umumnya lebih bersifat teknis, dan biasanya dipimpin oleh seorang ahli penyehatan (sanitarian engineering). Misalnya dalam perencanaan bangunan perusahaan, serta kegiatan produksi perusahaan, seorang ahli penyehatan perusahaan berperan penting dalam mempersiapkan lingkungan kerja yang sehat dan nyaman bagi tenaga kerja perusahaan yang bersangkutan. (Dainur, 1995).

Kesehatan kerja adalah upaya perusahaan untuk mempersiapkan, memelihara serta tindakan lainnya dalam rangka pengadaan serta penggunaan tenaga kerja dengan kesehatan (fisik, mental, dan sosial) yang maksimal, sehingga dapat berproduksi secara maksimal pula. Kesehatan kerja direncanakan serta dilaksanakan oleh unit kesehatan kerja perusahaan, dan dalam kegiatannya bekerjasama dengan pimpinan perusahaan, dan dalam unit-unit lainnya yang berkaitan dengan kesehatan serta keselamatan kerja. (Dainur, 1995)

Dalam kegiatannya diperusahaan, unit keselamatan kerja bertanggung jawab terhadap pengadaan serta pemeliharaan kesehatan tenaga kerja yang sesuai dengan bidang pekerjaan menurut keahliannya. Untuk itu unit kesehatan kerja wajib mempersiapkan program pengamatan serta pengawasan kesehatan tenaga kerja, yaitu program supervisi langsung dalam perusahaan, mengamati segala faktor yang mempengaruhi kesehatan kerja.

Semua kegiatan unit kesehatan kerja ditujukan pada pencegahan gangguan kesehatan serta kecacatan tenaga kerja perusahaan. Sebagai obyek atau sasaran kegiatan adalah tenaga kerja sebagai satu kesatuan biologi, sehingga dapat dimengerti bahwa secara keseluruhan kegiatan unit tersebut lebih banyak bersifat teknis medis. Karena itu bila ditinjau dari sasaran dan sifat kegiatan, maka unit kesehatan kerja sangat berbeda dari hygiene perusahaan, namun tujuan keduanya sama, yaitu mengusahakan tenaga kerja sehat untuk berproduksi semaksimal mungkin bagi perusahaan. Kedua unit tersebut juga bersama-sama melakukan upaya yang sifatnya mencegah penyakit serta cacat akibat kerja.

Unit kesehatan kerja biasanya dipimpin oleh seorang dokter yang juga membawai sub unit lain (rumah sakit, sub unit darurat medic, dan sebagainya) yang menunjang kegiatan unit kesehatan kerja. Beberapa program unit kesehatan kerja:

  1. Program pemeriksaan kesehatan pendahuluan pada calon tenaga kerja. Bertujuan memeriksa kesehatan fisik dan mental, terutama untuk seleksi tenaga kerja yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang tersedia, disamping itu juga mengumpulkan data sebagai data dasar bagi pemeliharaan kesehatan berikutnya,setelah menjadi tenaga kerja tetap diperusahaan tersebut.
  2. Program pemeriksaan kesehatan berkala yang langsung dilakukan saat tenaga kerja melakukan kegiatan pada bidang pekerjaannya. Program ini bertujuan mengamati atau supervise berdasarkan data dasar tentang kesehatan tenaga kerja yang bersangkutan. Dalam pengamatan tersebut, terutama diamati sikap mental dalam melakukan pekerjaan, dan keadaan kesehatan menyeluruh saat melakukan pekerjaan. Tujuan utamanya adalah mengamati segala kemungkinan yang dapat mempengaruhi kesehatan dan kelancaran pekerjaan mereka.
  3. Program pengobatan jalan, peralatan, pertolongan gawat darurat dirumah sakit dan sub unit lainnya. Program berwujud tindakan medis / bagi setiap karyawan serta keluarganya yang memerlukan. Program lainnya adalah perbaikan gizi tenaga kerja, keluarga berencana dan sebagainya, yang tidak kalah pentingnya dan sesuai dengan program kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
  4. Program pengembangan ketrampilan serta pengetahuan tenaga unit kesehatan kerja, dan juga program pengembangan perangkat teknis kedokteran, dan lain-lain.
  5. Program penyuluhan kesehatan. Merupakan program yang berintikan tindakan pencegahan yang dapat dilakukan tenaga kerja sendiri, misalnya tata kehidupan dan pekerjaan yang sesuai dengan kaidah kesehatan, terutama yang menyangkut kebersihan, penggunaan alat pelindung atau pengaman (helm, masker, air plug, dan sebagainya) yang mampu melindungi gangguan kesehatan serta kecelakaan. Program penyuluhan terutama diarahkan pada berbagai masalah yang ditemukan dari hasil pengamatan atau supervisi. Pelaksanaan program penyuluhan dapat dilakukan secara masal ataupun pada saat supervisi.

Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan hubungan tenaga kerja dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan, dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja, lingkungan kerja, dan cara-cara melakukan pekerjaan tersebut. Unit keselamatan kerja merupakan suatu unit yang bertanggung jawab atas tempat, alat, mesin, pesawat yang aman bagi tenaga kerja dan sesuai dengan kondisi kerja juga bertanggung jawab dalam penyediaan alat keselamatan / pengaman / pelindung yang cocok serta menyenangkan bagi tenaga kerja.

Tujuan keselamatan kerja antara lain:

  1. Melindungi hak keselamatan tenaga kerja dalam / selamat melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup serta peningkatan produksi dan produktifitas nasional.
  2. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja.
  3. Memelihara sumber produksi serta menggunakannya dengan amat dan berdaya guna (efisien).

Sehubungan dengan kondisi-kondisi di Indonesia, maka keselamatan kerja dinilai sebagai berikut:

  1. Keselamatan kerja adalah sarana utama pencegahan kecelakaan, cacat, dan kematian akibat kerja. Keselamatan kerja yang baik adalah pintu gerbang keamanan serta kenyamanan tenaga kerja selama melakukan pekerjaannya. Kecelakaan kerja selain menyebabkan hambatan langsung, juga menimbulkan kerugian tak langsung, misalnya kerusakan mesin dan peralatan kerja lainnya, terhentinya produksi, dan biaya yang harus dikeluarkan akibat kecelakaan kerja, serta kerusakan lingkungan kerja, yang secara nasional merupakan jumlah kerugian yang sangat besar.
  2. Analisis kecelakaan kerja nasional berdasarkan angka wajib lapor kecelakaan dan angka / data kompensasi / santunan, tampaknya relative rendah dibandingkan dengan banyaknya jam kerja, namun keadaan tersebut belum menggembirakan, karena adanya kelemahan dalam sistem pencatatan serta pelaporan yang memerlukan penyempurnaan.
  3. Potensi berbahaya yang mengancam keselamatan kerja pada berbagai sektor:

a)         Sektor dan sub sektor pertanian, serta sektor perkebunan menampilkan teknologi sebagai potensi yang mengancam keselamatan, misalnya penggunaan racun hama, modernisasi / mekanisasi sektor tersebut.

b)        Sektor industry dengan bahaya potensial, misalnya keracunan bahan kimia, kecelakaan mesin, kebakaran, ledakan dan lain-lain.

c)         Sektor pertambangan yang mempunyai resiko khusus akibat kecelakaan tambang minyak, gas bumi, dan sebagainya, termasuk bidang pekerjaan yang rawan pekerjaan.

d)        Sektor perhubungan cukup potensial terhadap bahaya kecelakaan lalu lintas darat, laut, dan udara, serta bahaya potensial pariwisata.

Pada analisis kecalakaan kerja, didapatkan faktor penyebab yang bersumber dari alat mekanik, lingkungan kerja, serta manusia sendiri. Dan hampir 85 % kecelakaan kerja di sebabkan oleh faktor manusia karenanya upaya keselamatan kerja, selain ditujukan pada mesin atau alat kerja lainnya (mekanik kerja), terutama perlu memperhatikam aspek-aspek manusiawi.

BAB III

PEMBAHASAN

A.  Gambaran umum PT Geo Dipa Dieng

Energi panas bumi, adalah energi panas yang tersimpan dalam batuan di bawah permukaan bumi dan fluida yang terkandung didalamnya. Energi panas bumi telah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik di Italy sejak tahun 1913 dan di New Zealand sejak tahun 1958. Pemanfaatan energi panas bumi untuk sektor non‐listrik (direct use) telah berlangsung di Iceland sekitar 70 tahun. Meningkatnya kebutuhan akan energi serta meningkatnya harga minyak, khususnya pada tahun 1973 dan 1979, telah memacu negara‐negara lain, termasuk Amerika Serikat, untuk mengurangi ketergantungan mereka pada minyak dengan cara memanfaatkan energi panas bumi. Saat ini energi panas bumi telah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik di 24 Negara, termasuk Indonesia. Disamping itu fluida panas bumi juga dimanfaatkan untuk sektor non‐listrik di 72 negara, antara lain untuk pemanasan ruangan, pemanasan air, pemanasan rumah kaca, pengeringan hasil produk pertanian, pemanasan tanah, pengeringan kayu, kertas dll.

