Laporan Identifikasi Formalin

LAPORAN PRAKTIKUM

EKOTOKSIKOLOGI

IDENTIFIKASI FORMALIN PADA MAKANAN

“TAHU BULAT”

DISUSUN OLEH:

EVI NURHIDAYAH

B1003014

PROGRAM STUDI DIII KESEHATAN LINGKUNGAN

POLITEKNIK BANJARNEGARA

2011


BAB I

PENDAHULUAN

Latar belakang

Sejak pertengahan abad ke-20 ini, peranan bahan tanbahan pangan (BTP) khususnya bahan pengawet menjadi semakin penting sejalan dengan kemajuan teknologi produksi bahan tambahan pangan sintesis. Banyaknya bahan tambahan pangan dalam bentuk lebih murni dan tersedia secara komersil dengan harga yang relative murah akan mendorong meningkatnya pemakaian bahan tambahan pangan yang berarti meningkatnya kansumsi bahan tersebut bagi setiap individu.

Kita hidup dalam masyarakat menjadi sadar akan gizi dan sadar untuk menjadi konsumen yang baik. Dewasa ini, masyarakat bukan hanya tertarik pada aspek apakah bahan pangan memberikan cita rasa enak, apakah anak-anak mau menikmati makanan yang disajikan, tetapi lebih dari itu masyarakat telah tertarik pada hal-hal apakah bahan pangan itu baik untuk dikonsumsi dan komponen apa saja yang terdapat didalamnya.

Penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) dalam proses produksi pangan perlu diwaspadai bersama, baik oleh produsen maupun oleh konsumen. Dampak penggunaannya dapat berupa positif maupun negative bagi masyarakat. Penyimpanan dan penggunaannya akan membahayakan kita bersama, khususnya generasi muda sebagai penerus pembangunan bangsa.

Dibidang pangan kita mambutuhkan sesuatu yang lebih baik untuk masa yang akan datang, yaitu pangan yang aman untuk dikonsumsi, lebih bermutu, bergizi, dan lebih mampu bersaing dalam pasar global. Kebijakan keamanan pangan (food safety) dan pembangunan gizi nasional (food nutrient) merupakan bagian integral dari kebijakan pangan nasional, termasuk bahan tambahan pangan.

Saat ini, bahan tambahan pangan sulit kita hindari karena kerap terdapat dalam makanan dan minuman yang kita konsumsi, khususnya makanan olahan. Apalagi penggunaan bahan tambahan makanan yang melebihi batas maksimum penggunaan dan bahan tambahan kimia yang dilarang (berbahaya) yang kerap menjadi isu hangat dimasyarakat. Sama halnya seperti Borak, bahan tambahan pangan Formalin merupakan salah satu bahan yang dilarang digunakan dalam makanan namun keberadaannya disekitar kita sudah tidak dapat dihindari karena begitu bayaknya produsen yang sengaja menggunakan formalin dalam mengolah produksi pangannya guna tujuan tertentu.

Masyarakat dan industry perlu memperhatikan bahan tambahan pangan dalam hubungannya dengan kemungkinan pemalsuan terhadap komponen yang berkualitas rendah dan kemungkinan bahaya yang ditimbulkan oleh komponen beracun dalam bahan pangan. Problema aditif pangan hendaknya dilihat hanya sebagai satu aspek saja dari problema yang lebih umum terhadap bahan kimia toksis dan keamanan pangan.

Nama formalin yang sering kita dengar dan kini menghebohkan masyarakat adalah suatu larutan yang tidak berwarna, berbau tajam, yang biasanya digunakan sebagai pengawet. Penggunaan formalin yang salah merupakan hal yang sangat disesalkan. Melalui sejumlah survey dan pemeriksaan laboratorium, ditemukan sejumlah produk pangan yang memanfaatkan formalin sebagai pengawet. Praktek yang salah semacam itu dilakukan oleh produsen atau pengelola pangan yang tidak bertanggung jawab. Beberapa contoh produk pangan yang sering mengandung formalin diantaranya yaitu: ikan segar, ikan asin, ayam potong, mie basah dan tahu yang beredar dipasaran sekitar kita.

Formalin memiliki berbagai nama lain yang banyak tidak diketahui oleh masyarakat sehingga mempersulit masyarakat untuk mengetahui makanan tersebut mengandung formalin atau tidak. Oleh karena itu, dilaksanakan praktikum identifikasi formalin pada makanan khususnya (tahu bulat) yang banyak beredar disekitar kita agar kita mengetahui ada tidaknya formalin dalam makanan tersebut serta mengetahui cirri-ciri berbagai makanan lain yang mengandung formalin sehingga dapat mengurangi masalah yang ada beserta dampak yang ditimbulkannya.

