Toleransi Organisme

LAPORAN PRAKTIKUM

EKOLOGI KESEHATAN

“Toleransi Organisme”

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Air murni merupakan persenyawaan kimia yang terseri atas dua atom Hidrogen (H) berkaitan dengan satu atom oksigen (O). air serta bahan-bahan yang terkandung didalamnya merupakan lingkungan bagi jasad-jasad air. Air berpengaruh terhadap biota perairan seperti ikan, udang, kerang, dan lain-lain. Hal ini disebabkan oleh sifat-sifat fisiknya yaitu sebagai medium tampat hidup tepat tumbuh-tumbuhan dan hewan. Selain itu, dengan sifat-sifat kimianya air berfungsi sebagai pembawa zat-zat hara yang diperlukan bagi pembentukan bahan-bahan organic oleh tumbuh-tumbuhan (Ghufran & Tancun, 2007)

Salinitas menurut Boyd (1982) dalam Ghufran et al. (2007) salinitas adalah kadar seluruh ion-ion yang terlarut dalam air. Berdasarkan kemampuan ikan menyesuaikan diri pada salinitas tertentu, dapat digolongkan menjadi ikan yang mempunyai salinitas yang kecil (Stenohaline) dan ikan yang mempunyai salinitas yang lebar (Euryhaline).

Kandungan kadar garam pada suatu media berhubungan erat dengan sistem (mekanisme) osmoregulasi pada organism air tawar. Affandi (2001) berpendapat bahwa organism aquatic mempunyai tekanan osmotic yang berbeda-beda dengan lingkungannya. Oleh karena itu, ikan harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air agar proses-proses fisiologis didalam tubuhnya berlangsung normal.

Setiap organism mempunyai kemampuan yang berbeda-beda untuk menghadapi masalah osmoregulasi sebagai respon atau tanggapan terhadap perubahan osmotic lingkungan eksternalnya. Perubahan konsentrasi ini cenderung mengganggu kondisi internal yang mantap. Untuk menghadapi masalah ini hewan melakukan pengaturan tekanan osmotic dengan cara mengurangi gradien osmotic antara cairan tubuh dengan lingkungannya, melakukan pengambilan garam secara selektif. Pada organism aquatic seperti ikan, terdapat beberapa organ yang berperan dalam pengaturan tekanan osmotic atau osmoregulasi agar proses fisiologis didalam tubuhnya dapat berjalan dengan normal. Osmoregulasi ikan dilakukan oleh organ-organ ginjal, ingsang, kulit, dan saluran pencernaan.

Ikan dapat menjaga keseimbangan dalam air karena memiliki organ-organ keseimbangan. Organ-organ keseimbangan tersebut yaitu, linea lateralis (gurat sisik), gelembung renang, dan sirip. Apabila salah satu bagian organ keseimbangan tersebut tidak berfungsi, maka akan sangat berpengaruh terhadap kestabilan tubuh. Organ-organ ini dapat digunakan oleh ikan untuk menyeimbangkan proses osmoregulasi di dalam air. Osmoregulasi itu sendiri berarti regulasi atau difusi substansi-substansi melalui suatu membran.

Ikan adalah hewan yang hidup dalam air atau hewan aquatic yang memiliki mekanisme fisiologi yang tidak dimiliki oleh hewan darat, sehingga mengakibatkan ikan harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air dan ion antara tubuh dan lingkungan disebut osmoregulasi. Air merupakan media hidup ikan, media itupun berbeda-beda yaitu perairan tawar, laut dan payau.

Ikan yang hidup pada air tawar mempunyai cairan tubuh yang bersifat hipoosmotik terhadap lingkungan yaitu kadar garam dalm tubuh ikan lebih besar dari pada kadar garam yang ada di sekitarnya, sehingga untuk dapat menyusaikan diri, ikan tersebut banyak mengeluarkan urine. Batas toleransi kadar garam berbeda-beda untuk setiap jenis ikan. Ikan yang mempunyai batas toleransi yang besar terhadap salinitas disebut euryhaline, sedangkan yang mempunyai toleransi yang sempit terhadap salinitas disebut stenohaline.

