<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>evynurhidayah</title>
	<atom:link href="http://evynurhidayah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://evynurhidayah.wordpress.com</link>
	<description>Chaayooooooo !!!!!!!!</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Jan 2012 05:20:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='evynurhidayah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>evynurhidayah</title>
		<link>http://evynurhidayah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://evynurhidayah.wordpress.com/osd.xml" title="evynurhidayah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://evynurhidayah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Makalah Filariasis</title>
		<link>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/17/makalah-filariasis/</link>
		<comments>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/17/makalah-filariasis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 05:20:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evynurhidayah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tugas Kuliah Semester 2]]></category>
		<category><![CDATA[makalah filariasis_parasitologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evynurhidayah.wordpress.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[BAB I PENDAHULUAN Latar belakang Indonesia merupakan wilayah yang mempunyai iklim tropis. Di daerah iklim tropis, kemungkinan terjadinya penyakit filariasis atau kaki gajah lebih besar daripada didaerah yang beriklim sedang maupun dingin. Filariasis merupakan jenis penyakit reemerging desease, yaitu penyakit yang dulunya sempat ada, kemudian tidak ada dan sekarang muncul kembali. Filariasis (penyakit kaki gajah) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evynurhidayah.wordpress.com&amp;blog=31155626&amp;post=77&amp;subd=evynurhidayah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">BAB I</p>
<p align="center">PENDAHULUAN</p>
<p>Latar belakang</p>
<p>Indonesia merupakan wilayah yang mempunyai iklim tropis. Di daerah iklim tropis, kemungkinan terjadinya penyakit filariasis atau kaki gajah lebih besar daripada didaerah yang beriklim sedang maupun dingin. Filariasis merupakan jenis penyakit <em>reemerging desease</em>, yaitu penyakit yang dulunya sempat ada, kemudian tidak ada dan sekarang muncul kembali. Filariasis (penyakit kaki gajah) atau juga dikenal dengan elephantiasi yaitu penyakit menular dan menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang ditularkan melalui gigitan berbagai spesies nyamuk. Di Indonesia, vektor penular filariasis hingga saat ini telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes dan Armigeres. Filariasis dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, tangan, dan organ kelamin</p>
<p>Filariasis merupakan kelompok penyakit pada manusia maupun hewan yang disebabkan oleh infeksi parasit Nematoda, ordo filaridae yang biasa disebut filariae. Penyakit ini baru menimbulkan gejala setelah terpapar selama beberapa tahun, oleh sebab itu pada anak-anak jarang mengalami filariasis klinis yang bermakna.</p>
<p>Tujuan</p>
<p>Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu:</p>
<ol>
<li>Untuk mengetahui pengertian penyakit filariasis</li>
<li>Untuk mengetahui penyebab penyakit filariasis</li>
<li>Untuk mengetahui morfologi penyakit filariasis</li>
<li>Untuk mengetahui gejala dari penyakit filariasis</li>
<li>Untuk mengetahui diagnosa penyakit filariasis</li>
<li>Untuk mengetahui pencegahan dan pengobatan penyakit filariasis</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">BAB II</p>
<p align="center">ISI</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Pengertian Penyakit Filariasis</p>
<p>Filariasis adalah penyakit <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Zoonosis">zoonosis</a> menular yang banyak ditemukan di wilayah tropika seluruh dunia. Penyebabnya adalah edema, infeksi oleh sekelompok cacing nematoda parasit yang tergabung dalam superfamilia Filarioidea. Filariasis biasanya dikelompokkan menjadi tiga macam, berdasarkan bagian tubuh atau jaringan yang menjadi tempat bersarangnya: filariasis limfatik, filariasis subkutan (bawah jaringan kulit), dan filariasis rongga serosa (<em>serous cavity</em>). Filariasis limfatik disebabkan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wuchereria_bancrofti"><em>Wuchereria bancrofti</em></a>, <a title="Brugia malayi (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Brugia_malayi&amp;action=edit&amp;redlink=1"><em>Brugia malayi</em></a>, dan <a title="Brugia timori (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Brugia_timori&amp;action=edit&amp;redlink=1"><em>Brugia timori</em></a><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Filariasis#cite_note-0"><sup>[1]</sup></a>. bagian kelamin, tetapi <em>W. bancrofti</em> dapat menyerang tungkai dada, serta alat kelamin. Filariasis subkutan disebabkan oleh <a title="Loa loa (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Loa_loa&amp;action=edit&amp;redlink=1"><em>Loa loa</em></a> (cacing mata Afrika), <a title="Mansonella streptocerca (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mansonella_streptocerca&amp;action=edit&amp;redlink=1"><em>Mansonella streptocerca</em></a>, <a title="Onchocerca volvulus (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Onchocerca_volvulus&amp;action=edit&amp;redlink=1"><em>Onchocerca volvulus</em></a>, dan <a title="Dracunculiasis (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Dracunculiasis&amp;action=edit&amp;redlink=1"><em>Dracunculus medinensis</em></a> Gejala <a title="Elefantiasis (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Elefantiasis&amp;action=edit&amp;redlink=1">elefantiasis</a> (penebalan kulit dan jaringan-jaringan di bawahnya) sebenarnya hanya disebabkan oleh filariasis limfatik ini. <em>B. timori</em> diketahui jarang menyerang (cacing guinea). Mereka menghuni lapisan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lemak">lemak</a> yang ada di bawah lapisan kulit. Jenis filariasis yang terakhir disebabkan oleh <em>Mansonella perstans</em> dan <em>Mansonella ozzardi</em>, yang menghuni rongga perut. Semua parasit ini disebarkan melalui <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nyamuk">nyamuk</a> atau <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lalat">lalat</a> pengisap darah, atau, untuk <em>Dracunculus</em>, oleh <a title="Kopepoda (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kopepoda&amp;action=edit&amp;redlink=1">kopepoda</a> (Crustacea).</p>
<p>Morfologi Penyakit Filariasis</p>
<p>Morfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk dan letak bagian luar tubuh suatu organisme hidup. Berikut ini adalah morfologi penyakit filariasis.</p>
<ul>
<li>Larva stadium 1 panjangnya kurang lebih 147 mikron, bentuknya seperti sosis, ekornya panjang dan lancip.</li>
<li>Larva stadium 2 panjangnya kurang lebih 450 mikron, bentuknya lebih gemuk dan lebih panjang daripada bentuk stadium 1, ekornya pendek seperti kerucut.</li>
<li>Larva stadium 3 panjangnya kurang lebih 1200 mikron, bentuknya langsing, pada ekornya terdapat 3 buah papil.</li>
<li>Mikrofilaria panjangnya kurang lebih 250 mikron, besarung pucat (pewarnaan hematoxilin), lekuk badan halus, panjang ruang kepala sama dengan lebarnya, inti halus dan teratur, tidak ada inti tambahan.</li>
<li>Cacing dewasa (mikrofilaria) halus seperti benang, warna putih kekuningan.</li>
<li>Cacing jantan panjangnya kurang lebih 40 mm ekornya melingkar, mempunyai 2 spikula.</li>
<li>Cacing betina panjangnya 65 -  100 mm, ekor lurus berujung tumpul.</li>
</ul>
<ol>
<li>Gejala Penyakit Filariasis</li>
</ol>
<p>Gejala Filariais Akut dapat berupa:</p>
<ul>
<li>Demam berulang-ulang selama 3-5 hari, demam dapat hilang bila istirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat</li>
<li>Pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan paha, ketiak (lymphadenitis) yang tampak kemerahan, panas dan sakit</li>
<li>Radang saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan kearah ujung (retrograde lymphangitis)</li>
<li>Filarial abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar getah bening, dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah</li>
<li>Pembesaran tungkai, lengan, buah dada, buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas (early lymphodema)</li>
</ul>
<ol>
<li>Diagnosa penyakit filariasis</li>
</ol>
<p>Penyakit kaki gajah ini umumnya terdeteksi melalui pemeriksaan mikroskopis darah, Sampai saat ini hal tersebut masih dirasakan sulit dilakukan karena microfilaria hanya muncul dan menampilkan diri dalam darah pada waktu malam hari selama beberapa jam saja (nocturnal periodicity).</p>
<p>Selain itu, berbagai methode pemeriksaan juga dilakukan untuk mendiagnosa penyakit kaki gajah. Diantaranya ialah dengan system yang dikenal sebagai Penjaringan membran, Metode konsentrasi Knott dan Teknik pengendapan.</p>
<p>Metode pemeriksaan yang lebih mendekati kearah diagnosa dan diakui oleh pihak WHO adalah dengan jalan pemeriksaan sistem &#8220;Tes kartu&#8221;, Hal ini sangatlah sederhana dan peka untuk mendeteksi penyebaran parasit (larva). Yaitu dengan cara mengambil sample darah sistem tusukan jari droplets diwaktu kapanpun, tidak harus malam hari.</p>
<p>Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan untuk menunjang diagnosis antara lain sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Diagnosis Immunologi dengan ELISA dan Immunochromatographic Test ( ICT ). Kedua teknik ini pada dasarnya menggunakan antibodi monoklonal yang spesifik untuk mendeteksi anti gen filarial dalam sirkulasi. Hasil tes yang positif menunjukan adanya infeksi aktif walaupun mikrofilaria tidak ditemukan dalam darah dan juga digunakan untuk monitor keefektifan terapi. Pada stadium opstruktif mikrofilaria sering tidak dijumpai dalam darah, tetapi ada didalam cairan hidrokel atau cairan chyluria.</li>
<li>Pemeriksaan urin dan mikroskopis: jika diduga filariasis limfatik, pemeriksaan urin secara makroskopis untuk chyluria kemudian dipusatkan untuk mikrofilaria.</li>
<li>CBC (Complete Blood Count): eosinofilia terjadi pada semua bentuk infeksi filariasis yang jelas.</li>
<li>Penilaian serum imunoglobulin: peningkatan serum Ige dan IgG4 dapat terlihat pada filariasis aktif.</li>
</ol>
<ol>
<li>Pengobatan, pencegahan dan rehabilitasi penyakit filariasis
<ol>
<li>Pengobatan</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Penggunaan obat-obat anti filaria harus disesuaikan per individu. Penderita-penderita yang lebih tua dengan obstruksi limfatik kronis dan mereka yang tinggal pada daerah endemis tidak menunjukkan adanya manfaat dari pengobatan spesifik. Pengobatan filariasis harus spesifik dan sesuai dengan mikrofilaria yang terisolasi atau anti gen dalam darah yang terdeteksi.</p>
<p>Diethylcarbamazine (DEC) merupakan obat pilihan baik untuk pengobatan perorangan atau masal. DEC bersifat membunuh mikrofilaria dan juga cacing dewasa pada pengobatan jangka panjang. Pengobatan perorangan ditujukan untuk menghancurkan parasit dan mengeliminasi, mengurangi, atau mencagah kesakitan.</p>
<p>DEC merupakan derivat piperazine. Immobilisasi mikrofilaria terjadi dengan menurunkan aktivitas otot akibat efek hiperpolarisasi, namun mekanisme yang tepat belum diketahui. Perubahan permukaan membran dan peningkatan destruksi oleh didtem imun hospes juga terjadi. Bisa juga meningkatkan adhesi granulosit via mekanisme antibodi-dependent dan antibodi-independent. Diduga pula, DEC juga mengganggu proses intrasel mikrifilaria dan transpor makromolekul spesifik.</p>
<p>Dosis dewasa: 6 mg / kg / hari dalam dosis terbagi, setelah makan, selama &gt; 12 hari, sering dalam 3 minggu. Dosis rendah ( kurang lebih 2-3 mg / kg / hari ) biasanya dianjurkan untuk 3 hari pertama pengobatan untuk menurunkan resiko efek samping. Pada anak usia &lt; 2 tahun tidak diberikan, tapi untuk usia lebih dari 2 tahun, dosis sama dengan orang dewasa. Kontra indikasi bila terjadi reaksi hipersensitivitas. Individu yang lebih muda dengan limfangitis akut harus diberikan DEC 50 mg pada hari I, 2 x 50 mg pada hari II, 3 x 50 mg pada hari 3 dan 10 mg / kg BB pada hari ke 4-21.</p>
<p>Pada pengobatan masal, pemberian DEC dosis standar tidak dianjurkan mengingat efek samping yang dapat ditimbulkan. Untuk itu DEC diberikan dengan dosis rendah dengan jangka waktu pemberian lebih lama untuk mencapai dosis total yang sama. Jika terjadi demam, nyeri kepala atau pembengkakan sendi maka pengobatan harus dihentikan dan diberikan kortikosteroid.</p>
<p>Ivermectin (Mectizan, 22, 23- dihidroavermectin) merupakan derivat macrocyclic lactone dari Avermectin yang mempunyai aktivitas luas terhadap nematoda dan ektoparasit. Obat ini hanya membunuh mikrofilaria. Dosis dewasa adalah 150-200 µg / kg p.o.,dosis tunggal, diberikan kurang lebih 2-3 bulan sekali. Pada anak dengan usia &lt; 5 tahun atau berat badan &lt; 15 kg tidak dianjurkan sedangkan anak usia 5 tahun atau berat badan &gt; 15 kg, dosis pemberian seperti dosis dewasa. Kontraindikasi untuk penderita dengan hipersensitivitas dan penyakit berat lain yang terjadi bersamaan, ibu hamil dan menyusui. Efek samping yang ditimbulkan lebih ringan daripada DEC.</p>
<p>Pencegahan</p>
<p>Pencegahan filariasis dapat dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk (mengurangi kontak dengan vektor) misalnya menggunakan kelambu sewaktu tidur, menutup ventilasi dengan kasa nyamuk, menggunakan obat nyamuk, mengoleskan kulit dengan obat anti nyamuk, menggunakan pakaian panjang yang menutupi kulit, tidak memakai pakaian berwarna gelap karena dapat menarik nyamuk, dan memberikan obat anti-filariasis (DEC dan Albendazol) secara berkala pada kelompok beresiko tinggi terutama di daerah endemis. Dari semua cara diatas, pencegahan yang paling efektif tentu saja dengan memberantas nyamuk itu sendiri dengan cara 3M.</p>
<p>Filariasis hanya dapat tersebar melalui vektor yang terinfeksi larva infektif. Pencegahan untuk mengurangi kontak antara manusia dan vektor serta menurunkan jumlah infeksi dengan mengadakan pencegahan pada hospes (manusia).</p>
<p>Rehabilitasi</p>
<p>Penderita filariasis yang telah menjalani pengobatan dapat sembuh total. Namun, kondisi mereka tidak bisa pulih seperti sebelumnya. Artinya, beberapa bagian tubuh yang membesar tidak bisa kembali normal seperti sedia kala. Rehabilitasi tubuh yang membesar tersebut dapat dilakukan dengan jalan operasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">BAB III</p>
<p align="center">PENUTUP</p>
<p style="text-align:left;" align="center">Kesimpulan</p>
<p>Dari makalah yang telah kami buat dapat disimpulkan beberapa hal diantaranya yaitu:</p>
<ol>
<li>Filariasis adalah penyakit <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Zoonosis">zoonosis</a> menular yang banyak ditemukan di wilayah tropika seluruh dunia. Penyebabnya adalah edema, infeksi oleh sekelompok cacing nematoda parasit yang tergabung dalam superfamilia Filarioidea.</li>
<li>Penyakit kaki gajah (filariasis) ini umumnya terdeteksi melalui pemeriksaan mikroskopis darah.</li>
<li>lariasis dapat dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk (mengurangi kontak dengan vektor)</li>
<li>Pengobatan filariasis harus dilakukan secara masal dan pada daerah endemis dengan menggunakan obat <em>Diethyl Carbamazine Citrate</em> (DEC). DEC dapat membunuh mikrofilaria dan cacing dewasa pada pengobatan jangka panjang.</li>
</ol>
<ol>
<li>Saran</li>
</ol>
<p>Diharapkan pemerintah dan masyarakat lebih serius menangani kasus filariasis karena penyakit ini dapat membuat penderitanya mengalami cacat fisik sehingga akan menjadi beban keluarga, masyarakat dan Negara. Dengan penanganan kasus filariasis ini pula, diharapkan Indonesia mampu mewujudkan program Indonesia Sehat Tahun 2010.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evynurhidayah.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evynurhidayah.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evynurhidayah.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evynurhidayah.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/evynurhidayah.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/evynurhidayah.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/evynurhidayah.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/evynurhidayah.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evynurhidayah.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evynurhidayah.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evynurhidayah.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evynurhidayah.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evynurhidayah.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evynurhidayah.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evynurhidayah.wordpress.com&amp;blog=31155626&amp;post=77&amp;subd=evynurhidayah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/17/makalah-filariasis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f094908bcc9fc495933b50f9ae28a91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">evynurhidayah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>laporan Jartest</title>
		<link>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/17/laporan-jartest/</link>
		<comments>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/17/laporan-jartest/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 05:04:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evynurhidayah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tugas Kuliah Semester 3]]></category>
		<category><![CDATA[laporan jartest_penyehatan air dan pengolahan limbah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evynurhidayah.wordpress.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN PRAKTIKUM PENYEHATAN AIR DAN PENGOLAHAN LIMBAH “JAR TEST” &#160; &#160; DISUSUN OLEH: EVI NURHIDAYAH B1003014 &#160; &#160; &#160; PROGRAM STUDI DIII KESEHATAN LINGKUNGAN POLITEKNIK BANJARNEGARA 2011 &#160; JUDUL Percobaan Jar Test &#160; TUJUAN Adapun tujuan dari praktikum yang telah kami laksanakan yaitu: Untuk mencari dosis koagulan yang paling optimal yang digunakan untuk proses koagulasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evynurhidayah.wordpress.com&amp;blog=31155626&amp;post=72&amp;subd=evynurhidayah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">LAPORAN PRAKTIKUM</p>
<p align="center">PENYEHATAN AIR DAN PENGOLAHAN LIMBAH</p>
<p align="center">“JAR TEST”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">DISUSUN OLEH:</p>
<p align="center">EVI NURHIDAYAH</p>
<p align="center">B1003014</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">PROGRAM STUDI DIII KESEHATAN LINGKUNGAN</p>
<p align="center">POLITEKNIK BANJARNEGARA</p>
<p align="center">2011</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>JUDUL</p>
<p>Percobaan Jar Test</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>TUJUAN</p>
<p>Adapun tujuan dari praktikum yang telah kami laksanakan yaitu:</p>
<ol>
<li>Untuk mencari dosis koagulan yang paling optimal yang digunakan untuk proses koagulasi dalam pengolahan air.</li>
<li>Untuk mengetahui alat, bahan, serta cara kerja yang baik dalam penggunaan jar test.</li>
</ol>
<p>WAKTU DAN TEMPAT</p>
<p>Praktikum dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 01 Desember 2011 pukul 08.00 – selesai di Laboratorium Politeknik Banjarnegara.</p>
<p style="text-align:center;"> TINJAUAN PUSTAKA</p>
<p>Proses pengolahan umumnya melibatkan proses fisika maupun kimia. Pada proses fisika antara lain penyaringan (screening), filtrasi dan pengendapan, sedang proses kimia umumnya netralisasi, koagulasi, flokulasi serta aerasi. Pengolahan air buangan yang dilakukan dengan proses koagulasi dan flokulasibertujuan untuk memisahkan polutan koloid tersuspensi dari dalam air dengan memperbesarukuran partikel-partikel padat yang terkandung didalamnya.</p>
<p>Pada proses koagulasi ditambahkan sejenis bahan kimia ke dalam air buangan dengan sifat-sifat tertentu yakni dapatmemberikan muatan (+) yang akan menetralkan muatan (-) yang pada umumnyadimilikioleh suatu koloid yang disebut koagulan.</p>
<p>Jenis koagulan yang biasa ditambahkan antara lain : Al2(SO4)3, FeSO4, FeCl3, atauPAC (Poly Alumunium Chlorida). Selain pembubuhan koagulan diperlukan pengadukansampai flok-flok ini terbentuk dari partikel-partikel kecil dan koloid yang bertumbukan dan akhirnya mengendap bersama-sama.</p>
<p>Flok-flok yang telah terbentuk dipisahkan dari larutannya dengan sedimentasi. Sedimentasi merupakan proses pemisahan partikel dari cairannya, baik partikel yang memang telah ada di dalam air baku, yang terbentuk sebagai akibat penambahan bahan kimia, maupunpartikel yang dihasilkan dari flokulasi fisis yang digabungkan dengan pengolahan biologis,dengan memanfaatkan gaya gravitasi.</p>
<p>Kestabilan koloid dapat dikurangi dengan proses koagulasi (proses destabilisasi) melalui penambahan bahan kimia dengan muatan berlawanan. Terjadinya muatan pada partikel menyebabkan antar partikel yang berlawanan cenderung bergabung membentuk inti flok. Proses koagulasi selalui diikuti oleh proses flokulasi, yaitu penggabungan intiflok atau flok kecil menjadi flok yang berukuran besar. Proses koagulasi-flokulasi terjadi pada unit pengaduk cepat dan pengaduk lambat. Pada bak pengaduk cepat, dibubuhkan bahan kimia (disebut koagulan). Pengadukan cepat dimaksudkan agar koagulan yang dibubuhkan dapat tercampur secara merata/homogen. Pada bak pengaduk lambat, terjadi pembentukan flok yang berukuran besar hingga mudah diendapkan pada bak sedimentasi.</p>
<p>Koagulan yang banyak digunakan dalam pengolahan air minum adalahaluminium sulfat atau garam-garam besi. Kadang-kadang koagulan-pembantu, seperti polielektrolit dibutuhkan untuk memproduksi flok yang cepat mengendap. Faktor utama yang mempengaruhi koagulasi dan flokulasi air adalah kekeruhan, padatan tersuspensi,temperatur, pH, komposisi dan konsentrasi kation dan anion, durasi dan tingkatagitasiselama koagulasi dan flokulasi, dosis koagulan, dan jika diperlukan, koagulan-pembantu.</p>
<p>Koagulasi adalah dicampurkannya koagulan dengan pengadukan secara cepat guna mendistabilisasi koloid dan solid tersuspensi yang halus, dan masa inti partikel, kemudian membentuk jonjot mikro (mikro flok).</p>
<p>Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi sebagai berikut :</p>
<p>Suhu air</p>
<p>Suhu air yang rendah mempunyai pengaruh terhadap efisiensi proses koagulasi. Bila suhu air diturunkan , maka besarnya daerah pH yang optimum pada proses kagulasi akan berubah dan merubah pembubuhan dosis koagulan.</p>
<p>Derajat Keasaman (pH)</p>
<p>Proses koagulasi akan berjalan dengan baik bila berada pada daerah pH yang optimum. Untuk tiap jenis koagulan mempunyai pH optimum yang berbeda satu sama lainnya.</p>
<p>Jenis Koagulan</p>
<p>Pemilihan jenis koagulan didasarkan pada pertimbangan segi ekonomis dan daya efektivitas daripadakoagulan dalam pembentukan flok. Koagulan dalam bentuk larutan lebih efektif dibanding koagulan dalam bentuk serbukatau butiran.</p>
<p>Kadar ion terlarut</p>
<p>Pengaruh ion-ion yang terlarut dalam air terhadap proses koagulasi yaitu : pengaruh anion lebih bsar daripada kation. Dengan demikian ion natrium, kalsium dan magnesium tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap proses koagulasi.</p>
<p>Tingkat kekeruhan</p>
<p>Pada tingkat kekeruhan yang rendahproses destibilisasi akan sukar terjadi. Sebaliknya pada tingkat kekeruhan air yang tinggi maka proses destabilisasi akan berlangsung cepat. Tetapi apabila kondisi tersebut digunakan dosis koagulan yang rendah maka pembentukan flok kurang efektif.</p>
<p>Dosis koagulan</p>
<p>Untuk menghasilkan inti flok yang lain dari proses koagulasi dan flokulasi sangat tergantung dari dosis koagulasi yang dibutuhkan Bila pembubuhan koagulan sesuai dengan dosisyang dibutuhkan maka proses pembentukan inti flok akan berjalan dengan baik.</p>
<p>Kecepatan pengadukan</p>
<p>Tujuan pengadukan adalah untuk mencampurkan koagulan ke dalam air. Dalam pengadukan hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pengadukan harus benar-benar merata, sehingga semua koagulan yang dibubuhkan dapat bereaksi dengan partikel-partikel atau ion-ion yang berada dalam air. Kecepatan pengadukan sangat berpengaruh terhadap pembentukan flok bila pengadukan terlalu lambat mengakibaykan lambatnyaflok terbantuk dan sebaliknya apabila pengadukan terlalu cepat berakibat pecahnya flok yang terbentuk</p>
<p>Alkalinitas</p>
<p>Alkalinitas dalam air ditentukan oleh kadar asam atau basa yang terjadi dalam air (Tjokrokusumo, 19920. Alkalinitas dalam air dapat membentuk flok dengan menghasil ion hidroksida pada reaksihidrolisa koagulan.</p>
<p>Flokulasi adalah pengadukan perlahan terhadap larutan jonjot mikro yang menghasilkan jonjot besar dan kemudian mengendap secara cepat (Tjokrokusumo, 1995). Flokulasi adalah proses menghubungkan bahan kimia berupa flokulan agar menggumpal sehingga membentuk partikel koloid atau flok mengendap yang lebih besar.</p>
<p>Flokulasi adalah proses pengadukan lambat agar campurankoagulan dan air baku yang telah merata membentuk gumpalan atau flokdan dapat mengendap dengan cepat. Flokulasi adalah penyisihan kekeruhan air dengan cara penggumpalan partikel untuk dijadikan partikel yang lebih besar. Gaya antar molekul yang diperoleh dari agitasi merupakan salah satufaktor yang berpengaruh terhadap laju terbentuknya partikel flok. Flokulasi adalah suatu proses aglomerasi (penggumpalan) partikel partikel terdestabilisasi menjadi flok dengan ukuran yang memungkinkandapat dipisahkan oleh sedimentasi dan filtrasi. Proses flokulasi adalah proses pertumbuhan flok (partikel terdestabilisasi atau mikroflok) menjadi flok dengan ukuran yang lebih besar (makroflok).</p>
<p>Ada dua jenis proses flokulasi yaitu :</p>
<p>Flokulasi perikinetik</p>
<p>Flok yang diakibatkan oleh adanya gerak thermal (panas) yang dikenal sebagai gerak Brown, prosesnya disebut flokulasi perikinetik. Gerak acak dari partikel-partikel koloid yang ditimbulkan karena adanya tumbuhan molekul-molekul air, akan mengakibatkan terjadinya gabungan antar partikel lebih sangat kecil 1 &lt; 100 milimikron (Sank R.K, 1986).</p>
<p>Flokulasi orthokinetik</p>
<p>Flokulasi orthokinetik adalah suatu proses terbentuknya flok yang diakibatkan oleh terbentuknya gerak media (air) misalnya pengadukan (Sank R.K, 1986). Pada umumnya kecepatan aliran cairan akan berubah terhadap tempat dan waktu. Perubahan kecepatan dari satu titik ke titik lainnya dikeal sebagai gradien kecepatan, dengan notasi G. Dengan  adanya perbedaan kecepatan aliran media cair akan mempunyai aliran kecepatan yang berbeda pula akibatnya akan terjadi tumbukan atau kontak antar partikel.</p>
<p>Proses flokulasi terdiri dari tiga langkah :</p>
<ol>
<li>Pelarutan reagen melalui pengadukan cepat (1 menit ; 100 rpm)</li>
<li>Pengadukan lambat untuk membentuk dan menggambung flok (10 menit ; 60 rpm)</li>
<li>Pemisahan flok-flok dengan koloid yang terkurung dari larutan melalui pengendapan.</li>
</ol>
<p>Faktor – faktor yang mempengaruhi flokulasi :</p>
<p>Untuk mencapai kondisi flokulasi yang dibutuhkan, ada beberapafaktor yang harus diperhatikan, seperti misalnya :</p>
<ol>
<li>Waktu flokulasi</li>
<li>Jumlah energi yang diberikan</li>
<li>Jumlah koagulan</li>
<li>Jenis dan jumlah koagulan/flokulan pembantu</li>
<li>Cara pemakaian koagulan/flokulan pembantu</li>
<li>Resirkulasi sebagian lumpur (jika memungkinkan)</li>
<li>Penetapan pH pada proses koagulasi</li>
</ol>
<p>Reaksi kimia untuk menghasilkan flok adalah:</p>
<p>Al2(SO4)3.14H2O + 3Ca(HCO3)2 → 2Al(OH)3 + 3CaSO4 + 14H2O + 6CO2</p>
<p>Pada air yang mempunyai alkalinitas tidak cukup untuk bereaksi dengan alum, maka perlu ditambahkan alkalinitas dengan menambah kalsium hidroksida.</p>
<p>Al2(SO4)3.14H2O + 3Ca(OH)2 →2Al(OH)3 + 3CaSO4 + 14H2O</p>
<p>Derajat pH yang optimum untuk alum berkisar 4,5 hingga 8, karena aluminium hidroksida relatif tidak terlarut.</p>
<ol>
<li>Pengadukan</li>
</ol>
<p>Faktor penting pada proses koagulasi-flokulasi adalah pengadukan. Berdasarkankecepatannya, pengadukan dibedakan menjadi dua, yaitu pengadukan cepat dan pengadukanlambat. Pengadukan cepat adalah pengadukan yang dilakukan dengan gradien kecepatan besar(300 sampai 1000 detik-1), sementara pengadukan lambat adalah pengadukan yang dilakukandengan gradien kecepatan kecil (20 sampai 100 detik-1). Waktu pengadukan juga berbeda.Pada pengadukan cepat, waktu yang diperlukan tidak lebih dari 1 menit, sementarapengadukan lambat membutuhkan waktu 15 hingga 60 menit.</p>
<p>Pengadukan dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu cara mekanis, cara hidrolis, dan cara pneumatis. Pengadukan mekanis adalah metoda pengadukan menggunakan alat pengaduk berupa impeller yang digerakkan dengan motor bertenaga listrik. Umumnya pengadukan mekanis terdiri dari motor, poros pengaduk, dan gayung pengaduk (impeller). Pengadukan hidrolis adalah pengadukan yang memanfaatkan gerakan air sebagai tenaga pengadukan. Sistem pengadukan ini menggunakan energi hidrolik yang dihasilkan dari suatualiran hidrolik. Energi hidrolik dapat berupa energi gesek, energi potensial (jatuhan) atauadanya lompatan hidrolik dalam suatu aliran. Beberapa contoh pengadukan hidrolis adalah terjunan loncatan hidrolis, parshall flume, baffle basin, perforated wall, gravel bed dan sebagainya. Pengadukan pneumatis adalah pengadukan yang menggunakan udara (gas) berbentuk gelembung yang dimasukkan ke dalam air sehingga menimbulkan gerakan pengadukan padaair. Injeksi udara bertekanan ke dalam suatu badan air akan menimbulkanturbulensi, akibat lepasnya gelembung udara ke permukaan air. Makin besar tekanan udara, kecepatan gelembung udara yang dihasilkan makin besar dan diperoleh turbulensi yang makin besar pula.</p>
<p>Koagulasi adalah proses penggumpalan partikel koloid karena penambahan bahan kimia sehingga partikel-partikel tersebut bersifat netral dan membentuk endapan karenaadanya gaya grafitasi. Koagulasi juga merupakan penambahan koagulan dapat menetralkan muatan dan meruntuhkannya yang berada di sekitar koloid sehingga dapat menggumpal. Sedangkan koagulan adalah zat kimia yang menyebabkan destabilisasi muatannegatif partikel di dalam suspensi. Zat ini merupakan donor muatan positip yang digunakan untuk mendestabilisasi muatan negatip partikel.</p>
<p>Pada saat praktikum, apabila air sampel masih asam, maka ditambahkan larutan kapur agar menjadi basa. Kapur (lime) secara umum terdapat dalam dua bentuk yaitu CaO dan Ca(OH)2. CaO adalah bahan mudah larut dalam air dan menghasilkan gugus hidroksil yaitu Ca(OH)2. Yang bersifat basa dan disertai keluarnya panas yang tinggi.</p>
<p>Menurut Tarmiji, 1986, penggunaan dari kapur antara lain dibidang kesehatan lingkungan untuk pengolahan air kotor, air limbah maupun industri lainnya. Pada pengolahan air kotor, kapur dapat mengurangi kandungan bahan-bahan organik. Cara kerjanya adalah kapur ditambahkan untuk mereaksikan alkalibikarbonat serta mengatur pH air sampai sehingga menyebabkan pengendapan. Proses pengendapan ini akan berjalan secara efektif apabila pH air antara 6 – 8 (Considine). Hydrate lime dihasilkan dari reaksi quickime (CaO) dengan air, sehingga terbentuk Ca(OH)2.</p>
<p>Sifat-sifat fisik dan kimia Hydrate lime :</p>
<ol>
<li>Bentuk kristal, powder</li>
<li>Warna, sebagian besar umumnya berwarna putih dan pada tinhkat tinggi dapat berwarna abu-abu.</li>
<li>Kepadatan, Kalsium Hydrated lime memiliki tingkat kepadatan kira-kira 2,3 g/gm3</li>
<li>Kelarutan, tingkat kelarutan dari kira-kira 1,85 Ca(OH)2/l air pada suhu 00C sampai0,7g/l pada suhu 1000C.</li>
<li>Netralisasi asam , Hydrate lime siap bereaksi dengan asam dan gas sehingga tentu saja berkemampuan menetralisasi asam. pH, karena kalsium hidroksida adalah termasuk basa kuat, konsentrasi 0,10 g Ca(OH)2/l dapat memberi pH kira-kira 11,3 pada suhu 250C. Pada larutan 250C, kandungan 1,8/l memberikan pH sebesar 12,7. Kapur telah diikenal sebagai bahan yang dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan diantaranya dipakai pada bidang-bidang industri misalnya industri kimia, kertas, dan lainlainnya, sebagai bahan bangunan, pertanian dan lain-lain.</li>
</ol>
<p>Khusus di sektor lingkungan kapur dapat berguna dalam:</p>
<ol>
<li>Proses pengolahan air, air kapur dapat berguna sebagai bahan penurun kesadahan, menetralisasi keasaman, memperkecil kadar silika, mangan, fluorida dan bahan-bahan organik. Selain itu dapat juga mengurangi kadar BOD dengan cara menyerap antara 40% sampai 50 % bahan organik terlarut maupun tidak terlarut.</li>
<li>Proses pengolahan air bekas, kapur dapat befungsi antara lain dalam pengendalian keasaman digester, penyerapan bau (deodorant) dan sebagai desinfektan.</li>
<li>Proses pengolahan buangan industri besi/baja, kapur digunakan untuk menetralisir asam sulfat bebas (free sulfuric acid ) dan mengendapkan garam-garam besi yang terdapat pada limbah industri tersebut.</li>
<li>Kapur dapat digunakan untuk mengurangi gas SO2 yang keluar dari pembakaran batu</li>
<li>bara atau minyak yang mengandung sulfur yang tinggi melalui suatu proses yang disebut “wet scrubing”.</li>
<li>Pada peternakan ayam, kapur dapat digunkan untuk mengeringkan serta mengurangi bau kotoran ayam yang berceceran di laniat kandang. Selain itu juga dapat berfungsi sebagai “geomedical” untuk mencegah parasit-parasit dan bnayak penyakit ayam. Dosis yang biasa dipakai pada peternakan ayam adalah sekitar 1 lb (0,45 kg) Hydrates Lime [Ca(OH)2] pada setiap 3-5 ft2 (2,79-4,65 m2) lantai yang mengandung kotoran ayam. Kapur juga dapat dipergunakan sebagai penghilang fosfor dalam air, disini kapur berfungsi sebagai bahan koagulan, karena salah satu cara penghilangan fosfor dalam air adalah pengendapan kimiawi.</li>
</ol>
<p>Selain itu, proses penjernihan dengan jar test juga menggunakan tawas. Persenyawaan Alumunium Sulfat (Al2(SO4)3) atau sering disebut tawas adalah suatu jenis koagulan yang sangat populer secara luas digunakan, sudah dikenal bangsa Mesir pada awal tahun 2000 SM. Alum atau tawas sebagai penjernih air mulai diproduksi oleh pabrik pada awal abad 1500. Alum atau tawas merupakan bahan koagulan, yang paling banyak digunkan karena bahan ini paling ekonomis 9murah), mudah didapatkan di pasaran serta mudah penyimpanannya.</p>