Tujuan

Tujuan dari pelaksanaan praktikum adalah:

  1. Untuk mengetahui alat, bahan, dan cara kerja yang benar dalam mengidentifikasi Formalin pada makanan,
  2. Untuk mengetahui interpretasi hasil dari praktikum yang telah dilaksanakan,
  3. Untuk mengetahui cirri-ciri dari makanan yang mengandung Formalin.
  1. Waktu dan tempat

Praktikum dilaksanakan di Dinas Kesehatan Kabupaten pada hari Kamis 29 Desember 2011 pukul 09.00 sampai selesai.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Senyawa kimia formaldehida (juga disebut metanal, atau formalin), merupakan aldehida dengan rumus kimia H2CO, yang berbentuknya gas, atau cair yang dikenal sebagai formalin, atau padatan yang dikenal sebagai paraformaldehyde atau trioxane. Formaldehida awalnya disintesis oleh kimiawan Rusia Aleksandr Butlerov tahun 1859, tapi diidentifikasi oleh Hoffman tahun 1867. (Wikipedia, 2011)

Pada umumnya, formaldehida terbentuk akibat reasi oksidasi katalitik pada metanol. Oleh sebab itu, formaldehida bisa dihasilkan dari pembakaran bahan yang mengandung karbon dan terkandung dalam asap pada kebakaran hutan, knalpot mobil, dan asap tembakau. Dalam atmosfer bumi, formaldehida dihasilkan dari aksi cahaya matahari dan oksigen terhadap metana dan hidrokarbon lain yang ada di atmosfer. Formaldehida dalam kadar kecil sekali juga dihasilkan sebagai metabolit kebanyakan organisme, termasuk manusia. (Wikipedia, 2011).

Meskipun dalam udara bebas formaldehida berada dalam wujud gas, tetapi bisa larut dalam air (biasanya dijual dalam kadar larutan 37% menggunakan merk dagang ‘formalin’ atau ‘formol’ ). Dalam air, formaldehida mengalami polimerisasi dan sedikit sekali yang ada dalam bentuk monomer H2CO. Umumnya, larutan ini mengandung beberapa persen metanol untuk membatasi polimerisasinya. (Wikipedia, 2011).

Formalin adalah larutan formaldehida dalam air, dengan kadar antara 10%-40%. Meskipun formaldehida menampilkan sifat kimiawi seperti pada umumnya aldehida, senyawa ini lebih reaktif daripada aldehida lainnya. Formaldehida merupakan elektrofil, bisa dipakai dalam reaksi substitusi aromatik elektrofilik dan sanyawa aromatik serta bisa mengalami reaksi adisi elektrofilik dan alkena. Dalam keberadaan katalis basa, formaldehida bisa mengalami reaksi Cannizzaro, menghasilkan asam format dan metanol. Formaldehida bisa membentuk trimer siklik, 1,3,5-trioksana atau polimer linier polioksimetilena. Formasi zat ini menjadikan sifat-sifat gas formaldehida berbeda dari sifat gas ideal, terutama pada tekanan tinggi atau udara dingin. Formaldehida bisa dioksidasi oleh oksigen atmosfer menjadi asam format, karena itu larutan formaldehida harus ditutup serta diisolasi supaya tidak kemasukan udara. (Wikipedia, 2011).

Secara industri, formaldehida dibuat dari oksidasi katalitik metanol. Katalis yang paling sering dipakai adalah logam perak atau campuran oksida besi dan molibdenum serta vanadium. Dalam sistem oksida besi yang lebih sering dipakai (proses Formox), reaksi metanol dan oksigen terjadi pada 250 °C dan menghasilkan formaldehida, berdasarkan persamaan kimia:

2 CH3OH + O2 → 2 H2CO + 2 H2O.

Katalis yang menggunakan perak biasanya dijalankan dalam temperatur yang lebih tinggi, kira-kira 650 °C. dalam keadaan ini, akan ada dua reaksi kimia sekaligus yang menghasilkan formaldehida: satu seperti yang di atas, sedangkan satu lagi adalah reaksi dehidrogenasi

CH3OH → H2CO + H2.

Bila formaldehida ini dioksidasi kembali, akan menghasilkan asam format yang sering ada dalam larutan formaldehida dalam kadar ppm. (Wikipedia, 2011).