Di Indonesia usaha pencarian sumber energi panasbumi pertama kali dilakukan di daerah Kawah Kamojang pada tahun 1918. Pada tahun 1926 hingga tahun 1929 lima sumur eksplorasi dibor dimana sampai saat ini salah satu dari sumur tersebut, yaitu sumur KMJ‐3 masih memproduksikan uap panas kering atau dry steam. Pecahnya perang dunia dan perang kemerdekaan Indonesia mungkin merupakan salah satu alasan dihentikannya kegiatan eksplorasi di daerah tersebut.

Kegiatan eksplorasi panasbumi di Indonesia baru dilakukan secara luas pada tahun 1972. Direktorat Vulkanologi dan Pertamina, dengan bantuan Pemerintah Perancis dan New Zealand melakukan survey pendahuluan di seluruh wilayah Indonesia. Dari hasil survey dilaporkan bahwa di Indonesia terdapat 217 prospek panasbumi, yaitu di sepanjang jalur vulkanik mulai dari bagian Barat Sumatera, terus ke Pulau Jawa, Bali, Nusatenggara dan kemudian membelok ke arah utara melalui Maluku dan Sulawesi. Survey yang dilakukan selanjutnya telah berhasil menemukan beberapa daerah prospek baru sehingga jumlahnya meningkat menjadi 256 prospek, yaitu 84 prospek di Sumatera, 76 prospek di Jawa, 51 prospek di Sulawesi, 21 prospek di Nusatenggara, 3 prospek di Irian, 15 prospek di Maluku dan 5 prospek di Kalimantan. Sistim panas bumi di Indonesia umumnya merupakan sistim hidrothermal yang mempunyai temperatur tinggi (>225oC), hanya beberapa diantaranya yang mempunyai temperatur sedang (150‐225oC).

Pengalaman dari lapangan‐lapangan panas bumi yang telah dikembangkan di dunia maupun di Indonesia menunjukkan bahwa sistem panas bumi bertemperatur tinggi dan sedang, sangat potensial bila diusahakan untuk pembangkit listrik. Potensi sumber daya panas bumi Indonesia sangat besar, yaitu sekitar 27500 MWe , sekitar 30‐40% potensi panas bumi dunia yang salah satunya terdapat di daerah Dataran Tinggi Dieng yaitu PT. Geo Dipa.

Secara garis besar perkembangan PT. Geo Dipa Energi Unit Dieng telah melewati berbagai kejadian penting antara lain:

Pemerintah Hindia Belanda

Sejarah perkembangan proyek panas bumi Dieng dimulai oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1918 dengan memulai penyelidikan potensi panas bumi Dieng. Pada tahun 1964 hingga 1965 UNESCO mengidentifikasikan dan menetapkan bahwa Dieng sebagai salah satu prospek panas bumi yang sangat bagus di Indonesia. Hal ini ditindaklanjuti oleh USGS, pada tahun 1970 USGS melakukan survey geosfisika dan tahun 1973 melakukan pengeboran 6 sumur dangkal (kedalaman maksimal 150 meter) dengan temperatur 92 – 175° Celcius.

Pertamina

Pada tanggal 17 Agustus 1974 Dieng ditetapkan oleh Menteri Pertambangan dan Energi dengan surat keputusan No.491/KPTS/M/Pertamb/1974 sebagai wilayah kerja VI panas bumi bagi Pertamina, meliputi area seluas 107.361.995 hektar. Penyelidikan geologi, geokimia, dan geofisika, serta pengeboran landai suhu berhasil diselesaikan Pertamina pada tahun 1976. Hingga tahun 1994 Pertamina sudah menyelesaikan 27 sumur uji produksi (21 sumur di Sikidang, 3 sumur di Sileri, dan 3 sumur di Pakuwajan). Selama tahun 1981 ± 1983 Pertamina menghasilkan power plant unit kecil berkapaitas 2 MW.