<p>Reaksi yang terjadi jika alum dimasukkan ke dalm air, yaitu terjadi proses hidrolisis, yang sangat dipengaruhi oleh nilai pH yang bersangkutan. Range pH untuk jenis koagulan alum adalah sebesar 5,5 sampai 7,8. Alum yang dilarutkan ke dalam air akan bereaksi dengan kapur atau bahan lain seperti Soda Abu atau Natrium Bikarbonat (Na2CO3), reaksi yang kan terjadi reaksi hipotik. Reaksi tersebut antara ion Al dengan ion OH.</p>
<p>Sedangkan alat utama yang digunakan dalam praktikum ini adalah jar test. Jar Test adalah suatu percobaan skala laboratorium untuk  menentukan kondisi operasi optimum pada proses pengolahan air dan airlimbah. Metode ini dapat menentukan nilai pH, variasi dalam penambahandosis koagulan atau polimer, kecepatan putar, variasi jenis koagulan ataujenis polimer, pada skala laboratorium untuk memprediksi kebutuhan pengolahan air yang sebenarnya.</p>
<p>Metode JarTest mensimulasikan proses koagulasi dan flokulasi untuk menghilangkan padatan tersuspensi (suspended solid) dan zat – zat organik yang dapat menyebabkan masalah kekeruhan, bau, dan rasa. Jar Test mensimulasikan beberapa tipe pengadukan dan pengendapan yang terjadi di clarification plant pada skala laboratorium. Dalam skala laboratorium, memungkinkan untuk dilakukannya 6 tes individual yang dijalankan secara bersamaan. Jartest memiliki variabel kecepatan putar pengaduk yang dapat mengontrol energi yang diperlukan untuk proses.</p>
<p>Prinsip Jartest Suatu larutan koloid yang mengandung partikel-partikel kecil dan koloid dapat dianggap stabil bila :</p>
<ol>
<li>Partikel-partikel kecil ini terlalu ringan untuk mengendap dalam waktu yang pendek (beberapa jam).</li>
<li>Partikel-partikel tersebut tidak dapat menyatu, bergabung dan menjadi partikel yang lebihbesar dan berat, karena muatan elektris pada permukaan elektrostatis antara partikel satudengan yang lainnya. Dengan pembubuhan koagulan tersebut, maka stabilitas akan terganggu karena :</li>
</ol>
<ul>
<li>Sebagian kecil tawas tinggal terlarut dalam air, molekul-molekul ini dapat menempelpada permukaan koloid dan mengubah muatan elektrisnya karena sebagian molekul Albermuatan positif sedangkan koloid bisanya bermuatan negatif (pada pH 5 – 8).</li>
<li>Sebagian besar tawas tidak terlarut dan akan mengendap sebagai flok Al(OH) 3yang dapat mengurung koloid dan membawanya kebawah.</li>
</ul>
<p>Bahan koagulan lain yang dapat digunakan selain tawas adalah PAC (Poly Alumunium Chloride). PAC adalah suatu persenyawaan anorganik komplek, ion hidroksil serta ion alumunium bertarap klorinasi yang berlainan sebagai pembentuk polynuclear mempunyai rumus umum  Alm(OH)nCl(3m-n). Beberapa keunggulan yang dimiliki PAC dibanding koagulan lainnya adalah :</p>
<ol>
<li>PAC dapat bekerja di tingkat pH yang lebih luas, dengan demikian tidak diperlukan pengoreksian terhadap pH, terkecuali bagi air tertentu.</li>
<li>Kandungan belerang dengan dosis cukup akan mengoksidasi senyawakarboksilat rantai siklik membentuk alifatik dan gugusan rantai hidrokarbon yang lebih pendek dan sederhana sehingga mudah untukdiikat membentuk flok.</li>
<li>Kadar khlorida yang optimal dalam fasa cair yang bermuatan negatifakan cepat bereaksi dan merusak ikatan zat organik terutama ikatankarbon nitrogen yang umumnya dalam truktur ekuatik membentuk suatu makromolekul terutama gugusan protein, amina, amida dan penyusun minyak dan lipida. PAC tidak menjadi keruh bila pemakaiannya berlebihan, sedangkan koagulan yang lain (seperti alumunium sulfat, besi klorida dan fero sulfat) bila dosis berlebihan bagi air yang mempunyai kekeruhan yang rendah akan bertambah keruh.</li>
<li>Jika digambarkan dengan suatu grafik untuk PAC adalah membentuk garislinier artinya jika dosis berlebih maka akan didapatkan hasil kekeruhan yang relatif sama dengan dosis optimum sehinggapenghematan bahan kimia dapat dilakukan. Sedangkan untuk koagulan selain PAC memberikan grafik parabola terbuka artinya jika kelebihan atau kekurangan dosis akan menaikkan kekeruhan hasil akhir, hal ini perlu ketepatan dosis.</li>
<li>PAC mengandung suatu polimer khusus dengan struktur polielektrolite yang dapat mengurangi atau tidak perlu sama sekali dalam pemakaian bahan pembantu, ini berarti disamping penyederhanaan juga penghematan untuk penjernihan air.</li>
<li>Kandungan basa yang cukup akan menambah gugus hidroksil dalam airsehingga penurunan pH tidak terlalu ekstrim sehingga penghematan dalam penggunaan bahan untuk netralisasi dapat dilakukan.</li>
<li>PAC lebih cepat membentuk flok daripada koagulan biasa ini diakibatkandari gugus aktif aluminat yang bekerja efektif dalam mengikat koloid yang ikatan ini diperkuat dengan rantai polimer dari gugus polielektrolite sehingga gumpalan floknya menjadi lebih padat, penambahan gugus hidroksil kedalam rantai koloid yang hidrofobik akan menambah berat molekul, dengan demikian walaupun ukuran kolam pengendapan lebih kecil atau terjadi over-load bagi instalasi yang ada, kapasitas produksi relatif tidak terpengaruh. (<a href="http://smk3ae.wordpress.com/">http://smk3ae.wordpress.com</a>)</li>
</ol>
<p style="text-align:center;"> MATERI DAN METODE</p>
<p>MATERI</p>
<p>Alat:</p>
<ul>
<li>Gelas kimia 1000 ml sebanyak 6 buah</li>
<li>Pipet ukur</li>
<li>Pengaduk otomatis</li>
<li>Indicator universal</li>
<li>Ember</li>
<li>Alat tulis untuk mencatat</li>
</ul>
<p>Bahan:</p>
<ul>
<li>Air sampel</li>
<li>Aquades</li>
<li>Larutan kapur</li>
<li>Larutan tawas standar (10 gr / liter )</li>
</ul>
<p>METODE</p>
<ol>
<li>Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan</li>
<li>Mengecek atau mengukur pH air sampel dengan menggunakan indikator universal, jika pH asam maka ditambahkan dengan larutan kapur sampai menjadi basa (alkalis).</li>
<li>Jika pH sudah basa, tuangkan air sampel ke dalam 6 buah beaker glass volume 1 liter (1000 ml).</li>
<li>Mengambil larutan tawas dengan pipet ukur dan dituangkan kedalam masing-masing gelas secara bertingkat dengan satu gelas tidak dituangi sebagai kontrol.</li>
<li>Menghidupkan pengaduk (stirrer) dan saklar lampu. Setting dengan kecepatan 100 rpm selama 1 menit.</li>
<li>Setelah jartes berbunyi yang menandakan waktu telah selesai (1 menit), setting kembali kecepatannya menjadi 20 rpm selama 15 menit.</li>
<li>Setelah 15 menit, matikan alat pengaduk dan setting waktu selama 15 menit lagi untuk mengamati flok yang terbentuk.</li>
<li>Pilih gelas yang paling bening airnya.</li>
<li>Mencatat dan menghitung dosis optimal tawas yang dibutuhkan.</li>
</ol>
<p style="text-align:center;"> HASIL DAN PEMBAHASAN</p>
<p>HASIL</p>
<p>Hasil Perhitungan:</p>
<p>Diket:</p>
<ul>
<li>Debit air yang akan diolah (Q) = 15 liter/detik</li>
<li>Dari jar test di dapat dosis optimal tawas sebesar = 50 mg/l</li>
</ul>
<p>Ditanya:</p>
<p>Berapa jumlah tawas yang dibutuhkan untuk proses koagulasi, jika instalasi pengolahan air beroperasi selama 24 jam sehari?</p>
<p>Jawab:</p>
<p>Q    = 15 liter/detik</p>
<p>= 15 x 24 x 60 x 60</p>
<p>= 1296000 liter/hari</p>
<p>= 1296 m<sup>3</sup></p>
<p>Tawas yang dibutuhkan</p>
<p>= 50 mg/liter x 1296000 liter</p>
<p>= 64800000 mg</p>
<p>= 64, 8 kg</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;"> PEMBAHASAN</p>
<p>Dari gambar dan hasil perhitungan yang ada, dapat dijelaskan bahwa apabila akan melakukan percobaan menggunakan jartest terlebih dahulu kita mengukur pH air sampel yang akan digunakan, karena apabila pH air sampel masih asam, maka kita harus menambahkan larutan kapur agar menjadi basa karena kita menggunakan bahan koagulan berupa tawas, dan tawas dapat optimal apabila dalam keadaan basa. Pada praktikum yang telah kami laksanakan, kami menambah 120 ml larutan kapur sehingga air sampel menjadi basa (pH=8).</p>
<p>Setiap beaker glass yang diisi air sampel 1000 ml, diberi larutan tawas secara bertingkat. Glass 1 tidak diberi karena sebagai kontrol, glass 2 diberi tawas 1ml, glass 3 diberi tawas 2ml, glass 4 diberi tawas 3ml, glass 5 diberi tawas 4ml, dan glass 6 diberi tawas 5ml.</p>
<p>Dari adanya penurunan kecepatan pada saat menggunakan jartest juga terdapat maksud atau tujuan tertentu. Pada kecepatan 100 rpm selama 1 menit, dimaksudkan agar bahan koagulan bercampur secara merata dengan air sampel. Pada kecepatan 20 rpm selama 15 menit, dimaksudkan agar partikel-partikel padat dapat bertemu dan membentuk flok-flok yang apabila flok tersebut terbentuk maka akan dapat mengendap. Sedangkan pada kecepatan 0 rpm selama 15-30 menit, bertujuan untuk mengamati flok-flok yang telah mengendap dan hasil mana yang paling jernih.</p>
<p>Setelah percobaan dilaksanakan, hasil yang paling jernih adalah pada glass ke 6, yang diberi tawas 5 ml. jadi, dosis koagulan yang optimal adalah sebesar 50 mg/liter. Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa untuk menjernihkan I liter air sampel dibutuhkan larutan tawas 50 mg/liter, sehingga kondisi air sampel sebelum dijernihkan cukup keruh dan dari perhitungan yang ada, jumlah tawas yang dibutuhkan untuk proses koagulasi, jika instalasi pengolahan air beroperasi 24 jam sehari adalah 64,8 kg.</p>
<p style="text-align:center;">KESIMPULAN</p>
<p>Dari pembahasan yang ada, dapat disimpulkan:</p>
<ol>
<li>Jartest adalah salah satu alat laboratorium yang dapat digunakan untuk menentukan jumlah koagulan optimum pada proses penjernihan air.</li>
<li>Beaker Glass yang menunjukkan air yang paling jernih adalah beaker glass yang no 6 yang telah diberi tawas 5 ml.</li>
<li>Dosis koagulan yang optimal dari praktikum yang kami laksanakan adalah sebesar 50 mg/liter yang menunjukkan bahwa kondisi air sampel sebelum dijernihkan cukup keruh.</li>
<li>Jumlah tawas yang dibutuhkan untuk proses koagulasi, jika instalasi pengolahan air beroperasi 24 jam sehari adalah 64,8 kg.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evynurhidayah.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evynurhidayah.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evynurhidayah.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evynurhidayah.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/evynurhidayah.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/evynurhidayah.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/evynurhidayah.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/evynurhidayah.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evynurhidayah.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evynurhidayah.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evynurhidayah.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evynurhidayah.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evynurhidayah.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evynurhidayah.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evynurhidayah.wordpress.com&amp;blog=31155626&amp;post=72&amp;subd=evynurhidayah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/17/laporan-jartest/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f094908bcc9fc495933b50f9ae28a91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">evynurhidayah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Identifikasi Borak</title>
		<link>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/17/identifikasi-borak/</link>
		<comments>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/17/identifikasi-borak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 04:52:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evynurhidayah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tugas Kuliah Semester 3]]></category>
		<category><![CDATA[borak pada kerupuk_ekotoksikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evynurhidayah.wordpress.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN PRAKTIKUM EKOTOKSIKOLOGI IDENTIFIKASI BORAK PADA MAKANAN “KERUPUK RAMBAK” &#160; DISUSUN OLEH: EVI NURHIDAYAH B 1003014 &#160; &#160; PROGRAM STUDI DIII KESEHATAN LINGKUNGAN POLITEKNIK BANJARNEGARA 2011   BAB I PENDAHULUAN Latar belakang Sekarang ini, dengan semakin pesatnya industrialisasi dan berkembangnya teknologi kimia telah melanda dunia dan bagi Indonesia menjadi keharusan untuk ikut memanfaatkannya. Pada saat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evynurhidayah.wordpress.com&amp;blog=31155626&amp;post=69&amp;subd=evynurhidayah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>LAPORAN PRAKTIKUM</strong></p>
<p align="center"><strong>EKOTOKSIKOLOGI</strong></p>
<p align="center"><strong>IDENTIFIKASI BORAK PADA MAKANAN</strong></p>
<p align="center"><strong>“KERUPUK RAMBAK”</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">DISUSUN OLEH:</p>
<p align="center">EVI NURHIDAYAH</p>
<p align="center">B 1003014</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>PROGRAM STUDI DIII KESEHATAN LINGKUNGAN</strong></p>
<p align="center"><strong>POLITEKNIK BANJARNEGARA</strong></p>
<p align="center"><strong>2011</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>BAB I</strong></p>
<p align="center"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Latar belakang</p>
<p>Sekarang ini, dengan semakin pesatnya industrialisasi dan berkembangnya teknologi kimia telah melanda dunia dan bagi Indonesia menjadi keharusan untuk ikut memanfaatkannya. Pada saat ini kita masih tertinggal dalam mengendalikan dampak yang merugikan, khususnya dampak lingkungan dan lebih khusus bagi keracunan melalui makanan yang perlu dihindari.</p>
<p>Tidak diherankan lagi, saat ini banyak sekali bahan kimia dan berbagai campuran-campuran lain dibuat dan diciptakan untuk membuat pekerjaan manusia dalam membuat makanan lebih efektif dan efisien. Tetapi di samping untuk makanan dibuat juga bahan kimia untuk pembuatan kebutuhan lain. Di mana bahan kimia tersebut tidak boleh dipergunakan dalam pembuatan makanan dan dapat berakibat fatal.</p>
<p>Seperti yang kita ketahui sekarang, kata Borak sudah tidak asing lagi ditelinga. Boraks adalah senyawa berbentuk kristal, warna putih, tidak berbau dan stabil pada suhu tekanan normal dan bersifat sangat beracun, sehingga peraturan pangan tidak membolehkan boraks untuk digunakan dalam pangan. Banyak orang yang belum mengetahui pengertian bahkan bahaya borak pada makanan yang sering kita konsumsi sehari-hari yang dapat menimbulkan dampak buruk bahkan jika digunakan dalam waktu yang lama dapat menimbulkan kematian. Masyarakat sekarang ini hanya mengetahui bahwa makanan yang dibelinya enak dan harganya murah tanpa mengetahui kandungan zat-zat berbahaya didalamnya.</p>
<p>Bahan-bahan pengawet yang digunakan pada makanan umumnya digunakan untuk jenis pangan yang mempunyai sifat mudah rusak. Bahan tersebut dapat menghambat atau memperlambat proses fermentasi, pengasaman, atau penguraian yang disebabkan oleh mikroba. Akan tetapi, tidak jarang produsen menggunakannya pada pangan yang relative awet dengan tujuan untuk memperpanjang masa simpan atau memperbaiki tekstur.</p>
<p>Penggunaan pengawet dalam pangan harus tepat, baik jenis maupun dosisnya. Suatu bahan pengawet mungkin efektif untuk mengawetkan pangan tertentu, tetapi tidak efektif untuk mengawetkan pangan yang lainnya karena pangan mempunyai sifat yang berbeda-beda sehingga mikroba perusak yang akan dihambat pertumbuhannya juga berbeda. Pada saat ini, masih banyak ditemukan penggunaan bahan-bahan pengawet yang dilarang untuk digunakan dalam pangan dan berbahaya bagi kesehatan, seperti borak tersebut.</p>
<p>Pemakaian bahan pengawet dari satu sisi menguntungkan karena dengan bahan pengawet, bahan pangan dapat dibebaskan dari kehidupan mikroba, baik yang bersifat pathogen yang dapat menyebabkan keracunan atau gangguan kesehatan lainnya maupun microbial yang non pathogen yang dapat menyebabkan kerusakan bahan pangan, misalnya pembusukan. Namun dari sisi lain, bahan pengawet pada dasarnya adalah senyawa kimia yang merupakan bahan asing yang masuk bersama bahan pangan yang dikonsumsi. Apabila pemakaian bahan pangan dan dosisnya tidak diatur dan diawasi, kemungkinan besar akan menimbulkan kerugian bagi pemakainya; baik yang bersifat langsung, misalnya keracunan; maupun yang bersifat tidak langsung atau kumulatif, misalnya apabila bahan pengawet yang digunakan bersifat karsinogenik.</p>
<p>Dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, banyak dijumpai pemakaian bahan pengawet secara luas. Kebanyakan bahan pengawet memiliki ciri sebagai senyawa kimia yang relative sederhana jika dibandingkan dengan senyawa kimia lainnya yang diperlukan untuk memberikan tingkat toksisitas yang selektif.</p>
<p>Hal ini menjadi sangat penting dan juga memprihatinkan. Fenomena ini merupakan salah satu masalah dan kebobrokan bangsa yang harus diperbaiki. Oleh karena itu, kita harus mempelajari cara identifikasi Borak dengan benar sehingga dapat meminimalisir masalah yang ada. Karena apabila dibuarkan, hal ini terus berlarut dan akhirnya akibat menumpuk di masa depan.</p>
<p>Tujuan</p>
<p>Tujuan dari pelaksanaan praktikum adalah:</p>
<ol>
<li>Untuk mengetahui alat, bahan, dan cara kerja yang benar dalam mengidentifikasi Borak pada makanan,</li>
<li>Untuk mengetahui interpretasi hasil dari praktikum yang telah dilaksanakan,</li>
<li>Untuk mengetahui cirri-ciri dari makanan yang mengandung Borak.</li>
</ol>
<p>Waktu dan tempat</p>
<p>Praktikum dilaksanakan di Dinas Kesehatan Kabupaten pada hari Kamis 29 Desember 2011 pukul 09.00 sampai selesai.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB II</strong></p>
<p align="center"><strong>TINJAUAN PUSTAKA</strong></p>
<p>Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun yang tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan ataupun minuman bagi konsumsi manusia. Termasuk di dalamnya adalah bahan tambahan pangan, bahan baku pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan atau pembuatan makanan atau minumam (Saparinto dan Hidayati, 2006). <strong></strong></p>
<p>Kualitas pangan dapat ditinjau dari aspek mikrobiologis, fisik (warna, bau, rasa dan tekstur) dan kandungan gizinya. Pangan yang tersedia secara alamiah tidak selalu bebas dari senyawa yang tidak diperlukan oleh tubuh, bahkan dapat mengandung senyawa yang merugikan kesehatan orang yang mengkonsumsinya. Senyawa-senyawa yang dapat merugikan kesehatan dan tidak seharusnya terdapat di dalam suatu bahan pangan dapat dihasilkan melalui reaksi kimia dan biokimia yang terjadi selama pengolahan maupun penyimpanan, baik karena kontaminasi ataupun terdapat secara alamiah. Selain itu sering dengan sengaja ditambahkan bahan tambahan pangan (BTP) atau bahan untuk memperbaiki tekstur, warna dan komponen mutu lainnya ke dalam proses pengolahan pangan (Hardiansyah dan Sumali, 2001).</p>
<p>Boraks atau dalam nama ilmiahnya dikenal sebagai sodium tetraborate decahydrate merupakan bahan pengawet yang dikenal masyarakat awam untuk mengawetkan kayu, antiseptik kayu dan pengontrol kecoa. Tampilan fisik boraks adalah berbentuk serbuk kristal putih. Boraks tidak memiliki bau jika dihirup menggunakan indera pencium serta tidak larut dalam alkohol. Indeks keasaman dari boraks diuji dengan kertas lakmus adalah 9,5, ini menunjukkan tingkat keasaman boraks cukup tinggi (Bambang, 2008).</p>
<p>Boraks merupakan senyawa kimia berbahaya untuk pangan dengan nama kimia natrium tetrabonat (NaB4O7 10H2O). Dapat dijumpai dalam bentuk padat dan jika larut dalam air akan menjadi natrium hidroksida dan asam borat (H3BO3). Boraks atau asam borat biasa digunakan sebagai bahan pembuat deterjen, bersifat antiseptik dan mengurangi kesadahan air. Bahan berbahaya ini haram digunakan untuk makanan. Bahaya boraks jika terhirup, mengenai kulit dan tertelan bisa menyebabkan iritasi saluran pernapasan, iritasi kulit, iritasi mata dan kerusakan ginjal. Jika boraks 5-10 gram tertelan oleh anak-anak bisa menyebabkan <em>shock </em>dan kematian. Efek akut dari boraks bisa menyebabkan badan berasa tidak enak, mual, nyeri hebat pada perut bagian atas, perdarahan gastro-enteritis disertai muntah darah, diare, lemah, mengantuk, demam, dan sakit kepala.</p>
<p>Asam borat atau boraks (boric acid) merupakan zat pengawet berbahaya yang tidak diizinkan digunakan sebagai campuran bahan makanan. Boraks adalah senyawa kimia dengan rumus Na2B4O7 10H2O berbentuk kristal putih, tidak berbau dan stabil pada suhu dan tekanan normal. Dalam air, boraks berubah menjadi natrium hidroksida dan asam borat (Syah, 2005). Asam borat sering digunakan dalam dunia pengobatan dan kosmetika. Misalnya, larutan asam borat dalam air digunakan sebagai obat cuci mata dan dikenal sebagai boorwater. Asam borat juga digunakan sebagai obat kumur, semprot hidung, dan salep luka kecil. Namun, bahan ini tidak boleh diminum atau digunakan pada luka luas, karena beracun ketika terserap masuk dalam tubuh.</p>
<p>Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.722/Menkes/IX/1988, asam borat dan senyawanya merupakan salah satu dari jenis bahan tambahan makanan yang dilarang digunakan dalam produk makanan. Karena asam borat dan senyawanya merupakan senyawa kimia yang mempunyai sifat karsinogen. Meskipun boraks berbahaya bagi kesehatan ternyata masih banyak digunakan oleh masyarakat sebagai bahan tambahan makanan, karena selain berfungsi sebagai pengawet, boraks juga dapat memperbaiki tekstur bakso dan kerupuk hingga lebih kenyal dan lebih disukai konsumen (Mujianto, 2003).</p>
<p>Asam borat (H3BO3) merupakan senyawa bor yang dikenal juga dengan nama borax. Di Jawa Barat dikenal juga dengan nama “bleng”, di Jawa Tengah dan Jawa Timur dikenal dengan nama “pijer”. Digunakan/ditambahkan ke dalam pangan/bahan pangan sebagai pengental ataupun sebagai pengawet (Cahyadi, 2008).</p>
<p>Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan diperoleh data bahwa senyawa asam borat ini dipakai pada lontong agar teksturnya menjadi bagus dan kebanyakan ditambahkan pada proses pembuatan bakso. Komposisi dan bentuk asam borat mengandung 99,0% dan 100% H3BO3. Mempunyai bobot molekul 61,83 dengan B = 17,50% ; H = 4,88% ; O = 77,62% berbentuk serbuk hablur kristal transparan atau granul putih tak berwarna dan tak berbau serta agak manis (Cahyadi, 2008).</p>
<p>Karekteristik boraks antara lain (Riandini, 2008):</p>
<ol>
<li>Warna adalah jelas bersih</li>
<li>Kilau seperti kaca</li>
<li>Kristal ketransparanan adalah transparan ke tembus cahaya</li>
<li>Sistem hablur adalah monoklin</li>
<li>Perpecahan sempurna di satu arah</li>
<li>Warna lapisan putih</li>
<li>Mineral yang sejenis adalah kalsit, halit, hanksite, colemanite, ulexite dan garam asam bor yang lain</li>
<li>Karakteristik yang lain: suatu rasa manis yang bersifat alkali.</li>
</ol>
<p>Senyawa asam borat ini mempunyai sifat-sifat kimia sebagai berikut: jarak lebur sekitar 171°C, larut dalam 18 bagian air dingin, 4 bagian air mendidih, 5 bagian gliserol 85% dan tak larut dalam eter. Kelarutan dalam air bertambah dengan penambahan asam klorida, asam sitrat atau asam tetrat. Mudah menguap dengan pemanasan dan kehilangan satu molekul airnya pada suhu 100°C yang secara perlahan berubah menjadi asam metaborat (HBO2). Asam borat merupakan asam lemah dan garam alkalinya bersifat basa. Satu gram asam borat larut sempurna dalam 30 bagian air, menghasilkan larutan yang jernih dan tak berwarna. Asam borat tidak tercampur dengan alkali karbonat dan hidroksida (Cahyadi, 2008).</p>
<p>Efek boraks yang diberikan pada makanan dapat memperbaiki struktur dan tekstur makanan. Seperti contohnya bila boraks diberikan pada bakso dan lontong akan membuat bakso/lontong tersebut sangat kenyal dan tahan lama, sedangkan pada kerupuk yang mengandung boraks jika digoreng akan mengembang dan empuk serta memiliki tekstur yang bagus dan renyah. Parahnya, makanan yang telah diberi boraks dengan yang tidak atau masih alami, sulit untuk dibedakan jika hanya dengan panca indera, namun harus dilakukan uji khusus boraks di Laboratorium (Depkes RI, 2002).</p>
<p>Boraks bisa didapatkan dalam bentuk padat atau cair (natrium hidroksida atau asam borat). Baik boraks maupun asam borat memiliki sifat antiseptik dan biasa digunakan oleh industri farmasi sebagai ramuan obat, misalnya dalam salep, bedak, larutan kompres, obat oles mulut dan obat pencuci mata. Selain itu boraks juga digunakan sebagai bahan solder, pembuatan gelas,bahan pembersih/pelicin porselin, pengawet kayu dan antiseptik kayu (Aminah dan Himawan, 2009).</p>
<p>Meskipun bukan pengawet makanan, boraks sering pula digunakan sebagai pengawet makanan. Selain sebagai pengawet, bahan ini berfungsi pula mengenyalkan makanan. Makanan yang sering ditambahkan boraks diantaranya adalah bakso, lontong, mie, kerupuk, dan berbagai makanan tradisional seperti “lempeng” dan “alen-alen”. Di masyarakat daerah tertentu boraks juga dikenal dengan sebutan garam bleng, bleng atau pijer dan sering digunakan untuk mengawetkan nasi untuk dibuat makanan yang sering disebut legendar atau gendar (Yuliarti, 2007).</p>
<p>Boraks merupakan racun bagi semua sel. Pengaruhnya terhadap organ tubuh tergantung konsentrasi yang dicapai dalam organ tubuh. Karena kadar tertinggi tercapai pada waktu diekskresi maka ginjal merupakan organ yang paling terpengaruh dibandingkan dengan organ yang lain. Dosis tertinggi yaitu 10-20 gr/kg berat badan orang dewasa dan 5 gr/kg berat badan anak-anak akan menyebabkan keracunan bahkan kematian. Sedangkan dosis terendah yaitu dibawah 10-20 gr/kg berat badan orang dewasa dan kurang dari 5 gr/kg berat badan anak-anak (Saparinto dan Hidayati, 2006).</p>
<p>Efek negatif dari penggunaan boraks dalam pemanfaatannya yang salah pada kehidupan dapat berdampak sangat buruk pada kesehatan manusia. Boraks memiliki efek racun yang sangat berbahaya pada sistem metabolisme manusia sebagai halnya zat-zat tambahan makanan lain yang merusak kesehatan manusia.</p>
<p>Mengkonsumsi boraks dalam makanan tidak secara langsung berakibat buruk, namun sifatnya terakumulasi (tertimbun) sedikit-demi sedikit dalam organ hati, otak dan testis. Boraks tidak hanya diserap melalui pencernaan namun juga dapat diserap melalui kulit. Boraks yang terserap dalam tubuh dalam jumlah kecil akan dikelurkan melalui air kemih dan tinja, serta sangat sedikit melalui keringat. Boraks bukan hanya menganggu enzim-enzim metabolisme tetapi juga menganggu alat reproduksi pria (Artika, 2009).</p>
<p>Sering mengkonsumsi makanan berboraks akan menyebabkan gangguan otak, hati, lemak dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan bahkan kematian (Widyaningsih dan Murtini, 2006).</p>
<p>Keracunan kronis dapat disebabkan oleh absorpsi dalam waktu lama. Akibat yang timbul diantaranya anoreksia, berat badan turun, muntah, diare, ruam kulit, alposia, anemia dan konvulsi. Penggunaan boraks apabila dikonsumsi secara terus-menerus dapat mengganggu gerak pencernaan usus, kelainan pada susunan saraf, depresi dan kekacauan mental. Dalam jumlah serta dosis tertentu, boraks bisa mengakibatkan degradasi mental, serta rusaknya saluran pencernaan, ginjal, hati dankulit karena boraks cepat diabsorbsi oleh saluran pernapasan dan pencernaan, kulit yang luka atau membran mukosa (Saparinto dan Hidayati, 2006).</p>
<p>Gejala awal keracunan boraks bisa berlangsung beberapa jam hingga seminggu setelah mengonsumsi atau kontak dalam dosis toksis. Gejala klinis keracunan boraks biasanya ditandai dengan hal-hal berikut:</p>
<ol>
<li>Sakit perut sebelah atas, muntah dan mencret</li>
<li>Sakit kepala, gelisah</li>
<li>Penyakit kulit berat</li>
<li>Muka pucat dan kadang-kadang kulit kebiruan</li>
<li>Sesak nafas dan kegagalan sirkulasi darah</li>
<li>Hilangnya cairan dalam tubuh</li>
<li>Degenerasi lemak hati dan ginjal</li>
<li>Otot-otot muka dan anggota badan bergetar diikuti dengan kejang-kejang</li>
<li>Kadang-kadang tidak kencing dan sakit kuning</li>
<li>Tidak memiliki nafsu makan, diare ringan dan sakit kepala</li>
<li>Kematian (Saparinto dan Hidayati, 2006)</li>
</ol>
<p align="center"><strong>BAB III</strong></p>
<p align="center"><strong>MATERI DAN METODE</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">MATERI</p>
<ol>
<li>
<ol>
<li>ALAT
<ol>
<li>Mortar  dan stemper</li>
<li>Glass Beker 50 ml / 100 ml</li>
<li>Labu Erlenmeyer 50 ml</li>
<li>Cawan cruss</li>
<li>Open</li>
<li>Furnace</li>
<li>Kompor</li>
<li>Pipet</li>
<li>Cawan penguap</li>
<li>Kertas Curcumin</li>
<li>Cuvet</li>
<li>Spatula</li>
<li>Korek api</li>
<li>Tissue</li>
<li>Alat tulis untuk mencatat</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>BAHAN
<ol>
<li>Kerupuk Rambak</li>
<li>Asam sulfat pekat</li>
<li>Methanol absolute</li>
<li>Asam Klorida 5 N</li>
<li>Asam Oksalat Jenuh</li>
<li>Larutan Kurkumin 1% dalam methanol</li>
<li>NH4OH</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>METODE</p>
<ol>
<li>Disiapkan seluruh alat dan bahan yang akan digunakan,</li>
<li>Diambil 10 bagian sampel dan dicampur dengan 1 bagian kapur (CaO), dilembabkan dengan air, dan dikeringkan dalam oven kemudian diabukan hingga sempurna,</li>
<li>Sebagian abu ditambah sedikit asam sulfat pekat dan methanol kemusian dibakar,</li>
<li>Jika nyala api hijau maka menunjukkan adanya borak,</li>
<li>Sebagian abu yang lain ditambah asam khlorida 5 N sampai larutan bereaksi asam, disaring ke dalam cawan penguap, ditambah 4 tetes larutan asam oksalat jenuh dan 1 ml larutan kurkumin 1% dalam methanol, kemudian diuapkan diatas tangas air,</li>
<li>Warna merah cemerlang bila diberi uap Ammonia berubah menjadi hijau tua kehitaman, menunjukan adanya Borak.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB IV</strong></p>
<p align="center"><strong>HASIL DAN PEMBAHASAN</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">HASIL</p>
<p>Sampel  Kerupuk Rambak dinyatakan Negatif atau tidak mengandung Borak karena pada saat pembakaran nyala api tetap berwarna merah, dan pada saat diberi uap ammonia warna tidak berubah menjadi hijuan tua kehitaman.</p>
<p>PEMBAHASAN</p>
<p>Dari hasil yang ada, dapat dijelaskan bahwa kerupuk adalah salah satu makanan ringan yang dapat digunakan sebagai lauk pada saat makan ataupun sebagai camilan. Banyak orang yang gemar mengkonsumsi kerupuk pada saat makan. Apalagi jika menu makanan yang dikonsumsi menunjang untuk menggunakan kerupuk sebagai penyempurna makan, seperti bakso, soto, nasi goreng, gado-gado dan lain-lain.</p>
<p>Di daerah sekitar kita, ada berbagai macam kerupuk yang biasa dipasarkan kepada konsumen, diantaranya yaitu kerupuk rambak, kerupuk udang, kerupuk jengkol, kerupuk ikan, kerupuk terasi, dan lain sebagainya. Untuk menjadikan biaya produksi (modal) dikeluarkan sekecil-kecilnya dan hasil (laba) diperoleh sebesar-besarnya, para produsen menggunakan berbagai cara agar produksinya tetap berjalan normal bahkan meningkat seperti halnya menggunakan bahan tambahan pangan ataupun bahan pengawet misalnya Borak yang jika digunakan sembarangan (dosisnya) jelas berbahaya bagi tubuh manusia. Namun produsen tidak memikirkan dampak yang terjadi pada tubuh konsumen jika dikonsumsi secara terus menerus. Oleh karena itu kita sebagai konsumen harus dapat memilih makanan yang kita beli agar apabila dikonsumsi tidak menjadi racun pada tubuh kita dengan berbagai macam dampak yang mungkin terjadi bahkan hingga terjadi kematian.</p>
<p>Pada praktikum identifikasi borak dalam makanan, kelompok kami menggunakan sampel berupa kerupuk rambak. Kerupuk rambak sering dijumpai diwarung-warung sekitar kita. Selain rasanya enak untuk makan, harganya juga relative murah. Sehingga memicu pembeli untuk lebih memilihnya. Kerupuk rambak yang dipasarkan diwarung-warung sekitar kita biasanya telah dibungkus menggunakan plastik sesuai harga yang ada, mulai dari Rp. 1.000 per bungkus, Rp. 2000 per bungkus namun ada juga yang diecerkan perbiji.</p>
<p>Kita sebagai konsumen hanya dapat menikmati kerupuk tersebut tanpa mengetahui bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatannya. Setelah kita melaksanakan praktikum identifikasi ini, kita dapat mengetahui ada tidaknya kandungan bahan tambahan makanan Borak pada kerupuk rambak.</p>
<p>Boraks adalah senyawa kimia yang mempunyai sifat dapat mengembangkan, memberi efek kenyal, serta membunuh mikroba. Boraks sering digunakan oleh produsen untuk dijadikan zat tambahan makanan (ZTM) pada bakso, tahu, mie, bihun, kerupuk, maupun lontong. Keberadaan boraks pada makanan<strong> </strong>tidak ditoleransi (tidak boleh ada dalam kadar berapapun, red.) karena sangat berbahaya bagi kesehatan, oleh sebab itu penggunaan boraks dilarang (tidak ada standar kadar boraks dalam makanan) oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).</p>
<p>Boraks sejak lama telah digunakan masyarakat untuk pembuatan gendar nasi, kerupuk gendar, atau kerupuk puli yang secara tradisional di Jawa disebut “Karak” atau “Lempeng”. Disamping itu boraks digunakan untuk industri makanan seperti dalam pembuatan mie basah, lontong, ketupat, bakso bahkan dalam pembuatan kecap. Jika kerupuk tidak pakai boraks biasanya kerupuk akan menjadi bantat dan tidak mekar sehingga bentuknya jelek serta tidak menarik. Sedangkan untuk industri mie akan membuat tekstur mie menjadi lebih baik, lebih elastis, lebih kenyal serta tidak mudah putus.</p>
<p>Bagi masyarakat awam mungkin agak sulit untuk membedakan mana kerupuk yang memakai boraks dan tidak. Biasanya jika teksturnya bagus dan renyah biasanya kerupuk itu mengandung boraks. Meskipun demikian, sebetulnya kandungan boraks tersebut bisa dirasakan oleh lidah kita yaitu adanya suatu rasa yang agak getir atau pahit yang tertinggal di mulut setelah mengkonsumsi beberapa kali kerupuk atau makanan tersebut.</p>
<p>Mengkonsumsi boraks dalam makanan tidak secara langsung berakibat buruk, namun sifatnya terakumulasi (tertimbun) sedikit-demi sedikit dalam organ hati, otak dan testis. Boraks tidak hanya diserap melalui pencernaan namun juga dapat diserap melalui kulit. Boraks yang terserap dalam tubuh dalam jumlah kecil akan dikeluarkan melalui air kemih dan tinja, serta sangat sedikit melalui keringat. Boraks bukan hanya menganggu enzim-enzim metabolisme tetapi juga menganggu alat reproduksi pria.</p>
<p>Setelah praktikum dilaksanakan, sebagian abu dari proses pembakaran kerupuk yang telah dihancurkan kemudian dicampur kapur dan diberi sedikit asam sulfat pekat + methanol, pembakaran abu tersebut menghasilkan warna api merah yang menunjukkan bahwa kerupuk rambak tersebut Negatif atau tidak mengandung borak.</p>