Ketahanan terhadap kelaparan diduga berhubungan dengan kapasitas ikan dalam melakukan proses osmoregulasi dan penurunan konsumsi energi untuk proses metabolisme. Cara ikan untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungannya berhubungan dengan kandungan kadar garam dalam perairan oleh karena itu ikan mempunyai daya osmoregulasinya. Sehingga pada praktikum ini akan di bahas tentang toleransi ikan terhadap salinitas pada air di dalam akuarium.

  1. Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum yang telah kami laksanakan yaitu:

  1. Untuk mengetahui tentang ekosistem buatan
  2. Untuk mengetahui interaksi antara faktor biotik dengan faktor abiotik
  3. Untuk mengetahui mekanis faktor salinitas mempengaruhi organisme
  4. Untuk mengetahui mekanisme merespon fdaktor biotik terhadap perubahan lingkungan
  5. Untuk mengetahui daya toleransi organisme terhadap perubahan lingkungan.
  1. Waktu dan Tempat

Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Politeknik Banjarnegara pada tanggal 23 Desember 2011 pukul 10.00 WIB.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.        Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus)

Mujair adalah sejenis ikan air tawar yang biasa dikonsumsi. Penyebaran alami ikan ini adalah perairan Afrika dan di Indonesia pertama kali ditemukan oleh Pak Mujair di muara Sungai Serang pantai selatan Blitar, Jawa Timur pada tahun 1939. Meski masih menjadi misteri, bagaimana ikan itu bisa sampai ke muara terpencil di selatan Blitar, tak urung ikan tersebut dinamai ‘mujair’ untuk mengenang sang penemu.

Nama ilmiahnya adalah Oreochromis mossambicus, dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Mozambique tilapia, atau kadang-kadang secara tidak tepat disebut “Java tilapia“.

Ikan mujair mempunyai toleransi yang besar terhadap kadar garam (salinitas), sehingga dapat hidup di air payau. Jenis ikan ini memiliki kecepatan pertumbuhan yang relatif cepat, tetapi setelah dewasa kecepatannya ini akan menurun. Mujair juga sangat peridi. Ikan ini mulai berbiak pada umur sekitar 3 bulan, dan setelah itu dapat berbiak setiap 1½ bulan sekali. Setiap kalinya, puluhan butir telur yang telah dibuahi akan ‘dierami’ dalam mulut induk betina, yang memerlukan waktu sekitar seminggu hingga menetas. Hingga beberapa hari setelahnya pun mulut ini tetap menjadi tempat perlindungan anak-anak ikan yang masih kecil, sampai anak-anak ini disapih induknya. Dengan demikian dalam waktu beberapa bulan saja, populasi ikan ini dapat meningkat sangat pesat. Apalagi mujair cukup mudah beradaptasi dengan aneka lingkungan perairan dan kondisi ketersediaan makanan.

Tidak mengherankan apabila ikan ini dianggap invasif dan menimbulkan berbagai masalah baru di perairan yang didatanginya, seperti halnya di Singapura, dan di California Selatan, Amerika Serikat. Tidak luput pula adalah berbagai waduk dan danau-danau di Indonesia yang ‘ditanami’ ikan ini, seperti misalnya Danau Lindu di Sulawesi Tengah.

Asal mula ikan mujahir adalah dari salah satu orang yang bernama Bapak Iwan Dalauk yang akrab dipanggil Mbah Moedjair lahir di Desa Kuningan, 3 Km arah timur pusat Kota Blitar. Dari pasangan Bayan Isman dan Ibu Rubiyah, beliau lahir tahun 1890. Moedjair anak ke-4 dari 9 bersaudara, menikah dengan Partimah Desa Kuningan pada waktu itu. Dari pernikahan ini Moedjair dikaruniai 7 anak, yaitu : Wahanan, Napiyah, Thoyibah, Imam Soepardi, Ismoenir, Djaenuri, Daud. Kesemua anak beliau sekarang sudah meninggal kecuali Ismoenir yang tinggal di Kanigoro Blitar dan Djaenuri yang tinggal di Kencong Jember.