Himpurna California Energy Ltd. (HCE)

Tahun 1994 lapangan panas bumi di Dieng dipegang oleh Himpurna California Energy Ltd (HCE) yang merupakan perusahaan gabungan antara California Energy Ltd (CE) sebagai pemegang saham mayoritas (90%) dengan Himpurna Erasindo Abadi (HEA) sebagai pemegang saham minoritas (10%).  HCE sejak tahun 1995 ± 1996 melakukan kegiatan sebagai berikut: pengeboran 15 sumur produksi dan sumur re-injeksi, sehingga mampu menghasilkan uap di kepala separator sebanyak 194 MW. Membangun jaringan pipa uap, separator, brinesystem, dan gathering system serta membangun pusat pembangkit listrik tenaga panas bumi unit 1 dengan kapasitas terpasang 60 MW. Melakukan komosioning dan operasi komersil PLTP unit 1 selama 72 jam pada tanggal 5 Juli ± 8 Juli 1998. Akibat adanya sengketa antara HCE dan PT.PLN (Persero) serta dikeluarkannya Surat Keputusan Presiden RI No 39tahun 1997 dan Surat Keputusan Presiden No 5 tahun 1998, maka padatahun 1998 California Energi Ltd menggugat PT. PLN (Persero) melalui Mahkamah Arbitrase Internasional dan gugatan terjadi pada tahun 2000 dan dimenangkan oleh HCE.

Overseas Private Investment Cooperation (OPIC)

Setelah sengketa HCE selesai, untuk sementara klaim California Energy Ltd ini dibayar oleh Overseas Private Investment Cooperation (OPIC) dan kepemilikan saham mayoritas proyek PLTP Dieng dipegangoleh OPIC. Mengingat pemerintah Republik Indonesia turut menjamin proyek ini. OPIC meminta agar pemerintah Republik Indonesia mengganti klaim tersebut. Pada bulan September tahun 2000 sampai bulan Agustus tahun 2002, OPIC dan Pertamina menandatangani Intern Agreement untuk melaksanakan perawatan dan pemeliharaan fasilitas aset yang ditinggalkan oleh HCE, pada tanggal 27 Agustus 2001 pemerintah Republik Indonesia menandatangani Final Settlement Agreement yang menyatakan kepemilikan saham mayoritas berpindah dari OPIC ke pemerintah Republik Indonesia di bawah Departemen Keuangan. Selanjutnya Menteri Keuangan Republik Indonesia melalui surat No.S,346/MK02/2001 tanggal 4 September 2001 menunjuk PT. PLN (Persero) untuk menerima dan mengelola aset Dieng Patuha.

Badan Pengelola Dieng Patuha (BPDP)

Melalui surat perjanjian kerjasama antara direksi PT. PLN (Persero) dengan direksi PT. Pertamina (Persero) No. 066-1/C00000/2001 tanggal 14 September 2001 membentuk Badan Pengelola Dieng Patuha (BPDP) yang bertugas untuk melakukan persiapan serta pengelolaan rekomisioning PLTP Unit 1 yang berkapasitas 60 MW serta merawat asset Dieng Patuha. Sejak tanggal 1 Oktober 2002 BPDP dibantu existing Employet, HCE, serta mitra usaha lainnya melaksanakan kegiatan rekomisioning tersebut dengan memperbaiki hampir seluruh peralatan yang ditinggalkan California Energy Ltd serta membangun rock muffler dan mengamati steam purifier sehingga proyek Dieng yang selama ini terbengkalai mampu beroperasi kembali dan menghasilkan menghasilkan listrik dari sumber daya panas bumi ke sistem interkoneksi terpadu Jawa ± Bali.

PT. Geo Dipa Energi

Sejak tanggal 4 September 2002 PT. Geo Dipa Energi mulai berperan dalam pengelolaan aset Dieng Patuha. PT. Geo Dipa Energi merupakan anak perusahaan dari PT. PLN (Persero) dan PT. Pertamina (Persero) yang didirikan pada tanggal 5 Juli 2002, lokasi kantor pusat berada di Jl. Karawitan no. 32 Bandung Jawa Barat, yang kegiatannya melakukan eksplorasi dan eksploitasi sumber panas bumi. PT. Geo Dipa Energi merupakan anak perusahaan dari dua BUMN terbesar di Indonesia, yaitu PT. Pertamina (Persero) memegang saham 67%, dan PT. PLN (Persero) dengan saham sebesar 33%.