Di dalam skala yang lebih kecil, formalin bisa juga dihasilkan dari konversi etanol, yang secara komersial tidak menguntungkan. Formaldehida dapat digunakan untuk membasmi sebagian besar bakteri, sehingga sering digunakan sebagai disinfektan dan juga sebagai bahan pengawet. Sebagai disinfektan, Formaldehida dikenal juga dengan nama formalin dan dimanfaatkan sebagai pembersih; lantai, kapal, gudang dan pakaian. Formaldehida juga dipakai sebagai pengawet dalam vaksinasi. Dalam bidang medis, larutan formaldehida dipakai untuk mengeringkan kulit, misalnya mengangkat kutil. Larutan dari formaldehida sering dipakai dalam membalsem untuk mematikan bakteri serta untuk sementara mengawetkan bangkai. (Wikipedia, 2011).

Dalam industri, formaldehida kebanyakan dipakai dalam produksi polimer dan rupa-rupa bahan kimia. Jika digabungkan dengan fenol, urea, atau melamina, formaldehida menghasilkan resin termoset yang keras. Resin ini dipakai untuk lem permanen, misalnya yang dipakai untuk kayulapis/tripleks atau karpet. Juga dalam bentuk busa-nya sebagai insulasi. Lebih dari 50% produksi formaldehida dihabiskan untuk produksi resin formaldehida. (Wikipedia, 2011).

Untuk mensintesis bahan-bahan kimia, formaldehida dipakai untuk produksi alkohol polifungsional seperti pentaeritritol, yang dipakai untuk membuat cat bahan peledak. Turunan formaldehida yang lain adalah metilena difenil diisosianat, komponen penting dalam cat dan busa poliuretana, serta heksametilena tetramina, yang dipakai dalam resin fenol-formaldehida untuk membuat RDX (bahan peledak). Sebagai formalin, larutan senyawa kimia ini sering digunakan sebagai insektisida serta bahan baku pabrik-pabrik resin plastik dan bahan peledak. (Wikipedia, 2011)

Berikut daftar kegunaan formalin:

Karena resin formaldehida dipakai dalam bahan konstruksi seperti kayu lapis/tripleks, karpet, dan busa semprot dan isolasi, serta karena resin ini melepaskan formaldehida pelan-pelan, formaldehida merupakan salah satu polutan dalam ruangan yang sering ditemukan. Apabila kadar di udara lebih dari 0,1 mg/kg, formaldehida yang terhisap bisa menyebabkan iritasi kepala dan membran mukosa, yang menyebabkan keluarnya air mata, pusing, teggorokan serasa terbakar, serta kegerahan. Jika terpapar formaldehida dalam jumlah banyak, misalnya terminum, bisa menyebabkan kematian. Dalam tubuh manusia, formaldehida dikonversi menjadi asam format yang meningkatkan keasaman darah, tarikan napas menjadi pendek dan sering, hipotermia, juga koma, atau sampai kepada kematiannya. Di dalam tubuh, formaldehida bisa menimbulkan terikatnya DNA oleh protein, sehingga mengganggu ekspresi genetik yang normal. Binatang percobaan yang menghisap formaldehida terus-terusan terserang kanker dalam hidung dan tenggorokannya, sama juga dengan yang dialami oleh para pegawai pemotongan papan artikel. Tapi, ada studi yang menunjukkan apabila formaldehida dalam kadar yang lebih sedikit, seperti yang digunakan dalam bangunan, tidak menimbulkan pengaruh karsinogenik terhadap makhluk hidup yang terpapar zat tersebut. (Wikipedia, 2011).

Formalin merupakan bahan tambahan kimia yang efisien, tetapi dilarang ditambahkan pada bahan pangan (makanan), tetapi ada kemungkinan formalin digunakan dalam pengawet susu, tahu, mie, ikan asin, ikan basah, dan produk pangan lainnya.

Larutan Formaldehide atau larutan for,alin mempunyai nama dagang formalin, formol, atau mikrobisida dengan rumus molekul CH2O mengandung kira-kira 37% gas formaldehyde dalam air. Biasanya ditambahkan 10-15% methanol untuk menghindari polimerasi. Larutan ini sangat kuat dan dikenal dengan formalin 100% atau formalin 40%, yang mengandung 40 gram formaldehyde dalam 100 ml pelarut. (Windholz et.,al.,1983)

Menurut Reynolds (1982) formaldehyde adalah gas dengan titik didih dari 21 oC sehingga tidak dapat disimpan dalam keadaan cair ataupun gas. Dalam perdagangan dijumpai formalin, yaitu larutan formaldehyde yang mengandung 34-38% b/b CH2O dengan metyl alcohol sebagai stabilisator untuk memperlambat polimerisasi formaldehyde menjadi paraformaldehide yang padat.