Menurut penuturan Mbah Ismoenir anak ke-5 dari Mbah Moedjair yang masih hidup. Untuk penghasilan sehari-hari, Moedjair dahulu membuka warung sate kambing yang pada zaman tersebut cukup terkenal didaerah Kuningan-Kanigoro. Pelanggan warung sate Moedjair dari berbagai kalangan dan ras, dari tua sampai muda, dari ras jawa sampai ras kuning ( keturunan tionghoa ).

Ada sisi negatif dari perilaku Mbah Moedjair waktu mengalami masa kejayaan warung sate yaitu suka bermain judi. Tetapi dalam berjudi, Mbah Moedjair hanya mau berjudi dengan orang Tionghoa. Beliau tidak mau berjudi dengan orang jawa dan beliau juga mendidik semua anak-anaknya untuk tidak berjudi. Salah satu efek negatif yang ditimbulkan dari kegemaran berjudi itu adalah kehancuran dari bisnis warung sate milik Mbah Moedjair, seperti yang dituturkan oleh Mbah Slamet cucu Mbah Moedjair dari Mbah Wahanan.

Di saat masa-masa terpuruk itu, Mbah Moedjair menjalani laku tirakat dimana setiap tanggal 1 Suro penanggalan jawa, beliau mandi di Pantai Serang tepatnya Blitar Selatan. Awal ritual mandi ini, karena Mbah Moedjair diajak oleh Kepala Desa Papungan (Bapak Muraji),  juga karena beliau bermimpi rambut dan jenggotnya menjadi panjang menyentuh tanah. Pada suatu waktu ketika melakukan ritual mandi ini, Mbah Moedjair menemukan se-ekor ikan yang jumlahnya sangat banyak dan mempunyai keunikan yaitu menyimpan anak didalam mulutnya ketika ada bahaya dan dikeluarkan ketika keadaan sudah aman.

Melihat keunikan ikan ini, Mbah Moedjair berniat mengembangbiakkan dirumahnya didaerah Papungan-Kanigoro-Blitar. Untuk mengambil ikan ini Mbah Moedjair menjaring dengan menggunakan kain Udeng ( ikat kepala ) yang biasa beliau pakai. Dengan ditemani oleh 2 temannya yaitu Abdullah Iskak dan Umar, Mbah Moedjair membawa ikan ini pulang ke Desa Papungan. Tetapi karena habitat yang berbeda, maka ikan ini mati sewaktu dimasukkan ke air tawar yang berada di halaman rumah Mbah Moedjair di Papungan. Melihat kejadian seperti ini, Mbah Moedjair bukannya putus asa tetapi malah semakin gigih dalam melakukan percobaan dengan satu tujuan Spesies ikan ini dapat hidup di habitat air tawar. Habitat yang sangat berbeda dari aslinya yaitu air laut (asin).

Beliau bolak balik Papungan – Serang yang berjarak 35 Km, berjalan kaki dengan melewati hutan belantara, naik turun bukit dan akses jalan yang sulit serta memakan waktu dua hari dua malam. Di Pantai Serang beliau mengambil spesies ikan ini dengan menggunakan Gentong yang terbuat dari tanah liat. Beliau juga melakukan percobaan dengan mencampurkan air laut yang asin dengan air tawar, terus menerus dengan tingkat konsentrasi air tawar semakin lama semakin lebih banyak dari air laut yang kemudian kedua jenis air yang berbeda ini dapat menyatu. Menurut penuturan Mbah Ismoenir, percobaan ini menemui keberhasilan pada percobaan ke-11, yang berarti 11 kali perjalanan bolak balik Papungan-Serang.Pada percobaan ke-11 ini berhasil hidup 4 ekor ikan jenis baru ini dengan habitat air tawar. Kejadian ini terjadi pada tanggal 25 MARET 1936.

Keberhasilan percobaan ini, melegakan hati Mbah Moedjair. Segala jerih payah, kesulitan dan rintangan terbayar lunas dengan hidupnya 4 ekor ikan spesies baru ini. Ke-4 ekor ikan ini kemudian oleh Mbah Moedjair ditangkarkan di kolam daerah sumber air Tenggong Desa Papungan. Dari awalnya hanya satu kolam akhirnya bertambah menjadi 3 kolam. Mbah Moedjair juga membangun pondok yang sekaligus berfungsi sebagai tempat tinggal bagi keluargannya di sekitar kolam tenggong ini.