<p>Selain itu, sebagian abu yang disisihkan, kemudian ditambah asam klorida 5 N, disaring ke dalam cawan penguap, ditambah 4 tetes asam oksalat jenuh, dan 1 ml larutan kurkumin 1% dalam methanol, kemudian diberi uap ammonia menghasilkan warna yang tetap seperti semula (tidak terjadi perubahan warna). Hal tersebut menunjukkan bahwa kerupuk rambak yang kami gunakan sebagai sampel tidak mengandung borak pada produksi hari tersebut. Karena apabila mengandung borak, warna merah cemerlang bila diberi uap ammonia akan menjadi hijau tua kehitaman.</p>
<p>Dari hal tersebut dapat diketahui ciri-ciri kerupuk yang mengandung boraks yaitu: teksturnya renyah dan bagus dan bisa menimbulkan rasa getir, jika digoreng akan mengembang dan empuk.</p>
<p>Berikut beberapa tips aman memilih makanan:</p>
<ol>
<li>Amati warnanya, mencolok atau tidak.</li>
</ol>
<p>Amati apakah makanan tersebut berwarna mencolok atau jauh berbeda dari warna aslinya. Snack, kerupuk, mi, es krim yang berwarna terlalu mencolok ada kemungkinan telah ditambahi zat pewarna yang tidak aman.</p>
<ol>
<li>Cicipi rasa.</li>
</ol>
<p>Biasanya lidah cukup jeli untuk membedakan mana makanan yang aman atau tidak. Makanan yang tidak aman umumnya berasa tajam, misal sangat gurih, membuat lidah bergetar dan tenggorakan gatal.</p>
<ol>
<li>Baui aromanya.</li>
</ol>
<p>Bau apek atau tengik pertanda makanan tersebut sudah rusak atau terkontaminasi oleh mikroorganisme.</p>
<ol>
<li>Amati komposisi.</li>
</ol>
<p>Bacalah dengan teliti adakah kandungan bahan-bahan makanan tambahan yang bahaya dan bisa merusak kesehatan.</p>
<ol>
<li>Perhatikan kualitas.</li>
</ol>
<p>Perhatikan kualitas makanan, apakah masih segar atau sudah berjamur yang bisa menyebabkan keracunan. Makanan yang sudah berjamur menandakan proses tidak berjalan dengan baik atau sudah kedaluwarsa.</p>
<ol>
<li>Terdaftar di BPOM.</li>
</ol>
<p>Bila hendak membeli makanan impor, usahakan produknya telah terdaftar di BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), yang bisa dicermati dalam label yang tertera di kemasannya.</p>
<p align="center"><strong>BAB V</strong></p>
<p align="center"><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Dari pembahasan yang ada, dapat disimpulkan:</p>
<ol>
<li>Praktikum dilaksanakan dengan menggunakan Kerupuk Rambak sebagai sampel.</li>
<li>Boraks atau dalam nama ilmiahnya dikenal sebagai sodium tetraborate decahydrate merupakan bahan pengawet yang dikenal masyarakat awam untuk mengawetkan kayu, antiseptik kayu dan pengontrol kecoa. Tampilan fisik boraks adalah berbentuk serbuk kristal putih. Boraks tidak memiliki bau jika dihirup menggunakan indera pencium serta tidak larut dalam alkohol. Borak juga merupakan senyawa kimia berbahaya untuk pangan dengan nama kimia natrium tetrabonat (NaB4O7 10H2O). Dapat dijumpai dalam bentuk padat dan jika larut dalam air akan menjadi natrium hidroksida dan asam borat (H3BO3). Boraks atau asam borat biasa digunakan sebagai bahan pembuat deterjen, bersifat antiseptik dan mengurangi kesadahan air. Oleh karena itu penggunaannya dilarang untuk bahan tambahan pangan.</li>
<li>Pembakaran sebagian abu menghasilkan warna api merah yang menunjukkan bahwa kerupuk rambak tersebut Negatif atau tidak mengandung borak. Dan sebagian abu yang lain setelah diberi uap ammonia menghasilkan warna yang tetap seperti semula (merah cemerlang) atau tidak terjadi perubahan warna. Hal tersebut menunjukkan bahwa kerupuk rambak yang kami gunakan sebagai sampel tidak mengandung borak pada produksi hari tersebut.</li>
<li>Ciri-ciri kerupuk yang mengandung boraks yaitu: teksturnya renyah dan bagus dan bisa menimbulkan rasa getir, jika digoreng akan mengembang dan empuk.</li>
</ol>
<p align="center"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<ul>
<li>Cahyadi, Wisnu. 2008. <em>Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan</em>. Jakarta: Bumi Aksara</li>
<li>Djamhuri, Agus. 2009. Racun dalam Makanan. Surabaya: Airlangga University Press</li>
<li><a href="http://www.remajagaptek.com/2011/10/bahaya-borax.html">http://www.remajagaptek.com/2011/10/bahaya-borax.html</a>. Diakses tanggal 31 Desember 2011</li>
<li><a href="http://matoa.org/bahaya-boraks-dan-bleng/">http://matoa.org/bahaya-boraks-dan-bleng/</a>. Diakses tanggal 31 Desember 2011</li>
<li><a href="http://www.google.co.id/url?sa=t&amp;rct=j&amp;q=boraks%20pada%20kerupuk%20filetype%3Apdf&amp;source=web&amp;cd=9&amp;ved=0CFsQFjAI&amp;url=http%3A%2F%2Fblogs.unpad.ac.id%2Fboenga%2Ffiles%2F2011%2F08%2FKenali-Makanan-Mengandung-Zat-Berbahaya.pdf&amp;ei=I_n7Tun_DoyqrAeC2LXXDw&amp;usg=AFQjCNF9a3zogycby8M-xhe-9iTMbSEvyQ&amp;sig2=pD82JkEjIn8FYz5JtjrQeA&amp;cad=rja">http://www.google.co.id/url?sa=t&amp;rct=j&amp;q=boraks%20pada%20kerupuk%20filetype%3Apdf&amp;source=web&amp;cd=9&amp;ved=0CFsQFjAI&amp;url=http%3A%2F%2Fblogs.unpad.ac.id%2Fboenga%2Ffiles%2F2011%2F08%2FKenali-Makanan-Mengandung-Zat-Berbahaya.pdf&amp;ei=I_n7Tun_DoyqrAeC2LXXDw&amp;usg=AFQjCNF9a3zogycby8M-xhe-9iTMbSEvyQ&amp;sig2=pD82JkEjIn8FYz5JtjrQeA&amp;cad=rja</a>. Diakses tanggal 31 Desember 2011</li>
<li><a href="http://antiborax.wordpress.com/2011/04/19/borax-boraks-dalam-industri-kerupuk-puli-dan-mie-serta-pengganti-nya/">http://antiborax.wordpress.com/2011/04/19/borax-boraks-dalam-industri-kerupuk-puli-dan-mie-serta-pengganti-nya/</a>. Diakses tanggal 31 Desember 2011</li>
<li><a href="http://www.scribd.com/doc/39035410/Boraks-Dan-Formalin">http://www.scribd.com/doc/39035410/Boraks-Dan-Formalin</a>. Diakses tanggal 31 Desember 2011</li>
<li><a href="http://hakimsimanjuntak.blogspot.com/2010/11/pengaruh-boraks-dan-formalin-pada.html">http://hakimsimanjuntak.blogspot.com/2010/11/pengaruh-boraks-dan-formalin-pada.html</a>. Diakses tanggal 31 Desember 2011</li>
<li><a href="http://www.google.co.id/url?sa=t&amp;rct=j&amp;q=identifikasi%20boraks%20dan%20formalin%20pada%20krupuk&amp;source=web&amp;cd=7&amp;sqi=2&amp;ved=0CEgQFjAG&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.pom.go.id%2Fsurv%2Fevents%2Ffoodwatch%25201st%2520edition.pdf&amp;ei=bPf7Tu67M8rYrQfepPnzDw&amp;usg=AFQjCNEtOi512kchwnGUmowicU3TfJzXgw&amp;sig2=plMHqKJCrRYVUGgVW1mCzA&amp;cad=rja">http://www.google.co.id/url?sa=t&amp;rct=j&amp;q=identifikasi%20boraks%20dan%20formalin%20pada%20krupuk&amp;source=web&amp;cd=7&amp;sqi=2&amp;ved=0CEgQFjAG&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.pom.go.id%2Fsurv%2Fevents%2Ffoodwatch%25201st%2520edition.pdf&amp;ei=bPf7Tu67M8rYrQfepPnzDw&amp;usg=AFQjCNEtOi512kchwnGUmowicU3TfJzXgw&amp;sig2=plMHqKJCrRYVUGgVW1mCzA&amp;cad=rja</a>. Diakses tanggal 31 Desember 2011</li>
<li><a href="http://yunisiklil.blogspot.com/2010/10/boraks-dan-formalin.html">http://yunisiklil.blogspot.com/2010/10/boraks-dan-formalin.html</a>. Diakses tanggal 31 Desember 2011</li>
</ul>
<p align="center"><strong><br />
</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evynurhidayah.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evynurhidayah.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evynurhidayah.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evynurhidayah.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/evynurhidayah.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/evynurhidayah.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/evynurhidayah.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/evynurhidayah.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evynurhidayah.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evynurhidayah.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evynurhidayah.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evynurhidayah.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evynurhidayah.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evynurhidayah.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evynurhidayah.wordpress.com&amp;blog=31155626&amp;post=69&amp;subd=evynurhidayah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/17/identifikasi-borak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f094908bcc9fc495933b50f9ae28a91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">evynurhidayah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Laporan Identifikasi Formalin</title>
		<link>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/17/laporan-identifikasi-formalin/</link>
		<comments>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/17/laporan-identifikasi-formalin/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 04:36:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evynurhidayah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tugas Kuliah Semester 3]]></category>
		<category><![CDATA[formalin pada tahu bulat_ekotoksikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evynurhidayah.wordpress.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN PRAKTIKUM EKOTOKSIKOLOGI IDENTIFIKASI FORMALIN PADA MAKANAN “TAHU BULAT” DISUSUN OLEH: EVI NURHIDAYAH B1003014 PROGRAM STUDI DIII KESEHATAN LINGKUNGAN POLITEKNIK BANJARNEGARA 2011 BAB I PENDAHULUAN Latar belakang Sejak pertengahan abad ke-20 ini, peranan bahan tanbahan pangan (BTP) khususnya bahan pengawet menjadi semakin penting sejalan dengan kemajuan teknologi produksi bahan tambahan pangan sintesis. Banyaknya bahan tambahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evynurhidayah.wordpress.com&amp;blog=31155626&amp;post=66&amp;subd=evynurhidayah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>LAPORAN PRAKTIKUM</strong></p>
<p align="center"><strong>EKOTOKSIKOLOGI</strong></p>
<p align="center"><strong>IDENTIFIKASI FORMALIN PADA MAKANAN</strong></p>
<p align="center"><strong>“TAHU BULAT”</p>
<p></strong></p>
<p align="center">
<p style="text-align:center;">DISUSUN OLEH:</p>
<p style="text-align:center;">EVI NURHIDAYAH</p>
<p style="text-align:center;">B1003014</p>
<p style="text-align:center;">
<p align="center"><strong>PROGRAM STUDI DIII KESEHATAN LINGKUNGAN</strong></p>
<p align="center"><strong>POLITEKNIK BANJARNEGARA</strong></p>
<p align="center"><strong>2011</strong></p>
<p><strong><br /> </strong></p>
<p align="center"><strong>BAB I</strong></p>
<p align="center"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">Latar belakang</p>
<p>Sejak pertengahan abad ke-20 ini, peranan bahan tanbahan pangan (BTP) khususnya bahan pengawet menjadi semakin penting sejalan dengan kemajuan teknologi produksi bahan tambahan pangan sintesis. Banyaknya bahan tambahan pangan dalam bentuk lebih murni dan tersedia secara komersil dengan harga yang relative murah akan mendorong meningkatnya pemakaian bahan tambahan pangan yang berarti meningkatnya kansumsi bahan tersebut bagi setiap individu.</p>
<p>Kita hidup dalam masyarakat menjadi sadar akan gizi dan sadar untuk menjadi konsumen yang baik. Dewasa ini, masyarakat bukan hanya tertarik pada aspek apakah bahan pangan memberikan cita rasa enak, apakah anak-anak mau menikmati makanan yang disajikan, tetapi lebih dari itu masyarakat telah tertarik pada hal-hal apakah bahan pangan itu baik untuk dikonsumsi dan komponen apa saja yang terdapat didalamnya.</p>
<p>Penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) dalam proses produksi pangan perlu diwaspadai bersama, baik oleh produsen maupun oleh konsumen. Dampak penggunaannya dapat berupa positif maupun negative bagi masyarakat. Penyimpanan dan penggunaannya akan membahayakan kita bersama, khususnya generasi muda sebagai penerus pembangunan bangsa.</p>
<p>Dibidang pangan kita mambutuhkan sesuatu yang lebih baik untuk masa yang akan datang, yaitu pangan yang aman untuk dikonsumsi, lebih bermutu, bergizi, dan lebih mampu bersaing dalam pasar global. Kebijakan keamanan pangan (food safety) dan pembangunan gizi nasional (food nutrient) merupakan bagian integral dari kebijakan pangan nasional, termasuk bahan tambahan pangan.</p>
<p>Saat ini, bahan tambahan pangan sulit kita hindari karena kerap terdapat dalam makanan dan minuman yang kita konsumsi, khususnya makanan olahan. Apalagi penggunaan bahan tambahan makanan yang melebihi batas maksimum penggunaan dan bahan tambahan kimia yang dilarang (berbahaya) yang kerap menjadi isu hangat dimasyarakat. Sama halnya seperti Borak, bahan tambahan pangan Formalin merupakan salah satu bahan yang dilarang digunakan dalam makanan namun keberadaannya disekitar kita sudah tidak dapat dihindari karena begitu bayaknya produsen yang sengaja menggunakan formalin dalam mengolah produksi pangannya guna tujuan tertentu.</p>
<p>Masyarakat dan industry perlu memperhatikan bahan tambahan pangan dalam hubungannya dengan kemungkinan pemalsuan terhadap komponen yang berkualitas rendah dan kemungkinan bahaya yang ditimbulkan oleh komponen beracun dalam bahan pangan. Problema aditif pangan hendaknya dilihat hanya sebagai satu aspek saja dari problema yang lebih umum terhadap bahan kimia toksis dan keamanan pangan.</p>
<p>Nama formalin yang sering kita dengar dan kini menghebohkan masyarakat adalah suatu larutan yang tidak berwarna, berbau tajam, yang biasanya digunakan sebagai pengawet. Penggunaan formalin yang salah merupakan hal yang sangat disesalkan. Melalui sejumlah survey dan pemeriksaan laboratorium, ditemukan sejumlah produk pangan yang memanfaatkan formalin sebagai pengawet. Praktek yang salah semacam itu dilakukan oleh produsen atau pengelola pangan yang tidak bertanggung jawab. Beberapa contoh produk pangan yang sering mengandung formalin diantaranya yaitu: ikan segar, ikan asin, ayam potong, mie basah dan tahu yang beredar dipasaran sekitar kita.</p>
<p>Formalin memiliki berbagai nama lain yang banyak tidak diketahui oleh masyarakat sehingga mempersulit masyarakat untuk mengetahui makanan tersebut mengandung formalin atau tidak. Oleh karena itu, dilaksanakan praktikum identifikasi formalin pada makanan khususnya (tahu bulat) yang banyak beredar disekitar kita agar kita mengetahui ada tidaknya formalin dalam makanan tersebut serta mengetahui cirri-ciri berbagai makanan lain yang mengandung formalin sehingga dapat mengurangi masalah yang ada beserta dampak yang ditimbulkannya.</p>
<p>Tujuan</p>
<p>Tujuan dari pelaksanaan praktikum adalah:</p>
<ol>
<li>Untuk mengetahui alat, bahan, dan cara kerja yang benar dalam mengidentifikasi Formalin pada makanan,</li>
<li>Untuk mengetahui interpretasi hasil dari praktikum yang telah dilaksanakan,</li>
<li>Untuk mengetahui cirri-ciri dari makanan yang mengandung Formalin.</li>
</ol>
<ol>
<li>Waktu dan tempat</li>
</ol>
<p>Praktikum dilaksanakan di Dinas Kesehatan Kabupaten pada hari Kamis 29 Desember 2011 pukul 09.00 sampai selesai.</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB II</strong></p>
<p align="center"><strong>TINJAUAN PUSTAKA</strong></p>
<p><a title="Senyawa<br />
kimia&#8221; href=&#8221;http://id.wikipedia.org/wiki/Senyawa_kimia&#8221;>Senyawa kimia</a> formaldehida (juga disebut metanal, atau formalin), merupakan <a title="Aldehida" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Aldehida">aldehida</a> dengan <a title="Rumus kimia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rumus_kimia">rumus kimia</a> H<sub>2</sub>CO, yang berbentuknya <a title="Gas" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gas">gas</a>, atau <a title="Cair" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cair">cair</a> yang dikenal sebagai <a title="Formalin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Formalin">formalin</a>, atau <a title="Padatan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Padatan">padatan</a> yang dikenal sebagai <em>paraformaldehyde</em> atau <em>trioxane</em>. Formaldehida awalnya disintesis oleh kimiawan <a title="Rusia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rusia">Rusia</a> <a title="Aleksandr Butlerov (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Aleksandr_Butlerov&amp;action=edit&amp;redlink=1">Aleksandr Butlerov</a> tahun <a title="1859" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1859">1859</a>, tapi diidentifikasi oleh Hoffman tahun <a title="1867" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1867">1867</a>. (Wikipedia, 2011)</p>
<p>Pada umumnya, formaldehida terbentuk akibat reasi <a title="Oksidasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Oksidasi">oksidasi</a> katalitik pada <a title="Metanol" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Metanol">metanol</a>. Oleh sebab itu, formaldehida bisa dihasilkan dari pembakaran bahan yang mengandung <a title="Karbon" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Karbon">karbon</a> dan terkandung dalam asap pada <a title="Kebakaran<br />
hutan&#8221; href=&#8221;http://id.wikipedia.org/wiki/Kebakaran_hutan&#8221;>kebakaran hutan</a>, knalpot <a title="Mobil" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mobil">mobil</a>, dan asap <a title="Tembakau" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tembakau">tembakau</a>. Dalam <a title="Atmosfer" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Atmosfer">atmosfer</a> bumi, formaldehida dihasilkan dari aksi cahaya <a title="Matahari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Matahari">matahari</a> dan <a title="Oksigen" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Oksigen">oksigen</a> terhadap <a title="Metana" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Metana">metana</a> dan <a title="Hidrokarbon" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hidrokarbon">hidrokarbon</a> lain yang ada di atmosfer. Formaldehida dalam kadar kecil sekali juga dihasilkan sebagai <a title="Metabolisme" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Metabolisme">metabolit</a> kebanyakan <a title="Organisme" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Organisme">organisme</a>, termasuk <a title="Manusia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia">manusia</a>. (Wikipedia, 2011).</p>
<p>Meskipun dalam udara bebas formaldehida berada dalam wujud gas, tetapi bisa larut dalam air (biasanya dijual dalam kadar <a title="Larutan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Larutan">larutan</a> 37% menggunakan merk dagang &#8216;formalin&#8217; atau &#8216;formol&#8217; ). Dalam air, formaldehida mengalami polimerisasi dan sedikit sekali yang ada dalam bentuk monomer H<sub>2</sub>CO. Umumnya, larutan ini mengandung beberapa persen <a title="Metanol" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Metanol">metanol</a> untuk membatasi polimerisasinya. (Wikipedia, 2011).</p>
<p>Formalin adalah larutan formaldehida dalam air, dengan kadar antara 10%-40%. Meskipun formaldehida menampilkan sifat kimiawi seperti pada umumnya aldehida, senyawa ini lebih reaktif daripada aldehida lainnya. Formaldehida merupakan <a title="Elektrofil (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Elektrofil&amp;action=edit&amp;redlink=1">elektrofil</a>, bisa dipakai dalam reaksi <a title="Substitusi aromatik elektrofilik" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Substitusi_aromatik_elektrofilik">substitusi aromatik elektrofilik</a> dan <a title="Sanyawa aromatik (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sanyawa_aromatik&amp;action=edit&amp;redlink=1">sanyawa aromatik</a> serta bisa mengalami reaksi <a title="Adisi elektrofilik (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Adisi_elektrofilik&amp;action=edit&amp;redlink=1">adisi elektrofilik</a> dan <a title="Alkena" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Alkena">alkena</a>. Dalam keberadaan <a title="Katalis" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Katalis">katalis</a> <a title="Basa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Basa">basa</a>, formaldehida bisa mengalami <a title="Reaksi<br />
Cannizzaro&#8221; href=&#8221;http://id.wikipedia.org/wiki/Reaksi_Cannizzaro&#8221;>reaksi Cannizzaro</a>, menghasilkan <a title="Asam format" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_format">asam format</a> dan metanol. Formaldehida bisa membentuk trimer siklik, <a title="1,3,5-trioksana (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=1,3,5-trioksana&amp;action=edit&amp;redlink=1">1,3,5-trioksana</a> atau polimer linier <a title="Polioksimetilena (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Polioksimetilena&amp;action=edit&amp;redlink=1">polioksimetilena</a>. Formasi zat ini menjadikan sifat-sifat gas formaldehida berbeda dari <a title="Hukum gas ideal (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hukum_gas_ideal&amp;action=edit&amp;redlink=1">sifat gas ideal</a>, terutama pada tekanan tinggi atau udara dingin. Formaldehida bisa di<a title="Oksidasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Oksidasi">oksidasi</a> oleh oksigen atmosfer menjadi <a title="Asam<br />
format&#8221; href=&#8221;http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_format&#8221;>asam format</a>, karena itu larutan formaldehida harus ditutup serta diisolasi supaya tidak kemasukan udara. (Wikipedia, 2011).</p>
<p>Secara industri, formaldehida dibuat dari <a title="Oksidasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Oksidasi">oksidasi</a> <a title="Katalis" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Katalis">katalitik</a> metanol. Katalis yang paling sering dipakai adalah logam <a title="Perak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perak">perak</a> atau campuran <a title="Oksida besi (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Oksida_besi&amp;action=edit&amp;redlink=1">oksida besi</a> dan <a title="Molibdenum" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Molibdenum">molibdenum</a> serta <a title="Vanadium" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Vanadium">vanadium</a>. Dalam sistem oksida besi yang lebih sering dipakai (proses Formox), reaksi metanol dan <a title="Oksigen" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Oksigen">oksigen</a> terjadi pada 250 °C dan menghasilkan formaldehida, berdasarkan <a title="Persamaan<br />
kimia&#8221; href=&#8221;http://id.wikipedia.org/wiki/Persamaan_kimia&#8221;>persamaan kimia</a>:</p>
<p>2 <a title="Metanol" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Metanol">CH<sub>3</sub>OH</a> + <a title="Oksigen" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Oksigen">O<sub>2</sub></a> → 2 H<sub>2</sub>CO + 2 <a title="Air" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Air">H<sub>2</sub>O</a>.</p>
<p>Katalis yang menggunakan perak biasanya dijalankan dalam temperatur yang lebih tinggi, kira-kira 650 °C. dalam keadaan ini, akan ada dua <a title="Reaksi<br />
kimia&#8221; href=&#8221;http://id.wikipedia.org/wiki/Reaksi_kimia&#8221;>reaksi kimia</a> sekaligus yang menghasilkan formaldehida: satu seperti yang di atas, sedangkan satu lagi adalah reaksi dehidrogenasi</p>
<p><a title="Metanol" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Metanol">CH<sub>3</sub>OH</a> → H<sub>2</sub>CO + <a title="Hidrogen" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hidrogen">H<sub>2</sub></a>.</p>
<p>Bila formaldehida ini dioksidasi kembali, akan menghasilkan <a title="Asam format" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_format">asam format</a> yang sering ada dalam larutan formaldehida dalam kadar <a title="Ppm" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ppm">ppm</a>. (Wikipedia, 2011).</p>
<p>Di dalam skala yang lebih kecil, formalin bisa juga dihasilkan dari konversi <a title="Etanol" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Etanol">etanol</a>, yang secara komersial tidak menguntungkan. Formaldehida dapat digunakan untuk membasmi sebagian besar <a title="Bakteri" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bakteri">bakteri</a>, sehingga sering digunakan sebagai <a title="Disinfektan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Disinfektan">disinfektan</a> dan juga sebagai bahan pengawet. Sebagai disinfektan, Formaldehida dikenal juga dengan nama formalin dan dimanfaatkan sebagai pembersih; lantai, kapal, gudang dan pakaian. Formaldehida juga dipakai sebagai pengawet dalam <a title="Vaksinasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Vaksinasi">vaksinasi</a>. Dalam bidang medis, larutan formaldehida dipakai untuk mengeringkan kulit, misalnya mengangkat <a title="Kutil" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kutil">kutil</a>. Larutan dari formaldehida sering dipakai dalam membalsem untuk mematikan bakteri serta untuk sementara mengawetkan bangkai. (Wikipedia, 2011).</p>
<p>Dalam industri, formaldehida kebanyakan dipakai dalam produksi <a title="Polimer" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Polimer">polimer</a> dan rupa-rupa <a title="Bahan kimia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahan_kimia">bahan kimia</a>. Jika digabungkan dengan <a title="Fenol" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fenol">fenol</a>, <a title="Urea" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Urea">urea</a>, atau <a title="Melamina" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Melamina">melamina</a>, formaldehida menghasilkan <a title="Resin (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Resin&amp;action=edit&amp;redlink=1">resin</a> <a title="Termoset (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Termoset&amp;action=edit&amp;redlink=1">termoset</a> yang keras. Resin ini dipakai untuk lem permanen, misalnya yang dipakai untuk <a title="Kayulapis (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kayulapis&amp;action=edit&amp;redlink=1">kayulapis</a>/tripleks atau <a title="Karpet (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Karpet&amp;action=edit&amp;redlink=1">karpet</a>. Juga dalam bentuk busa-nya sebagai <a title="Insulasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Insulasi">insulasi</a>. Lebih dari 50% produksi formaldehida dihabiskan untuk produksi resin formaldehida. (Wikipedia, 2011).</p>
<p>Untuk mensintesis bahan-bahan kimia, formaldehida dipakai untuk produksi <a title="Alkohol" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Alkohol">alkohol</a> polifungsional seperti <a title="Pentaeritritol" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pentaeritritol">pentaeritritol</a>, yang dipakai untuk membuat <a title="Cat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cat">cat</a> <a title="Bahan peledak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahan_peledak">bahan peledak</a>. Turunan formaldehida yang lain adalah <a title="4,4'-MDI (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=4,4%27-MDI&amp;action=edit&amp;redlink=1">metilena difenil diisosianat</a>, komponen penting dalam cat dan busa <a title="Poliuretana" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Poliuretana">poliuretana</a>, serta <a title="Heksametilena tetramina (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Heksametilena_tetramina&amp;action=edit&amp;redlink=1">heksametilena tetramina</a>, yang dipakai dalam resin fenol-formaldehida untuk membuat <a title="RDX (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=RDX&amp;action=edit&amp;redlink=1">RDX</a> (bahan peledak). Sebagai formalin, larutan senyawa kimia ini sering digunakan sebagai <a title="Insektisida" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Insektisida">insektisida</a> serta bahan baku pabrik-pabrik resin plastik dan bahan peledak. (Wikipedia, 2011)</p>
<p>Berikut daftar kegunaan formalin:</p>
<ul>
<li>Pengawet <a title="Mayat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mayat">mayat</a></li>
<li>Pembasmi lalat dan serangga pengganggu lainnya.</li>
<li>Bahan pembuatan <a title="Sutra" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sutra">sutra</a> <a title="Sintetis" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sintetis">sintetis</a>, <a title="Zat pewarna" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Zat_pewarna">zat pewarna</a>, <a title="Cermin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cermin">cermin</a>, <a title="Kaca" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kaca">kaca</a></li>
<li>Pengeras lapisan <a title="Gelatin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gelatin">gelatin</a> dan <a title="Kertas" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kertas">kertas</a> dalam dunia <a title="Fotografi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fotografi">Fotografi</a>.</li>
<li>Bahan pembuatan <a title="Pupuk" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pupuk">pupuk</a> dalam bentuk <a title="Urea" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Urea">urea</a>.</li>
<li>Bahan untuk pembuatan produk <a title="Parfum" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Parfum">parfum</a>.</li>
<li>Bahan pengawet produk <a title="Kosmetika (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kosmetika&amp;action=edit&amp;redlink=1">kosmetika</a> dan pengeras <a title="Kuku" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kuku">kuku</a>.</li>
<li>Pencegah <a title="Korosi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Korosi">korosi</a> untuk sumur minyak</li>
<li>Dalam konsentrasi yang sangat kecil (kurang dari 1%), Formalin digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang <a title="Konsumen" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Konsumen">konsumen</a> seperti pembersih barang rumah tangga, cairan pencuci <a title="Piring" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Piring">piring</a>, pelembut <a title="Kulit" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kulit">kulit</a>, perawatan <a title="Sepatu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sepatu">sepatu</a>, <a title="Shampoo" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Shampoo">shampoo</a> <a title="Mobil" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mobil">mobil</a>, <a title="Lilin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lilin">lilin</a>, pasta gigi, dan pembersih <a title="Karpet (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Karpet&amp;action=edit&amp;redlink=1">karpet</a>.</li>
</ul>
<p>Karena <a title="Resin (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Resin&amp;action=edit&amp;redlink=1">resin</a> formaldehida dipakai dalam bahan konstruksi seperti kayu lapis/tripleks, karpet, dan busa semprot dan isolasi, serta karena resin ini melepaskan formaldehida pelan-pelan, formaldehida merupakan salah satu polutan dalam ruangan yang sering ditemukan. Apabila kadar di udara lebih dari 0,1 mg/kg, formaldehida yang terhisap bisa menyebabkan iritasi <a title="Kepala" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kepala">kepala</a> dan <a title="Membran mukosa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Membran_mukosa">membran mukosa</a>, yang menyebabkan keluarnya air mata, pusing, teggorokan serasa terbakar, serta kegerahan. Jika terpapar formaldehida dalam jumlah banyak, misalnya terminum, bisa menyebabkan kematian. Dalam tubuh manusia, formaldehida dikonversi menjadi <a title="Asam<br />
format&#8221; href=&#8221;http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_format&#8221;>asam format</a> yang meningkatkan keasaman darah, tarikan napas menjadi pendek dan sering, <a title="Hipotermia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hipotermia">hipotermia</a>, juga <a title="Koma (medis)" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Koma_%28medis%29">koma</a>, atau sampai kepada kematiannya. Di dalam tubuh, formaldehida bisa menimbulkan terikatnya <a title="DNA" href="http://id.wikipedia.org/wiki/DNA">DNA</a> oleh <a title="Protein" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Protein">protein</a>, sehingga mengganggu ekspresi <a title="Genetika" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Genetika">genetik</a> yang normal. Binatang percobaan yang menghisap formaldehida terus-terusan terserang <a title="Kanker" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kanker">kanker</a> dalam <a title="Hidung" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hidung">hidung</a> dan <a title="Tenggorokan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tenggorokan">tenggorokannya</a>, sama juga dengan yang dialami oleh para pegawai pemotongan papan artikel. Tapi, ada studi yang menunjukkan apabila formaldehida dalam kadar yang lebih sedikit, seperti yang digunakan dalam bangunan, tidak menimbulkan pengaruh <a title="Karsinogen" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Karsinogen">karsinogenik</a> terhadap makhluk hidup yang terpapar zat tersebut. (Wikipedia, 2011).</p>
<p>Formalin merupakan bahan tambahan kimia yang efisien, tetapi dilarang ditambahkan pada bahan pangan (makanan), tetapi ada kemungkinan formalin digunakan dalam pengawet susu, tahu, mie, ikan asin, ikan basah, dan produk pangan lainnya.</p>
<p>Larutan Formaldehide atau larutan for,alin mempunyai nama dagang formalin, formol, atau mikrobisida dengan rumus molekul CH<sub>2</sub>O mengandung kira-kira 37% gas formaldehyde dalam air. Biasanya ditambahkan 10-15% methanol untuk menghindari polimerasi. Larutan ini sangat kuat dan dikenal dengan formalin 100% atau formalin 40%, yang mengandung 40 gram formaldehyde dalam 100 ml pelarut. (Windholz et.,al.,1983)</p>
<p>Menurut Reynolds (1982) formaldehyde adalah gas dengan titik didih dari 21 <sup>o</sup>C sehingga tidak dapat disimpan dalam keadaan cair ataupun gas. Dalam perdagangan dijumpai formalin, yaitu larutan formaldehyde yang mengandung 34-38% b/b CH<sub>2</sub>O dengan metyl alcohol sebagai stabilisator untuk memperlambat polimerisasi formaldehyde menjadi paraformaldehide yang padat.</p>
<p>Formalin merupakan cairan jernih yang tidak berwarna atau hampir tidak berwarna dengan bau yang menusuk, upaya merangsang selaput lendir hidung dan tenggorokan, dan rasa membakar. Bobot tiap ml adalah 1,08 gram. Dapat bercampur dalam air dan alcohol, tetapi tidak bercampur dalam chloroform dan eter. Sifatnya yang larut dalam air dikarenakan adanya electron sunyi pada oksigen sehingga dapat mengadakan ikatan hydrogen molekul air (Fessenden, 1986).</p>