Formalin merupakan cairan jernih yang tidak berwarna atau hampir tidak berwarna dengan bau yang menusuk, upaya merangsang selaput lendir hidung dan tenggorokan, dan rasa membakar. Bobot tiap ml adalah 1,08 gram. Dapat bercampur dalam air dan alcohol, tetapi tidak bercampur dalam chloroform dan eter. Sifatnya yang larut dalam air dikarenakan adanya electron sunyi pada oksigen sehingga dapat mengadakan ikatan hydrogen molekul air (Fessenden, 1986).

Larutan formaldehyde adalah desinfektan yang efektif melawan bakteri vegetative, jamur, atau virus, tetapi kurang efektif melawan bakteri. Formaldehyde bereaksi dengan protein, dan hal tersebut mengurangi aktifitas mikroorganisme. Efek sporodisnya yang meningkat tajam dengan adanya kenaikan suhu. Larutan formaldehyde 0,5% dalam waktu 6-12 jam dapat membunuh bakteri dan dalam waktu 2-4 hari dapat membunuh spora. Sedangkan larutan 80% dapat membunuh spora dalam waktu 18 jam (Angka, 1992).

Sifat antimicrobial dari formaldehyde merupakan hasil dari kemampuannya menginaktifasi protein dengan cara mengkondensasi dengan ammino bebas dalam protein menjadi campuran lain. Kemampuan dari formaldehyde meningkat seiring dengan peningkatan suhu. (Lung, 1994). Mekanisme formalin sebagai pengawet adalah jika formaldehyde bereaksi dengan protein sehingga membentuk rangkaian-rangkaian antara protein yang berdekatan. Akibat dari reaksi tersebut, protein mengeras dan tidak dapat larut. (Standen, 1966, dalam Herdiantini, 2003). Formaldehyde mungkin berkombinasi dengan asam amino bebas dari protein pada sel protoplasma, merusak nukleus, dan mengkoagulasi protein (Fazier N Westhoff, 1988).

Formaldehyde dapat merusak bekteri karena bakteri adalah protein. Pada reaksi formeldehide dengan protein, yang pertama kali diserang adalah gugus amina pada posisi dari lisin diantara gugus-gugus polar dari peptidanya. (Angka, 1992).

Sifat penitrasi formaldehyde cukup baik, tetapi gerakan penetrasinya lambat sehingga walaupun formeldehide dapat digunakan untuk mengawetkan sel-sel, tetapi tidak dapat melindunginya secara sempurna, kecuali bila diberikan dalam waktu lama sehingga jaringan menjadi keras. (Huber, 1982 dalam Sarastika, 1990 dalam Herdiantini, 2003).

Formaldehyde atau formalin eximethylene terdapat dalam bentuk gas HCHO dalam bentuk larutan yang digunakan sebagai antiseptic, untuk menghilangkan bau dan digunakan sebagai bahan fumigasi (uap / kabut) baunya yang tajam merangsang dapat menyebabkan mati lemas (Adiwisastra, 1992). Formalin digunakan sebagai desinfektan untuk rumah, perahu, gudang, kain, sebagai germisida dan fungisida tanaman dan buah-buahan, digunakan pada pabrik sutra sintetik, fenilikresin, selulora ester, bahan peledak, mengeraskan film pada fotografi, mencegah perubahan dan mengkoagulasikan lateks, dan sebagainya. (Windholz, et.,al.,1983). Formaldehyde banyak digunakan pada industry tekstil untuk mencegah bahan menjadi kusut dan meningkatkan ketahanan bahan tenunan (Klaassen.,et.,el.,1991). Dalam bidang farmasi formalin digunakan sebagai pendetoksifikasi toksin dalam vaksin, dan juga untuk obat penyakit kutil karena kemampuannya merusak protein. (Angka, 1992).

Formaldehyde digunakan sebagai obat pembasmi hama untuk membunuh virus, bakteri, jamur, dan benalu yang efektif pada konsentrasi tinggi. Ganggang, amoeba, atau binatang bersel satu, dan organism uniseluler lain, relative sensitive terhadap formaldehyde dengan konsentrasi yang mematikan berkisar antara 0,3 sampai 22 mg/ liter. Hewan vertebrata air menunjukkan respons dengan cakupan yang luas. Beberapa binatang berkulit keras adalah yang paling sensitif dengan nilai konsentrasi efektif menengah berkisar antara 0,4-20 mg/liter. Pengujian selama 96 jam pada beberapa jenis ikan, konsentrasi formeldehide yang mematikan untuk spesies dewasa minimum berkisar 10 mg/liter sampai maksimum beberapa ratus mg/liter. Kebanyakan spesies menunjukan konsentrasi mematikan dengan nilai sekitar 59-100 mg/liter. Respons berbagai spesies binatang amfibi sama dengan ikan diatas dengan konsentrasi akut mematikan berkisar antara 10-2- mg/liter dalam waktu 72 jam. (WHO, 1989)

Formaldehyde dapat masuk kedalam tubuh dengan jalan inhalasi uap, kontak langsung dengan larutan formaldehyde atau dengan jalan memakan atau meminum makanan yang mengandung formaldehyde. (Anonimous, 2004 Australia).