Karena cepat perkembangbiakkan dari spesies ikan ini, maka jumlah ikan milik Mbah Moedjair semakin lama semakin banyak. Untuk itu oleh Mbah Moedjair ikan spesies baru ini diberikan cuma-cuma ke masyarakat sekitar Papungan, selain itu juga dijual di sekitar Blitar dan luar Blitar.

Suatu ketika, penemuan ikan jenis baru ini sampai ke telinga Asisten Resident yang berkedudukan di Kediri. Asisten Resident yang juga seorang Ilmuwan ini tergoda untuk meneliti spesies ikan hasil temuan Mbah Moedjair ini. Dari literature yang ada dan berdasarkan data-data, Asisten Resident ini menyimpulkan bahwa nenek moyang dari ikan ini berasal dari perairan laut Afrika. Sang Asisten Resident ini juga melakukan riset dan wawancara dengan Mbah Moedjair tentang segala hal mengenai ikan ini .Mulai dari proses penemuan di pantai serang, sampai proses percobaan yang sebanyak 11 kali. Mendengar penuturan dari Mbah Moedjair, Asisten Resident ini merasa takjub dan kagum akan kegigihan dan keuletan Mbah Moedjair. Asisten Resident ini memberikan penghargaan kepada Mbah Moedjair berupa pemberian nama ikan spesies baru ini sesuai dengan nama beliau Moedjair yang kemudian dikenal sebagai ikan Moedjair.

Ikan Moedjair semakin menjadi buah bibir dan semakin banyak masyarakat yang mengembangbiakkan. Nama Mbah Moedjair pun semakin dikenal masyarakat luas. Dengan dibantu Wahanan, anak sulung beliau. Ikan Moedjair ini dipasarkan ke hamper daratan Jawa Timur dengan naik sepeda Kumbang.

Oleh Pemerintah beliau diangkat sebagai Jogo Boyo Desa Papungan serta juga mendapatkan gaji bulanan dari Pemerintah Daerah. Oleh Pemerintah Indonesia beliau diangkat sebagai Mantri Perikanan. Selain itu beliau juga memperoleh Penghargaan EKSEKUTIP COMMITTEE dari INDO PASIPIK FISHERIES COUNCIL atas jasanya menemukan ikan Moedjair. Penghargaan tersebut diberikan di Bogor tanggal 30 – JUNI – 1954. Selain penghargaan tersebut diatas masih ada beberapa pengharagaan yaitu dari KEMENTERIAN PERTANIAN atas nama Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 17 – AGUSTUS – 1951 yang pada waktu itu dijabat oleh Ir.Soeharto.

2.        Salinitas

Salinitas menurut Boyd (1982) dalam Ghufran dkk (2007), salinitas adalah kadar seluruh ion – ion yang terlarut dalam air. Komposisi ion – ion pada air laut dapat dikatakan mantap dan didominasi oleh ion – ion tertentu seperti klorida, karbonat, bikarbonat, sulfat, natrium, kalsium dan magnesium. Berdasarkan kemampuan ikan menyesuaikan diri pada salinitas tertentu, dapat digolongkan menjadi Ikan yang mempunyai toleransi salinitas yang kecil (Ctenohaline) dan Ikan yang mempunyai toleransi salinitas yang lebar (Euryhaline). Pada Tabel 1. menyajikan klasifikasi air berdasarkan salinitas.

Tabel. 1 Menyajikan Klasifikasi Air Berdasarkan Salinitas

Sebutan/istilah Salinitas (ppt)
Air tawar

Fresh water

Oligohaline

Air payau

Mesohaline

Polyhaline

Air asin

Marine< 0,5

0,5 – 3,0

3,0 – 16,0

16,0 – 30,0

30 – 40

Sumber : Mc Lusky, 1971 dalam Kordi, 1996 dalam Ghufran dkk 2007

3.        Osmoregulasi

Organisme akuatik mempunyai tekanan osmotik yang berbeda-beda dengan lingkungannya, oleh karena itu ikan harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air, agar proses-proses fisiologis di dalam tubuhnya berlangsung normal. Pengaturan osmeotik cairan pada tubuh ikan disebut osmoregulasi.