<p>Larutan formaldehyde adalah desinfektan yang efektif melawan bakteri vegetative, jamur, atau virus, tetapi kurang efektif melawan bakteri. Formaldehyde bereaksi dengan protein, dan hal tersebut mengurangi aktifitas mikroorganisme. Efek sporodisnya yang meningkat tajam dengan adanya kenaikan suhu. Larutan formaldehyde 0,5% dalam waktu 6-12 jam dapat membunuh bakteri dan dalam waktu 2-4 hari dapat membunuh spora. Sedangkan larutan 80% dapat membunuh spora dalam waktu 18 jam (Angka, 1992).</p>
<p>Sifat antimicrobial dari formaldehyde merupakan hasil dari kemampuannya menginaktifasi protein dengan cara mengkondensasi dengan ammino bebas dalam protein menjadi campuran lain. Kemampuan dari formaldehyde meningkat seiring dengan peningkatan suhu. (Lung, 1994). Mekanisme formalin sebagai pengawet adalah jika formaldehyde bereaksi dengan protein sehingga membentuk rangkaian-rangkaian antara protein yang berdekatan. Akibat dari reaksi tersebut, protein mengeras dan tidak dapat larut. (Standen, 1966, dalam Herdiantini, 2003). Formaldehyde mungkin berkombinasi dengan asam amino bebas dari protein pada sel protoplasma, merusak nukleus, dan mengkoagulasi protein (Fazier N Westhoff, 1988).</p>
<p>Formaldehyde dapat merusak bekteri karena bakteri adalah protein. Pada reaksi formeldehide dengan protein, yang pertama kali diserang adalah gugus amina pada posisi dari lisin diantara gugus-gugus polar dari peptidanya. (Angka, 1992).</p>
<p>Sifat penitrasi formaldehyde cukup baik, tetapi gerakan penetrasinya lambat sehingga walaupun formeldehide dapat digunakan untuk mengawetkan sel-sel, tetapi tidak dapat melindunginya secara sempurna, kecuali bila diberikan dalam waktu lama sehingga jaringan menjadi keras. (Huber, 1982 dalam Sarastika, 1990 dalam Herdiantini, 2003).</p>
<p>Formaldehyde atau formalin eximethylene terdapat dalam bentuk gas HCHO dalam bentuk larutan yang digunakan sebagai antiseptic, untuk menghilangkan bau dan digunakan sebagai bahan fumigasi (uap / kabut) baunya yang tajam merangsang dapat menyebabkan mati lemas (Adiwisastra, 1992). Formalin digunakan sebagai desinfektan untuk rumah, perahu, gudang, kain, sebagai germisida dan fungisida tanaman dan buah-buahan, digunakan pada pabrik sutra sintetik, fenilikresin, selulora ester, bahan peledak, mengeraskan film pada fotografi, mencegah perubahan dan mengkoagulasikan lateks, dan sebagainya. (Windholz, et.,al.,1983). Formaldehyde banyak digunakan pada industry tekstil untuk mencegah bahan menjadi kusut dan meningkatkan ketahanan bahan tenunan (Klaassen.,et.,el.,1991). Dalam bidang farmasi formalin digunakan sebagai pendetoksifikasi toksin dalam vaksin, dan juga untuk obat penyakit kutil karena kemampuannya merusak protein. (Angka, 1992).</p>
<p>Formaldehyde digunakan sebagai obat pembasmi hama untuk membunuh virus, bakteri, jamur, dan benalu yang efektif pada konsentrasi tinggi. Ganggang, amoeba, atau binatang bersel satu, dan organism uniseluler lain, relative sensitive terhadap formaldehyde dengan konsentrasi yang mematikan berkisar antara 0,3 sampai 22 mg/ liter. Hewan vertebrata air menunjukkan respons dengan cakupan yang luas. Beberapa binatang berkulit keras adalah yang paling sensitif dengan nilai konsentrasi efektif menengah berkisar antara 0,4-20 mg/liter. Pengujian selama 96 jam pada beberapa jenis ikan, konsentrasi formeldehide yang mematikan untuk spesies dewasa minimum berkisar 10 mg/liter sampai maksimum beberapa ratus mg/liter. Kebanyakan spesies menunjukan konsentrasi mematikan dengan nilai sekitar 59-100 mg/liter. Respons berbagai spesies binatang amfibi sama dengan ikan diatas dengan konsentrasi akut mematikan berkisar antara 10-2- mg/liter dalam waktu 72 jam. (WHO, 1989)</p>
<p>Formaldehyde dapat masuk kedalam tubuh dengan jalan inhalasi uap, kontak langsung dengan larutan formaldehyde atau dengan jalan memakan atau meminum makanan yang mengandung formaldehyde. (Anonimous, 2004 Australia).</p>
<p>Formaldehyde memiliki daya anti mikroba yang cukup luas, yaitu terhadap staphylococcus aureus, schericia coli, klebsiella, pneumonia, pseudomonas aerogenosa, pseudomonas florescens, candidia albicans, aspergillus niger, atau penicillium notatum. Mekanisme formaldehyde sebagai pengawet diduga bergabung dengan asam amino bebas dari protoplasma sel atau mengkoagulasi protein.</p>
<p>Komposisi dan bentuk formaldehyde mengandung 35-40% formaldehyde dan methanol, berupa gas tak berwarna pada suhu dan tekanan biasa. Sedangkan efek farmakologi atau kesehatan formaldehyde adalah sebagai berikut. Berdasarkan uji karsinogenik dan tumor formaldehyde terhadap sejumlah tikus yang dipapari formaldehyde pada konsentrasi 6-15 bpj menunjukkan 1,5-43,2% mengalami kanker, sedangkan uji terhadap mencit yang dipapari formaldehyde pada konsentrasi 15 bpj, 2,4% mencit mengalami tumor.</p>
<p>Menurut Puspitasari, M.Si., Apt. dari Laboratorium Farmakologi dan Toksokologi, jurusan Farmasi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, dalam “ Seminar Pengaruh bahan Kimia terhadap Obat Tradisional “ di Solo, mengatakan sejumlah besar produsen mie basah dan bakso di kabupaten Bantul, banyak menggunakan formalin dan boraks yang telah menjadi semacam keharusan dan menggunakan dosis yang melebihi batas (Herdiana, 2003).</p>
<p>Hasil penelitian <em>Institute for Science and Technology Studies </em>(ISTECS) mengungkapakan, 90% tahu yang beredar di wilayah Jakarta Selatan dan Bogor ternyata menggunakan Formalin. Penggunaan formalin tersebut dilakukan para pedagang tahu tradisional sebagai bahan pengawet (herdiantini, 2003).</p>
<p>Menurut hasil penelitian Softi (2002), ditemukan 60 sampel mie basah (boiled noodle) dari 32 pasar tradisional di bandung positif mengandung formalin. Kandungan formalin sampel mie basah tersebut, berkisar antara 10,39-117,51 bpm. Menurut hasil penelitian Kurniawati (2004), 19 sampel ikan basah perairan laut dan perairan umum dari 40 sampel ikan basah yang diambil dari 4 pasar tradisional diBandung positif mengandung formalin. Kandungan formalin dalam sampel ikan basah tersebut berkisar antara 0,0010 ppm-0,9262 ppm.</p>
<p>Hasil penelitian yang dilakukan Rindha, dkk.,(2006), menunjukkan bahwa dari beberapa jenis ikan asin yang beredar di beberapa pasar tradisional dan pasar induk yang berada di wilayah kota Bandung positif mengandung formalin. Sampel tersebut diambil secara acak dari satu jenis ikan asin ada 8 sampel dari berbagai jenis pasar yang berbeda. Kadara formalin yang terdepat pada cumi-cumi berkisar 3,87-1907,44 ppm dan ikan asin jambal 0,37-4,8 ppm (mg/kg), sedangkan pada ikan sepat dari 8 sampel hanya 1 sampel yang mengandung formalin yaitu sebesar 0.33 ppm.</p>
<p>Menurut kompas (2004), ikan asin yang dijual disejumlah pasar tradisional dikabupaten Sukabumi, Jawa Barat, ternyata mengandung formalin. Para produsen ikan asin sengaja menggunakan bahan pengawet yang membahayakan kesehatan itu agar ikan yang mereka produksi lebih tahan lama dan tidak dimakan belatung. Padahal, selama ini ikan asin banyak dikonsumsi masyarakat karena harganya yang relative murah. Dinas Perindag melakukan uji laboratoris terhadap ikan asin mata besar, ikan asin pepetek, ikan asin etem, dan ikan asin jambal. Berdasarkan hasil uji laboratories, terbukti bahwa jenis ikan asin tersebut menggunakan bahan pengawet formalin.</p>
<p>Menurut Effendi (2004), formalin adalah larutan formaldehyde (30-40%) dalam air dan merupakan anggota paling sederhana dan kelompok aldehide dengan rumus kimia HCHO. Formalin merupakan antiseptic untuk membunuh bakteri dan kapang, dalam konsentrasi rendah 2-8 % terutama digunakan untuk mencuci hamakan peralatan kedokteran, atau untuk mengawetkan mayat dan spesimen biologi lainnya. Menurut Muchtadi (1995), bila tahu direndam dalam larutan formalin 2% selama 3 menit dapat memperpanjang daya tahan simpanannya pada suhu ruang selama 4-5 hari. Sedangkan tahu control hanya bertahan 1-2 hari dengan cara direndam dalam air.</p>
<p>Formaldehyde terdepat juga pada makanan karena kegunaannya sebagai zat bakteriostatik dalam produksi dan formaldehyde ditambahkan kedalam makanan untuk mempertahankan karakteristiknya. Formaldehyde dan turunannya juga terdapat dari banyak produk consumer leinnya untuk melindungi produk dari kerusakan akibat kontaminasi mokroorganisme (WHO, 2002).</p>
<p>Formalin merupakan zat toksik dan sangat iritatif untuk kulit dan mata. Formalin bagi tubuh manusia diketahui sebagau xat beracun, karsinogen (penyebab kanker), mutagen (menyebabkan perubahan sel, jaringan tubuh), korosif dan iritatif. Uap dari formalin sendiri sangat bebahaya jika terhirup oleh pernafasan dan juga sangat berbahaya dan iritatif jika tertelan manusia. Untuk mata, seberapa encerpun formalin ini tetap iritatif. Jika tertelan maka seseorang tersebut harus segera diminumkan air banyak-banyak dan segera diminta untuk memuntahkan isi lambungnya.</p>
<p>Dampak buruk bagi kesehatan pada seseorang yang terkapar dengan formalin dapat terjadi akibat paparan akut atau paparan yang langsung kronik (bertahun-tahun), antara lain sakit kepala, radang hidung kronis (rhinitis), mual-mual, gangguan pernafasan baik berupa batuk kronis atau sesak nafas kronis. Formalin juga dapat merusak persyarafan tubuh manusia dan dikenal dengansebagai zat yang bersifat beracun untuk persyarafan tubuh kita (neurotoksik). Gangguan pada persyarafan berupa susah tidur, sensitive, mudah lupa, sulit berkonsentrasi. Pada wanita akan menyebabkan ganguan menstruasi dan infertilas.</p>
<p>Formalin juga dapat diserap oleh kulit dan seperti telah disebutkan diatas juga dapat terhirup oleh pernafasan kita. Oleh karena itu dengan kontak langsung denga xat tersebut tanpa menelannya juga dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Penggunaan formalin jangka panjang pada manusia dapat menyebabkan kanker mulut dan tenggorokan. Bahkan pada penelitian binatang menyebabkan kanker kulit dan kanker paru.</p>
<p align="center"><strong><br />
</strong></p>
<p align="center"><strong>BAB III</strong></p>
<p align="center"><strong>MATERI DAN METODE</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">MATERI</p>
<ol>
<li>Metode Schiff</li>
</ol>
<p>ALAT</p>
<ol>
<li>Mortar dan stemper</li>
<li>Gelas beaker 50 ml / 100 ml</li>
<li>Labu Erlenmeyer 50 ml</li>
<li>Spatulla</li>
<li>Alat tulis untuk mencatat</li>
</ol>
<p>BAHAN</p>
<ol>
<li>Reagen Schiff</li>
<li>H2SO4 10%</li>
</ol>
<ol>
<li>Metode Carik Celup</li>
</ol>
<p>ALAT</p>
<ol>
<li>Mortar dan stemper</li>
<li>Gelas beaker 50 ml / 100 ml</li>
<li>Labu Erlenmeyer 50 ml</li>
<li>Cuvet</li>
<li>Spatulla</li>
<li>Alat tulis untuk mencatat</li>
</ol>
<p>BAHAN</p>
<ol>
<li>Larutan asam</li>
<li>Stik Formaldehida</li>
</ol>
<ol>
<li>CARA KERJA</li>
</ol>
<p>a)      Metode Schiff</p>
<ol>
<li>Disiapkan seluruh alat dan bahan yang akan digunakan,</li>
<li>Dihancurkan + 25 gram sampel padatan atau semi padatan ditambahkan 50 ml aquades/air hangat, dibiarkan hingga larutan jernih,</li>
<li>Untuk sampel berupa cairan tidak perlu ditambah air,</li>
<li>Dipipet 25 ml filtrate yang jernih lalu dimasukkan kedalam labu Erlenmeyer,</li>
<li>Ditambahkan 2 ml H2SO4 10%,</li>
<li>Ditambahkan 1 ml Raegen Schiff,</li>
<li>Digoyang atau campur sampai homogeny dan diamati adanya perubahan warna.</li>
</ol>
<p>b)      Metode Carik Celup</p>
<ol>
<li>Disiapkan seluruh alat dan bahan yang akan digunakan,</li>
<li>Dihancurkan + 25 gram sampel padatan atau semi padatan ditambahkan 50 ml aquades/air hangat, dibiarkan hingga larutan jernih,</li>
<li>Untuk sampel berupa cairan tidak perlu ditambah air,</li>
<li>Dipipet 10 ml filtrate yang jernih lalu dimasukkan kedalam labu Erlenmeyer,</li>
<li>Ditambah 10 tetes Formaldehida 1,</li>
<li>Stik formaldehida dicelupkan dalam larutan tersebut selama 3 detik</li>
<li>Angkat stik kemudian digoyangkan dan segera diamati adanya perubahan warna.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB IV</strong></p>
<p align="center"><strong>HASIL DAN PEMBAHASAN</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">HASIL</p>
<p>Sampel  Tahu Bulat dinyatakan Negatif atau tidak mengandung Formalin pada produksi hari tesebut karena melalui identifikasi formalin menggunakan metode Schiff tidak terbentuk larutan berwarna ungu terang sampai ungu tua, dan melalui metode carik celup, kertas stik warnanya tetap orange dan tidak berubah menjadi warna ungu.</p>
<p>PEMBAHASAN</p>
<p>Dari hasil yang ada, dapat dijelaskan bahwa tahu merupakan salah satu makanan yang sering kita konsumsi baik pada campuran sayur maupun pada lauk pauk. Tahu sama halnya seperti tempe yang mungkin sudah menjadi salah satu lauk pokok di daerah sekitar kita. Namun setiap daerah mempunyai tahu yang khas dan berbeda-beda baik bentuk dan rasanya. Tahu dapat diolah menjadi berbagai macam makanan, misalnya baik sebagai campuran pada sayur mayor maupun menjadi berbagai macam lauk misalnya menjadi tahu bacem, tahu goreng, tahu bakso, rolade tahu, bergedel tahu, dan lain sebagainya.</p>
<p>Tidak hanya dari menu-menu yang dapat disajikan dari tahu, bentukpun menjadi salah satu faktor penunjang para konsumen untuk membeli tahu tersebut. Diwarung-warung terdekat, kita telah mengetahui bentuk tahu mulai dari segiempat, segitiga, dan bahkan tahu bulat yang sekarang banyak digemari masyarakat. Selain rasanya yang enak, tahu tersebut juga memiliki nilai jual yang relative murah sehingga banyak konsumen yang sering membeli untuk diolah menjadi makanan sehari-hari.</p>
<p>Tahu yang diolah secara tradisional dan tidak menggunakan bahan tambahan pangan (bahan pengawet) hanya dapat bertahan beberapa waktu saja (kurang lebih 1-2 hari), setelah lebih dari itu tahu-tahu tersebut dapat busuk dan berlendir sehingga tidak bisa dikomsumsi lagi. Selain itu, juga bentuk fisiknya mudah rusak, misalnya pada proses distribusi. Para produsen tahu tentunya tidak menginginkan produknya menjadi seperti itu, mereka lebih memilih menggunakan bahan tambahan makanan seperti formalin agar produknya tahan lama atau awet (tidak mudah busuk) , tidak mudah rusak atau hancur, dan teksturnya lebih kenyal tanpa menaikkan harga jual. Sehingga keuntunganpun mudah didapat.</p>
<p>Menurut pengertiannya, formalin adalah suatu larutan yang tidak berwarna, berbau tajam yang mengandung kurang lebih 37% formaldehyde dalam air, biasanya ditambah 10-15% sebagai pengawet. Formalin biasanya diperdagangkan di pasaran dengan nama berbeda beda, sehingga kita sulit mengetahui keberadaannya pada makanan yang akan kita beli. Nama-nama lain dari formalin diantaranya adalah :</p>
<ol>
<li>Formol</li>
<li>Morbicid</li>
<li>Methanal</li>
<li>Formic aldehyde</li>
<li>Methyl oxide</li>
<li>Oxymethylene</li>
<li>Methylene aldehyde</li>
<li>Oxomethane</li>
<li>Formoform</li>
<li>Formalith</li>
<li>Karsan</li>
<li>Methylene glycol</li>
<li>Paraforin</li>
<li>Polyoxymethylene glycols</li>
<li>Superlysoform</li>
<li>Tetraoxymethylene</li>
<li>Trioxane</li>
</ol>
<p>Setelah praktikum dilaksanakan, tahu yang telah dihancurkan dan ditambah dengan aquades menghasilkan cairan. Setelah cairan tersebut jernih, kita mengambil 10 ml dan 25 ml yang diletakkan pada Erlenmeyer yang berbeda. Pada cairan yang 10 ml, ditelakkan kembali pada cuvet yang masing-masing 5 ml. kemudian ditambah 10 tetes formaldehyde. Setelah itu, stik formaldehyde dicelupkan kedalamnya selama 3 detik. Hasil yang ditunjukkan dari stik tersebut adalah berwarna Orange. Hal itu menjelaskan bahwa tahu bulat yang kami gunakan sebagai sampel negative atau tidak mengandung formalin.</p>
<p>Sedangkan larutan yang 25 ml, ditambah dengan 2 ml larutan H2SO4 10% dan 1 ml reagen Schiff dan digoyang-goyang atau dicampur sampai homogen. Setelah homogen, hasil yang didapat adalah tidak ada perubahan warna yang terjadi pada larutan tersebut oleh karena itu, dapat diketahui bahwa melalui metode baik Schiff maupun metode Carik Celup, tahu bulat yang kami amati Negatif (tidak mengandung formalin).</p>
<p>Dari praktikum tersebut, dapat diketahui ciri-ciri tahu yang mengandung formalin adalah teksturnya lebih kenyal, tidak mudah hancur, lebih awet dan tidak mudah busuk, beraroma menyengat karena ada formalin.</p>
<p>Tanda dan gejala jika seseorang keracunan formalin adalah:</p>
<ol>
<li>Menyebabkan rasa terbakar pada mulut, saluran pernafasan dan perut, sulit menelan, diare, sakit perut, hipertensi, kejang, koma.</li>
<li>Kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, system susunan syaraf pusat, dan gangguan ginjal.</li>
<li>Berdasarkan temuan patologis, folmaldehide merusak jaringan dan menyusutkan selaput lendir, juga merusak hati, ginjal, jantung, dan otak.</li>
</ol>
<p>Pertolongan pertama yang dapat dilakukan pada orang yang keracunan formalin adalah:</p>
<p>Bila tertelan</p>
<ul>
<li>Berikan arang aktif (norit) bila tersedia</li>
<li>Jangan lakukan rangsangan muntah pada korban karena akan menimbulkan resiko trauma korosif pada saluran cerna atas</li>
<li>Bila gejala masih berlanjut, bawa penderita kepuskesmas atau rumah sakit terdekat.</li>
</ul>
<p align="center"><strong>BAB V</strong></p>
<p align="center"><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>Dari pembahasan yang ada, dapat disimpulkan bahwa:</p>
<ol>
<li><a title="Senyawa<br />
kimia&#8221; href=&#8221;http://id.wikipedia.org/wiki/Senyawa_kimia&#8221;>Senyawa kimia</a> formaldehida (juga disebut metanal, atau formalin), merupakan <a title="Aldehida" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Aldehida">aldehida</a> dengan <a title="Rumus kimia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rumus_kimia">rumus kimia</a> H<sub>2</sub>CO, yang berbentuknya <a title="Gas" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gas">gas</a>, atau <a title="Cair" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cair">cair</a> yang dikenal sebagai <a title="Formalin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Formalin">formalin</a>, atau <a title="Padatan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Padatan">padatan</a> yang dikenal sebagai <em>paraformaldehyde</em> atau <em>trioxane</em>. Formaldehida awalnya disintesis oleh kimiawan <a title="Rusia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rusia">Rusia</a> <a title="Aleksandr Butlerov (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Aleksandr_Butlerov&amp;action=edit&amp;redlink=1">Aleksandr Butlerov</a> tahun <a title="1859" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1859">1859</a>, tapi diidentifikasi oleh Hoffman tahun <a title="1867" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1867">1867</a>.</li>
<li>Sampel  Tahu Bulat dinyatakan Negatif atau tidak mengandung Formalin pada produksi hari tesebut karena melalui identifikasi formalin menggunakan metode Schiff tidak terbentuk larutan berwarna ungu terang sampai ungu tua, dan melalui metode carik celup, kertas stik warnanya tetap orange dan tidak berubah menjadi warna ungu.</li>
<li>Ciri-ciri tahu yang mengandung formalin adalah teksturnya lebih kenyal, tidak mudah hancur, lebih awet dan tidak mudah busuk, beraroma menyengat karena ada formalin.</li>
<li>Tanda dan gejala jika seseorang keracunan formalin adalah:</li>
</ol>
<ul>
<li>Menyebabkan rasa terbakar pada mulut, saluran pernafasan dan perut, sulit menelan, diare, sakit perut, hipertensi, kejang, koma.</li>
<li>Kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, system susunan syaraf pusat, dan gangguan ginjal.</li>
<li>Berdasarkan temuan patologis, folmaldehide merusak jaringan dan menyusutkan selaput lendir, juga merusak hati, ginjal, jantung, dan otak.</li>
</ul>
<p><strong><br /> </strong></p>
<p align="center"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://www.scribd.com/doc/39035410/Boraks-Dan-Formalin">http://www.scribd.com/doc/39035410/Boraks-Dan-Formalin</a>. Diakses tanggal 31 Desember 2011</li>
<li><a href="http://hakimsimanjuntak.blogspot.com/2010/11/pengaruh-boraks-dan-formalin-pada.html">http://hakimsimanjuntak.blogspot.com/2010/11/pengaruh-boraks-dan-formalin-pada.html</a>. Diakses tanggal 31 Desember 2011</li>
<li><a href="http://www.google.co.id/url?sa=t&amp;rct=j&amp;q=identifikasi%20boraks%20dan%20formalin%20pada%20krupuk&amp;source=web&amp;cd=7&amp;sqi=2&amp;ved=0CEgQFjAG&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.pom.go.id%2Fsurv%2Fevents%2Ffoodwatch%25201st%2520edition.pdf&amp;ei=bPf7Tu67M8rYrQfepPnzDw&amp;usg=AFQjCNEtOi512kchwnGUmowicU3TfJzXgw&amp;sig2=plMHqKJCrRYVUGgVW1mCzA&amp;cad=rja">http://www.google.co.id/url?sa=t&amp;rct=j&amp;q=identifikasi%20boraks%20dan%20formalin%20pada%20krupuk&amp;source=web&amp;cd=7&amp;sqi=2&amp;ved=0CEgQFjAG&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.pom.go.id%2Fsurv%2Fevents%2Ffoodwatch%25201st%2520edition.pdf&amp;ei=bPf7Tu67M8rYrQfepPnzDw&amp;usg=AFQjCNEtOi512kchwnGUmowicU3TfJzXgw&amp;sig2=plMHqKJCrRYVUGgVW1mCzA&amp;cad=rja</a>. Diakses tanggal 31 Desember 2011</li>
<li><a href="http://yunisiklil.blogspot.com/2010/10/boraks-dan-formalin.html">http://yunisiklil.blogspot.com/2010/10/boraks-dan-formalin.html</a>. Diakses tanggal 31 Desember 2011</li>
<li><a href="http://molylovelyme.blogspot.com/2011/10/bahaya-boraks-dan-formalin-pada-makanan.html">http://molylovelyme.blogspot.com/2011/10/bahaya-boraks-dan-formalin-pada-makanan.html</a>. Diakses tanggal 31 Desember 2011</li>
<li><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Formaldehida">http://id.wikipedia.org/wiki/Formaldehida</a>. Diakses tanggal 31 Desember 2011</li>
<li><a href="http://catatankimia.com/catatan/pengaruh-formalin-terhadap-tubuh.html">http://catatankimia.com/catatan/pengaruh-formalin-terhadap-tubuh.html</a>. Diakses tanggal 31 Desember 2011</li>
<li><a href="http://www.pantonanews.com/807-bahaya-formalin-dalam-makanan">http://www.pantonanews.com/807-bahaya-formalin-dalam-makanan</a>. Diakses tanggal 31 Desember 2011</li>
<li><a href="http://andriezens.wordpress.com/2009/01/17/makalah-tentang-masalah-formalin/">http://andriezens.wordpress.com/2009/01/17/makalah-tentang-masalah-formalin/</a>. Diakses tanggal 31 Desember 2011</li>
<li>Djamhuri, Agus. 2009. Racun dalam Makanan. Surabaya: Airlangga University Press</li>
<li>Cahyadi, Wisnu. 2008. <em>Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan</em>. Jakarta: Bumi Aksara</li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>LAMPIRAN-LAMPIRAN</strong></p>
<div align="center">
<table width="352" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td colspan="2">
<p align="center"><strong>Formaldehida</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2"></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2">
<p align="center"><a title="Tata nama<br />
IUPAC&#8221; href=&#8221;http://id.wikipedia.org/wiki/Tata_nama_IUPAC&#8221;><strong>Nama IUPAC</strong></a><a href="toggleNavigationBar(1);">[sembunyikan]</a><a href="toggleNavigationBar(1);">[sembunyikan]</a></p>
<p align="center">Metanal</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2">
<p align="center">Nama lain<a href="toggleNavigationBar(2);">[sembunyikan]</a><a href="toggleNavigationBar(2);">[sembunyikan]</a></p>
<p align="center">formol, metil aldehida, oksida metilena</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2">
<p align="center"><strong>Identifikasi</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center"><a title="Nomor CAS" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nomor_CAS">Nomor CAS</a></p>
</td>
<td>
<p align="center">[50-00-0]</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center"><a title="RTECS (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=RTECS&amp;action=edit&amp;redlink=1">Nomor RTECS</a></p>
</td>
<td>
<p align="center">LP8925000</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center"><a title="SMILES (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=SMILES&amp;action=edit&amp;redlink=1">SMILES</a></p>
</td>
<td>
<p align="center">C=O</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2">
<p align="center"><strong>Sifat</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center"><a title="Rumus<br />
kimia&#8221; href=&#8221;http://id.wikipedia.org/wiki/Rumus_kimia&#8221;>Rumus molekul</a></td>
<td>
<p align="center">CH<sub>2</sub>O</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center"><a title="Massa<br />
molar&#8221; href=&#8221;http://id.wikipedia.org/wiki/Massa_molar&#8221;>Massa molar</a></td>
<td>
<p align="center">30,03 g·mol<sup>−1</sup></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center">Penampilan</p>
</td>
<td>
<p align="center">gas tak berwarna</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center"><a title="Densitas" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Densitas">Densitas</a></p>
</td>
<td>
<p align="center">1 kg·m<sup>−3</sup>, gas</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center"><a title="Titik<br />
leleh&#8221; href=&#8221;http://id.wikipedia.org/wiki/Titik_leleh&#8221;>Titik leleh</a></td>
<td>
<p align="center">-117 °C (156 <a title="Kelvin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kelvin">K</a>)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center"><a title="Titik<br />
didih&#8221; href=&#8221;http://id.wikipedia.org/wiki/Titik_didih&#8221;>Titik didih</a></td>
<td>
<p align="center">-19,3 °C (253,9 K)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center"><a title="Kelarutan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kelarutan">Kelarutan</a> dalam <a title="Air" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Air">air</a></p>
</td>
<td>
<p align="center">&gt; 100 g/100 ml (20 °C)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2">
<p align="center"><strong>Struktur</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center"><a title="Bentuk molekul (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bentuk_molekul&amp;action=edit&amp;redlink=1">Bentuk molekul</a></p>
</td>
<td>
<p align="center">trigonal planar</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center"><a title="Momen dipol (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Momen_dipol&amp;action=edit&amp;redlink=1">Momen dipol</a></p>
</td>
<td>
<p align="center">2,33168(1) <a title="Debye (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Debye&amp;action=edit&amp;redlink=1">D</a></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2">
<p align="center"><strong>Bahaya</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center">Bahaya utama</p>
</td>
<td>
<p align="center">beracun, mudah terbakar</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center"><a title="NFPA 704" href="http://id.wikipedia.org/wiki/NFPA_704">NFPA 704</a></p>
</td>
<td>
<p align="center">
<p align="center">2</p>
<p align="center">3</p>
<p align="center">2</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center"><a title="Daftar<br />
frasa R&#8221; href=&#8221;http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_frasa_R&#8221;>Frasa-R</a></td>
<td>
<p align="center">R23/24/25, R34, R40, R43</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center"><a title="Daftar<br />
frasa S&#8221; href=&#8221;http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_frasa_S&#8221;>Frasa-S</a></td>
<td>
<p align="center">(S1/2), S26, S36/37, S39, S45, S51</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center"><a title="Titik nyala (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titik_nyala&amp;action=edit&amp;redlink=1">Titik nyala</a></p>
</td>
<td>
<p align="center">-53 °C</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2">
<p align="center"><strong>Senyawa terkait</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center"><a title="Aldehida" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Aldehida">Aldehida</a> terkait</p>
</td>
<td>
<p align="center"><a title="Asetaldehida" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Asetaldehida">asetaldehida</a><br /> <a title="Benzaldehida" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Benzaldehida">benzaldehida</a></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p align="center">Senyawa terkait</p>
</td>
<td>
<p align="center"><a title="Keton" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keton">keton</a><br /> <a title="Asam<br />
karboksilat&#8221; href=&#8221;http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_karboksilat&#8221;>asam karboksilat</a></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2">
<p align="center">Kecuali dinyatakan sebaliknya, data di atas berlaku<br />
pada <a title="Temperatur dan tekanan standar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Temperatur_dan_tekanan_standar">temperatur dan tekanan standar</a> (25°C, 100 kPa)</p>
<p align="center"><a title="en:Wikipedia:Chemical infobox" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Chemical_infobox">Sangkalan dan referensi</a></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evynurhidayah.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evynurhidayah.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evynurhidayah.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evynurhidayah.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/evynurhidayah.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/evynurhidayah.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/evynurhidayah.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/evynurhidayah.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evynurhidayah.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evynurhidayah.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evynurhidayah.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evynurhidayah.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evynurhidayah.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evynurhidayah.wordpress.com/66/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evynurhidayah.wordpress.com&amp;blog=31155626&amp;post=66&amp;subd=evynurhidayah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/17/laporan-identifikasi-formalin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f094908bcc9fc495933b50f9ae28a91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">evynurhidayah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Makalah Bahan Kimia Beracun</title>
		<link>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/17/makalah-bahan-kimia-beracun/</link>
		<comments>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/17/makalah-bahan-kimia-beracun/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 04:28:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evynurhidayah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tugas Kuliah Semester 3]]></category>
		<category><![CDATA[bahan kimia beracun (amoniak)_ekotoksikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evynurhidayah.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[MAKALAH BAHAN KIMIA BERACUN AMONIAK (NH3) &#160; DISUSUN OLEH: NAMA            : EVI NURHIDAYAH NIM                : B1003014 KELAS           : KESLING A     PROGRAM STUDI DIII KESEHATAN LINGKUNGAN POLITEKNIK BANJARNEGARA 2011   BAB I PENDAHULUAN  LATAR BELAKANG Di era modern ini, proses modernisasi akan menaikkan konsumsi sejalan dengan berkembangnya proses industrialisasi. Dengan peningkatan industrialisasi tersebut maka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evynurhidayah.wordpress.com&amp;blog=31155626&amp;post=62&amp;subd=evynurhidayah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>MAKALAH BAHAN KIMIA BERACUN</strong></p>
<p align="center"><strong>AMONIAK (NH<sub>3</sub>)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;">DISUSUN OLEH:</p>
<p style="text-align:center;">NAMA            : EVI NURHIDAYAH</p>
<p style="text-align:center;">NIM                : B1003014</p>
<p style="text-align:center;">KELAS           : KESLING A</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>PROGRAM STUDI DIII KESEHATAN LINGKUNGAN</strong></p>
<p align="center"><strong>POLITEKNIK BANJARNEGARA</strong></p>
<p align="center"><strong>2011</strong></p>
<p><strong><br /> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>BAB I</strong></p>
<p align="center"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong> </strong>LATAR BELAKANG</p>
<p>Di era modern ini, proses modernisasi akan menaikkan konsumsi sejalan dengan berkembangnya proses industrialisasi. Dengan peningkatan industrialisasi tersebut maka penggunaan energipun akan meningkat yang tentunya akan meningkatkan resiko toksikologis. Proses industrialisasi akan memanfaatkan bahan baku kimia, fisika, dan biologi yang akan menghasilkan buangan dalam bentuk gas, cair, maupun padat yang meningkat. Buangan tersebut juga akan menimbulkan perubahan kualitas lingkungan yang mengakibatkan berbagai resiko pencemaran, sehingga resiko toksikologi juga akan meningkat.</p>
<p>Sesuai dengan arti dari toksikologi yaitu studi tentang aksi berbahaya dari zat kimia terhadap jaringan biologi yang menyangkut pemahaman tentang reaksi dan interaksi kimia maupun mekanisme biologi. Zat kimia dapat dijumpai dimana saja dalam lingkungan yang terbentuk secara alami dilingkungan. Semua benda yang ada disekitar kita seperti makanan, minuman, pakaian, obat, tumbuhan dan bahkan diri kita sendiripun tersusun dari zat kimia.</p>
<p>Oleh karena itu kita harus mempelajari bahan-bahan kimia yang ada agar dapat mencegah terjadinya efek-efek yang tidak dikehendaki terhadap organisme dan lingkungan yang salah satunya bisa menimbulkan efek keracunan yang bersifat akut, kronis bahkan kematian. Sehingga dari pemaparan tersebut, kita akan mempelajari tentang bahan kimia Amoniak (NH<sub>3</sub>) yang termasuk salah satu bahan kimia beracun mulai dari deksripsi hingga cara pencegahan bahan kimia tersebut agar dapat meminimalisir dampak atau bahaya dari bahan kimia tersebut.</p>
<p>TUJUAN</p>
<p>Adapun tujuan dari makalah ini yaitu:</p>
<ol>
<li>Untuk mengetahui deskripsi dari Amoniak (NH<sub>3</sub>)</li>
<li>Untuk mengetahui keberadaannya di alam dan sumber pencemarnya</li>
<li>Untuk mengetahui manfaat dan bahaya yang ditimbulkan</li>
<li>Untuk mengetahui efek Amoniak (NH<sub>3</sub>) terhadap kesehatan</li>
<li>Untuk mengetahui cara pencegahan, cara menurunkan kadar, dan nilai ambang batasnya.</li>
</ol>
<p>RUMUSAN MASALAH</p>
<p>Dari masalah yang ada dapat dirumuskan:</p>
<ol>
<li>Apakah deskripsi Amoniak (NH<sub>3</sub>)?</li>
<li>Bagaimana keberadaannya di alam dan apakah sumber pencemarnya?</li>
<li>Bagaimana manfaat dan bahaya yang ditimbulkan?</li>