Formaldehyde memiliki daya anti mikroba yang cukup luas, yaitu terhadap staphylococcus aureus, schericia coli, klebsiella, pneumonia, pseudomonas aerogenosa, pseudomonas florescens, candidia albicans, aspergillus niger, atau penicillium notatum. Mekanisme formaldehyde sebagai pengawet diduga bergabung dengan asam amino bebas dari protoplasma sel atau mengkoagulasi protein.

Komposisi dan bentuk formaldehyde mengandung 35-40% formaldehyde dan methanol, berupa gas tak berwarna pada suhu dan tekanan biasa. Sedangkan efek farmakologi atau kesehatan formaldehyde adalah sebagai berikut. Berdasarkan uji karsinogenik dan tumor formaldehyde terhadap sejumlah tikus yang dipapari formaldehyde pada konsentrasi 6-15 bpj menunjukkan 1,5-43,2% mengalami kanker, sedangkan uji terhadap mencit yang dipapari formaldehyde pada konsentrasi 15 bpj, 2,4% mencit mengalami tumor.

Menurut Puspitasari, M.Si., Apt. dari Laboratorium Farmakologi dan Toksokologi, jurusan Farmasi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, dalam “ Seminar Pengaruh bahan Kimia terhadap Obat Tradisional “ di Solo, mengatakan sejumlah besar produsen mie basah dan bakso di kabupaten Bantul, banyak menggunakan formalin dan boraks yang telah menjadi semacam keharusan dan menggunakan dosis yang melebihi batas (Herdiana, 2003).

Hasil penelitian Institute for Science and Technology Studies (ISTECS) mengungkapakan, 90% tahu yang beredar di wilayah Jakarta Selatan dan Bogor ternyata menggunakan Formalin. Penggunaan formalin tersebut dilakukan para pedagang tahu tradisional sebagai bahan pengawet (herdiantini, 2003).

Menurut hasil penelitian Softi (2002), ditemukan 60 sampel mie basah (boiled noodle) dari 32 pasar tradisional di bandung positif mengandung formalin. Kandungan formalin sampel mie basah tersebut, berkisar antara 10,39-117,51 bpm. Menurut hasil penelitian Kurniawati (2004), 19 sampel ikan basah perairan laut dan perairan umum dari 40 sampel ikan basah yang diambil dari 4 pasar tradisional diBandung positif mengandung formalin. Kandungan formalin dalam sampel ikan basah tersebut berkisar antara 0,0010 ppm-0,9262 ppm.

Hasil penelitian yang dilakukan Rindha, dkk.,(2006), menunjukkan bahwa dari beberapa jenis ikan asin yang beredar di beberapa pasar tradisional dan pasar induk yang berada di wilayah kota Bandung positif mengandung formalin. Sampel tersebut diambil secara acak dari satu jenis ikan asin ada 8 sampel dari berbagai jenis pasar yang berbeda. Kadara formalin yang terdepat pada cumi-cumi berkisar 3,87-1907,44 ppm dan ikan asin jambal 0,37-4,8 ppm (mg/kg), sedangkan pada ikan sepat dari 8 sampel hanya 1 sampel yang mengandung formalin yaitu sebesar 0.33 ppm.

Menurut kompas (2004), ikan asin yang dijual disejumlah pasar tradisional dikabupaten Sukabumi, Jawa Barat, ternyata mengandung formalin. Para produsen ikan asin sengaja menggunakan bahan pengawet yang membahayakan kesehatan itu agar ikan yang mereka produksi lebih tahan lama dan tidak dimakan belatung. Padahal, selama ini ikan asin banyak dikonsumsi masyarakat karena harganya yang relative murah. Dinas Perindag melakukan uji laboratoris terhadap ikan asin mata besar, ikan asin pepetek, ikan asin etem, dan ikan asin jambal. Berdasarkan hasil uji laboratories, terbukti bahwa jenis ikan asin tersebut menggunakan bahan pengawet formalin.