Osmoregulasi adalah upaya hewan air untuk mengontrol keseimbangan air dan ion antara tubuh dan lingkungannya, atau dengan kata lain suatu proses pengaturan tekanan osmosis di dalam air (Fujaya, 2004).

Perbedaan proses osmoregulasi pada beberapa golongan ikan, maka struktur organ osmoregulasinya juga kadang berbeda. Beberapa organ yang berperang dalam proses osmoregulasi ikan yaitu ingsan, ginjal, dan usus. Organ ini melakukan fungsi adaptasi di bawah kontrol hormone osmoregulasi, terutama hormon yang di sekresi oleh pituitary, ginjal, dan urofisis ( Lesmana, 2001).

Proses osmoregulasi pada ikan air tawar menyebabkan mineral dan garam cepat hilang pada air pemeliharaan, sedangkan pada pemeliharaan ikan laut, air akan menjadi semakin pekat akibat pengeluaran garam dan pengambilan air (Subani, 1984).

Stickney (1979) menyatakan salah satu penyesuaian ikan terhadap lingkungan ialah pengaturan keseimbangan air dan garam dalam jaringan tubuhnya, karena sebagian hewan vertebrata air mengandung garam dengan konsentrasi yang berbeda dari media lingkungannya. Ikan harus mengatur tekanan osmotiknya untuk memelihara keseimbangan cairan tubuhnya setiap waktu. Brotowijoyo (1995), reproduksi pada ikan dipengaruhi oleh kadar air, distribusi dan lama hidup ikan serta orientasi migrasi dan kadar garam dapat juga mempengaruhi regulasi osmotik dan menentukan banyaknya telur-telur ikan yang dapat melayang di permukaan.

Osmoregulasi pada organisme akuatik dapat terjadi dalam dua cara yang berbeda (Gilles dan Jeuniaux, 1979 dalam Affandi et al., 2002) yaitu:

  • Usaha untu menjaga konsentrasi osmotik cairan diluar sel (ekstraseluler) agar tetap kosntan terhadap apapun yang terjadi pada konsentrasi osmotik medium eksternalnya.
  • Usaha untuk memelihara isoosmotik cairan dalam sel (interseluler) terhadap cairan luar sel.

Setiap organisme mempunyai kemampuan yang berbeda-beda untuk menghadapi masalah osmoregulasi sebagai respon atau tanggapan tehadap perubahan osmotik lingkungan eksternalnya. Perubahan kosentrasi ini cenderung mengganggu kondisi internal yang mantap. Untuk menghadapi masalah ini hewan melakukan pengaturan tekanan osmotik dengan cara:

  • Mengurangi gradien osmotik antara cairan tubuh dengan ingkungannya.
  • Mengurangi permeabilitas air dan garam.
  • Melakukan pengambilan garam secara selektif.

Pada organisme akuatik seperti ikan, terdapat beberapa organ yang berperan dalam pengaturan tekanan osmotik atau osmoregulasi agar proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat berjalan dengan normal. Osmoregulasi ikan dilakukan oleh organ-organ ginjal, insang, kulit dan saluran pencernaan.

  1. Ginjal

Ginjal merupakan organ ekresi yang mempunyai peranan di dalam proses penyaringan (filtrasi). Ikan Jumlah glomerulus ginjal ikan betulang sejati (teleostei) air tawar lebih banyak dan diameternya juga lebih besar apabila dibandingkan dengan ikan bertulang sejati (teleostei) air laut. Kondisi ini dikaitkan dengan fungsinya untuk lebih dapat menahan garam-garam tubuh tidak keluar dan mengeluarkan atau memompa air keluar dengan menggunakan urine sebanyak-banyaknya. Urine yang dikeluarkan sangan ancer.