<li>Bagaimana efek Amoniak (NH<sub>3</sub>) terhadap kesehatan?</li>
<li>Bagaimana cara pencegahan, cara menurunkan kadar, dan berapa  nilai ambang batasnya?</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB II</strong></p>
<p align="center"><strong>PEMBAHASAN</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong> </strong><strong>A.    </strong><strong>DESKRIPSI AMONIAK (NH<sub>3</sub>)</strong></p>
<p>Amoniak adalah <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Senyawa_kimia">senyawa kimia</a> dengan <a title="Rumus kimia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rumus_kimia">rumus</a> <a title="Nitrogen" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nitrogen">N</a><a title="Hidrogen" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hidrogen">H<sub>3</sub></a>. Biasanya senyawa ini didapati berupa <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gas">gas</a> dengan bau tajam yang khas (disebut <a title="Bau amonia (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bau_amonia&amp;action=edit&amp;redlink=1">bau amonia</a>). Amonia merupakan senyawa nitrogen yang terpenting dan paling banyak di produksi. Walaupun Amonia memiliki sumbangan penting bagi keberadaan nutrisi di bumi, ammonia sendiri adalah senyawa kausatik dan dapat merusak kesehatan. Ammonia adalah gas alkalin yang tidak berwarna dan mempunyai daya iritasi tinggi yang dihasilkan selama dekomposisi bahan organik oleh deaminasi. Amonia bersifat racun bagi ikan. Amonia dihasilkan dari sekresi/ kotoran ikan. Ammonia dalam air permukaan berasal dari air seni dan tinja, juga dari oksidasi zat organis (HaObCcNd) secara mikrobiologi, yang berasal dari air alam atau air buangan industri dan penduduk.</p>
<p>Antara tahun 1908 sampai 1913, Fritz Haber (1868-1934) dari Jerman berhasil mensintesis amonia langsung dari unsur-unsurnya, yaitu dari gas nitrogen (N<sub>2</sub>) dan gas hidrogen (H<sub>2</sub>). (J. Goenawan 153). Nitrogen adalah salah satu unsur golongan VA yang merupakan unsur nonlogam, dan gas yang paling banyak di atmosfir bumi (sekitar 78%). Nitrogen merupakan unsur yang relatif stabil, tetapi dapat membentuk isotop-isotop yang 4 diantarnya bersifat radioaktif. Di alam nitrogen terdapat dalam bentuk gas N<sub>2</sub> yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa dan tidak beracun. Pada suhu yang rendah nitrogen dapat membentuk cairan atau bahkan Kristal padat yang tak berwarna (bening). Selain itu nitrogen juga terdapat dalam bentuk senyawa nitrat, amonia, protein dan beberapa mineral penting seperti (KNO<sub>3</sub>) dan senyawa chili (N<sub>a</sub>NO<sub>3</sub>).Hidrogen merupakan unsur sangat ringan dan di alam berada dalam bentuk gas H<sub>2</sub>, air (H<sub>2­</sub>O),dan  senyawa-senyawa organik.</p>
<p>Secara fisik cairan amonia mirip dengan air dimana bergabung sangat kuat melalui ikatan hydrogen. Tetapan elektriknya (-22 pada -34oC ; kira-kira 81 untuk H2O pada 25oC) cukup tinggi untuk membuatnya sebagai pelarut pengion yang baik. (Cotton dan Wilkinson, 1989). NH3 dibentuk dengan pemberian basa pada suatu garam amoniak. Pada bentuk cairan amonia terdapat dalam dua bentuk yaitu amonia bebas atau tidak terionisasi (NH3) dan dalam bentuk ion amonium (NH4+). Sifat-sifat Amoniak antara lain:</p>
<ol>
<li>Amonia adalah gas yang tidak berwarna dan baunya sangat merangsang sehingga gas ini mudah dikenal melalui baunya.</li>
<li>Sangat mudah larut dalam air, yaitu pada keadaan standar, 1 liter air terlarut 1180 liter amonia.</li>
<li>Merupakan gas yang mudah mencair, amonia cair membeku pada suhu -78<sup>0</sup>C dan mendidih pada suhu -33<sup>0</sup> C, memiliki tekanan uap : 400 mmHg (-45,4 oC), Kelarutan dalam air : 31 g/100g (25 oC), memiliki berat jenis : 0.682 (-33,4 oC), berat jenis uap : 0.6 (udara=1),, suhu kritis : 133<sup>o</sup>C</li>
<li>Amoniak bersifat korosif pada tembaga dan timah.</li>
</ol>
<p>v  Beberapa data penting tentang unsur penyusun senyawa amonia:</p>
<p>Data penting tentang nitrogen:</p>
<ul>
<li>Ditemukan oleh Daniel Rutherford pada tahun 1772.</li>
<li> Mempunyai massa atom 14,0067 sma</li>
<li> Mempunyai nomor atom 7</li>
<li>Mempunyai jari-jari atom 0,92 Å</li>
<li>Mempunyai konfigurasi elektron 2 5</li>
<li>Dalam senyawa mempunyai bilangan oksidasi -3,+5, +4 dan +2</li>
<li>Mempunyai volum atom 17,30 cm<sup>3</sup>/mol</li>
<li>Mempunyai struktur Kristal heksagonal</li>
<li>Mempunyai titik didih 77,344 K</li>
<li>Mempunyai titik lebur 63,15 K</li>
<li>Mempunyai massa jenis 1,251 gram/cm<sup>3</sup></li>
<li>Mempunyai kapasitas panas 1,042 J/g K</li>
<li>Mempunyai potensial ionisasi 14,534 Volt</li>
<li>Mempunyai elektronegativitas 3,04</li>
<li>Mempunyai konduktivitas kalor 0,02598 W/m K</li>
<li>Mempunyai harga entalpi penguapan 2,7928 KJ/mol.(Sunardi 61-63).</li>
</ul>
<p>Data penting tentang hidrogen:</p>
<ul>
<li>Di temukan oleh Henry Cavendish pada tahun 1766</li>
<li>Mempunyai massa atom 1,00794 sma</li>
<li>Mempunyai nomor atom 1</li>
<li>Mempunyai jari-jari atom 2,08 Å</li>
<li>Mempunyai konfigurasi elektron 1</li>
<li>Dalam senyawa mempunyai bilangan oksidasi +1, tetapi pada senyawa hibrida bilangan oksidasi hidrogen -1</li>
<li>Mempunyai volum atom 14,10 cm<sup>3</sup>/mol</li>
<li>Mempunyai struktur Kristal heksagonal</li>
<li>Mempunyai titik didih 20,28 K</li>
<li>Mempunyai titik lebur 13,81 K</li>
<li>Mempunyai massa jenis 0,0899 gram/cm<sup>3</sup></li>
<li>Mempunyai kapasitas panas 14,304 J/g K</li>
<li>Mempunyai potensial ionisasi 13,598 volt</li>
<li>Mempunyai elektronegativitas 2,10</li>
<li>Mempunyai konduktivitas kalor 0,1815 W/m K</li>
<li>Mempunyai harga entalpi pembentukan 0,00585 KJ/mol</li>
<li>Mempunyai harga entalpi penguapan 0,4581 KJ/mol. (Sunardi, 15-16).</li>
</ul>
<p><strong>B.     </strong><strong>KEBERADAAN DI ALAM DAN SUMBER-SUMBER PENCEMARNYA</strong></p>
<p>Di alam Amoniak dalam air permukaan berasal dari air seni dan tinja, juga dari oksidasi zat organis (HaObCcNd) secara mikrobiologi, yang berasal dari air alam atau air buangan industri dan penduduk. Zat organik bakteri juga dapat dikatakan ammonia yang berada dimana-mana, dari kadar beberapa mg/L pada air permukaan dan air tanah, sampai kira-kira 30 mg/L atau lebih pada air buangan. Ammonia (NH3) juga merupakan racun gas yang dihasilkan dari pembusukkan kotoran organic dan kotoran metabolic yang dihasilkan oleh ikan atau dari sekresi/ kotoran ikan. Amoniak juga dapat dibuat dengan cara memanaskan tanduk dan kuku binatang ternak.</p>
<p><strong>C.    </strong>MANFAAT DAN BAHAYA AMONIAK (NH<sub>3</sub>)</p>
<ol>
<li><strong></strong>Manfaat Amoniak:
<ol>
<li>
<ol>
<li>Untuk pembuatan pupuk, terutama urea dan ZA (Zwavelzur amonium = amonium sulfat)</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>NH<sub>3(g)</sub> + CO<sub>2(g)</sub>                        CO(NH<sub>2</sub>)<sub>2(aq)</sub> + panas</p>
<p>NH<sub>3(g)</sub> + H<sub>2</sub>SO<sub>4</sub>                       (NH<sub>4</sub>)<sub>2</sub>SO<sub>4(aq)</sub></p>
<p><sub>                                </sub>Pembuatan pupuk dengan cara Haber-Bosch yaitu dengan cara ammonia dibuat dalam skala besar dari nitrogen yang diperoleh dari udara, ditambah hydrogen (sebagian besar diproduksi dari metana yang terjadi secara alami) yang menjadi campuran nitrogen dan hydgrogen bertekanan tinggi. Kemudian didaur ulang sehingga amoniak terbentuk dan dibiarkan hingga terjadi proses pengembunan sehingga terbentuk amoniak cair (NH<sub>3</sub>) yang siap dipindahkan untuk diolah menjadi pupuk. Namun sebelum amoniak diproduksi melalui proses Haber-Bosch, sumber utama senyawa nitrogen untuk industry adalah mineral yang harus ditambang dan diangkat sejauh ribuan kilometer.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Untuk membuat senyawa nitrogen yang lain, seperti asam nitrat, amonium klorida, amonium nitrat.</p>
<p>NH<sub>3(g)</sub> + 5 O<sub>2(g)</sub>                        4 NO<sub>(g)</sub> + 6 H<sub>2</sub>O<sub>(g)</sub></p>
<p>NH<sub>3(g)</sub> + HCl<sub>(aq)</sub>                       NH<sub>4</sub>Cl<sub>(aq)</sub></p>
<p>NH<sub>3(g)</sub> + HNO<sub>3(aq)</sub>                    NH<sub>4</sub>NO<sub>3(aq)</sub></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Untuk membuat hidrazin.</p>
<p>NH<sub>3(g)</sub> +     NaOCl<sub>(aq)</sub>              N<sub>2</sub>H<sub>4(l)</sub> + NaCl<sub>(s)</sub> + H<sub>2</sub>O<sub>(l)</sub></p>
<p>Hidrazin merupakan salah satu senyawa nitrogen yang digunakan sebagai bahan bakar roket.</p>
<ol>
<li>Dalam pabrik es, amonia cair digunakan sebagai pendingin (refrigerant) karena amonia cair mudah menguap dan akan menyerap panas sehingga menimbulkan efek pembekuan (J. Goenawan 153-154).</li>
<li>Sebagai bahan peledak</li>
<li>Bahan pembuatan baterai</li>
<li>Campuran dalam produk cat rambut dan obat pelurusan rambut.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bahaya Amoniak</p>
<p>Pada umumnya Amoniak tidak mudah terbakar, tetapi apabila campuran udara dan amoniak dalam ruangan 13-27% maka akan meledak dan terbakar. Amoniak dapat terbakar pada daerah mudah terbakar : 16-25 % (LFL-UFL). Suhu kamar : 651 <sup>o</sup>C. Amoniak juga dapat menjadi korosif apabila terkena tembaga dan timah. Selain itu amoniak 0,2% sampai dengan 0,3% dari volume ruangan menyebabkan kematian. Konsentrasi amonia yang tinggi pada permukaan air akan menyababkan kematian ikan, udang, dan binatang air lainnya  yang terdapat pada perairan tersebut  Kadar ammonia yang tinggi pada air sungai menunjukkan adanya pencemaran, akibatnya rasa air sungai kurang enak dan berbau. Pada air minum kadar amonia harus nol dan pada air sungai di bawah 0,5 mg/L.</p>
<p>Amoniak cair dapat menyebabkan kulit melepuh seperti luka bakar dan juga dapat menyebabkan iritasi pada kulit, mata dan saluran pernafasan. Bahkan bisa menyebabkan mual, muntah, dan pingsan. Penggunaan amoniak dalam waktu yang lama dapat menyebabkan penyakit kanker karena amoniak bersifat karsinogenik atau bahan yang dapat menimbulkan kanker. Amoniak juga merupakan senyawa kimia yang cukup terkenal bagi dunia kecantikan khususnya rambut yang digunakan sebagai bahan campuran dari pewarna untuk membuat cat rambut, obat pelurusan rambut yang dapat menyebabkan rambut menjadi kering, kasar, pecah-pecah, kusam dan rusak.</p>
<p><strong>D.    </strong><strong>EFEK TERHADAP KESEHATAN</strong></p>
<ul>
<li><strong>Efek Jangka Pendek (Akut)</strong></li>
</ul>
<p>Iritasi terhadap saluran pernapasan, hidung, tenggorokan dan mata terjadi pada 400-700 ppm. Sedang pada 5000 ppm menimbulkan kematian. Kontak dengan mata dapat menimbulkan iritasi hingga kebutaan total. Kontak dengan kulit dapat menyebabkan luka bakar (frostbite).</p>
<ul>
<li><strong>Efek Jangka Panjang (Kronis)</strong></li>
</ul>
<p>Menghirup uap asam pada jangka panjang mengakibatkan iritasi pada hidung, tenggorokan dan paru-paru.<strong>         </strong></p>
<p><strong> </strong><strong>E.     </strong><strong>CARA PENCEGAHAN, CARA MENURUNKAN KADAR, DAN NILAI AMBANG BATAS.</strong></p>
<ul>
<li>Cara pencegahan:</li>
</ul>
<ol>
<li>Penyimpanan: Hindari gas berada dalam ruang kerja, hindari dari loncatan api dan sumber panas. Simpan pada tempat dingin, kering dan berventilasi dan jauh dari populasi. Hindarkan dari asam, oksidator, halida, etoksi, logam alkali dan kalium klorat.</li>
<li>Faktor tumpahan dan bocoran: Bila terjadi tumpahan atau bocoran, harus ditangani oleh orang yang terlatih dengan memakai alat pelindung diri. Jauhkan dari sumber api. Kabut amoniak dapat disemprot oleh air.</li>
<li>Faktor alat pelindung:</li>
</ol>
<ul>
<li>Paru-paru       <strong>: </strong>Masker dengan Filter Amoniak atau respirator udara</li>
<li>Mata              : Safety goggles dan pelindung muka</li>
<li>Kulit              : Gloves (neoprene, karet, PVC karet butil)</li>
</ul>
<ol>
<li>Pemadam api: Hentikan kebocoran<strong> </strong>gas dengan aman, gunakan semprotan air sebagai pendingin. Media pemadaman CO<sub>2</sub>, <em>halon</em>, bubuk bahan kimia kering.</li>
<li>Pertolongan pertama:</li>
</ol>
<ul>
<li>Terhirup : Bawa ke tempat aman dan udara yang segar, beri pernapasan buatan jika perlu, segera bawa ke dokter.</li>
<li>Terkena mata : Cuci dengan air bersih dan mengalir selama 20 menit dan segera bawa ke dokter.</li>
<li>Terkena kulit: Cuci dengan air bersih dan mengalir selama 20 menit, lepaskan pakaian yang tekontaminasi.</li>
</ul>
<ul>
<li>Cara menurunkan kadar:</li>
</ul>
<p>Sebetulnya reduksi kandungan amoniak pada air limbah yang paling efektif (bisa sampai dibawah 5 ppm) adalah:</p>
<p>Dengan metode pengolahan limbah mikrobiologi dengan proses nitrifikasi yaitu</p>
<p>Amoniak diubah jadi nitrit/nitrat oleh bakteri nitrosomonas atau bakteri lain terus kemudian diubah lagi jadi nitrogen bebas yang ramah lingkungan.</p>
<p>Cara lainnya bisa dengan metode stripping, yaitu pemanasan amoniak dengan menggunakan steam atau heater supaya amoniaknya menguap ke udara<br />
bebas atau dengan cara membuas separti air mancur juga dapat mengurangi kadar ammonia, tapi tentunya hal ini hanya memindahkan fasa limbah dari cair menjadi gas.</p>
<p>Cara untuk menurunkan kadar amonia dalam air adalah dengan mengganti air sebagian atau seluruhnya atau dengan cara filterisasi. Untuk budidaya ikan hias dalam akuarium atau kolam kecil, filterisasi ini paling sering digunakan karena lebih praktis dan menghemat waktu.</p>
<p>Limbah amoniak dapat dinetralkan dengan asam sulfat (pupuk ZA).</p>
<ul>
<li>Nilai ambang batas:</li>
</ul>
<p>Nilai ambang batas NH3 dan N total yang telah ditetapkan oleh pemerintah melaui keputusan Menteri Lingkungan Hidup tahun 1995 berkisar 1 – 2,5 maksimal mg/L. Amonia totalnya 50 mg/L. Hasil penelitian membutikan bahwa nilai N total 296,8 ppm tidak akan membahayakan mikroorganisme dalam air dan lingkungan sekitarnya. Sedangkan pada perhitungan nitrogen ammonia yang nilainya 494,67 ppm merupakan amonia yang cukup tinggi dan akan dapat mempengaruhi mutu baku air.</p>
<p>Nilai Ambang Batas : 25 ppm (18 mg/m3) (ACGIH 1987-88) STEL 35 ppm (27 mg/m3). Kadar amonia optimum untuk budidaya ikan adalah dibawah 1,4 ppm.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB III</strong></p>
<p align="center"><strong>PENUTUP</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>A.    </strong><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>Dari pembahasan yang ada dapat disimpilkan bahwa:</p>
<ol>
<li>Amoniak adalah <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Senyawa_kimia">senyawa kimia</a> dengan <a title="Rumus kimia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rumus_kimia">rumus</a> <a title="Nitrogen" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nitrogen">N</a><a title="Hidrogen" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hidrogen">H<sub>3</sub></a>. Biasanya senyawa ini didapati berupa <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gas">gas</a> dengan bau tajam yang khas (disebut <a title="Bau amonia (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bau_amonia&amp;action=edit&amp;redlink=1">bau amonia</a>).</li>
<li>Sifat-sifat Amoniak antara lain: gas yang tidak berwarna dan baunya sangat merangsang sehingga gas ini mudah dikenal melalui baunya, Sangat mudah larut dalam air, gas yang mudah mencair, amonia cair membeku pada suhu -78<sup>0</sup>C dan mendidih pada suhu -33<sup>0</sup> C, memiliki tekanan uap : 400 mmHg (-45,4 <sup>0</sup>C), Kelarutan dalam air : 31 g/100g (25 <sup>0</sup>C), memiliki berat jenis : 0.682 (-33,4 <sup>0</sup>C), berat jenis uap : 0.6 (udara=1),, suhu kritis : 133<sup>0</sup>C, bersifat korosif pada tembaga dan timah.</li>
<li>Di alam Amoniak dalam air permukaan berasal dari air seni dan tinja, juga dari oksidasi zat organis yang berasal dari air alam atau air buangan industri dan penduduk.</li>
<li>Amoniak bermanfaat sebagai bahan pembuatan pupuk, dalam pabrik es, amonia cair digunakan sebagai pendingin, Sebagai bahan peledak, bahan pembuatan baterai, campuran dalam produk cat rambut dan obat pelurusan rambut.</li>
<li>Amoniak berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan, karena dapat menimbulkan Iritasi terhadap saluran pernapasan, hidung, tenggorokan mata dan paru-paru serta dapat menimbulkan pencemaran lingkungan.</li>
<li>Nilai Ambang Batas : 25 ppm (18 mg/m3) (ACGIH 1987-88) STEL 35 ppm (27 mg/m3).</li>
</ol>
<p><strong>B.     </strong><strong>SARAN</strong></p>
<p>Dari pembahasan yang ada, kita telah mengetahui baik dari deskripsi hingga cara pencagahan dari salah satu bahan kimia berbahaya yaitu Amoniak (NH<sub>3</sub>) yang diharapkan dengan kita mengetahui baik manfaat maupun akibat yang ditimbulkan dari bahan kimia berbahaya tersebut kita dapat meminimalisir dampak yang ditimbulkannya baik pada kesehatan maupun lingkungan karena semua bahan kimia yang ada selain memiliki manfaat juga memiliki bahaya yang berbeda-beda sehingga kita harus lebih menjaga kesehatan dan lingkungan kita dari bahan kimia yang ada disekitar kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<ul>
<li><a href="http://ligutfer27octo1991.blogspot.com/2011/04/makalah-senyawa-amonia-nh3-octo.html">http://ligutfer27octo1991.blogspot.com/2011/04/makalah-senyawa-amonia-nh3-octo.html</a>. Diakses tanggal 03 Oktober 2011</li>
<li><a href="http://www.pupukkaltim.com/img/images/page/MSDS%20Amoniak.pdf">www.pupukkaltim.com/img/images//page/MSDS%20Amoniak.pdf</a>. Diakses tanggal 03 Oktober 2011</li>
<li><a href="http://okleqs.wordpress.com/2009/03/16/amoniak-nh3/">http://okleqs.wordpress.com/2009/03/16/amoniak-nh3/</a>. Diakses tanggal 03 Oktober 2011</li>
<li><a href="http://www.infofisioterapi.com/definisi-amoniak-nh3.html">http://www.infofisioterapi.com/definisi-amoniak-nh3.html</a>. Diakses tanggal 04 Oktober 2011</li>
<li><a href="http://mochiexito.blogspot.com/2010/12/nitrogen-dan-amonia.html">http://mochiexito.blogspot.com/2010/12/nitrogen-dan-amonia.html</a>. Diakses tanggal 04 Oktober 2011</li>
<li>Widyastuti, palupi. 2006. <em>Bahaya Bahan Kimia pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan. </em>Jakarta: Buku Kedokteran EGC</li>
<li>Pujaatmaka, A. Hadyana. 1999. <em>Kimia Untuk Universitas</em>. Jakarta: Erlangga</li>
<li>Cooper, chris. 2009. <em>Materi Kimia Energi dan Reaksi</em>. Bandung: The Brown Reference Group plc</li>
<li><a href="http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20913/4/Chapter%20II.pdf">http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20913/4/Chapter%20II.pdf</a>. Diakses tanggal 05 Oktober 2011</li>
<li><a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=294524144417">http://www.facebook.com/note.php?note_id=294524144417</a>. Diakses tanggal 05 Oktober 2011</li>
<li><a href="http://www.scribd.com/doc/29270709/UTS-wildan">http://www.scribd.com/doc/29270709/UTS-wildan</a>. Diakses tanggal 05 Oktober 2011</li>
<li><a href="http://groups.yahoo.com/group/K3_LH/message/13350">http://groups.yahoo.com/group/K3_LH/message/13350</a>. Diakses tanggal 05 Oktober 2011</li>
</ul>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evynurhidayah.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evynurhidayah.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evynurhidayah.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evynurhidayah.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/evynurhidayah.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/evynurhidayah.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/evynurhidayah.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/evynurhidayah.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evynurhidayah.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evynurhidayah.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evynurhidayah.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evynurhidayah.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evynurhidayah.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evynurhidayah.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evynurhidayah.wordpress.com&amp;blog=31155626&amp;post=62&amp;subd=evynurhidayah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/17/makalah-bahan-kimia-beracun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f094908bcc9fc495933b50f9ae28a91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">evynurhidayah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penjernihan Air</title>
		<link>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/06/penjernihan-air/</link>
		<comments>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/06/penjernihan-air/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 04:54:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evynurhidayah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tugas Kuliah Semester 3]]></category>
		<category><![CDATA[penjernihan air_dasar dasar pemecahan masalah kesehatan lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evynurhidayah.wordpress.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR PEMECAHAN MASALAH KESEHATAN LINGKUNGAN “PENJERNIHAN AIR” BAB I PENDAHULUAN   LATAR BELAKANG Kebutuhan akan air bersih di daerah pedesaan dan pinggiran kota untuk air minum, memasak , mencuci dan sebagiannya harus diperhatikan. Cara penjernihan air perlu diketahui karena semakin banyak sumber air yang tercemar limbah rumah tangga maupun limbah industri. Air limbah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evynurhidayah.wordpress.com&amp;blog=31155626&amp;post=60&amp;subd=evynurhidayah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">LAPORAN PRAKTIKUM</p>
<p align="center">DASAR-DASAR PEMECAHAN MASALAH KESEHATAN LINGKUNGAN</p>
<p align="center">“PENJERNIHAN AIR”</p>
<p align="center">
<p align="center"><strong>BAB I</strong></p>
<p align="center"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<ol>
<li>LATAR BELAKANG</li>
</ol>
<p>Kebutuhan akan air bersih di daerah pedesaan dan pinggiran kota untuk air minum, memasak , mencuci dan sebagiannya harus diperhatikan. Cara penjernihan air perlu diketahui karena semakin banyak sumber air yang tercemar limbah rumah tangga maupun limbah industri.</p>
<p>Air limbah merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia sehari-hari, oleh sebab itu air limbah ini akan selalu diupayakan. Agar tidak mempengaruh ikondisi lingkungan dan kesehatan manusia. Karena jika air limbah yang dihasilkan dari aktifitas manusia tersebut tidak saja memepengaruhi aspek lingkungan dan kesehatan, bahkan akan mempengaruhi produktifitas kerja manusia yang tinggal di dalam lingkunganyang tidak sehat.</p>
<p>Pada zaman dahulu orang belum mengolah air limbah yang dihasilkan, karena kuantitas air limbah belum mempengaruhi kondisi lingkungan dan kualitasnya dapat diolahsendiri secara alamiah yang dikenal dengan self purifications. Tetapi sekarang, dimana pertumbuhan manusia cukup tinggi, sedangkan sumber daya air, baik kuantitas maupun kualitasnya semakin menurun , khsusunya air tanah mulaitercemar oleh air limbah rumah tangga yang tidak dikendalikan dengan baik. Berkembangnya teknologi pengolahan air limbah maka instalasi maupun komponeninstalasi yang digunakan saat ini banyak menggunakan teknologi yang modern pula. Namun demikian adanya keterbatasan khususnya dalam operasi dan pemeliharaan Instalasi Pengolahan Air Limbah, maka kondisi masyarakat indonesia masih memerlukan teknologi yang sesuai dengan kondisi sosial dan ekonomi Indonesia saat ini.</p>
<p>Pengolahan air limbah mulai dari perdesaan, kota kecamatan hingga kota besar, penggunaan Instalasi Pengolahan Air Limbah dalam bentuk instalasi individual seperti Tangki Septik atau Cubluk, masih sesuai dengan tingkat pelayanan penyehatan lingkungan bagi masyarakat yang terdapat di pedesaan. Dikota kecil maupun kota di kota besar. Untuk mengetahui apakah pengolahan air limbah dari sumbernya layak atau tidak, dapat dilihat dari berbagai kasus pada tiap pembangunan perumahan yang kurang atau bahkan tidak sama sekali memperhatikan standar yang ada sebagai pedoman ataupun guide line pembangunan sistem pengolahan air limbah.Apabila air limbah dari sumber tersebut diketahui tidak memenuhi syarat-syarat yang ditentukan maka diperlukan pengolahan terlebih dahulu.</p>
<p>Teknologi pengolahan air limbah yang dipilih harus dapat meningkatkan kualitas air efluent dari sistem yang digunakan baik secara fisik, kimia maupun bakteriologis. Karena kualitas air efluent dari suatu sistem yang memenuhi persyartan baku mutu air limbah maka kondisi sanitasipun k akan tercipta dengan baik. Selain penanganan air limbah rumah tangga yang memenuhi persyaratan kesehatan,diperlukan pula penyediaan air bersih, sampah dan pembuangan air hujan yang memenuhi persyaratan kesehatan lingkungan, sehingga akan tercipta kondisi lingkungan yang sehatdan pada akhirnya akan berdampak pula pada kesehatan dan produktifitas kerja dari masyarakat itu sendiri. Permasalahan sanitasi pemukiman kota yang hingga saat ini masih belum terselesaikan dengan baik yaitu pembuangan air limbah rumah tangga dan pembuangan sampah, dimana  sebahagian besar masyarkat masih membuang limbah rumah tangga ke saluran terbuka yang menimbulkan lingkungan permukiman menjadi kotor dan merupakan salah satu dari penyebab banjir akibat penyumbatan gorong-gorong oleh sampah yang dibuang ke saluran air limbah dan ke saluran drainase. Dengan begitu banyaknya masalah limbah yang ada, kita dapat meminimalisir masalah tersebut yang salah satu caranya adalah dengan proses penjernihan air limbah sehingga tidak menimbulkan dampak yang berlebih baik dari segi estetika, maupun kesehatan.</p>
<p>TUJUAN</p>
<p>Adapun tujuan dari praktikum yang telah kami laksanakan yaitu:</p>
<ol>
<li>Untuk mengetahui cara penjernihan air limbah</li>
<li>Untuk mengetahui alat dan bahan yang diperlukan</li>
<li>Untuk meminimalisir dampak limbah</li>
<li>Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari penjernihan yang telah dilakukan.</li>
</ol>
<p>WAKTU DAN TEMPAT</p>
<p>Praktikum dilaksanakan pada hari Senin 24 Oktober 2011 di Laboratorium Politeknik Banjarnegara.</p>
<p align="center">
<p align="center"><strong>BAB II</strong></p>
<p align="center"><strong>TINJAUAN PUSTAKA</strong></p>
<p><strong>Air</strong><strong> </strong>adalah zat atau materi atau unsur yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet lain. Air menutupi hampir 71% permukaan bumi. Terdapat 1,4 triliun kubik (330 juta mil³) tersedia di bumi.</p>
<p>Air adalah zat cair yang tidak mempunyai rasa, warna dan bau, yang terdiri dari hidrogen dan oksigen dengan rumus kimiawi H2O. Karena air merupakan suatu larutan yang hampir-hampir bersifat universal, maka zat-zat yang paling alamiah maupun buatan manusia hingga tingkat tertentu terlarut di dalamnya. Dengan demikian, air di dalam mengandung zat-zat terlarut. Zat-zat ini sering disebut pencemar yang terdapat dalam air (Linsley, 1991).</p>
<p>Indonesia pada saat ini memiliki masalah mengenai pencemaran lingkungan terutama pencemaran lingkungan perairan antara lain oleh air limbah, baik limbah industri, pertanian maupun limbah rumah tangga. Dari semua sumber pencemar lingkungan, pencemaran yang diakibatkan oleh limbah rumah tangga menempati urutan pertama (40%)diikuti kemudian oleh limbah industri (30%) dan sisanya limbah rumah sakit, pertanian, peternakan, atau limbah lainnya.(Kurniadie, 1998).</p>
<p>Air memiliki sifat-sifat yang penting dapat digolongkan ke dalam sifat fisis, kimiawi, dan biologis. Sifat fisis dari air yaitu didapatkan dalam ketiga wujudnya, yakni, bentuk padat sebagai es, bentuk cair sebagai air, dan bentuk gas sebagai uap air. Bentuk mana yang akan didapatkan, tergantung keadaan cuaca yang ada setempat. Sifat kimia dari air yaitu mempunyai pH=7 dan oksigen terlarut (=DO) jenuh pada 9 mg/L. Air merupakan pelarut yang universal, hampir semua jenis zat dapat larut di dalam air. Air juga merupakan cairan biologis, yakni didapat di dalam tubuh semua organisme. Sifat biologis dari air yaitu di dalam perairan selalu didapat kehidupan, fauna dan flora. Benda hidup ini berpengaruh timbal balik terhadap kualitas air (Slamet, 2002).</p>
<p>Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat bermukim, disanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada <span style="text-decoration:underline;">air kakus </span>(<em>black water</em>), dan ada air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (<em>grey water</em>) (www.wikipedia.org).</p>
<p>Air limbah adalah air buangan yang berasal dari rumah tangga termasuk tinjamanusia dari lingkungan permukiman. (Peraturan Pemerintah Republik IndonesiaNomor 16 Tahun 2005 Bab I Pasal 1.3)</p>
<p>Limbah cair merupakan sisa buangan hasil suatu proses yang sudah tidak dipergunakan lagi, baik berupa sisa industri, rumah tangga, peternakan, pertanian, dansebagainya. Komponen utama limbah cair adalah air (99%) sedangkan komponen lainnya bahan padat yang bergantung asal buangan tersebut. (Rustama et. al,1998).</p>
<p>Air limbah merupakan salah satu hasil dari aktifitas hidup manusia. Hal tersebutkeberadaannya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial &#8211; ekonomi masyarakat itu sendiridan aktifitas manusia. Sumber air limbah dari aktifitas manusia berkaitan dengan penggunaan air seperti mandi, mencuci, tempat cuci,WC, industri dan lain-lain. Kualitasair limbah yang dihasilkan tersebut sangat beragam, tergantung dari sumber dan sistem pengolahan yang digunakan. Sehingga kualitas air limbah akan semakin baik jika ditangani atau diolah dengan sistem pengolahan yang tepat.Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energidan/atau komponen lain ke dalam air dan/atau berubahnya tatanan air oleh kegiatanmanusia atau oleh proses alam, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yangmenyebabkan air menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya. Dengan itu akan menyebabkan terbentuknya air limbah.</p>
<p>Air limbah adalah kotoran dari masyarakat dan rumah tangga dan juga yang berasal dari industri, air tanah, air permukaan serta buangan lainnya, dengan demikian air buangan ini merupakan hal yang bersifat kotoran umum. (Devi Nuraini S, 2004).</p>
<p>Air limbah yaitu air dari suatu daerah permukiman yang telah dipergunakan untuk berbagai keperluan, harus dikumpulkan dan dibuang untuk menjaga lingkungan hidup yang sehat dan baik. (Anonim, 2009).</p>
<p>Kualitas limbah menunjukkan spesifikasi limbah yang diukur dari kandungan pencemar dalam limbah. Kandungan pencemar dalam limbah terdiri dari berbagai parameter. Semakin sedikit parameter dan semakin kecil konsentrasi, menunjukkan peluang pencemar terhadap lingkungan semakin kecil (Koestoer, 1995).</p>
<p>Kualitas limbah dipengaruhi berbagai faktor yaitu : volume air limbah, kandungan bahan pencemar, frekuensi pembuangan limbah. Penetapan standar kualitas limbah harus dihubungkan dengan kualitas lingkungan. Kualitas lingkungan dipengaruhi berbagai komponen yang ada dalam lingkungan itu seperti kualitas air, kepadatan penduduk, flora dan fauna, kesuburan tanah, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain (www.chem-is-try.org).</p>
<p>Apabila limbah masuk ke dalam lingkungan, ada beberapa kemungkinan yang diciptakan. Kemungkinan pertama, lingkungan tidak mendapat pengaruh yang berarti (pencemaran ringan). Kedua, ada pengaruh perubahan tapi tidak menyebabkan pencemaran (pencemaran sedang). Ketiga, memberi perubahan dan menimbulkan pencemaran (pencemaran berat).</p>
<p>Ada berbagai alasan untuk mengatakan demikian. Tidak memberi pengaruh terhadap lingkungan karena volume limbah kecil dan parameter pencemar yang terdapat di dalamnya sedikit dengan konsentrasi kecil. Karena itu andaikata masuk dalam lingkunganpun ternyata lingkungan mampu menetralisasinya. Kandungan bahan yang terdapat dalam limbah konsentrasinya barangkali dapat diabaikan karena kecilnya. Ada berbagai parameter pencemar yang menimbulkan perubahan kualitas lingkungan namun tidak menimbulkan pencemaran, artinya lingkungan itu memberikan toleransi terhadap perubahan serta tidak menimbulkan dampak negatif (Koestoer, 1995).</p>
<p>Adanya perubahan konsentrasi limbah menyebabkan terjadinya perubahan keadaan badan penerima. Semakin lama badan penerima dituangi air limbah, semakin tinggi pula konsentrasi bahan pencemar di dalamnya.</p>
<p>Pada suatu saat badan penerima tidak mampu lagi memulihkan keadaannya. Zat-zat pencemar yang masuk sudah terlalu banyak dan mengakibatkan tidak ada lagi kemampuannya menetralisasinya. Atas dasar ini perlu ditetapkan batas konsentrasi air limbah yang masuk dalam lingkungan badan penerima.</p>
<p>Dengan demikian walau dalam jangka waktu seberapa pun lingkungan tetap mampu mentolerirnya. Toleransi ini menunjukkan kemampuan lingkungan untuk menetralisasi ataupun mengeliminasi bahan pencemaran sehingga perubahan kualitas negatif dapat dicegah. Dalam hal inilah perlunya batasan-batasan konsentrasi yang disebut dengan standar kualitas limbah (<span style="text-decoration:underline;">www.chem-is-try.org</span>).</p>
<p>Ciri – Ciri Air Limbah antara lain disamping kotoran yang biasanya terkandung dalam persediaan air bersih air limbah mengandung tambahan kotoran akibat pemakaian untuk keperluan rumah tangga, komersial dan industri. Beberapa analisis yang dipakai untuk penentuan ciri – ciri fisik, kimiawi, dan biologis dari kotoran yang terdapat dari air limbah.</p>
<p>Ciri – Ciri Fisik</p>
<p>Ciri – ciri fisik utama air limbah adalah kandungan padat, warna, bau, dan suhunya. Bahan padat total terdiri dari bahan padat tak terlarut atau bahan padat yang terapung serta senyawa – senyawa yang larut dalam air. Kandungan bahan padat terlarut ditentukan dengan mengeringkan serta menimbang residu yang didapat dari pengeringan. Warna adalah ciri kualitatif yang dapat dipakai untuk mengkaji kondisi umum air limbah. Jika warnanya coklat muda, maka umur air kurang dari 6 jam. Warna abu – abu muda sampai setengah tua merupakan tanda bahwa air limbah sedang mengalami pembusukanatau telah ada dalam sistem pengumpul untuk beberapa lama. Bila warnanya abu – abu tua atau hitam, air limbah sudah membusuk setelah mengalami pembusukan oleh bakteri dengan kondisi anaerobik. Penentuan bau menjadi semakin penting bila masyarakat sangat mempunyai kepentingan langsung atas terjadinya operasi yang baik pada sarana pengolahan air limbah. Senyawa utama yang berbau adalah hidrogen sulfida, senyawa – senyawa lain seperti indol skatol, cadaverin dan mercaptan yang terbentuk pada kondisi anaerobik dan menyebabkan bau yang sangat merangsang dari pada bau hidrogen sulfida.Suhu air limbah biasanya lebih tinggi dari pada air bersih karena adanya tambahan air hangat dari pemakaian perkotaan. Suhu air limbah biasanya bervariasi dari musim ke musim, dan juga tergantung pada letak geografisnya.</p>