Menurut Effendi (2004), formalin adalah larutan formaldehyde (30-40%) dalam air dan merupakan anggota paling sederhana dan kelompok aldehide dengan rumus kimia HCHO. Formalin merupakan antiseptic untuk membunuh bakteri dan kapang, dalam konsentrasi rendah 2-8 % terutama digunakan untuk mencuci hamakan peralatan kedokteran, atau untuk mengawetkan mayat dan spesimen biologi lainnya. Menurut Muchtadi (1995), bila tahu direndam dalam larutan formalin 2% selama 3 menit dapat memperpanjang daya tahan simpanannya pada suhu ruang selama 4-5 hari. Sedangkan tahu control hanya bertahan 1-2 hari dengan cara direndam dalam air.

Formaldehyde terdepat juga pada makanan karena kegunaannya sebagai zat bakteriostatik dalam produksi dan formaldehyde ditambahkan kedalam makanan untuk mempertahankan karakteristiknya. Formaldehyde dan turunannya juga terdapat dari banyak produk consumer leinnya untuk melindungi produk dari kerusakan akibat kontaminasi mokroorganisme (WHO, 2002).

Formalin merupakan zat toksik dan sangat iritatif untuk kulit dan mata. Formalin bagi tubuh manusia diketahui sebagau xat beracun, karsinogen (penyebab kanker), mutagen (menyebabkan perubahan sel, jaringan tubuh), korosif dan iritatif. Uap dari formalin sendiri sangat bebahaya jika terhirup oleh pernafasan dan juga sangat berbahaya dan iritatif jika tertelan manusia. Untuk mata, seberapa encerpun formalin ini tetap iritatif. Jika tertelan maka seseorang tersebut harus segera diminumkan air banyak-banyak dan segera diminta untuk memuntahkan isi lambungnya.

Dampak buruk bagi kesehatan pada seseorang yang terkapar dengan formalin dapat terjadi akibat paparan akut atau paparan yang langsung kronik (bertahun-tahun), antara lain sakit kepala, radang hidung kronis (rhinitis), mual-mual, gangguan pernafasan baik berupa batuk kronis atau sesak nafas kronis. Formalin juga dapat merusak persyarafan tubuh manusia dan dikenal dengansebagai zat yang bersifat beracun untuk persyarafan tubuh kita (neurotoksik). Gangguan pada persyarafan berupa susah tidur, sensitive, mudah lupa, sulit berkonsentrasi. Pada wanita akan menyebabkan ganguan menstruasi dan infertilas.

Formalin juga dapat diserap oleh kulit dan seperti telah disebutkan diatas juga dapat terhirup oleh pernafasan kita. Oleh karena itu dengan kontak langsung denga xat tersebut tanpa menelannya juga dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Penggunaan formalin jangka panjang pada manusia dapat menyebabkan kanker mulut dan tenggorokan. Bahkan pada penelitian binatang menyebabkan kanker kulit dan kanker paru.


BAB III

MATERI DAN METODE

MATERI

  1. Metode Schiff

ALAT

  1. Mortar dan stemper
  2. Gelas beaker 50 ml / 100 ml
  3. Labu Erlenmeyer 50 ml
  4. Spatulla
  5. Alat tulis untuk mencatat

BAHAN

  1. Reagen Schiff
  2. H2SO4 10%
  1. Metode Carik Celup

ALAT

  1. Mortar dan stemper
  2. Gelas beaker 50 ml / 100 ml
  3. Labu Erlenmeyer 50 ml
  4. Cuvet
  5. Spatulla
  6. Alat tulis untuk mencatat

BAHAN

  1. Larutan asam
  2. Stik Formaldehida
  1. CARA KERJA

a)      Metode Schiff

  1. Disiapkan seluruh alat dan bahan yang akan digunakan,
  2. Dihancurkan + 25 gram sampel padatan atau semi padatan ditambahkan 50 ml aquades/air hangat, dibiarkan hingga larutan jernih,
  3. Untuk sampel berupa cairan tidak perlu ditambah air,
  4. Dipipet 25 ml filtrate yang jernih lalu dimasukkan kedalam labu Erlenmeyer,
  5. Ditambahkan 2 ml H2SO4 10%,
  6. Ditambahkan 1 ml Raegen Schiff,
  7. Digoyang atau campur sampai homogeny dan diamati adanya perubahan warna.

b)      Metode Carik Celup

  1. Disiapkan seluruh alat dan bahan yang akan digunakan,
  2. Dihancurkan + 25 gram sampel padatan atau semi padatan ditambahkan 50 ml aquades/air hangat, dibiarkan hingga larutan jernih,
  3. Untuk sampel berupa cairan tidak perlu ditambah air,
  4. Dipipet 10 ml filtrate yang jernih lalu dimasukkan kedalam labu Erlenmeyer,
  5. Ditambah 10 tetes Formaldehida 1,
  6. Stik formaldehida dicelupkan dalam larutan tersebut selama 3 detik
  7. Angkat stik kemudian digoyangkan dan segera diamati adanya perubahan warna.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL

Sampel  Tahu Bulat dinyatakan Negatif atau tidak mengandung Formalin pada produksi hari tesebut karena melalui identifikasi formalin menggunakan metode Schiff tidak terbentuk larutan berwarna ungu terang sampai ungu tua, dan melalui metode carik celup, kertas stik warnanya tetap orange dan tidak berubah menjadi warna ungu.