  1. Insang

Insang emmpunyai peranan yang sangat penting sebagai organ yang mampu dilewati air maupun mineral, serta tempat dibuangnya sisa metabolisme (Moyle dan Cech, 1999 dalam Affandi, 2001). Permeabilitas insang yang tinggi terhadap ion-ion monovalen Na+ dan Cl , sehingga pasif brgerak dari media atau lingkungan air laut ke dalam plasma.

  1. Kulit

Pada ikan yang bersifat hiperostomik terhadap media atau lingkungan hidupnya, masalah utama yang muncul adalah bagaimana memamsukkan air secara osmose.

  1. Saluran Pencernaan

Saluran pencernaan yang berperan dalam osmoregulasi adalah bagian esofagus dan usus. Dinding saluran pencernaan memberikan sedikit resisten terhadap difusi garam-garam dan air ke dalam kamar-kamar cairan ekstraseluler pada kelompok ikan Peromyzonid, utuk mengganti kehilangan air hasil dari gradien difusi medium eksternal.

Menurut Fujaya (2004), bahwa dalam osmoregulasi dikenal tiga pola regulasi yaitu :

  1. Regulasi hipertonik atau hiperosmotik, yaitu pengaturan secara aktif konsentrasi cairan tubuh yang lebih tinggi dari konsentrasi media, misalnya pada ikan air tawar.
  2. Regulasi Hipotonik atau hipoosmotik, yaitu pengaturan secara aktif konsentrasi cairan tubuh yang lebih rendah dari konsentrasi meia, misalnya pada ikan air laut.
  3. Regulasi isotonik atau isoosmotik, yaitu bila konsentrasi cairan tubuh sama dengan konsentrasi media, misalnya pada ikan-ikan yang hidup pada daerah estuari.

Kebanyakan invetebrata yang berhabitat di laut tidak secara aktif mengatur sistem osmosis mereka dan dikenal sebagai osmoconformer. Osmoconformer memiliki osmolanitas yang sama dengan lingkungannya sehingga tidak ada toleransi untuk memperoleh atau kehilangan air sedangkan osmoregulator adalah organisme yang menjaga osmoralitasnya tanpa tergantung lingkungan sekitar. Oleh karena itu karena adanya kemampuan meregulasi ini maka osmoregulator dapat hidup di lingkungan air tawar, daratan serta lautan (Wikipedia, 2011).

BAB III

MATERI DAN METODE

  1. MATERI
    1. ALAT
      1. Refraktometer
      2. Aquarium
      3. Pipet tetes
      4. Spatulla
      5. Neraca analitik
      6. Cawan petri
      7. Gelas kimia
      8. Aquades
      9. Tissue
      10. Alat tulis untuk mencatat
  1. BAHAN
    1. Ikan mujahir
    2. Air tawar
    3. Air garam
  1. METODE
  2. Disiapkan aquarium dan isi dengan air sumur sebanyak 6 liter dan ukur salinitasnya (kurang lebih 5 0/00),
  3. Dipilih 6 (sepuluh) ekor ikan yang sehat, lincah, tidak cacat dan stabil kondisinya,
  4. Dimasukkan ikan kedalam aquarium dan aklimatisasikan ikan serta memelihara selama kurang lebih 24 jam,
  5. Setelah 24 jam atau 1 hari, dipilih ikan dengan kondisi (sehat dan lincah) baik,
  6. Dihitung frekuensi membuka dan menutup mulut ikan (FMI) selama 2 (dua) menit untuk setiap ekor ikan dan guna 5 (lima) ekor ikan untuk setiap aquarium,
  7. Dicatat frekuensi (FMI) setiap ekor ikan pada table 1.1,
  8. Ditambahkan air garam kedalam aquarium sampai salinitas mencapai 100/00,
  9. Melakukan prosedur aklimatisasi dan perhitungkan FMI keesokan harinya,
  10. Hitung jumlah ikan yang mati (mortalitas) dan catat pada table 1.2,
  11. Demikian seterusnya dilakukan dengan penambahan salinitas 20 0/00 dan 300/00,
  12. Digambar hubungan (interaksi) antara perubahan salinitas air dengan FMI pada gambar 1.1,
  13. Digambar hubungan interaksi antara perubahan salinitas air dengan laju kematian / mortalitas ikan pada gambar 1.2,
  14. Dibandingkan hasil praktikum yang ada dengan hasil penelitian lainnya dari artikel ilmiah yang telah dipublikasikan.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL

Hasil praktikum dilampirkan

PEMBAHASAN

Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) merupakan suatu jenis ikan yang memiliki toleransi yang besar pada media dengan tanah yang liat atau lempung dan salinitas yang tinggi (Anonim, 2008). Untuk itu Oreochromis mossambicus dipilih sebagai hewan uji, sebab habitat alaminya mewakili lingkungan dan media pemeliharaan yang akan digunakan, sehingga dapat digunakan sebagai spesies bioindikator untuk kondisi yang paling ekstrim.

Pengamatan atau monitoring terhadap efek sub lethal sangat penting dan merupakan gejala awal terhadap perubahan faal akibat keracunan sebelum terjadinya kematian, sehingga akibat buruk selanjutnya bahkan kerusakan ekosistem dapat dihindari atau dicegah (Chahaya, 2003). Untuk itu diperlukan suatu uji yang dapat memberikan data kuantitatif suatu organisme sehingga diperoleh informasi perkiraan efek lingkungan (Soemirat, 2004). Laju respirasi ikan merupakan suatu parameter respon fisiologis ikan terhadap substansi beracun yang ada di lingkungan. Laju respirasi diukur dari volume air yang dilintaskan untuk mengkonsumsi oksigen yang terlarut di dalam air, dengan demikian bila konsumsi oksigen meningkat akan meningkatkan laju respirasi.

Berikut adalah klasifikasi Ikan Mujahir:

Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Actinopterygii
Ordo: Perciformes
Famili: Cichlidae
Genus: Oreochromis
Spesies: O. mossambicus

Nama binomial: Oreochromis mossambicus

 

Adapun organ-organ osmoregulasi antara lain yaitu insang, pada insang sel-sel berperan dalam proses osmoregulasi adalah sel-sel chloride yang terletak pada dasar membran insang. Ginjal, melakukan dua fungsi utama. Pertama mengeksresikan sebagian besar produk akhir metabolisme tubuh dan kedua, mengatur konsentrasi cairan tubuh dan yang terakhir ialah usus. Setelah air masuk ke dalam usus, dinding aktif mengambil ion-ion monovalen (Na+, K+, Cl-) dan air (Wikipeda, 2011).

Pada praktikum kali ini, terjadi perubahan jumlah respirasi ikan yang tidak menentu. Hal ini diakibatkan oleh jumlah kadar garam yang dimasukkan ke dalam akuarium juga berbeda-beda. Kegiatan merubah jumlah respirasi ini dilakukan oleh ikan untuk dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan kadar garam sekitarnya. Hal ini serupa dengan pernyataan Fujaya (2004), bahwa osmoregulasi adalah upayah hewan air untuk mengontrol keseimbangan air dan ion antara tubuh dengan lingkungannya, atau suatu proses pengaturan tekanan osmose.

Siregar (1993) berpendapat bahwa semakin jauh perbedaan tekanan osmose antara tubuh dengan lingkungannya, juga akan semakin banyak energi metabolisme yang dibutuhkan untuk memerlukan osmoregulasi sebagai metode adaptasi. Hal ini serupa pada saat ikan dimasukkan ke dalam lingkungan di mana tingkat salinitas lingkungannya terus menerus diubah, terlihat bahwa jumlah respirasi ikan semakin bertambah seiring dengan penambahan tingkat salinitas lingkungannya. Hal ini terus terjadi sampai pada saat ikan sudah tidak dapat mentolerir perubahan salinitas lingkungannya, maka jumlah respirasi ikan akan berkurang dan ikan akan mati. Sebelum mencapai batas toleransi terhadap perubahan salinitas yang terjadi, saat itu ikan memerlukan banyak energi untuk beradaptasi.