Adapun visi dan misi PT. Geo Dipa yaitu:

  • Visi : Menjadi perusahaan raksasa kelas dunia dalam pengelolaan panas bumi dan ketenagalistrikan yang ramah lingkungan.
  • Misi :
  1. Memenuhi kebutuhan listrik nasional dengan mengutamakan efisiensi dan produktivitas sehingga menghasilkan listrik yang berkualitas untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi dan taraf kehidupan yang lebih baik bagi seluruh rakyat Indonesia.
  2. Menjadi entitas bisnis yang memiliki reputasi tinggi yang dikelola secara profesional, fokus dan memiliki keunggulan kompetitif dengan menggunakan teknologi modern sehingga memberikan nilai tambah terutama kepada para stakeholders pemegang saham, pelanggan, pekerja, dan masyarakat luas.
  • Moto : Keterbukaan ± Kebersamaan ± Keunggulan Leader in geothermal.

Dalam melaksanakan misi perusahaan, seluruh insan PT. Geo Dipa Energi selalu berpegang teguh kepada Tata Nilai Unggulan sebagai berikut:

  1. Visioner : memiliki wawasan dan jangkauan ke depan untuk tumbuh dan berkembang dengan menangkap peluang dan mengantisipasi resiko.
  2. Komitmen : memiliki komitmen untuk bekerja secara professional, dengan penuh tanggung jawab serta melakukan pembelajaran terus menerus.
  3. Keunggulan : mencapai keunggulan kinerja dalam segala aspek melalui perencanaan, mutu, safety, dan semangat kompetisi sehat.
  4. Keteladanan dan Penghargaan : menciptakan suasana salig percaya,memberikan apresiasi terhadap prestasi, senantiasa terbuka dalam bekerja sama, serta saling memberikan teladan.

Lokasi PT. Geo Dipa Energi terletak di daerah dataran tinggi Dieng. Disamping sebagai lokasi perusahaan, dataran tinggi Dieng juga sebagai lokasi wisata karena lokasi tersebut banyak terdapat peninggalan bersejarah seperti candi dan telaga. Suhu di dataran tinggi Dieng kurang lebih 20° C dengan ketinggian 2000 ± 2100 mdpl  (meter di atas permukaan laut). Lokasi perusahaan dapat ditempuh melalui dua jalur, yaitu kota Wonosobo dengan jarak tempuh kurang lebih 25 km, dan jalur kedua melalui kota Banjarnegara. Dataran tinggi Dieng merupakan perbatasan antara dua kabupaten, yaitu Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo.

PT. Geo Dipa Energi Unit Dieng merupakan perusahaan yang memiliki beberapa tempat atau lokasi, sehingga perusahaan ini tidak memiliki luas area yang sesungguhnya, antara lokasi satu ke lokasi lainnya saling berjauhan. Kompleks PLTP Dieng Unit 1 terletak di 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Batur, Kabupaten Banjanegara dan Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, meliputi areal seluas 107.351,995 hektar. Agar tidak terjadi kebingungan maka perusahaan memberikan kode pada setiap lokasi. Adapun nama-nama lokasi menurut wilayahnya :

  1. Wilayah Hilir
  • Pad  7  : lokasi ini  terdapat 3 sumur  produksi yaitu HCE 7A, HCE 7B, dan HCE 7C. Lokasi ini berada pada ketinggian 1909,5 meter di atas permukaan laut.
  • Pad 9 :  lokasi ini terdapat 2 sumur produksi yaitu sumur HCE 9B danDNG 9. Lokasi ini berada pada ketinggian 2028,6 meter di ataspermukaan laut.
  • Pad 28 : lokasi ini terdapat 2 sumur produksi yaitu sumur HCE 28Adan HCE 28B. Lokasi ini berada pada ketinggian 2076,3 meter di ataspermukaan laut.
  • Pad 31 : pada lokasi in hanya terdapat satu sumur produksi.
  1. Wilayah Hulu
  • Pad 17 : merupakan sumur injeksi. Lokasi ini berada pada ketinggian 2062,5 meter di atas permukaan laut.
  • Pad 29 :  lokasi ini terdapat satu sumur produksi yaitu DNG 29.
  • Nomo block, lokasi ini berada pada ketinggian 2062,5 meter di atas permukaan laut.
  • Power Plant merupakan lokasi pembangkit listrik tenaga panas bumi, tempat dimana steam dapat menggerakkan turbin yang menghasilkan daya listrik berkapasitas 60 MW.