<p>Ciri – ciri kimia</p>
<p>Selain pengukuran BOD, COD dan TOC pengujian kimia yang utama adalah yang bersangkutan dengan Amonia bebas, Nitrogen organik, Nitrit, Nitrat, Fosfor organik dan Fosfor anorganik. Nitrogen dan fosfor sangat penting karena kedua nutrien ini telah sangat umum diidentifikasikan sebagai bahan untuk pertumbuhan gulma air. Pengujian – pengujian lain seperti Klorida, Sulfat, pH serta alkalinitas diperlukan untuk mengkaji dapat tidaknya air limbah yang sudah diolah dipakai kembali serta untuk mengendalikan berbagai proses pengolahan. (Linsley.K.R. 1995)</p>
<p>Berdasarkan karakteristiknya, limbah dapat digolongkan menjadi 4 macam, yaitu :</p>
<p>Limbah cair</p>
<p>Limbah cair adalah sisa dari suatu hasil usaha atau kegiatan yang berwujud cair (PP 82 thn 2001).</p>
<p>Limbah padat</p>
<p>Limbah padat berasal dari kegiatan industri dan domestik. Limbah domestik pada umumnya berbentuk limbah padat rumah tangga, limbah padat kegiatan perdagangan, perkantoran, peternakan, pertanian serta dari tempat-tempat umum. Jenis-jenis limbah padat: kertas, kayu, kain, karet/kulit tiruan, plastik, metal,</p>
<p>gelas/kaca, organik, bakteri, kulit telur, dll</p>
<p>Limbah gas dan partikel</p>
<p>Polusi udara adalah tercemarnya udara oleh berberapa partikulat zat (limbah) yang mengandung partikel (asap dan jelaga), hidrokarbon, sulfur dioksida, nitrogen oksida, ozon (asap kabut fotokimiawi), karbon monoksida dan timah.</p>
<p>Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)</p>
<p>Suatu limbah digolongkan sebagai limbah B3 bila mengandung bahan berbahaya atau beracun yang sifat dan konsentrasinya, baik langsung maupun tidak langsung, dapat merusak atau mencemarkan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan manusia.Yang termasuk limbah B3 antara lain adalah bahan baku yang berbahaya dan beracun yang tidak digunakan lagi karena rusak, sisa kemasan, tumpahan, sisa proses, dan oli bekas kapal yang memerlukan penanganan dan pengolahan khusus. Bahan-bahan ini termasuk limbah B3 bila memiliki salah satu atau lebih karakteristik berikut: mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, bersifat korosif, dan lain-lain, yang bila diuji dengan <span style="text-decoration:underline;">toksikologi </span>dapat diketahui termasuk limbah B3.</p>
<p>Berdasarkan sumbernya, limbah B3 dapat diklasifikasikan menjadi:</p>
<ol>
<li><em>Primary sludge</em>, yaitu limbah yang berasal dari tangki sedimentasi pada pemisahan awal dan banyak mengandung biomassa senyawa organik yang stabil dan mudah menguap.</li>
<li><em>Chemical sludge</em>, yaitu limbah yang dihasilkan dari proses koagulasi dan flokulasi.</li>
<li><em>Excess activated sludge</em>, yaitu limbah yang berasal dari proses pengolahan dengan lumpur aktif sehingga banyak mengandung padatan organik berupa lumpur dari hasil proses tersebut.</li>
<li><em>Digested sludge</em>, yaitu limbah yang berasal dari pengolahan biologi dengan digested aerobic maupun anaerobic di mana padatan/lumpur yang dihasilkan cukup stabil dan banyak mengandung padatan organik.</li>
</ol>
<p>Macam Limbah Beracun:</p>
<ol>
<li>Limbah mudah meledak adalah limbah yang melalui reaksi kimia dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan.</li>
<li>Limbah mudah terbakar adalah limbah yang bila berdekatan dengan api, percikan api, gesekan atau sumber nyala lain akan mudah menyala atau terbakar dan bila telah menyala akan terus terbakar hebat dalam waktu lama.</li>
<li>Limbah reaktif adalah limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepaskan atau menerima oksigen atau limbah organik <span style="text-decoration:underline;">peroksida </span>yang tidak stabil dalam suhu tinggi.</li>
<li>Limbah beracun adalah limbah yang mengandung racun yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Limbah B3 dapat menimbulkan kematian atau sakit bila masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, kulit atau mulut.</li>
<li>Limbah yang menyebabkan infeksi adalah limbah laboratorium yang terinfeksi penyakit atau limbah yang mengandung kuman penyakit, seperti bagian tubuh manusia yang diamputasi dan cairan tubuh manusia yang terkena infeksi.</li>
</ol>
<p>Limbah yang bersifat korosif adalah limbah yang menyebabkan iritasi pada kulit atau mengkorosikan baja, yaitu memiliki pH sama atau kurang dari 2,0 untuk limbah yang bersifat asam dan lebih besar dari 12,5 untuk yang bersifat basa. (<a href="http://educorolla8.blogspot.com/">http://educorolla8.blogspot.com</a>)</p>
<p>Sistem pengelolaan air limbah yang diterapkan harus memenuhi persyaratan berikut:</p>
<ol>
<li>Tidak mengakibatkan kontaminasi terhadap sumber-sumber air minum.</li>
<li>Tidak mengakibatkan pencemaran air permukaan.</li>
<li>Tidak menimbulkan pencemaran pada flora dan fauna yang hidup di air didalam penggunaannya sehari-hari.</li>
<li>Tidak dihinggapi oleh vector atau serangga yang menyebabkan penyakit.</li>
<li>Tidak terbuka dan harus tertutup.</li>
<li>Tidak menimbulkan bau atau aroma tidak sedap. (Chandra.B.2007)</li>
</ol>
<p>Limbah memiliki karakteristik yaitu:</p>
<p>Domestik</p>
<p>Limbah domestic adalah semua buangan yang berasal dari kamar mandi, kakus, dapur, tempat cuci pakaian, cuci peralatan rumah tangga, apotek, rumah sakit, rumah makan dan sebagainya yang secara kuantitatif limbah tadi terdiri dari zat organic baik berupa zat padat ataupun cair, bahan berbahaya, dan beracun, garam terlarut, lemah dan bakteri terutama golongan fekal coli, jasad pathogen, dan parasit.</p>
<p>Non domestic</p>
<p>Limbah domestic sangat bervariasi, terlebih lebih untuk limbah industri. Limbah pertanian biasanya terdiri atas bahan padat bekas tanaman yang besifat organis, bahan pemberantas hama dan penyakit ( peptisida bahan pupuk yang mengandung nitrogen, fosfor, sulfur, mineral, dan sebagainya. (Sastrawijaya.T.A. 2001).</p>
<p>Dalam air buangan terdapat zat organic yang terdiri dari unsure karbon, hydrogen, dan oksigen dengan unsure tambahan yang lain seperti nitrogen, belerang dan lain-lain yang cenderung menyerap oksigen.</p>
<p>Bentuk lain untuk mengukur oksigen ini adalah COD. Pengukuran ini diperlukan untuk mengukur kebutuhan oksigen terhadap zat organic yang sukar dihancurkan secara oksidasi. Oleh karena itu dibutuhkan bantuan pereaksi oksidator yang kuat dalam suasana asam. Nilai BOD selalu lebih kecil dari pada nilai COD diukur pada senyawa organic yang dapat diuraikan maupun senyawa organic yang tidak dapat berurai.</p>
<p>( Agusnar.H.2008 )</p>
<p>Laju aliran dan keragaman laju aliran merupakan factor penting dalam rancangan proses. Sejumlah unit dalam kebanyakan system penanganan harus dirancang berdasarkan puncak laju aliran dan memberikan pertimbangan untuk meminimumkan keragaman laju aliran bila mana mungkin. ( Jenie.L.S.1993 )</p>
<p>Efek buruk air limbah:</p>
<p>Sesuai dengan batasan air limbah yang merupakan benda sisa, maka sudah barang tentu bahwa air limbah merupakan benda yang sudah tidak dipergunakan lagi. Akan tetapi tidak berarti bahwa air limbah tersebut tidak perlu dilakukan pengelolaan, karena apabila limbah tersebut tidak dikelola secara baik akan dapat menimbulkan gangguan, baik terhadap lingkungan maupun terhadap kehidupan yang ada.<strong></strong></p>
<p>Gangguan Terhadap Kesehatan:<strong></strong></p>
<p>Air limbah sangat berbahaya terhadap kesehatan manusia mengingat bahwa banyak penyakit yang dapat ditularkan melalui air limbah. Air limbah ini ada yang hanya berfungsi sebagai media pembawa saja seperti penyakit kolera, radang usus, hepatitis infektiosa, serta schitosomiasis. Selain sebagai pembawa penyakit di dalam air limbah itu sendiri banyak terdapat bakteri patogen penyebab penyakit seperti:</p>
<p>Virus</p>
<p>Menyebabkan penyakit polio myelitis dan hepatitis. Secara pasti modus penularannya masih belum diketahui dan banyak terdapat pada air hasil pengolahan (effluent) pengolahan air.</p>
<ol>
<li>Vibrio Cholera Menyebabkan penyakit kolera asiatika dengan penyebaran melalui air limbah yang telah tercemar oleh kotoran manusia yang mengandung vibrio cholera.</li>
<li>Salmonella Typhosa a dan Salmonella Typhosa b</li>
</ol>
<p>Merupakan penyebab typhus abdomonalis dan para typhus yang banyak terdapat di dalam air limbah bila terjadi wabah. Prinsip penularannya adalah melalui air dan makanan yang telah tercemar oleh kotoran manusia yang banyak berpenyakit typhus.</p>
<p>Salmonella Spp</p>
<p>Dapat menyebabkan keracunan makanan dan jenis bakteri banyak terdapat pada air hasil pengolahan.</p>
<p>Shigella Spp</p>
<p>Adalah penyebab disentri bacsillair dan banyak terdapat pada air yang tercemar. Adapun cara penularannya adalah melalui kontak langsung dengan kotoran manusia maupun perantaraan makanan, lalat dan tanah.</p>
<p>Basillus Antraksis</p>
<p>Adalah penyebab penyakit antrhak, terdapat pada air limbah dan sporanya tahan terhadap pengolahan.</p>
<p>Brusella Spp</p>
<p>Adalah penyebab penyakit brusellosis, demam malta serta menyebabkan keguguran (aborsi) pada domba.</p>
<p>Mycobacterium Tuberculosa</p>
<p>Adalah penyebab penyakit tuberculosis dan terutama terdapat pada air limbah yang berasal dari sanatorium.</p>
<p>Leptospira</p>
<p>Adalah penyebab penyakit weii dengan penularan utama berasal dari tikus selokan.</p>
<p>Entamuba Histolitika</p>
<p>Dapat menyebabkan penyakit amuba disentri dengan penyebaran melalui Lumpur yang mengandung kista.</p>
<p>Schistosoma Spp</p>
<p>Penyebab penyakit schistosomiasis, akan tetapi dapat dimatikan pada saat melewati pengolahan air limbah.</p>
<p>Taenia Spp</p>
<p>Adalah penyebab penyakit cacing pita, dengan kondisi yang sangat tahan terhadap cuaca. (Anonim, 2009)</p>
<p>Ada berbagai macam cara sederhana yang dapat kita gunakan untuk mendapatkan <a title="Posts tagged with air bersih" href="http://aimyaya.com/id/tag/air-bersih/">air bersih</a>, dan cara yang paling mudah dan paling umum digunakan adalah dengan membuat <a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">saringan</a> air, dan bagi kita mungkin yang paling tepat adalah membuat <a title="Posts tagged with penjernih air" href="http://aimyaya.com/id/tag/penjernih-air/">penjernih air</a> atau <a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">saringan</a> air sederhana. <a title="Posts tagged with air bersih" href="http://aimyaya.com/id/tag/air-bersih/">Air bersih</a> yang dihasilkan dari proses <a title="Posts tagged with penyaringan air" href="http://aimyaya.com/id/tag/penyaringan-air/">penyaringan air</a> secara sederhana tersebut tidak dapat menghilangkan sepenuhnya garam yang terlarut di dalam air.</p>
<p>Beberapa alternatif cara sederhana dan mudah guna mendapatkan <a title="Posts tagged with air bersih" href="http://aimyaya.com/id/tag/air-bersih/">air bersih</a> dengan cara mempergunakan <a title="Posts tagged with filter air" href="http://aimyaya.com/id/tag/filter-air/">filter air</a> / <a title="Posts tagged with penyaringan air" href="http://aimyaya.com/id/tag/penyaringan-air/">penyaringan air</a> :</p>
<p><a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">Saringan</a><strong> Kain Katun.</strong></p>
<p>Pembuatan <a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">saringan</a> air dengan menggunakan kain katun merupakan teknik penyaringan yang paling sederhana / mudah. Air keruh disaring dengan menggunakan kain katun yang bersih. <a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">Saringan</a> ini dapat membersihkan air dari kotoran dan organisme kecil yang ada dalam air keruh. Air hasil <a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">saringan</a> tergantung pada ketebalan dan kerapatan kain yang digunakan.<strong></strong></p>
<p><strong> </strong><a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">Saringan</a><strong> Kapas</strong><strong></strong></p>
<p>Teknik <a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">saringan</a> air ini dapat memberikan hasil yang lebih baik dari teknik sebelumnya. Seperti halnya penyaringan dengan kain katun, penyaringan dengan kapas juga dapat membersihkan air dari kotoran dan organisme kecil yang ada dalam air keruh. Hasil <a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">saringan</a> juga tergantung pada ketebalan dan kerapatan kapas yang digunakan.</p>
<p>Aerasi</p>
<p>Aerasi merupakan proses penjernihan dengan cara mengisikan oksigen ke dalam air. Dengan diisikannya oksigen ke dalam air maka zat-zat seperti karbon dioksida serta hidrogen sulfida dan metana yang mempengaruhi rasa dan bau dari air dapat dikurangi atau dihilangkan. Selain itu partikel mineral yang terlarut dalam air seperti besi dan mangan akan teroksidasi dan secara cepat akan membentuk lapisan endapan yang nantinya dapat dihilangkan melalui proses sedimentasi atau filtrasi.<strong></strong></p>
<p><strong></strong><a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">Saringan</a><strong> Pasir Lambat (SPL)</strong><strong></strong></p>
<p><a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">Saringan</a> pasir lambat merupakan <a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">saringan</a> air yang dibuat dengan menggunakan lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah. <a title="Posts tagged with air bersih" href="http://aimyaya.com/id/tag/air-bersih/">Air bersih</a> didapatkan dengan jalan menyaring air baku melewati lapisan pasir terlebih dahulu baru kemudian melewati lapisan kerikil. Untuk keterangan lebih lanjut dapat temukan pada artikel <a href="http://aimyaya.com/id/teknologi-tepat-guna/saringan-pasir-lambat-spl/">Saringan Pasir Lambat (SPL)</a>.</p>
<p><a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">Saringan</a><strong> Pasir Cepat (SPC)</strong></p>
<p><a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">Saringan</a> pasir cepat seperti halnya <a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">saringan</a> pasir lambat, terdiri atas lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah. Tetapi arah <a title="Posts tagged with penyaringan air" href="http://aimyaya.com/id/tag/penyaringan-air/">penyaringan air</a> terbalik bila dibandingkan dengan <a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">Saringan</a> Pasir Lambat, yakni dari bawah ke atas (up flow). <a title="Posts tagged with air bersih" href="http://aimyaya.com/id/tag/air-bersih/">Air bersih</a> didapatkan dengan jalan menyaring air baku melewati lapisan kerikil terlebih dahulu baru kemudian melewati lapisan pasir. Untuk keterangan lebih lanjut dapat temukan pada artikel <a href="http://aimyaya.com/id/teknologi-tepat-guna/saringan-pasir-cepat-spc/">Saringan Pasir Cepat (SPC)</a>.</p>
<p>Gravity<strong>-Fed Filtering System</strong></p>
<p>Gravity-Fed Filtering System merupakan gabungan dari <a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">Saringan</a> Pasir Cepat(SPC) dan <a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">Saringan</a> Pasir Lambat(SPL). <a title="Posts tagged with air bersih" href="http://aimyaya.com/id/tag/air-bersih/">Air bersih</a> dihasilkan melalui dua tahap. Pertama-tama air disaring menggunakan <a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">Saringan</a> Pasir Cepat(SPC). Air hasil penyaringan tersebut dan kemudian hasilnya disaring kembali menggunakan <a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">Saringan</a> Pasir Lambat. Dengan dua kali penyaringan tersebut diharapkan kualitas <a title="Posts tagged with air bersih" href="http://aimyaya.com/id/tag/air-bersih/">air bersih</a> yang dihasilkan tersebut dapat lebih baik. Untuk mengantisipasi debit air hasil penyaringan yang keluar dari <a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">Saringan</a> Pasir Cepat, dapat digunakan beberapa / multi <a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">Saringan</a> Pasir Lambat.</p>
<p><a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">Saringan</a><strong> air sederhana / tradisional</strong></p>
<p><a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">Saringan</a> air sederhana/tradisional merupakan modifikasi dari <a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">saringan</a> pasir arang dan <a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">saringan</a> pasir lambat. Pada <a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">saringan</a> tradisional ini selain menggunakan pasir, kerikil, batu dan arang juga ditambah satu buah lapisan injuk / ijuk yang berasal dari sabut kelapa. Untuk bahasan lebih jauh dapat dilihat pada artikel <a href="http://aimyaya.com/id/teknologi-tepat-guna/saringan-air-sederhana/">saringan air sederhana</a>.<strong></strong></p>
<p><a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">Saringan</a> Keramik</p>
<p><a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">Saringan</a> keramik dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama sehingga dapat dipersiapkan dan digunakan untuk keadaan darurat. <a title="Posts tagged with air bersih" href="http://aimyaya.com/id/tag/air-bersih/">Air bersih</a> didapatkan dengan jalan penyaringan melalui elemen filter keramik. Beberapa filter kramik menggunakan campuran perak yang berfungsi sebagai disinfektan dan membunuh bakteri. Ketika proses penyaringan, kotoran yang ada dalam air baku akan tertahan dan lama kelamaan akan menumpuk dan menyumbat permukaan filter. Sehingga untuk mencegah penyumbatan yang terlalu sering maka air baku yang dimasukkan jangan terlalu keruh atau kotor. Untuk perawatan saringn keramik ini dapat dilakukan dengan cara menyikat filter keramik tersebut pada air yang mengalir.</p>
<p><a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">Saringan</a><strong> Cadas / Jempeng / Lumpang Batu</strong></p>
<p><a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">Saringan</a> cadas atau jempeng ini mirip dengan <a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">saringan</a> keramik. Air disaring dengan menggunakan pori-pori dari batu cadas. <a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">Saringan</a> ini umum digunakan oleh masyarakat desa Kerobokan, Bali. <a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">Saringan</a> tersebut digunakan untuk menyaring air yang berasal dari sumur gali ataupun dari saluran irigasi sawah. Seperti halnya <a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">saringan</a> keramik, kecepatan air hasil <a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">saringan</a> dari jempeng relatif rendah bila dibandingkan dengan SPL terlebih lagi SPC.</p>
<p><a title="Posts tagged with saringan" href="http://aimyaya.com/id/tag/saringan/">Saringan</a><strong> Tanah Liat.</strong></p>
<p>Kendi atau belanga dari tanah liat yang dibakar terlebih dahulu dibentuk khusus pada bagian bawahnya agar <a title="Posts tagged with air bersih" href="http://aimyaya.com/id/tag/air-bersih/">air bersih</a> dapat keluar dari pori-pori pada bagian dasarnya. (<a href="http://www.google.com/">www.google.com</a>)</p>
<p align="center">
<p align="center"><strong>BAB III</strong></p>
<p align="center"><strong>MATERI DAN METODE</strong></p>
<ol>
<li>MATERI
<ol>
<li>Arang karbon</li>
<li>Spons</li>
<li>Ijuk</li>
<li>Pecahan kaca</li>
<li>Kerikil</li>
<li>Tawas</li>
<li>Air limbah</li>
<li>Alat tulis</li>
<li>Toples untuk penjernihan</li>
<li>Toples untuk pengendapan</li>
<li>Gergaji</li>
<li>Paralon</li>
<li>Kran</li>
<li>Lem paralon</li>
<li>Seal tape</li>
</ol>
</li>
</ol>
<ol>
<li>METODE
<ol>
<li>Menyiapkan seluruh alat dan bahan yang akan digunakan</li>
<li>Mencuci arang karbon, pecahan kaca, ijuk dan kerikil hingga bersih</li>
<li>Membuat bak pengendapan menggunakan toples</li>
<li>Membuat bak penjernihan menggunakan toples</li>
<li>Memasukkan kedalam bak penjernihan dengan tingkatan paling bawah
<ol>
<li>Kerikil</li>
<li>Ijuk</li>
<li>Pecahan kaca</li>
<li>Ijuk</li>
<li>Spons</li>
<li>Arang karbon</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
<li>Setelah semua alat tersusun baik dan benar, lakukan penjernihan air dengan mengalirkan air limbah yang akan disaring kedalam bak pengandapan.</li>
<li>Buka kran di bak pengendapan agar air mengalir secara perlahan</li>
<li>Buka kran di bak penjernihan</li>
<li>Tunggu hingga air mengalir dan aliran air limbah tersebut menjadi bening.</li>
<li>Setelah air yang bening terkumpul, lakukan pengujian menggunakan tawas.</li>
</ol>
<p align="center"><strong>BAB IV</strong></p>
<p align="center"><strong>PEMBAHASAN</strong></p>
<p>Penjernihan yang kami lakukan seperti yang ada pada gambar 1, namun tingkatannya berbeda. Kelompok kami menggunakan tingkatan dari yang terbawah yaitu:</p>
<ol>
<li>Kerikil</li>
<li>Ijuk</li>
<li>Pecahan kaca</li>
<li>Ijuk</li>
<li>Spons</li>
<li>Arang karbon</li>
</ol>
<p>Kami tidak menggunakan pasir karena meskipun sudah dicuci berkali-kali, aliran air yang melewati pasir tersebut tetap keruh, sehingga kelompok kami tidak menggunakan pasir. Air pertama melewati arang karbon yang kemudian kotoran yang masuk ke bak penjernihan sudah tidak begitu banyak karena sebagian sudah mengendap di bak pengendapan. Setelah air melewati arang karbon, kotoran akan disaring melalui spons, kemudian melewati ijik, pecahan kaca, ijuk lagi, dan yang terakhir adalah kerikil sehingga air yang keluar dari bak penjernihan menjadi bening. Setelah itu air tersebut di jernihkan lagi menggunakan tawas melalui jartes dengan konsentrasi 1 liter air = 5 gram tawas.</p>
<p>Selain bermanfaat untuk penjernihan air, tawas juga bermanfaat untuk:</p>
<ol>
<li>5% dati tawas dapat mengeraskan pencucian film</li>
<li>1% tawas dicampur dalam Aqua destillata dapat mengobati mata yang kepanasan</li>
<li>10 gram tawas bersih dicampur 300 cc air biasa dan sedikit pepermint olie dapat digunakan untuk obat kumur-kumur jika gusi bengkak.</li>
<li>1 gram tawas bersih ditambah 1 gram Borax dicampur 100 cc air bersih dapat digunakan untuk kompres kudis dan gatal-gatal.</li>
<li>1 gram tawas besih dicampur dengan 90 cc Oleum olivarium (minyak makan) dapat digunakan untuk obat luar bagi penderita penyakit kudis yang disertai gatal-gatal.</li>
</ol>
<p>Penjernihan air limbah yang telah kami lakukan memiliki manfaat antara lain:</p>
<ol>
<li>Menghilangkan gas-gas terlarut</li>
<li>Menghilangkan rasa yang tidak enak</li>
<li>Membasmi bakteri patogen yang sangat berbahaya</li>
<li>Mengelolah agar air dapat digunakan untuk rumah tangga dan industry</li>
<li>Memperkecil sifat air yang menyebabkan terjadinya endapan dan korosif pada pipa atau saluran air lainnya.</li>
</ol>
<p>Adapun beberapa teknik pengendapan yang dapat dilakukan yaitu:</p>
<p>Biji kelor</p>
<p>Biji buah kelor (Moringan oleifera) mengandung zat aktif rhamnosyloxy-benzil-isothiocyanate, yang mampu mengadopsi dan menetralisir partikel-partikel lumpur serta logam yang terkandung dalam air limbah suspensi, dengan partikel kotoran melayang di dalam air. Penemuan yang telah dikembangkan sejak tahun 1986 di negeri Sudan untuk menjernihkan air dari anak Sungai Nil dan tampungan air hujan ini di masa datang dapat dikembangkan sebagai penjernih air Sungai Mahakam dan hasilnya dapat dimanfaatkan PDAM setempat.Serbuk biji buah kelor ternyata cukup ampuh menurunkan dan mengendapkan kandungan unsur logam berat yang cukup tinggi dalam air, sehingga air tersebut memenuhi standar baku air minum dan air bersih.</p>
<p>Tawas</p>
<p>Berfungsi untuk memisahkan dan mengendapkan kotoran dalam air. Lama pengendapan berkisar selama 12 jam. Fungsi tawas hanya untuk pengendapan, tidak berfungsi untuk membunuh kuman dan menaikkan pH dalam air.</p>
<p>Kaporit</p>
<p>Berfungsi untuk membunuh bakteri, kuman dan virus dalam air. Dan juga menaikkan pH dalam air. Membutuhkan proses yang lama untuk mengendap.</p>
<p>Kapur Gamping</p>
<p>Berfungsi untuk pengendapan namun membutuhkan waktu hingga 24 jam. Juga berfungsi untuk menaikkan pH air tetepi tidak berfungsi untuk membunuh kuman, virus dan bakteri.</p>
<p>Arang batok kelapa</p>
<p>Berfungsi untuk menghilangkan bau, rasa tidak enak dalam air dan juga menjernihkan.</p>
<p>Dari penjernihan yang telah kami buat, memiliki keuntungan dan kerugian, yaitu:</p>
<p>KEUNTUNGAN</p>
<ol>
<li>Air hasil penyaringan cukup bersih untuk keperluan rumah tangga.</li>
<li>Membuatnya cukup mudah dan sederhana pemeliharaannya.</li>
<li>Bahan-bahan yang digunakan mudah didapatkan di daerah pedesaan.</li>
</ol>
<p>KERUGIAN</p>
<p>Pemeliharaan memerlukan ketelitian dan cukup memakan waktu seperti :</p>
<p>Drum pengendapan dan drum penyaring harus dibersihkan, jika aliran air yang keluar kurang lancar. Ijuk, kerikil, potongan bata, pasir dicuci bersih, kemudian dijemur sampai kering.</p>
<p>Tidak bisa digunakan untuk menyaring air yang mengandung bahan-bahan kimia seperti air buangan dari pabrik, karena cara ini hanya untuk menyaring air keruh, tapi bukan menyaring air yang mengandung zat kimia tertentu.</p>
<p>Untuk keperluan air minum harus dimasak terlebih dahulu sampai mendidih.</p>
<p align="center"><strong>BAB V</strong></p>
<p align="center"><strong>PENUTUP</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">KESIMPULAN</p>
<p>Dari pembahasan yang ada, dapat disimpulkan:</p>
<ol>
<li>Penjernihan yang kami lakukan adalah menggunakan sistem bak pengendapan dan bak penjernihan yang didalam bak penjernihan terdapat beberapa tingkatan dari tingkatan yang paling bawah yaitu Kerikil, Ijuk, Pecahan kaca, Ijuk, Spons, Arang karbon.</li>
<li>Setelah air melewati bak penjernihan, air diberi tawas dengan konsentrasi I liter air = 5 gram tawas yang berfungsi untuk memisahkan dan mengendapkan kotoran dalam air, namun fungsi tawas hanya untuk pengendapan, tidak berfungsi untuk membunuh kuman dan menaikkan pH dalam air.</li>
<li>Penjernihan yang kami laksanakan memiliki kelebihan dan kekurangan, yaitu:</li>
<li>KEUNTUNGAN
<ol>
<li>
<ol>
<li>Air hasil penyaringan cukup bersih untuk keperluan rumah tangga.</li>
<li>Membuatnya cukup mudah dan sederhana pemeliharaannya.</li>
<li>Bahan-bahan yang digunakan mudah didapatkan di daerah pedesaan.</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
<li>KERUGIAN
<ol>
<li>Pemeliharaan memerlukan ketelitian dan cukup memakan waktu seperti :</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Drum pengendapan dan drum penyaring harus dibersihkan, jika aliran air yang keluar kurang lancar. Ijuk, kerikil, potongan bata, pasir dicuci bersih, kemudian dijemur sampai kering.</p>
<p>Tidak bisa digunakan untuk menyaring air yang mengandung bahan-bahan kimia seperti air buangan dari pabrik, karena cara ini hanya untuk menyaring air keruh, tapi bukan menyaring air yang mengandung zat kimia tertentu.</p>
<ol>
<li>Untuk keperluan air minum harus dimasak terlebih dahulu sampai mendidih.</li>
<li>SARAN</li>
</ol>
<p align="center">Setelah kami melakukan praktik penjernihan air limbah, kami mengatahui alat, bahan, dan cara penjernihan yang benar. Selain itu kami juga mengetahui beberapa keuntungan dan kerugian yang ada sehingga sebaiknya kita melaksanakan praktik dengan benar, dan sesuai peraturan sehingga hasil yang kita dapat akan lebih maksimal dan dapat kita terapkan pada kehidupan sehari-hari kita.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evynurhidayah.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evynurhidayah.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evynurhidayah.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evynurhidayah.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/evynurhidayah.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/evynurhidayah.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/evynurhidayah.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/evynurhidayah.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evynurhidayah.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evynurhidayah.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evynurhidayah.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evynurhidayah.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evynurhidayah.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evynurhidayah.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evynurhidayah.wordpress.com&amp;blog=31155626&amp;post=60&amp;subd=evynurhidayah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/06/penjernihan-air/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f094908bcc9fc495933b50f9ae28a91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">evynurhidayah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Uji Predasi</title>
		<link>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/06/uji-predasi/</link>
		<comments>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/06/uji-predasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 04:45:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evynurhidayah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tugas Kuliah Semester 3]]></category>
		<category><![CDATA[uji predasi_pengendalian vektor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evynurhidayah.wordpress.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN PRAKTIKUM PENGENDALIAN VEKTOR PENYAKIT “UJI PREDASI” BAB I PENDAHULUAN  A.    Latar belakang Di Indonesia maraknya masalah kesehatan banyak menjadi bahan perbincangan masyarakat dan pemerintah. Masalah kesehatan di Indonesia salah satunya adalah tingginya angka kesakitan yang diakibatkan oleh serangan penyakit yang disebarkan oleh vektor atau penular penyakit. Keberadaan vektor disini menjadi salah satu faktor yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evynurhidayah.wordpress.com&amp;blog=31155626&amp;post=58&amp;subd=evynurhidayah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>LAPORAN PRAKTIKUM</strong></p>
<p align="center"><strong>PENGENDALIAN VEKTOR PENYAKIT</strong></p>
<p align="center"><strong>“UJI PREDASI”</strong></p>
<p align="center">
<p align="center"><strong>BAB I</strong></p>
<p align="center"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p><strong> </strong><strong>A.    </strong><strong>Latar belakang </strong></p>
<p>Di Indonesia maraknya masalah kesehatan banyak menjadi bahan perbincangan masyarakat dan pemerintah. Masalah kesehatan di Indonesia salah satunya adalah tingginya angka kesakitan yang diakibatkan oleh serangan penyakit yang disebarkan oleh vektor atau penular penyakit. Keberadaan vektor disini menjadi salah satu faktor yang harus dimusnahkan agar rantai penularan penyakit dapat diputus atau bahkan ditiadakan sama sekali.</p>
<p>Keberadaan vektor tersebut dapat dikendalikan dengan program pengendalian vektor penyakit. Pengendalian vektor tersebut dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu secara kimia, fisik, biologi dan mekanik. Dalam kegiatan praktikum ini kami melakukan salah satu pengendalian vektor secara biologis yaitu dengan cara pemanfaatan predator untuk memprediksi besarnya kontribusi predator tertentu daam pengendalian vektor. Pengendalian dengan uji predasi ini dilakukan dengan memanfaatkan ikan pemakan jentik seperti ikan guppi, munjair, cupang, sepat dan ikan kepala timah. Oleh karena itu kami melakukan praktikum uji predasi ini agar mengetahui lebih dalam bagaimana cara dan prosedur yang tepat dalam pengujian predasi ini.</p>
<p><strong>B.     </strong><strong>Tujuan</strong></p>
<p>Adapun tujuan dari praktikum yang telah dilaksanakan yaitu untuk memprediksi besarnya kontribusi predator tertentu dalam pengendalian vektor.</p>
<p><strong>Waktu dan Tempat</strong></p>
<p>Praktikum dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 14 Desember 2011 pukul 10.10 WIB sampai selesai di Laboratorium Politeknik Banjarnegara.</p>
<p align="center"><strong>BAB II</strong></p>
<p align="center"><strong>TINJAUAN PUSTAKA</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong> </strong><strong>A.    </strong><strong>Pengendalian Vektor Penyakit.</strong></p>
<p>Peraturan Pemerintah No.374 tahun 2010 menyatakan bahwa vektor merupakan arthropoda yang dapat menularkan, memindahkan atau menjadi sumber penularan penyakit pada manusia. Sedangkan menurut Nurmaini (2001), vektor adalah arthropoda yang dapat memindahkan/menularkan suatu <em>infectious agent</em> dari sumber infeksi kepada induk semang yang rentan. Vektor penyakit merupakan arthropoda yang berperan sebagai penular penyakit sehingga dikenal sebagai <em>arthropod &#8211; borne diseases </em>atau sering juga disebut <em>sebagai vector – borne disease</em>s yang merupakan penyakit yang penting dan seringkali bersifat endemis maupun epidemis dan menimbulkan bahaya bagi kesehatan sampai kematian. Di Indonesia, penyakit – penyakit yang ditularkan melalui serangga merupakan penyakit endemis pada daerah tertentu, seperti <a href="http://kesmas-unsoed.blogspot.com/2011/01/pemberantasan-penyakit-demam-berdarah.html" target="_blank">Demam Berdarah</a> Dengue (DBD), malaria, kaki gajah, Chikungunya yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Disamping itu, ada penyakit saluran pencernaan seperti dysentery, cholera, typhoid fever dan paratyphoid yang ditularkan secara mekanis oleh lalat rumah.</p>
<p>Pengendalian vektor dapat dilakukan dengan pengelolaan lingkungan secara fisik atau mekanis, penggunaan agen biotik kimiawi, baik terhadap vektor maupun tempat perkembangbiakannya dan atau perubahan perilaku masyarakat serta dapat mempertahankan dan mengembangkan kearifan loKal sebagai alternative. Beberapa faktor yang menyebabkan tingginya angka kesakitan penyakit bersumber binatang antara lain adanya perubahan iklim, keadaan social-ekonomi dan perilaku masyarakat. Perubahan iklim dapat meningkatkan risiko kejadian penyakit tular vektor. Faktor risiko lainnya adalah keadaan rumah dan sanitasi yang buruk, pelayanan kesehatan yang belum memadai, perpindahan penduduk yang non imun ke daerah endemis.</p>