Pada praktikum yang telah kami laksanakan, respon ikan terhadap perubahan salinitas dapat dilihat selalu menurun, tetapi ada satu ikan yang frekuensi membuka dan menutup mulutnya bertambah. Pada salinitas 50/00, rata-rata FMI ikan selama 1 menit yang telah kami ukur adalah 119, pada 100/00 adalah 87,5, pada salinitas 200/00 adalah 80, dan pada 300/00 adalah 0. Hal tersebut dapat diketahui bahwa pada salinitas 50/00hingga 200/00 ikan mujahir masih dapat beradaptasi dengan keadaan airnya meskipun harus memerlukan banyak energy untuk beradaptasi. Namun pada kadar salinitas 300/00, ikan-ikan tersebut sudah tidak dapat beradaptasi lagi hingga semua ikan mati.

Perubahan salinitas air erat hubungannya dengan perubahan FMI ikan. Dari praktikum yang dilaksanakan, pada salinitas 50/00hingga 200/00 hanya terjadi pergeseran garis sedikit, namun pada salinitas 200/00 menuju 300/00 terjadi penurunan yang sangat drastis. (lampiran gambar 1.1). Hal tersebut dapat dikatakan bahwa semakin bertambahnya salinitas air, maka semakin berkurang frekuensi membuka dan menutup mulut ikan sebagai respon adaptasi dari perubahan salinitas air yang ada.

Selain salinitas berhubungan dengan perubahan FMI, salinitas juga berhubungan dengan jumlah kematian ikan. Seperti praktikum yang telah dilaksanakan, pada salinitas 50/00hingga 200/00 ikan masih bisa hidup namun pada salinitas 300/00 terjadi kematian total karena ikan sudah tidak dapat beradaptasi lagi. Sehingga semakin banyak salinitas yang terkandung dalam air, maka semakin bertambah pula kematian pada ikan. Dapat dilihat pula grafik antara perubahan salinitas dengan mortalitas terjadi peningkatan yang hebat pada salinitas 300/00 yang mencapai hingga 100%. (lampiran gambar 1.2).

Berdasarkan jurnal yang kami gunakan sebagai materi pembanding, dikatakan bahwa salinitas diartikan sebagai ukuran yang menggambarkan tingkat keasinan (kandungan NaCl) dari suatu perairan. Satuan salinitas umumnya dalam bentuk promil (0/00) atau satu bagian per seribu bagian atau dalam istilah lainnya psu (practical salinity unit). Air tawar memiliki salinitas 00/00, air payau memiliki salinitas antara 1-300/00, sedangkan air laut/asin memiliki salinita lebih dari 300/00. Salinitas ditentukan oleh garam-garam yang larut dalam air. Parameter kimia tersebut dipengaruhi oleh curah hujan dan penguapan (evaporasi) yang terjadi disuatu daerah. Ikan mas termasuk golongan family Cyprinidae. Ikan mas memiliki tempat hidup diperairan tawar yang tidak terlalu dalam. Sama seperti jenis ikan yang kami pilih dalam praktikum adalah jenis ikan yang hidup di air tawar.

Salinitas 12 (11-15) ppt memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap jumlah ikan mas yang bertahan hidup (munurut penelitian pada jurnal) sama halnya seperti praktikum yang kami laksanakan, salinitas juga sangat berpengaruh terhadap jumlah kematian ikan mujahir. Pada salinitas 300/00 ikan mujahir mati semua. Sehingga semakin tinggi salinitas, maka semakin berpengaruh pula jumlah ikan yang bertahan hidup.


 

BAB V

KESIMPULAN

Pada praktikum yang kami lakukan, dapat di tarik kesimpulan bahwa:

  1. Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) merupakan suatu jenis ikan yang memiliki toleransi yang besar pada media dengan tanah yang liat atau lempung dan salinitas yang tinggi.
  2. Semakin bertambahnya salinitas air, maka semakin berkurang frekuensi membuka dan menutup mulut ikan sebagai respon adaptasi dari perubahan salinitas air yang ada.
  3. Sehingga semakin banyak salinitas yang terkandung dalam air, maka semakin bertambah pula kematian pada ikan.

DAFTAR PUSTAKA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s