Saat ini kapasitas produksi PT. Geo Dipa Energi Unit 1 Diengadalah 60 MW. Untuk mengoptimalkan potensi panas bumi yang terdapat di Dieng dan Patuha serta menyokong kebutuhan energi di masa depan, PT. Geo Dipa Energi telah membangun prospek panas bumi Dieng Unit 2. Pengembangan terus dilaksanakan dan diharapkan dapat segera beroperasi untuk menambah kapasitas produksi.

Kegiatan Produksi Perusahaan

  1. Secara umum proses produksi uap (steam) sebagai penggerak turbin yang bersumber dari panas bumi mengalami berbagai penyaringan. Uap yang keluar dari sumur dimasukkan ke dalam separator untuk dipisahkan antara uap dengan air. Kemudian uap dialirkan melaui steamline untuk menggerakkan turbin, sebelum masuk untuk menggerakkan sudu – sudu turbin uap disaring dalam scrubber. Scrubber ini berada padalokasi power plant. Untuk mencapai sumber panas bumi dilakukan pengecekan lokasi dan pengeboran yang mencapai kedalaman kurang lebih 2000 ± 2500meter, dari kedalaman tersebut dihasilkan uap (steam) yang digunakan untuk menggerakkan turbin. Turbin digunakan sebagai penggerak generator dengan kecepatan putar 3000 rpm, sehingga menghasilkan daya sebesar 60 MW. Sebagian besar listrik hasil produksi disalurkan kejaringan PLN sebesar 55 MW sedangkan yang 5 MW digunakan oleh PT.Geo Dipa Energi unit Dieng untuk menggerakkan pompa dan kegiatan produksi lainnya.
  2. Sumur Produksi Sumur produksi merupakan tempat pengeboran yang menghasilkan uap panas. Potensi uap (steam) yang dihasilkan di Dieng menghasilkan 60% uap berupa cairan dan 40 % berupa uap. Untuk mendapatkan uap dilakukan proses pemisahan dengan separator, sehingga dimungkinkan steam akan benar-benar murni dan dialirkan menuju power plant untuk menggerakkan turbin. Ketika brine dan steam masuk separator melalui pipa inlet, brine akan jatuh ke bagian bawah separator dan steam akan terangkat keluar melalui pipa outlet. Hal ini dapat terjadi karena berat jenis brine lebih berat dari pada steam. Setelah uap keluar dari separator akan dialirkan menuju power plant, sedangkan brine dikeluarkan melalui pipa dibagian bawah separator dan akan dibantu brine injection pump untuk mengalirkannya ke sumur ± sumur injeksi. Di dalam separator level dan tekanannya harus dijaga. Untuk menjaga tinggi permukaan brine yang ada di separator digunakan LCV (Level Control Valve), dan untuk menjaga tekanan dari brine yang ada didalam separator digunakan PCV (Pressure Control Valve) adalah valve yang bekerja pada tekanan tertentu, valve ini membuka ketika tekanan yang ada di dalam separator lebih besar dari tekanan yang telah diatur dan begitu juga sebaliknya. PCV merupakan partner kerja dari dump valve. Dump valve berfungsi untuk, mengatur aliran brine apabila LCV sudah membuka100% brine akan dialirkan ke silencer kemudian dari silencer akan didinginkan di balong (kolam). Jalur pipa yang terdapat di industry tersebut di lapisi dengan Kalsit yang dapat menjaga agar pipa tersebut tidak panas, karena panas yang asli dikeluarkan dari bumi adalah 240 0C yang jika terkena kulit dapat melepuh, namun jika telah dilapisi Kalsit, panas berkurang hingga menjadi kurang lebih 20 0C.

Hasil produksi dari perusahaan ini berupa listrik yang dibeli oleh PT. PLN (Persero) dan langsung tersambung dengan sistem interkoneksi Jawa ± Bali. Pada PLTP Unit 1 Dieng beban listrik yang ditargetkan untuk dicapai setiap harinya adalah sebesar 60 MW, dimana kurang lebih 5 MW digunakan untuk operasional perusahaan.