<p>Masalah yang di hadapi dalam pengendalian vektor di Indonesia antara lain kondisi geografis dan demografi yang memungkinkan adanya keragaman vektor, belum teridentifikasinya spesies vektor ( pemetaan sebaran vektor) di semua wilayah endemis, belum lengkapnya peraturan penggunaan pestisida dalam pengendalian vektor, peningkatan populasi resisten beberapa vektor terhadap pestisida tertentu, keterbatasan sumberdaya baik tenaga, logistik maupun biaya operasional dan kurangnya keterpaduan dalam pengendalian vektor.</p>
<p>Dalarn pengendalian vektor tidaklah mungkin dapat dilakukan pembasmian sampai tuntas, yang mungkin dan dapat dilakukan adalah usaha mengurangi dan menurunkan populasi kesatu tingkat yang tidak membahayakan kehidupan manusia. Namun hendaknya dapat diusahakan agar segala kegiatan dalam rangka menurunkan populasi vektor dapat mencapai hasil yang baik. Untuk itu perlu diterapkan teknologi yang sesuai, bahkan teknologi sederhana pun yang penting di dasarkan prinsip dan konsep yang benar. Ada beberapa cara pengendalian vector penyakit yaitu :</p>
<p>Ada beberapametode pengendalian vektor yaitu:</p>
<p><strong>1.      </strong>Metode pengendalian fisik dan mekanik adalah upaya-upaya untuk mencegah, mengurangi, menghilangkan habitat perkembangbiakan dan populasi vektor secara fisik dan mekanik.Contohnya:</p>
<ul>
<li>modifikasi dan manipulasi lingkungan tempat perindukan (3M, pembersihan lumut, penenman bakau, pengeringan, pengalihan/ drainase, dll)</li>
<li>Pemasangan kelambu</li>
<li>Memakai baju lengan panjang</li>
<li>Penggunaan hewan sebagai umpan nyamuk (cattle barrier)</li>
<li>Pemasangan kawat</li>
</ul>
<ol>
<li><strong>2.      </strong>Metode pengendalian dengan menggunakan agen biotic, contohnya:</li>
</ol>
<ul>
<li>predator pemakan jentik (ikan, mina padi,dll)</li>
<li>Bakteri, virus, fungi</li>
<li>Manipulasi gen ( penggunaan jantan mandul,dll)</li>
</ul>
<ol>
<li><strong>3.      </strong>Metode pengendalian secara kimia, contohnya:</li>
</ol>
<ul>
<li>Surface spray (IRS)</li>
<li>Kelambu berinsektisida</li>
<li>Larvasida</li>
</ul>
<p>Adapun prinsip dasar dalam pengendalian vektor yang dapat dijadikan sebagai pegangan sebagai berikut :</p>
<ul>
<li>Pengendalian vektor harus menerapkan bermacam-macam cara pengendalian agar vektor tetap berada di bawah garis batas yang tidak merugikan/ membahayakan.</li>
<li>Pengendalian vektor tidak menimbulkan kerusakan atau gangguan ekologi terhadap tata lingkungan hidup. (Nurmaini, 2001)</li>
</ul>
<ol>
<li><strong>B.     </strong><strong>Perkembangan Nyamuk Penular Malaria </strong></li>
</ol>
<p>Proses perkembangan nyamuk merupakan peristiwa yang paling menakjubkan. Di bawah ini uraian singkat tentang metamorfosis nyamuk dimulai dari larva mungil melalui sejumlah fase perkembangan yang berbeda hingga pada akhirnya menjadi nyamuk dewasa. Nyamuk betina menaruh telurnya, yang diberi makan berupa darah agar dapat tumbuh dan berkembang, pada dedaunan lembab atau kolam-kolam yang tak berair di musim panas atau gugur. Sebelumnya, nyamuk betina ini menjelajahi wilayah yang ada dengan sangat teliti menggunakan reseptornya yang sangat peka yang terletak pada perutnya. Setelah menemukan tempat yang cocok, nyamuk mulai meletakkan telur-telurnya. Telur yangpanjangnya kurang dari 1 mm ini diletakkan secara teratur hingga membentuk sebuah barisan teratur. Beberapa spesies nyamuk meletakkan telur-telurnya sedemikian hingga berbentuk seperti sebuah sampan. Beberapa koloni telur ini ada yang terdiri dari 300 buah telur. Telur-telur yang berwarna putih ini kemudian berubah warna menjadi semakin gelap, dan dalam beberapa jam menjadi hitam legam. Warna gelap ini berfungsi untuk melindungi telur-telur tersebut agar tidak terlihat oleh serangga maupun burung pemangsa. Sejumlah larva-larva yang lain juga berubah warna, menyesuaikan dengan warna tempat di mana mereka berada, hal ini berfungsi sebagai kamuflase agar tidak mudah terlihat oleh pemangsa. Larva-larva ini berubah warna melalui berbagai proses kimia yang terjadi pada tubuhnya. Tidak diragukan lagi bahwa telur, larva maupun nyamuk betina bukanlah yang menciptakan sendiri ataupun mengendalikan berbagai proses kimia yang mengakibatkan perubahan warna tersebut seiring dengan perjalanan metamorfosis nyamuk.</p>
<p>Ketika periode inkubasi telur telah berlalu, para larva lalu keluar dari telurtelur mereka dalam waktu yang hampir bersamaan. Larva (jentik nyamuk) yang makan terus-menerus ini tumbuh sangat cepat hingga pada akhirnya kulit pembungkus tubuhnya menjadi sangat ketat dan sempit. Hal ini tidak memungkinkan tubuhnya untuk tumbuh membesar lagi. Ini pertanda bahwa mereka harus mengganti kulit. Pada tahap ini, kulit yang keras dan rapuh ini dengan mudah pecah dan mengelupas. Para larva tersebut mengalami dua kali pergantian kulit sebelum menyelesaikan periode hidup mereka sebagai larva. Jentik nyamuk mendapatkan makanan dengan cara membuat pusaran air kecil dalam air dengan menggunakan bagian ujung dari tubuh yang ditumbuhi bulu sehingga mirip kipas. Kisaran air tersebut menyebabkan bakteri dan mikroorganisme lainnya tersedot dan masuk ke dalam mulut larva nyamuk. Proses pernapasan jentik nyamuk, yang posisinya terbalik di bawah permukaan air, terjadi melalui sebuah pipa udara yang mirip dengan &#8220;<em>snorkel</em>&#8221; (pipa saluran pernapasan) yang biasa digunakan oleh para penyelam. Tubuh jentik mengeluarkan cairan yang kental yang mampu mencegah air untuk memasuki lubang tempat berlangsungnya pernapasan. Sungguh, sistem pernapasan yang canggih ini tidak mungkin dibuat oleh jentik itu sendiri. Ini tidak lain adalah bukti ke-Mahakuasaan Allah dan kasih sayang-Nya pada makhluk yang mungil ini, agar dapat bernapas dengan mudah. Pada tahap larva (jentik), terjadi pergantian kulit sekali lagi. Pada tahap ini, larva tersebut berpindah menuju bagian akhir dari perkembangan mereka yakni tahap kepompong (<em>pupal stage</em>). Ketika kulit kepompong terasa sudah sempit dan ketat, ini pertanda bagi larva untuk keluar dari kepompongnya. Selama masa perubahan terakhir ini, larva nyamuk menghadapi tantangan yang membahayakan jiwanya, yakni masuknya air yang dapat menyumbat saluran pernapasan. Hal ini dikarenakan lubang pernapasannya, yang dihubungkan dengan pipa udara dan menyembul di atas permukaan air, akan segera ditutup. Jadi sejak penutupan ini, dan seterusnya, pernapasan tidak lagi melalui lubang tersebut, akan tetapi melalui dua pipa yang baru terbentuk di bagian depan nyamuk muda. Tidak mengherankan jika dua pipa ini muncul ke permukaan air sebelum pergantian kulit terjadi (yakni sebelum nyamuk keluar meninggalkan kepompong). Nyamuk yang berada dalam kepompong kini telah menjadi dewasa dan siap untuk keluar dan terbang. Binatang ini telah dilengkapi dengan seluruh organ dan organelnya seperti antena, kaki, dada, sayap, abdomen dan matanya yang besar. Kemunculan nyamuk dari kepompong diawali dengan robeknya kulit kepompong di bagian atas. Resiko terbesar pada tahap ini adalah masuknya air ke dalam kepompong.Bagian atas kepompong yang sobek tersebut dilapisi oleh cairan kental khusus yang berfungsi melindungi kepala nyamuk yang baru &#8220;lahir&#8221; ini dari bersinggungan dengan air. Masa-masa ini sangatlah kritis. Sebab tiupan angin yang sangat lembut sekalipun dapat berakibatkan kematian jika nyamuk muda tersebut jatuh ke dalam air. Nyamuk muda ini harus keluar dari kepompongnya dan memanjat ke atas permukaan air dengan kaki-kakinya sekedar menyentuh permukaan air. (Anonim, 2010)</p>
<p><strong>C.    </strong><strong>Predasi dan Parasitoid</strong></p>
<p>Parasitoid dan predator merupakan agensia pengenedali hayati. Beberapa faktor yang mendukung efektivitas parasitoid dalam pengendalian hayati antara lain :</p>
<ul>
<li>Daya kelangsungan hidup yang baik.</li>
<li>Hanya satu atau sedikit individu inang yang diperlukan untuk melengkapi daur hidup.</li>
<li>Kemamuan dalam mencari inang (searching capacity)/</li>
<li>Sebagian besar parasitoid bersifat monofag atau oligifag, sehingga memiliki kisaran inang yang sempit.</li>
</ul>
<p>Namun dari beberapa faktor yang mendukung tersebut, predator memiliki kelemahan seperti berikut :</p>
<ul>
<li>Daya mencari inang sering dipengaruhi oleh keadaan cuaca atau faktor lain.</li>
<li>Parasitoid dengan daya cari tinggi umumnya jumlah telur yang dihasilkan rengah.</li>
<li>Parasitoid di alam mempunyai musih alami terutama hiperparasitoid.</li>
<li>Peran parasitisme didominsi oleh parasitoid dalam oviposisi betina untuk kelangsungan generasinya</li>
</ul>
<p>Predator mengembangkan mekanisme untuk meningkatkan efisiensinya untuk menemukan dan menangkap mangsa. Prey itu sendiri mengalami tekanan selektif yang kuat untuk mengurangi peluang dapat termakan. Sifat-sifat dasar untuk suksesnya pelarian prey tersebut yaitu kecepatan yang lebih besar dibandingkan predator, kemempuan untuk melakukan manufer terhadap predator, menghindar terhadap predator ketika sedang diburu dan lain sebagainya.</p>
<p>Predasi hanyalah satu dari beberapa kematian yang berpengaruh pada populasi prey dibawah kondisi alami. Beberapa akan tergantung pada kondisi fisik ligkungan, sedangkan yang lainnya misalnya dapat bergantung pada kompetisi dan interaksi biologis lainnya. Predasi dan kemampuan mengindar (akselerasi) dari predasi berpengaruh kuat terhadap perilaku hampir semua hewan. Aktivitas dan perilaku dari predator termasuk menangkap mangsa yang lalu lalang dengan menggunakan berbagai tehnik, bergantung pada spesies yang terkait seperti pengejaran,penyerangan, menjebak, dan berbagai trik-trik lainnya yang digunakan demi mendapatkan prey sebagai mangsanya. Dari sisi yang dimangsapun yakni prey, mempunyai berbagai karakteristik dan prilaku untuk mempertahankan dirinya dari keberadaan predator yang mengancam jiwanya seperti menghindar dan melarikan diri dari predator, sembunyi dan berkamuflase dan berbagai cara lainnya agar tidak diinginkan oleh predator, termasuk didalamnya segala bentuk adaptasi yang terjadi pada frey untuk mempertahankan hidupnya dari predator.</p>
<p>Kemungkinan prey dapat lolos dari predator merupakan teknik khusus yang nampaknya mempunyai konsekuensi ekologis. Teknik yang dipergunakan oleh prey untuk lari dari predator sangat tergantung pada jenis prilaku predator yang ada dalam interaksi itu. Terdapat 4 metode pokok mengenai larinya prey :</p>
<p>Lari berdasarkan jumlah atau waktu</p>
<p>Populasi prey mengurangi tekanan predator sehingga densitas predator tidak mungkin memberikan respon terhadap adanya prey yang secara periodik meninggi. Adaptasi yang dilakukan predator meliputi soal waktu yaitu peningkatan populasi predator seiring dengan peningkatan populasi prey. Populasi prey dapat melarikan diri dalam waktu, dengan cara bereproduksi cepat untuk mempertahankan populasi predator agar tidak menakan pertambahan prey tersebut. Prey berkembang biak lebih cepat dari predator khususnya pada saat musim pertumbuhan populasi keduanya terhambat. Cara lain untuk lolos berdasarkan jumlah ialah mengelompok bersama untuk mengurangi peluang bahwa suatu individu akan terambil. Pengelompokkan ini membuat kelompok menjadi menarik dibandingkan dengan individu tunggal. Berkelompok itu dapat meningkatkan upaya untuk menghindari predator dengan membuat pertahanan kelompok sehingga lebih efektif dengan pertahanan individu tunggal. Lokasi suatu individu dalam suatu kelompok sangat penting dalam kaitannya dengan peluang untuk tertangkap.</p>
<p>Bila diasumsikan bahwa predator umumnya akan menyerang individu yang terdekat sehingga yang tertangkap adalah individu pada kelompok perifer, jadi lebih menguntungkan bagi individu yang berada pada posisi sentral. Anggota-anggota kelompok yang lain dapat pula memberi peringatan pada temannya tentang adanya ancaman dari predator. Tanda peringatan itu umumnya tidaklah memberi informasi tentang lokasi atau identitas predator, tetapi hanyalah suatu peringatan tentang adanya predator. Bergerombol juga memungkinkan adanya keuntungan, yaitu yang disebut dengan efek konfusi (eibl-eibesfeldt, 1970), yaitu prey melakukan banyak pergerakan untuk mengacaukan konsentrasi predator, jadi mengurangi peluang keberhasilan penangkapan.</p>
<p>Lari dalam Ruang</p>
<p>Pelarian prey dalam ruang menyangkut baik evolusi mekanisme dispersal jangka panjang, lebih efisien dari predator dan kemampuan jangka pendek untuk lari dan bersembunyi menurunkan resiko predasi untuk sekurang-kurangnya suatu bagian dari populasi prey. Pelarian dalam ruang dimungkinkan apabila bagian dari habitat tidak secara efektif dieksploitasi oleh populasi predator.</p>
<p>Lari oleh Ukuran</p>
<p>Terdapat hubungan antara ukuran predator dengan ukuran rata-rata dan ukuran ekstrim dari prey yang dimangsa. Batas ukuran untuk predasi berhubungan dengan imbang-imbangan antara peluang untuk menangkap, potensi untuk melukai atau mematikan dari predator dan waktu yang relatif panjang untuk menangani prey. Prey juga memiliki waktu untuk siap ditangkap.</p>
<p>Lari Dengan Mekanisme Pertahanan Lain</p>
<p>Mekanisme lari dalam hal ini diantaranya meliputi mimikri, kamuflase dan kolorasi disruptif, pertahanan kimiawi dan banyak mekanisme lainnya, seperti kecepatan yang memungkinkan individu prey menghindar dari predator.<br />
Selain mekanisme diatas juga dikenal beberapa taktik lainnya. Perbedaan perkembangan taktik predator dalam mendapatkan prey sesuai atau mungkin dapat melampaui dari perbedaan taktik bertahan dan kebiasaan prey tersebut. Secara umum taktik anti predator dari prey dapat digambarkan sebagai berikut :<br />
Melarikan diri dengan berlari, berenang, atau terbang menjauh dari predator<br />
Cara ini merupakan salah satu taktik dasar dan sangat umum digunakan oleh prey. Tidak diragukan lagi bahwa setiap hewan memiliki ketangkasan dan kegesitan tersendiri. Pada beberapa species, prey yang benar-benar diincar mungkin akan pergi jauh atau akan memutar balik arah tujuan atau melompat atau mungkin pula terbang ke tempat lain, seperti menyelam ke dasar air atau memanjat pohon. (Afrizal, 2010)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>BAB III</strong></p>
<p align="center"><strong>MATERI DAN METODE</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>A.    </strong>Materi</p>
<ol>
<li><strong></strong>
<ol>
<li>Alat</li>
</ol>
</li>
</ol>
<ul>
<li>Container</li>
<li>Pipet larva</li>
<li>Pengukur waktu</li>
<li>Mistar</li>
<li>Aerator</li>
<li>Alat tulis untuk mencatat</li>
</ul>
<ol>
<li>Bahan</li>
</ol>
<ul>
<li>Ikan Sepat</li>
<li>Ikan Munjair</li>
<li>Larva nyamuk instar III dan IV</li>
<li>Air</li>
</ul>
<p><strong> </strong><strong>B.     </strong>Metode / cara kerja</p>
<ol>
<li><strong></strong>
<ol>
<li>Mempersiapkanseluruh alat dan bahan yang akan digunakan</li>
<li>Memasukkan air kedalam container tidak kurang dari 10 cm</li>
<li>Memilih ikan tertentu / beratnya ditimbang dan diukur panjangnya. Pilihlah 5 ekor ikan</li>
<li>Memasukkan ke container, aerator dihidupkan dan dibiarkan selama 30 menit tanpa diberi makan</li>
<li>Memasukkan larva sejumlah 25, catat waktu pada saat memasukkan larva</li>
<li>Mengamati dan menghitung larva yang tidak dimakan. Ikan setelah periode 10 menit, 30 menit, 1 jam, 24 jam, apabila larva habis sebelum waktu pengamatan, tambah 25 larva nyamuk lagi.</li>
<li>Mencatat hasil yang diperoleh.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p align="center"><strong>BAB IV</strong></p>
<p align="center"><strong>HASIL DAN PEMBAHASAN</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong> </strong><strong>A.    </strong><strong>HASIL</strong></p>
<p>Data pengamatan yang diperoleh:</p>
<p>Jenis ikan yang digunakan: ikan Sepat</p>
<p>Berat ikan: 0,5 gram</p>
<p>Panjang ikan: 9 cm</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="38">No</td>
<td valign="top" width="163">Periode</p>
<p>Pengamatan (menit)</td>
<td valign="top" width="149">Jml. Larva</p>
<p>diumpankan</td>
<td valign="top" width="151">Jml. Larva</p>
<p>dimakan</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">1.</td>
<td valign="top" width="163">0</td>
<td valign="top" width="149">5</td>
<td valign="top" width="151">-</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">2.</td>
<td valign="top" width="163">10</td>
<td valign="top" width="149">5</td>
<td valign="top" width="151">-</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">3.</td>
<td valign="top" width="163">20</td>
<td valign="top" width="149">5</td>
<td valign="top" width="151">-</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">4.</td>
<td valign="top" width="163">30</td>
<td valign="top" width="149">5</td>
<td valign="top" width="151">-</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">5.</td>
<td valign="top" width="163">60</td>
<td valign="top" width="149">5</td>
<td valign="top" width="151">-</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38">6.</td>
<td valign="top" width="163">24 jam</td>
<td valign="top" width="149">5</td>
<td valign="top" width="151">3</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="38"></td>
<td valign="top" width="163">Jumlah</td>
<td valign="top" width="149">U = 5</td>
<td valign="top" width="151">M = 3</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>(U-M)   =           5-2     = 0,6 larva per ekor</p>
<p>Interpretasi:     5             5</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong><strong>B.     </strong><strong>PEMBAHASAN</strong></p>
<p>Uji predasi merupakan salah satu bentuk pengendalian vektor secara biologis dengan cara memanfaatkan binatang predator untuk meprediksi besarnya kontribusi predator tertentu dalam pengendalian vektor. Uji predasi yang kami lakukan ini merupakan salah satu bentik pengendalian kepadatan nyamuk dengan cara memutus rantai perkembang biakan nyamuk. Dengan memanfaatkan ikan sepat dan ikan munjair sebagai predator atau pemakan jentik nyamuk.</p>
<p>Praktikum ini dilakukan dengan menggunakan ikan sepat berukuran berat 0,5 gram dan panjang 9 cm yang dimasukkan ke dalam container. Setelah ikan dimasukkan kemudian masukkan jentik nyamuk sebanyak 5 ekor dan mengamatinya selama 0, 10, 20, 30, 60 menit dan 24 jam. Jika dalam waktu pengamatan tersebut jentik yang diumpankan ke dalam kontainer telah habis maka ditambahkan lagi sebanyak 5 ekor.  Namun keadaan yang kami alami ternyata jentik itu tidak juga dimakan oleh ikan baik itu pada waktu 0 menit, 10 menit, 20, menit, 30 menit maupun 60 menit. Hal ini mungkin dikarenakan ikan dalam keadaan masih kaget karena baru dipindahkan dari kantong plastik ke container sehingga tidak mempunyai nafsu makan. Setelah kami diamkan selama 24 jam ternyata jentik itu baru dimakan sebanyak 3 ekor. Jadi setelah kami lakukan interpretaasi hasilnya yaitu 0,6 jentik per ekor yang artinya daya predasi yang dimiliki ikan sepat masih tergolong rendah. Ikan sepat memang jarang digunakan untuk pengendalian vektor nyamuk dibandingkan dengan ikan lainnya seperti  ikan cupang, ikan munjair dan ikan kepala timah. Salah satu faktor mengapa ikan sepat jarang digunakan mungkin karena daya predasinya masih cukup rendah.</p>
<p align="center"><strong>BAB V</strong></p>
<p align="center"><strong>PENUTUP</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong> </strong><strong>A.    </strong><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>Dari kegiatan praktikum yang telah kami lakukan dapat diambil kesimpulan bahwa kemampuan predasi ikan sepat terhadap jentik-jentik nyamuk hanya sebesar 0,6 jentik per ekor. Hal ini mungkin dikarenakan ikan masih dalam keadaan kaget karena baru dipindah dari kantong plastik ke container. Dengan demikian kemampuan predasi ikan sepat masih belum bisa dijadikan sebagai bentuk pengendalian vektor nyamuk secara biologis.</p>
<p><strong> </strong><strong>B.     </strong><strong>SARAN</strong></p>
<p>Karema kemampuan predasi ikan sepat masih cukup rendah untuk dijadikan bentuk pengendalian vektor secara biologis terhadap nyamuk maka sebaiknya jangan menggunakan ikan sepat. Gunakan ikan predator lain seperti ikan munjair, ikan cupang ataupun ikan kepala timah yang sering digunakan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evynurhidayah.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evynurhidayah.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evynurhidayah.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evynurhidayah.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/evynurhidayah.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/evynurhidayah.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/evynurhidayah.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/evynurhidayah.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evynurhidayah.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evynurhidayah.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evynurhidayah.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evynurhidayah.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evynurhidayah.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evynurhidayah.wordpress.com/58/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evynurhidayah.wordpress.com&amp;blog=31155626&amp;post=58&amp;subd=evynurhidayah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/06/uji-predasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f094908bcc9fc495933b50f9ae28a91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">evynurhidayah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Uji Bioassay</title>
		<link>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/06/uji-bioassay/</link>
		<comments>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/06/uji-bioassay/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 04:40:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evynurhidayah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tugas Kuliah Semester 3]]></category>
		<category><![CDATA[uji bioassay_pengendalian vektor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evynurhidayah.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN PRAKTIKUM PENGENDALIAN VEKTOR PENYAKIT BIOASSAY KONTAK BAB I PENDAHULUAN   Latar belakang Negara Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki masalah kesehatan yang masih cukup tinggi terutama masalah penyakit menular.  Keadaan transisi Epidemiologi yang ditandai dengan semakin berkembangnya penyakit degeneratif dan penyakit menular yang belum dapat diatasi sepenuhnya seperti malaria merupakan sebagian tantangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evynurhidayah.wordpress.com&amp;blog=31155626&amp;post=56&amp;subd=evynurhidayah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>LAPORAN PRAKTIKUM</strong></p>
<p align="center"><strong>PENGENDALIAN VEKTOR PENYAKIT</strong></p>
<p align="center"><strong>BIOASSAY KONTAK</strong></p>
<p align="center">
<p align="center"><strong>BAB I</strong></p>
<p align="center"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li>Latar belakang</li>
</ol>
<p>Negara Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki masalah kesehatan yang masih cukup tinggi terutama masalah penyakit menular.  Keadaan transisi Epidemiologi yang ditandai dengan semakin berkembangnya penyakit degeneratif dan penyakit menular yang belum dapat diatasi sepenuhnya seperti malaria merupakan sebagian tantangan kesehatan dimasa depan. Penyakit menular tersebut disebabkan oleh vektor penyakit. Tantangan lainya yang harus ditanggulangi antara lain adalah meningkatnya masalah kesehatan kerja, kesehatan lingkungan, dan perubahan dalam bidang kependudukan pendidikan, sosial budaya dan dampak globalisasi yang akan memberikan pengaruh terhadap perkembangan keadaan kesehatan masyarakat.</p>
<p>Terkait dengan masalah penyakit menular khususnya malaria yang disebabkan oleh vektor nyamuk perlu adanya tindakan penanganan yang tepat. Tindakan untuk memutus rantai penularan penyakit dan pemberantasan vektor sangatlah diperlukan. Tindakan pemberantasan vektor nyamuk dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti menggunakan insektisida. Untuk mengetahui kemampuan insektisida dalam membunuh vektor khususnya nyamuk dilakukan pengujian yang disebut uji bioassay. Oleh karena itu, kami melakukan praktikum bioassay untuk mengetahui cara pengujian yang benar dan tepat.</p>
<p>Tujuan</p>
<p>Adapun tujuan dari praktikum yang telah dilaksanakan yaitu untuk mengetahui daya bunuh insektisida.</p>
<p>Waktu dan Tempat</p>
<p>Praktikum dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 14 Desember 2011 pukul 10.10 WIB sampai selesai di Laboratorium Politeknik Banjarnegara.</p>
<p align="center"><strong>BAB II</strong></p>
<p align="center"><strong>TINJAUAN PUSTAKA</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Pengendalian vektor yaitu menerapkan bermacam 2 cara sehingga vektor tidak nenularkan penyakit dengan tidak menimbulkan kerusakan/gangguan terhadap lingkungan. pengendalian vektor yg tepat guna yaitu pengendalian secara tepat sasaran, tepat waktu, tepat insektisida, tepat cara, dan tepat dosis. Pengendalian hayati yaitu Ilmu terapan yang membicarakan pengendalian jasad pengganggu, menggunakan musuh-musuh alaminya baik sebagai predator, parasit maupun patogen. Bioinsektisida adalah Insektisida biologi yang dapat digunakan untuk mengendalikan jentik vektor secara hayati.</p>
<p>Uji Bioassay adalah suatu cara untuk mengukur efektivitas suatu insektisida terhadap vektor penyakit. Ada 3 jenis Uji Bioassay yaitu :</p>
<p>1. Uji bioassay kontak langsung (residu)</p>
<p>2. Uji bioassay kontak tidak langsung (air bioassay) (residu)</p>
<p>3. Uji bioassay untuk pengasapan (fogging/ULV)</p>
<p>Proses perkembangan nyamuk merupakan peristiwa yang paling menakjubkan. Di bawah ini uraian singkat tentang metamorfosis nyamuk dimulai dari larva mungil melalui sejumlah fase perkembangan yang berbeda hingga pada akhirnya menjadi nyamuk dewasa. Nyamuk betina menaruh telurnya, yang diberi makan berupa darah agar dapat tumbuh dan berkembang, pada dedaunan lembab atau kolam-kolam yang tak berair di musim panas atau gugur. Sebelumnya, nyamuk betina ini menjelajahi wilayah yang ada dengan sangat teliti menggunakan reseptornya yang sangat peka yang terletak pada perutnya. Setelah menemukan tempat yang cocok, nyamuk mulai meletakkan telur-telurnya. Telur yangpanjangnya kurang dari 1 mm ini diletakkan secara teratur hingga membentuk sebuah barisan teratur. Beberapa spesies nyamuk meletakkan telur-telurnya sedemikian hingga berbentuk seperti sebuah sampan. Beberapa koloni telur ini ada yang terdiri dari 300 buah telur. Telur-telur yang berwarna putih ini kemudian berubah warna menjadi semakin gelap, dan dalam beberapa jam menjadi hitam legam. Warna gelap ini berfungsi untuk melindungi telur-telur tersebut agar tidak terlihat oleh serangga maupun burung pemangsa. Sejumlah larva-larva yang lain juga berubah warna, menyesuaikan dengan warna tempat di mana mereka berada, hal ini berfungsi sebagai kamuflase agar tidak mudah terlihat oleh pemangsa. Larva-larva ini berubah warna melalui berbagai proses kimia yang terjadi pada tubuhnya. Tidak diragukan lagi bahwa telur, larva maupun nyamuk betina bukanlah yang menciptakan sendiri ataupun mengendalikan berbagai proses kimia yang mengakibatkan perubahan warna tersebut seiring dengan perjalanan metamorfosis nyamuk.</p>
<p>Ketika periode inkubasi telur telah berlalu, para larva lalu keluar dari telurtelur mereka dalam waktu yang hampir bersamaan. Larva (jentik nyamuk) yang makan terus-menerus ini tumbuh sangat cepat hingga pada akhirnya kulit pembungkus tubuhnya menjadi sangat ketat dan sempit. Hal ini tidak memungkinkan tubuhnya untuk tumbuh membesar lagi. Ini pertanda bahwa mereka harus mengganti kulit. Pada tahap ini, kulit yang keras dan rapuh ini dengan mudah pecah dan mengelupas. Para larva tersebut mengalami dua kali pergantian kulit sebelum menyelesaikan periode hidup mereka sebagai larva. Jentik nyamuk mendapatkan makanan dengan cara membuat pusaran air kecil dalam air dengan menggunakan bagian ujung dari tubuh yang ditumbuhi bulu sehingga mirip kipas. Kisaran air tersebut menyebabkan bakteri dan mikroorganisme lainnya tersedot dan masuk ke dalam mulut larva nyamuk. Proses pernapasan jentik nyamuk, yang posisinya terbalik di bawah permukaan air, terjadi melalui sebuah pipa udara yang mirip dengan &#8220;<em>snorkel</em>&#8221; (pipa saluran pernapasan) yang biasa digunakan oleh para penyelam. Tubuh jentik mengeluarkan cairan yang kental yang mampu mencegah air untuk memasuki lubang tempat berlangsungnya pernapasan. Sungguh, sistem pernapasan yang canggih ini tidak mungkin dibuat oleh jentik itu sendiri. Ini tidak lain adalah bukti ke-Mahakuasaan Allah dan kasih sayang-Nya pada makhluk yang mungil ini, agar dapat bernapas dengan mudah. Pada tahap larva (jentik), terjadi pergantian kulit sekali lagi. Pada tahap ini, larva tersebut berpindah menuju bagian akhir dari perkembangan mereka yakni tahap kepompong (<em>pupal stage</em>). Ketika kulit kepompong terasa sudah sempit dan ketat, ini pertanda bagi larva untuk keluar dari kepompongnya. Selama masa perubahan terakhir ini, larva nyamuk menghadapi tantangan yang membahayakan jiwanya, yakni masuknya air yang dapat menyumbat saluran pernapasan. Hal ini dikarenakan lubang pernapasannya, yang dihubungkan dengan pipa udara dan menyembul di atas permukaan air, akan segera ditutup. Jadi sejak penutupan ini, dan seterusnya, pernapasan tidak lagi melalui lubang tersebut, akan tetapi melalui dua pipa yang baru terbentuk di bagian depan nyamuk muda. Tidak mengherankan jika dua pipa ini muncul ke permukaan air sebelum pergantian kulit terjadi (yakni sebelum nyamuk keluar meninggalkan kepompong). Nyamuk yang berada dalam kepompong kini telah menjadi dewasa dan siap untuk keluar dan terbang. Binatang ini telah dilengkapi dengan seluruh organ dan organelnya seperti antena, kaki, dada, sayap, abdomen dan matanya yang besar. Kemunculan nyamuk dari kepompong diawali dengan robeknya kulit kepompong di bagian atas. Resiko terbesar pada tahap ini adalah masuknya air ke dalam kepompong.Bagian atas kepompong yang sobek tersebut dilapisi oleh cairan kental khusus yang berfungsi melindungi kepala nyamuk yang baru &#8220;lahir&#8221; ini dari bersinggungan dengan air. Masa-masa ini sangatlah kritis. Sebab tiupan angin yang sangat lembut sekalipun dapat berakibatkan kematian jika nyamuk muda tersebut jatuh ke dalam air. Nyamuk muda ini harus keluar dari kepompongnya dan memanjat ke atas permukaan air dengan kaki-kakinya sekedar menyentuh permukaan air.</p>
<p align="center"><strong>BAB III</strong></p>
<p align="center"><strong>MATERI DAN METODE</strong></p>
<p> Materi</p>
<ol>
<li>Alat</li>
</ol>
<ul>
<li>Aspirator</li>
<li>Kerucut Bio Assay / Bio Assay Cone / Comical</li>
<li>Alat untuk merekatkan dinding</li>
<li>Timer</li>
<li>Paper cup</li>
<li>Kapas</li>
<li>Alat tulis untuk mencatat</li>
</ul>
<p>Bahan</p>
<ul>
<li>Spesies nyamuk tertentu</li>
<li>Dinding yang telah disemprot insektisida yang bersifat residual</li>
</ul>
<p>Metode / cara kerja</p>
<ol>
<li>
<ol>
<li>Persiapkan seluruh alat dan bahan yang akan digunakan</li>
<li>Semprot dinding dengan insektisida</li>
<li>Tempelkan Bio Assay Cone</li>
<li>Masukkan nyamuk sebanyak 5 ekor</li>
<li>Biarkan kontak selama 1 jam</li>
<li>Pindahkan nyamuk yang masih hidup kedalam paper cup</li>
<li>Simpan selama 24 jam lalu amati kembali</li>
<li>Catat jumlah nyamuk yang mati</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p align="center">
<p align="center"><strong>BAB IV</strong></p>
<p align="center"><strong>HASIL DAN PEMBAHASAN</strong></p>
<p><strong>                                                                                          </strong></p>
<ol>
<li>HASIL</li>
</ol>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="161">
<p align="center">
</td>
<td width="85">
<p align="center"><strong>Waktu</strong></p>
</td>
<td width="94">
<p align="center"><strong>Jumlah nyamuk yang diuji</strong></p>
</td>
<td width="85">
<p align="center"><strong>Jumlah nyamuk mati</strong></p>
</td>
<td width="85">
<p align="center"><strong>% Kematian</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="161">
<ol>
<li><strong>1.    </strong><strong>Kontrol</strong></li>
</ol>
</td>
<td width="85">
<p align="center">15 menit</p>
</td>
<td width="94">
<p align="center">13 ekor</p>
</td>
<td width="85">
<p align="center">8 ekor</p>
</td>
<td width="85">
<p align="center">61,5 %</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="161"><strong> </strong></td>
<td width="85">
<p align="center">24 jam</p>
</td>
<td width="94">
<p align="center">13 ekor</p>
</td>
<td width="85">
<p align="center">10 ekor</p>
</td>
<td width="85">
<p align="center">76,9 %</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="161"><strong> </strong></td>
<td width="85">
<p align="center">
</td>
<td width="94">
<p align="center">
</td>
<td width="85">
<p align="center">
</td>
<td width="85">
<p align="center">
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="161">
<ol>
<li><strong>2.    </strong><strong>Uji bioassay</strong></li>
</ol>
</td>
<td width="85">
<p align="center">15 menit</p>
</td>
<td width="94">
<p align="center">13 ekor</p>
</td>
<td width="85">
<p align="center">6 ekor</p>
</td>
<td width="85">
<p align="center">46,1 %</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="161"><strong> </strong></td>
<td width="85">
<p align="center">24 jam</p>
</td>
<td width="94">
<p align="center">13 ekor</p>
</td>
<td width="85">
<p align="center">13 ekor</p>
</td>
<td width="85">
<p align="center">100 %</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="161"><strong> </strong></td>
<td width="85">
<p align="center">
</td>
<td width="94">
<p align="center">
</td>
<td width="85">
<p align="center">
</td>
<td width="85">
<p align="center">
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="161"><strong>Kematian rata-rata</strong></td>
<td width="85">
<p align="center">15 menit</p>
</td>
<td width="94">
<p align="center">-</p>
</td>
<td width="85">
<p align="center">-</p>
</td>
<td width="85">
<p align="center">53,8 %</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="161"><strong> </strong></td>
<td width="85">
<p align="center">24 jam</p>
</td>
<td width="94">
<p align="center">-</p>
</td>
<td width="85">