PEMBAHASAN

Dari hasil yang ada, dapat dijelaskan bahwa tahu merupakan salah satu makanan yang sering kita konsumsi baik pada campuran sayur maupun pada lauk pauk. Tahu sama halnya seperti tempe yang mungkin sudah menjadi salah satu lauk pokok di daerah sekitar kita. Namun setiap daerah mempunyai tahu yang khas dan berbeda-beda baik bentuk dan rasanya. Tahu dapat diolah menjadi berbagai macam makanan, misalnya baik sebagai campuran pada sayur mayor maupun menjadi berbagai macam lauk misalnya menjadi tahu bacem, tahu goreng, tahu bakso, rolade tahu, bergedel tahu, dan lain sebagainya.

Tidak hanya dari menu-menu yang dapat disajikan dari tahu, bentukpun menjadi salah satu faktor penunjang para konsumen untuk membeli tahu tersebut. Diwarung-warung terdekat, kita telah mengetahui bentuk tahu mulai dari segiempat, segitiga, dan bahkan tahu bulat yang sekarang banyak digemari masyarakat. Selain rasanya yang enak, tahu tersebut juga memiliki nilai jual yang relative murah sehingga banyak konsumen yang sering membeli untuk diolah menjadi makanan sehari-hari.

Tahu yang diolah secara tradisional dan tidak menggunakan bahan tambahan pangan (bahan pengawet) hanya dapat bertahan beberapa waktu saja (kurang lebih 1-2 hari), setelah lebih dari itu tahu-tahu tersebut dapat busuk dan berlendir sehingga tidak bisa dikomsumsi lagi. Selain itu, juga bentuk fisiknya mudah rusak, misalnya pada proses distribusi. Para produsen tahu tentunya tidak menginginkan produknya menjadi seperti itu, mereka lebih memilih menggunakan bahan tambahan makanan seperti formalin agar produknya tahan lama atau awet (tidak mudah busuk) , tidak mudah rusak atau hancur, dan teksturnya lebih kenyal tanpa menaikkan harga jual. Sehingga keuntunganpun mudah didapat.

Menurut pengertiannya, formalin adalah suatu larutan yang tidak berwarna, berbau tajam yang mengandung kurang lebih 37% formaldehyde dalam air, biasanya ditambah 10-15% sebagai pengawet. Formalin biasanya diperdagangkan di pasaran dengan nama berbeda beda, sehingga kita sulit mengetahui keberadaannya pada makanan yang akan kita beli. Nama-nama lain dari formalin diantaranya adalah :

  1. Formol
  2. Morbicid
  3. Methanal
  4. Formic aldehyde
  5. Methyl oxide
  6. Oxymethylene
  7. Methylene aldehyde
  8. Oxomethane
  9. Formoform
  10. Formalith
  11. Karsan
  12. Methylene glycol
  13. Paraforin
  14. Polyoxymethylene glycols
  15. Superlysoform
  16. Tetraoxymethylene
  17. Trioxane

Setelah praktikum dilaksanakan, tahu yang telah dihancurkan dan ditambah dengan aquades menghasilkan cairan. Setelah cairan tersebut jernih, kita mengambil 10 ml dan 25 ml yang diletakkan pada Erlenmeyer yang berbeda. Pada cairan yang 10 ml, ditelakkan kembali pada cuvet yang masing-masing 5 ml. kemudian ditambah 10 tetes formaldehyde. Setelah itu, stik formaldehyde dicelupkan kedalamnya selama 3 detik. Hasil yang ditunjukkan dari stik tersebut adalah berwarna Orange. Hal itu menjelaskan bahwa tahu bulat yang kami gunakan sebagai sampel negative atau tidak mengandung formalin.