B.  Alat Pelindung Diri di PT Goe Dipa Dieng

Beberapa alat pelindung diri (APD) yang digunakan pada PT. Geo Dipa Dieng yaitu:

  1. Helm standar (bertanda ANCI)
  2. Sepatu Safety (terbuat dari kulit)
  3. Sepatu Karet (berpelindung)
  4. Kaca mata putih dan hitam (untuk pekerja di bidang pengelasan)
  5. Pelindung Muka (Faceil)
  6. Sarung Tangan (untuk menjaga dari larutan H2SO4)
  7. Google
  8. Pelindung telinga (untuk para pekerja di generator)
  9. Pelindung telinga yang dapat dipasang di helm
  10. Of Roll
  11. Masker Debu
  12. Masker Chemical
  13. Sarung Tangan Anti Listrik (bisa menangkal 15.000 whatt)
  14. Sarung Tangan Tahan Panas (untuk pekerja di bagian sumur, dapat menahan panas hingga 100 0C)
  15. Sarung Tangan Biasa (untuk benda tajam)
  16. Safety Belt (untuk pekerja pada ketinggian diatas 3 meter)
  17. Personal Detector (untuk mendeteksi gas beracun yang lebih dari 3000 ppm) => setiap 10 ppm, alat tersebut akan berbunyi yang menandakan bahwa gas yang ada tersebut beracun sehingga pekerja harus lari ke tempat yang lebih aman
  18. Masker Ska-pak (alat bantu pernapasan pekerja dengan rescue time max 30 menit)
  19. Sensor Manual Permanent (perlindungan lapangan untuk mengetahui gas beracun).

C.  Penyakit yang ditimbulkan akibat kerja di PT Geo Dipa Dieng

PT Geo Dipa adalah salah satu industry yang memiliki titik rawan pada pekerjaan yang ada di industry tersebut. Beberapa penyakit yang dapat ditimbulkan akibat kerja di PT Geo Dipa diantaranya yaitu:

  1. Penyakit karena kebisingan => gangguan pendengaran, stress
  2. Penyakit karena Asap => gangguan sistem pernafasan, iritasi mata
  3. Penyakit karena radiasi sinar komputer => gangguan syaraf mata
  4. Gas beracun => keracunan, gangguan sistem pernafasan

Selain itu, dikarenakan faktor wilayah, PT Geo Dipa terletak di dataran tinggi Dieng yang memiliki udara cukup dingin, sehingga para pekerja PT tersebut memiliki kebiasaan mengkonsumsi makanan yang enak sehingga timbul penyakit degeneratif.

D.  Sistem manajemen K3 di PT Geo Dipa Dieng

PT. Geo Dipa Dieng memiliki beberapa Sistem Manajemen dalam industry yang dikelolanya, diantaranya yaitu:

  1. Kegiatan Manajemen Resiko GCU / check up jantung, paru-paru, darah, dan lain-lain pada para pekerjanya.
  2. Adanya EPP (Equipment Protektif Perusahaan) dengan pemberian berbagai Alat Pelindung Diri (APD) kepada para pekerjanya sesuai dengan titik rawan masing-masing.
  3. Sertifikasi pemeliharaan pipa setiap setengah tahun sekali dengan mengukur ketebalan pipa yang masih layak digunakan atau tidak.

12 thoughts on “Laporan Kunjungan di PT Geo Dipa Dieng

  1. wahhh semoga penelitiannya semakin meningkatkan kualitas hidup rakyat kita. aku jcuma prnh maen k dieng dg pemandangan yg indah gt trnyta alam mulai rusak oleh manusia2 rakus. sayang sekali, jika terus berlanjut. ini usaha baek buat menyadarkan orang2 agar pny prtimbangan yg lebih utk para karyawan dan masyarakat.
    proficiat!!

  2. Assalamu’alaikum
    Saya Fajar mahasiswa jurusan Fisika Universitas Padjadjaran. Hendak bertanya saat anda melaksanakan Kunjungan ke PT Geodipa Dieng persyaratan apasaja yg harus dipenuhi ? Karena kebetulan jurusan kami hendak mengadakan Kunjungan Industri hanya saja sangat sulit untuk menghubungi pihak Geodipa nya. Terimakasih
    Tolong kirim balasannya via email saja
    odd.daqqi@yahoo.com
    Terimakasih

  3. Assalamu’alaikum, saya Mahasiswa Fisika dari Semarang, mau tanya, apa ada contoh lembar pengesahan Laporan Penelitian untuk Geo Dipa Energi Dieng, Thx🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s