Sedangkan larutan yang 25 ml, ditambah dengan 2 ml larutan H2SO4 10% dan 1 ml reagen Schiff dan digoyang-goyang atau dicampur sampai homogen. Setelah homogen, hasil yang didapat adalah tidak ada perubahan warna yang terjadi pada larutan tersebut oleh karena itu, dapat diketahui bahwa melalui metode baik Schiff maupun metode Carik Celup, tahu bulat yang kami amati Negatif (tidak mengandung formalin).

Dari praktikum tersebut, dapat diketahui ciri-ciri tahu yang mengandung formalin adalah teksturnya lebih kenyal, tidak mudah hancur, lebih awet dan tidak mudah busuk, beraroma menyengat karena ada formalin.

Tanda dan gejala jika seseorang keracunan formalin adalah:

  1. Menyebabkan rasa terbakar pada mulut, saluran pernafasan dan perut, sulit menelan, diare, sakit perut, hipertensi, kejang, koma.
  2. Kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, system susunan syaraf pusat, dan gangguan ginjal.
  3. Berdasarkan temuan patologis, folmaldehide merusak jaringan dan menyusutkan selaput lendir, juga merusak hati, ginjal, jantung, dan otak.

Pertolongan pertama yang dapat dilakukan pada orang yang keracunan formalin adalah:

Bila tertelan

  • Berikan arang aktif (norit) bila tersedia
  • Jangan lakukan rangsangan muntah pada korban karena akan menimbulkan resiko trauma korosif pada saluran cerna atas
  • Bila gejala masih berlanjut, bawa penderita kepuskesmas atau rumah sakit terdekat.

BAB V

KESIMPULAN

Dari pembahasan yang ada, dapat disimpulkan bahwa:

  1. Senyawa kimia formaldehida (juga disebut metanal, atau formalin), merupakan aldehida dengan rumus kimia H2CO, yang berbentuknya gas, atau cair yang dikenal sebagai formalin, atau padatan yang dikenal sebagai paraformaldehyde atau trioxane. Formaldehida awalnya disintesis oleh kimiawan Rusia Aleksandr Butlerov tahun 1859, tapi diidentifikasi oleh Hoffman tahun 1867.
  2. Sampel  Tahu Bulat dinyatakan Negatif atau tidak mengandung Formalin pada produksi hari tesebut karena melalui identifikasi formalin menggunakan metode Schiff tidak terbentuk larutan berwarna ungu terang sampai ungu tua, dan melalui metode carik celup, kertas stik warnanya tetap orange dan tidak berubah menjadi warna ungu.
  3. Ciri-ciri tahu yang mengandung formalin adalah teksturnya lebih kenyal, tidak mudah hancur, lebih awet dan tidak mudah busuk, beraroma menyengat karena ada formalin.
  4. Tanda dan gejala jika seseorang keracunan formalin adalah:
  • Menyebabkan rasa terbakar pada mulut, saluran pernafasan dan perut, sulit menelan, diare, sakit perut, hipertensi, kejang, koma.
  • Kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, system susunan syaraf pusat, dan gangguan ginjal.
  • Berdasarkan temuan patologis, folmaldehide merusak jaringan dan menyusutkan selaput lendir, juga merusak hati, ginjal, jantung, dan otak.


DAFTAR PUSTAKA

 

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Formaldehida

Nama IUPAC[sembunyikan][sembunyikan]

Metanal

Nama lain[sembunyikan][sembunyikan]

formol, metil aldehida, oksida metilena

Identifikasi

Nomor CAS

[50-00-0]

Nomor RTECS

LP8925000

SMILES

C=O

Sifat

Rumus molekul

CH2O

Massa molar

30,03 g·mol−1

Penampilan

gas tak berwarna

Densitas

1 kg·m−3, gas

Titik leleh

-117 °C (156 K)

Titik didih

-19,3 °C (253,9 K)

Kelarutan dalam air

> 100 g/100 ml (20 °C)

Struktur

Bentuk molekul

trigonal planar

Momen dipol

2,33168(1) D

Bahaya

Bahaya utama

beracun, mudah terbakar

NFPA 704

2

3

2

Frasa-R

R23/24/25, R34, R40, R43

Frasa-S

(S1/2), S26, S36/37, S39, S45, S51

Titik nyala

-53 °C

Senyawa terkait

Aldehida terkait

asetaldehida
benzaldehida

Senyawa terkait

keton
asam karboksilat

Kecuali dinyatakan sebaliknya, data di atas berlaku
pada temperatur dan tekanan standar (25°C, 100 kPa)

Sangkalan dan referensi

3 thoughts on “Laporan Identifikasi Formalin

  1. maaf, kalo boleh tahu literatur yang dipakai untuk prosedur kerja metode schiff dan metode carik celup diatas apa yh?? tolong banget diksh infonya.
    mksh 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s