<p align="center">-</p>
</td>
<td width="85">
<p align="center">88,45 %</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<ol>
<li>PEMBAHASAN</li>
</ol>
<p>Dari hasil yang ada dapat dijelaskan bahwa pada saat praktikum dilakukan, jumlah nyamuk yang dimasukkan kedalam kerucut bioassay masing-masing adalah 13 ekor. Kerucut bioassay yang digunakan tersebut ada 2 macam, yang pertama digunakan sebagai uji bioassay dan yang satunya digunakan sebagai pembanding (kontrol). Seperti pengertian yang ada, Uji Bioassay adalah suatu cara untuk mengukur efektivitas suatu insektisida terhadap vektor penyakit sehingga pengujian tersebut dapat digunakan untuk mengetahui daya bunuh insektisida dan untuk mengetahui kualitas/cakupan penyemprotan yang dilakukan.</p>
<p>Pengujian pada kerucut bioassay dan kontrol masing-masing dalam waktu 15 menit dan kemudian diamati kembali setelah 24 jam (1 hari). seperti yang ada didalam tabel, nyamuk yang ada di dalam masing-masing kerucut baik dalam kerucut penguji maupun dalam kontrol setelah 15 menit terdapat hasil yang berbeda. Pada kerucut kontrol terdapat 8 nyamuk yang mati, sedangkan pada kerucut penguji terdapat 6 ekor yang mati. Hal tersebut menandakan terdapat selisih 2 ekor. Sedangkan pada saat pengamatan setelah 24 jam (1 hari), nyamuk yang ada didalam kerucut penguji telah mati semua, dan pada kerucut kontrol masih terdapat 10 nyamuk yang mati. Selisih yang ada adalah 3 ekor.</p>
<p>Dari cara perhitungan yang ada (jumlah nyamuk mati / jumlah nyamuk yang diuji x 100%), dapat diprosentasikan antara jumlah nyamuk yang diuji dan jumlah nyamuk yang mati setelah 15 menit dan setelah 24 jam (1 hari). Dapat dilihat bahwa prosentase di dalam kerucut kontrol waktu 15 menit adalah 61,5 % dan pada waktu 24 jam 76,9 % sedangkan pada kerucut penguji waktu 15 menit terdapat prosentase 46,1 % dan waktu 24 jam 100 %. Dari prosentase tersebut dapat dihitung pula kematian rata-rata yang dihitung dari prosentase kematian kontrol ditambah prosentase kematian uji bioassay dibagi 2. Hasil yang ada adalah 58,3 % untuk rata-rata kematian pada waktu 15 menit dan 88,45 % untuk rata-rata kematian pada waktu 24 jam. Dari hal tersebut dapat dijelaskan bahwa daya bunuh insektisida yang digunakan adalah baik.<strong></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB V</strong></p>
<p align="center"><strong>PENUTUP</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong> </strong>KESIMPULAN</p>
<p>Dari pembahasan yang ada dapat disimpulkan bahwa setelah praktikum dilaksanakan didapat beberapa angka yang setelah di dihitung dengan rumus yang telah ditentukan didapatkan hasil rata-rata kematian setelah 15 menit adalah 58,3 % dan rata-rata kematian pada waktu 24 jam adalah 88,45 %. sehingga dapat dikatakan bahwa daya bunuh insektisida yang digunakan adalah baik.</p>
<p>SARAN</p>
<p>Setelah kita mengetahui metode yang digunakan dalam uji bioassay yang memerlukan waktu cukup lama yaitu 24 jam (1 hari), maka dibutuhkan kesabaran yang lebih, sehingga pengujian benar-benar memperoleh hasil yang efektif. Oleh karena itu sebaiknya kita melaksanakan praktikum dengan baik dan teliti dalam menghitung dan mengamati nyamuk yang ada dalam kerucut bioassay tersebut agar kita dapat menyimpulkan baik tidaknya daya insektisida yang digunakan dengan benar.<strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<ul>
<li><a href="http://agus34drajat.files.wordpress.com/2011/03/laporan-praktek-di-b2p2vrp.pdf">http://agus34drajat.files.wordpress.com/2011/03/laporan-praktek-di-b2p2vrp.pdf</a>. Diakses tanggal 17 Desember 2011</li>
<li><a href="http://agus34drajat.files.wordpress.com/2011/03/bio-assay.pdf">http://agus34drajat.files.wordpress.com/2011/03/bio-assay.pdf</a>. Diakses tanggal 17 Desember 2011</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evynurhidayah.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evynurhidayah.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evynurhidayah.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evynurhidayah.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/evynurhidayah.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/evynurhidayah.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/evynurhidayah.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/evynurhidayah.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evynurhidayah.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evynurhidayah.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evynurhidayah.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evynurhidayah.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evynurhidayah.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evynurhidayah.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evynurhidayah.wordpress.com&amp;blog=31155626&amp;post=56&amp;subd=evynurhidayah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/06/uji-bioassay/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f094908bcc9fc495933b50f9ae28a91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">evynurhidayah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Trapping Tikus</title>
		<link>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/06/trapping-tikus/</link>
		<comments>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/06/trapping-tikus/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 04:34:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evynurhidayah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tugas Kuliah Semester 3]]></category>
		<category><![CDATA[trapping tikus_pengendalian vektor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evynurhidayah.wordpress.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN PRAKTIKUM PENGENDALIAN VEKTOR “TRAPPING TIKUS” BAB I PENDAHULUAN   A.    Latar belakang Vektor adalah anthropoda yang dapat menimbulkan dan menularkan suatuInfectious agent dari sumber Infeksi kepada induk semang yang rentan. Bagi duniakesehatn masyarakat, binatang yang termasuk kelompok vektor yang dapat merugikan kehidupan manusia karena disamping mengganggu secara langsung jugasebagai perantara penularan penyakit, seperti yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evynurhidayah.wordpress.com&amp;blog=31155626&amp;post=53&amp;subd=evynurhidayah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>LAPORAN PRAKTIKUM</strong></p>
<p align="center"><strong>PENGENDALIAN VEKTOR</strong></p>
<p align="center"><strong>“TRAPPING TIKUS”</strong></p>
<p align="center">
<p align="center"><strong>BAB I</strong></p>
<p align="center"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>A.    </strong><strong>Latar belakang</strong></p>
<p>Vektor adalah anthropoda yang dapat menimbulkan dan menularkan suatuInfectious agent dari sumber Infeksi kepada induk semang yang rentan. Bagi duniakesehatn masyarakat, binatang yang termasuk kelompok vektor yang dapat</p>
<p>merugikan kehidupan manusia karena disamping mengganggu secara langsung jugasebagai perantara penularan penyakit, seperti yang sudah diartikan diatas.Adapun dari penggolongan binatang ada dikenal dengan 10 golongan yangdinamakan phylum diantaranya ada 2 phylum sangat berpengaruh terhadapkesehatn manusia yaitu phylum anthropoda seperti nyamuk yang dapat bertindaksebagai perantara penularan penyakit malaria, demam berdarah, dan phylumchodata yaitu tikus sebagai pengganggu manusia, serta sekaligus sebagai tuanrumah (hospes), pinjal Xenopsylla cheopis yang menyebabkan penyakit pes.</p>
<p>Sebenarnya disamping nyamuk sebagai vektor dan tikus binatang pengganggu masihbanyak binatang lain yang berfungsi sebagai vektor dan binatang pengganggu. Tikus adalah <a title="Mamalia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mamalia">mamalia</a> yang termasuk dalam <a title="Familia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Familia">suku</a>Muridae. <a title="Spesies" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Spesies">Spesies</a> tikus yang paling dikenal adalah <a title="Mencit" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mencit">mencit</a> (Mus spp.), serta <a title="Tikus got" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tikus_got">tikus got</a> (Rattus norvegicus) yang ditemukan hampir di semua negara dan merupakan suatu <a title="Organisme model" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Organisme_model">organisme model</a> yang penting dalam <a title="Biologi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Biologi">biologi</a>, dan juga merupakan <a title="Hewan peliharaan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hewan_peliharaan">hewan peliharaan</a> yang populer.Vektor-vektor tersebut sangat berpengaruh sebagai penyebab kesehatanpada manusia, untuk itu keberadaan vektor dan binatang penggangu tersebut harusdi tanggulangi, karena kita tidak mungkin membasmi sampai keakar-akarnyamelainkan kita hanya mampu berusaha mengurangi atau menurunkan populasinyakesatu tingkat tertentu yang tidak mengganggu ataupun membahayakan kehidupanmanusia. Oleh karena itu untuk mencapai harapan tersebut perlu adanya suatumanagemen pengendalian dengan arti kegiatan-kegiatan/proses pelaksanaan yangbertujuan untuk menurunkan densitas populasi vektor pada tingkat yang tidakmembahayakan.<strong></strong></p>
<p><strong>B.     </strong><strong>Tujuan</strong></p>
<p>Adapun tujuan dari praktikum yang telah kami lakukan yaitu:</p>
<ol>
<li>Untuk mengetahui cara identifikasi tikus</li>
<li>Untuk mengetahui cara identifikasi pinjal pada tikus</li>
<li>Untuk mengetahui cara penangkapan atau pengendalian vektor tikus</li>
</ol>
<p><strong></strong></p>
<p><strong>C.    </strong><strong>Waktu dan Tempat</strong></p>
<p>Praktikum dilakukan pada hari Rabu, tanggal 23 November 2011 di Laboratorium Politeknik Banjarnegara pukul 10.00 WIB.</p>
<p align="center">
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB II</strong></p>
<p align="center"><strong>TINJAUAN PUSTAKA</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>A.    </strong><strong>Pengenalan Tikus</strong></p>
<p>Tikus merupakan binatang pengerat yang sudahmenjadi musuh masyarakat karena sebagai faktor penyakitdan identik dengan image kotor. Selain itu tikus seringmerusak property rumah kita karena sifat pengeratnya danmenjadi musuh para petani karena sering merusak tanaman/sawah mereka. Berbagai tindakan sering kita lakukan untukmembasmi tikus ini seperti dengan jebakan, lem ataupundengan racun.</p>
<p>Tikus adalah <a title="Mamalia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mamalia">mamalia</a> yang termasuk dalam <a title="Familia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Familia">suku</a> Muridae. <a title="Spesies" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Spesies">Spesies</a> tikus yang paling dikenal adalah <a title="Mencit" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mencit">mencit</a> (Mus spp.) serta <a title="Tikus got" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tikus_got">tikus got</a> (Rattus norvegicus) yang ditemukan hampir di semua negara dan merupakan suatu <a title="Organisme model" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Organisme_model">organisme model</a> yang penting dalam <a title="Biologi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Biologi">biologi</a>. (Wikipedia, 2010)</p>
<p>Klasifikasi Tikus</p>
<ul>
<li>Dunia : Animalia</li>
<li>Filum : Chordata</li>
<li>Sub Filum : Vertebrata</li>
<li>Kelas : Mammalia</li>
<li>Subklas : Theria</li>
<li>Ordo : Rodentia</li>
<li>Sub ordo : Myomorpha</li>
<li>Famili : Muridae</li>
<li>Sub famili : Murinae</li>
<li>Genus : Bandicota, Rattus, dan Mus</li>
</ul>
<p>Insect dan rodent, baik disadari atau tidak, kenyataanya telah menjadi saingan bagi manusia. Lebih dari itu insect dan rodent, pada dasarnya dapat mempengaruhi bahkan mengganggu kehidupan manusia dengan berbagai cara. Dalam hal jumlah kehidupan yang terlibat dalm gangguan tersebut, erat kaitanya dengan kejadian/penularan penyakit.hal demikian dapat dilihat dari pola penularan penyakit pest yang melibatkan empat faktor kehidupan, yakni Manusia, pinjal, kuman dan tikus. Beranjak dari pola tersebut, upaya untuk mempelajari kehidupan tikus menjadi sangat relefan. Salah satunya adalah mengetahui jenis atau spesies tikus yang ada, melalui identifikasi maupun deskripsi.</p>
<p>Untuk keperluan ini dibutuhkan kunci identifikasi tikus atau tabel deskripsi tikus, yang memuat ciri–ciri morfologi masing – masimg jenis tikus. Ciri–ciri morfologi tikus yang lazim dipakai untuk keperluan tersebut di antaranya adalah : berat badan ( BB ), panjang kepala ditambah badan (H&amp;B), ekor (T), cakar (HF), telinga (E), tengkorak (SK) dan susunan susu (M). Disamping itu, lazim pula untuk diketahui bentuk moncong, warna bulu, macam bulu ekor, kulit ekor, gigi dan lain-lain. Insect atau ektoparasit yang menginfestasi tikus penting untuk diketahui, berkaitan dengan penentuan jenis vektor yang berperan dalam penularan penyakit yang tergolong rat borne deseases.</p>
<p><strong>B.     </strong><strong>Makanan Tikus</strong><strong></strong></p>
<p>Tikus merupakan hewan yang mempunyai preferensi makanan yang banyak, baik yang berasal dari tumbuhan maupun dari hewan. Walaupun demikian biji-bijian seperti gabah, beras dan jagung tampaknya lebih disukai daripada yang lain. Seekor tikus dapat merusak 283 bibit padi per hariatau 103 batang padi bunting per hari. Setelah itu, tikus juga menyukai umbi-umbian serperti ubi jalar dan ubi kayu.Makanan yang berasal dari hewan terutama adalah serangga dan hewan-hewan kecil lainnya. Makanan dari hewan ini merupakan sumber untuk pertumbuhan dan untuk memperbaiki bagian-bagian tubuh yang rusak, sedangkan makanan yang berasal dari tumbuhan dimanfaatkan sebagai sumber tenaga.Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa kebutuhan makanan seekor tikus setiap hari kira-kira 10% dari bobot tubuhnya, tergantung dari kandungan air dan gizi dalam makanannya.Tikus merupakan hewan yang aktif pada maam hari sehingga sebagian besar aktivitas makannya dilakukan pada malam hari.Tikus memiliki sifat “neo-fobia”, yaitu takut atau mudah curiga terhadap benda-benda yang baru ditemuinya. Dengan adanya sifat tikus yang demikian, maka makanan akan dimakan adalah makanan yang sudah biasa ditemui. Dia akan mencicipi dulu makanan yang baru ditemuinya. Hal ini dapat mempengaruhi keberhasilan pengendalian secara kimia dengan menggunakan umpan beracun, sehingga harus diusahakan agar umpan yang digunakan adalah umpan yang disukai oleh tikus dan tempat umpanyang digunakan adalah benda-benda alami yamg banyak terdapat di alam. Dan bila makanan yang dimakan tersebut membuat keracunan dengan cepat maka dia akan mengeluarkan suara kesakitan dan tanda bahaya kepada teman-temannya. maka dari itu untuk penggunaan pestida kimia sebaiknya digunakan pestisida yang membunuh secara perlahan, dimana tikus tersebut akan mati dalam beberapa hari, sehingga tikus tersebut tidak merasa kapok dan tidak akan tahu kalau makanan yang dimakannya ternyata beracun. Dalam mencari makanan, tikus selalu pergi dan kembali melalui jalan yang sama, sehingga lama-lama terbentuk jalan tikus. Hal ini disebabkan tikus akan merasa aman untuk melewati jalan yang sama, daripada setiap saat harus membuat jalan baru. Jalan yang sama dapat ditandai dengan gesekan benda-benda di sekitar jalan tersebut dengan misainya, dan juga karena adanya air seni yang dikeluarkan pada jalan tersebut yang dapat diciuminya.<strong></strong></p>
<p><strong>C.    </strong>Indera Pada Tikus</p>
<ol>
<li><strong></strong>
<ol>
<li>Indera Penglihatan Tikus<strong></strong></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Dilihat dari pengelihatannya menurut para ahli konon tikus ternyata  tikus mempunyai pengelihatan yang jelek, yaitu ternyata tikus adalah hewan yang buta warna, artinya ia hanya dapat melihat benda-benda berwarna hitam dan putih. Akan tetapi, tikus tampaknya tertarik pada warna-warna hijau, kuning dan hitam. Warna hijau dan kuning diduga merupakan warna daun dan malai tanaman padi yang merupakan makanan utamanya di lapang. Sedangkan warna hitam merupakan warna gelap yang terlihat pada malam hari. Kemampuan tikus dalam melihat benda-benda yang ada di depannya dapat mencapai 10 meter<strong></strong></p>
<ol>
<li>Indera Penciuman Tikus</li>
</ol>
<p>Organ penciuman tikus sangat baik, terutama untuk mencium bau makanannya. Tikus jantan dapat mencium bau tikus betina yang sedang birahi untuk dikawininya.Tikus betina dapat mencium bau anaknya yang keluar dari sarang berdasarkan air seni yang dikeluarkan oleh anaknya.</p>
<ol>
<li>Indera Pendengaran Tikus</li>
</ol>
<p>Pendengaran tikus sangat baik. Tikus dapat mendengar suara-suara dengan frekuensi tinggi, yang tidak dapat didengar oleh manusia. Berdasarkan suara-suara yang dikeluarkan oleh tikus, dapat dibagi menjadi beberapa suara, yaitu :</p>
<ul>
<li>Suara-suara pada saat akan melakukan perkawinan</li>
<li>Suara-suara menandakan adanya bahaya</li>
<li>Suara-suara pada saat menemukan makanan</li>
<li>Suara-suara pada saat tikus mengalami kesakitan</li>
</ul>
<p><strong>D.    </strong><strong>Sarang</strong></p>
<p>Sarang yang dibuat biasanya mempunyai lebih dari satu pintu, pintu utama untuk jalan keluar dan masuk setiap hari, pintu darurat yang digunakan dalam keadaan yang membahayakan, misalnya pada saat dikerjar oleh predator ataupun pada saat dilakukan gropyokan, dan pintu yang menuju ke sumber air sebagai minumnya. Pintu darurat ini disamarkan dengan cara ditutupi dengan daun-daunan.Selain itu, sarang tikus juga terdiri dari lorong yang berkelok-kelok; semakin banyak anggota keluarga tikus, semakin panjang lorong yang dib Sarang tikus juga dilengkapi dengan ruangan/kamar yang difungsikan untuk beranak dan kamar sebagai gudang tempat meyimpan bahan makanan.</p>
<p><strong>E.     </strong><strong>Perkembangbiakan</strong></p>
<p>Tikus berkembang biak dengan sangat cepat, tikus menjadi dewasa dalam arti dapat kawin mulai umur 3 bulan, masa bunting tikus betina sangat singkat, kira-kira 3 minggu. Jumlah anak yang dihasilkan setiap kelahiran berkisar antara 4 – 12 ekor (rata-rata 6 ekor) tergantung dari jenis dan keadaan makanan di lapangan. Dan setelah 2-3 hari setelah melahirkan tikus-tikus tersebut sudah siap kawin lagi.</p>
<p><strong>F.     </strong><strong>Pengendalian</strong></p>
<p>Pengendalian yang paling sering kita gunakan biasanya menggunakan metode gropyokan atau dengan memasang umpan, namun yang palig tepat dilakukan adalah pengendalian terpadu.</p>
<p>Kalau kita menggunakan umpan beracun ada  baiknya kita menggunakan umpan yang tidak langsung membunuh dengan cepat, gunakanlah rodentisida yang membunuh secara perlahan misal Klerat dan ratikus, karena seperti yang saya bicarakan diatas tikus bila makan makanan yang beracun cepat reaksi kematiannya, maka dia akan memberi sinyal suara kesakitan dan tanda bahaya kepada temannya , sehingga teman-temannya akan waspada terhadap makanan baru, dan tidak mau makan terhadap umpan yang kita berikan.</p>
<p>Pemberian umpan tersebut sebaiknya jangan disentuh dengan tangan sebab indra penciuman tikus sangat tajam terhadap bau yang baru dan aneh termasuk bau manusia.Lakukan pada saat paceklik pangan bagi tikus yaitu saat lahan bera (tidak ditanami) sampai pada saat menjelang produksi pangan (bila pada padi menjelang bunting).</p>
<p><strong>G.    </strong>Jenis-jenis tikus antara lain:</p>
<ol>
<li><strong></strong>
<ol>
<li><a title="Mencit" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mencit">Mencit</a> (Mus sp.)</li>
<li><a title="Tikus rumah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tikus_rumah">Tikus rumah</a> (Rattus rattus)</li>
<li><a title="Tikus got" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tikus_got">Tikus got</a> (Rattus norvegicus)</li>
<li><a title="Tikus sawah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tikus_sawah">Tikus sawah</a> (Rattus argentiventer)</li>
<li><a title="Wirok (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Wirok&amp;action=edit&amp;redlink=1">Wirok</a> (Bandicota sp.)</li>
<li>Tikus Pohon (Rattus Tiomanicus)</li>
<li>Mencit Rumah (Mus-musculus)</li>
<li>Mencit Ladang (Mus-Caroli)</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><a title="Celurut" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Celurut">Celurut</a> (shrew), yang sering disebut sebagai &#8220;tikus&#8221;, sesungguhnya bukanlah termasuk golongan hewan pengerat, melainkan hewan pemangsa serangga (<a title="Insectivora (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Insectivora&amp;action=edit&amp;redlink=1">Insectivora</a>).Tikus rumah (Rattus rattus) adalah <a title="Hewan pengerat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hewan_pengerat">hewan pengerat</a> biasa yang mudah dijumpai di rumah-rumah dengan ekor yang panjang dan pandai memanjat serta melompat. Hewan ini termasuk dalam subsuku Murinae dan berasal dari <a title="Asia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Asia">Asia</a>. Namun demikian, ia lalu menyebar ke Eropa melalui perdagangan sejak awal penanggalan modern dan betul-betul menyebar pada abad ke-6. Selanjutnya ia menyebar ke seluruh penjuru dunia. Tikus rumah pada masa kini cenderung tersebar di daerah yang lebih hangat karena di daerah dingin kalah bersaing dengan <a title="Tikus got" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tikus_got">tikus got</a>.</p>
<p>Tidak seperti saingannya, tikus got, tikus rumah adalah perenang yang buruk dan bangkainya sering ditemukan di sumur-sumur. Namun demikian, ia lebih gesit dan pemanjat ulung, bahkan berani &#8220;terbang&#8221;. Warnanya biasanya hitam atau coklat terang, meskipun sekarang ada yang dibiakkan dengan warna putih atau loreng. Ukurannya biasanya 15-20 cm dengan ekor ± 20cm. Hewan ini <a title="Nokturnal" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nokturnal">nokturnal</a> dan pemakan segala, namun menyukai bulir-bulir. Betinanya mampu beranak kapan saja, dengan anak 3-10 ekor/kelahiran. Umurnya mencapai 2-3 tahun dan menyukai hidup berkelompok.<strong></strong></p>
<p><strong>H.    </strong>Jumlahkelahiran tikus dapat dipengaruhi oleh:</p>
<ol>
<li><strong></strong>
<ol>
<li>Kondisi Iklim</li>
<li>Pakan yang terlimpah</li>
<li>Tempat tinggal yang aman</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><strong>I.       </strong><strong>Tanda-tanda kehidupan tikus</strong></p>
<p>Ada tidaknya tikus dapat dilihat dari:</p>
<ol>
<li>Bekas gigitan</li>
<li>Alur jalan</li>
<li>Bekas kaki</li>
<li>Kubang terowongan</li>
<li>Kotoran</li>
<li>Bekas telapak</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB III</strong></p>
<p align="center"><strong>MATERI DAN METODE</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>A.    </strong>Alat dan Bahan</p>
<ol>
<li>Alat</li>
</ol>
<ul>
<li>Kunci identifikasi</li>
<li>Rat Trap</li>
<li>Mistar</li>
<li>Kantong Plastik Vol. 50 kg</li>
<li>Sisir tikus</li>
<li>Alat tulis</li>
<li>Sarung tangan</li>
<li>Kapas</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Bahan</li>
</ol>
<ul>
<li>Umpan tikus</li>
<li>Tikus hidup</li>
<li>Kloroform</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>B.     </strong>Metode / Cara Kerja</p>
<ol>
<li><strong></strong>Pre Bitting</li>
</ol>
<ul>
<li>Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan</li>
<li>Memasang berbagai makanan ditempat yang akan dipasang perangkap tikus</li>
<li>Membiarkan selama sehari semalam</li>
<li>Mengamati jenis makanan yang disukai tikus</li>
<li>Mengulangi sampai diperoleh data yang meyakinkan</li>
<li>Menginterpretasi data yang ada = makanan yang paling banyak dimakan adalah makanan yang disukai dan digunakan sebagai umpan.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Trapping</li>
</ol>
<ul>
<li>Menyiapkan seluruh alat dan bahan yang akan digunakan</li>
<li>Mencuci semua perangkap kemudian direndam dalam air panas untuk menghilangkan jejak atau bau khas tikus</li>
<li>Menggunakan perangkap cage trap</li>
<li>Memasang perangkap dengan umpan sesuai hasil pre bitting waktu pemasangan sore hari</li>
<li>Perangkap yang ada tikusnya dibawa ke laboratorium untuk diidentifikasi lebih lanjut.</li>
</ul>
<ol>
<li>Identifikasi</li>
</ol>
<ul>
<li>Menyiapkan seluruh alat dan bahan yang akan digunakan</li>
<li>Memasukkan perangkap yang ada tikusnya kedalam kantong plastik</li>
<li>Mengambil kloroform dengan kapas dan memasukkannya kedalam kantong plastik</li>
<li>Kantong plastik diikat dengan rapat</li>
<li>Mendiamkan beberapa saat, hingga tikus mati kemudian kantong dibuka</li>
<li>Melakukan penyisiran terhadap tikus untuk mendapat ektoparasit</li>
<li>Melakukan identifikasi dan pengukuran baik berat badan, panjang ekor, dan lain-lain sesuai ketentuan yang ada.</li>
<li>Jika terdapat ektoparasit, ektoparasit tersebut dimasukkan kedalam botol yang telah diberi bahan pengawet.</li>
</ul>
<p align="center">
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB IV</strong></p>
<p align="center"><strong>HASIL DAN PEMBAHASAN</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>A.    </strong><strong>HASIL</strong></p>
<p>Hasil Pre bitting</p>
<p>Daftar jenis umpan yang banyak dimakan</p>
<p>Tanggal           :19 November 2011</p>
<p>Lokasi             : LKP PIKOM BANJARNEGARA</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="47">
<p align="center">No</p>
</td>
<td rowspan="2" width="95">
<p align="center">Jenis Umpan</p>
</td>
<td colspan="3" width="255">
<p align="center">Lokasi Umpan</p>
</td>
<td rowspan="2" width="89">
<p align="center">Jumlah</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="80">
<p align="center">1</p>
</td>
<td width="85">
<p align="center">2</p>
</td>
<td width="90">
<p align="center">3</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="47">1</td>
<td valign="top" width="95">Ketan</td>
<td valign="top" width="80">Bwh.meja</td>
<td valign="top" width="85">Samping almari</td>
<td valign="top" width="90">gudang</td>
<td valign="top" width="89">1</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="47">2</td>
<td valign="top" width="95">Kelapa</td>
<td valign="top" width="80">Bwh.meja</td>
<td valign="top" width="85">Bwh.rak piring</td>
<td valign="top" width="90">gudang</td>
<td valign="top" width="89">1</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="47">3</td>
<td valign="top" width="95">Ikan asin</td>
<td valign="top" width="80">Bwh.rak piring</td>
<td valign="top" width="85">gudang</td>
<td valign="top" width="90"> Bwh.meja</td>
<td valign="top" width="89">0</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Hasil Trapping</p>
<p>Daftar hasil penangkapan tikus</p>
<p>Tanggal           : 21 November 2011</p>
<p>Lokasi             : LKP PIKOM BANJARNEGARA</p>
<p>&nbsp;</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="47">
<p align="center">No</p>
</td>
<td rowspan="2" width="161">
<p align="center">Lokasi Penangkapan</p>
</td>
<td colspan="2" width="113">
<p align="center">Ada tikus</p>
</td>
<td rowspan="2" width="142">
<p align="center">Keterangan</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="57">
<p align="center">ya</p>
</td>
<td width="57">
<p align="center">tidak</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="47">
<p align="center">1</p>
</td>
<td width="161">Bawah meja</td>
<td width="57">
<p align="center">ü</p>
</td>
<td width="57">
<p align="center">-</p>
</td>
<td width="142">
<p align="center">Malam hari</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="47">
<p align="center">2</p>
</td>
<td width="161">Gudang</td>
<td width="57">
<p align="center">ü</p>
</td>
<td width="57">
<p align="center">-</p>
</td>
<td width="142">
<p align="center">Malam hari</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="47">
<p align="center">3</p>
</td>
<td width="161">Samping almari</td>
<td width="57">
<p align="center">-</p>
</td>
<td width="57">
<p align="center">ü</p>
</td>
<td width="142">
<p align="center">-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="47">
<p align="center">4</p>
</td>
<td width="161">Bawah rak piring</td>
<td width="57">
<p align="center">-</p>
</td>
<td width="57">
<p align="center">ü</p>
</td>
<td width="142">
<p align="center">-</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jumlah             : 2</p>
<p>Prosentase       : 50%</p>
<p>Hasil identifikasi tikus dan ektoparasit</p>
<p>Tanggal           : 23 November 2011</p>
<p>Lokasi             : Laboratorium Politeknik Banjarnegara</p>
<p>&nbsp;</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="167">No</td>
<td width="142">
<p align="center">1</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">Lokasi</td>
<td width="142">
<p align="center">Laboratorium</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">Sex</td>
<td width="142">
<p align="center">-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">Warna Bulu Punggung</td>
<td width="142">
<p align="center">Coklat Tua</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">Warna Bulu Dada</td>
<td width="142">
<p align="center">Coklat Muda</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">BB</td>
<td width="142">
<p align="center">0,5 gram</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">T</td>
<td width="142">
<p align="center">11 cm</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">E</td>
<td width="142">
<p align="center">1,5 cm</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">HF</td>
<td width="142">
<p align="center">2,5 cm</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">SK</td>
<td width="142">
<p align="center">3 cm</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">M</td>
<td width="142">
<p align="center">-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">HB</td>
<td width="142">
<p align="center">9,5 cm</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">Ektoparasit</td>
<td width="142">
<p align="center">-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">Spesies</td>
<td width="142">
<p align="center">Rattus Tanezumi</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="167">No</td>
<td width="132">
<p align="center">2</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">Lokasi</td>
<td width="132">
<p align="center">Laboratorium</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">Sex</td>
<td width="132">
<p align="center">-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">Warna Bulu Punggung</td>
<td width="132">
<p align="center">Coklat Tua</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">Warna Bulu Dada</td>
<td width="132">
<p align="center">Coklat Muda</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">BB</td>
<td width="132">
<p align="center">0,5 gram</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">T</td>
<td width="132">
<p align="center">11,5 cm</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">E</td>
<td width="132">
<p align="center">1,3 cm</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">HF</td>
<td width="132">
<p align="center">2,5 cm</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">SK</td>
<td width="132">
<p align="center">3,2 cm</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">M</td>
<td width="132">
<p align="center">-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">HB</td>
<td width="132">
<p align="center">10,5 cm</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">Ektoparasit</td>
<td width="132">
<p align="center">-</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="167">Spesies</td>
<td width="132">
<p align="center">Rattus Tanezumi</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>B.     </strong><strong>PEMBAHASAN</strong></p>
<p>Dari table diatas dapat dijelaskan bahwa sebelum dilakukannya praktikum identifikasi tikus dan ektoparasit dilakukan terlebih dahulu praktikum pre bitting dan trapping. Pada praktikum pre bitting kami menggunakan tiga jenis umpan yang berbeda yaitu ketan, kelapa dan ikan asin. Masing-masing umpan tersebut diletakkan pada lokasi yang berbeda pula. Lokasi yang kami pilih ada empat yaitu di bawah meja, bawah rak piring, samping almari dan di gudang.</p>
<p>Setelah satu hari satu malam umpan tersebut diletakkan di lokasi yang telah kami tentukan kami mendapat dua ekor tikus dari umpan dan tempat yang berbeda pula. Tikus yang pertama kami dapatkan di bawah meja dengan ketan sebagai umpannya sedangkan tikus yang kedua kami dapatkan di dalam gudang dengan kelapa sebagai umpannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa makanan yang paling disukai tikus adalah ketan dan kelapa. Kedua tikus tersebut kami dapatkan pada malam hari. Hal ini menandakan bahwa tikus merupakan hewan yang aktif mencari makan pada waktu malam hari atau disebut juga dengan hewan nocturnal.</p>
<p>Setelah dilakukan praktikum pre bitting dan trapping selanjutnya dilakukan identifikasi tikus dan ektoparasitnya. Praktikum dilakukan dengan mengukur berat badan, panjang kepala, panjang ekor, panjang telinga, panjang cakar, panjang tengkorak, serta mengidentifikasi warna bulu punggung, warna bulu dada, jenis kelamin, susunan susu, spesies, dan ada tidaknya ektoparasit. Hasil pengukuran dan identifikasi dapat dilihat pada table yang hasilnya kedua tikus yang telah kami identifikasi tidak ada yang terdapat ektoparasitnya. Kedua tikus tersebut memiliki warna bulu punggung yang sama yaitu coklat tua dan warna bulu dada yang sama pula yaitu coklat muda. Dan keduanya merupakan spesies Rattus Tanezumi. Rattus Tanezumi atau biasa dikenal dengan tikus rumah merupakan tikus yang sering dijumpai di kehidupan sehari-hari. Tikus ini sering menghabiskan waktunya pada malam hari di dapur untuk mencari bahan-bahanh makanan tertentu. Keberadaan tikus ini sangat mengganggu karena dapat merusak apa saja yang mereka temukan di dapur.</p>
<p>Tikus sebagai binatang kosmopolitan dan dikenal sebagai hama tanaman pertanian, perusak barang di gudang dan hewan penggangu menjijikkan di perumahan. Belum banyak diketahui dan disadari bahwa kelompok hewan ini juga membawa, menyebarkan dan menularkan berbagai penyakit kepada manusia, ternak dan hewan peliharaan. Berbagai hal yang mempengaruhi pola distribusi penyakit (bersumber tikus) dan timbulnya penyakit menular adalah perubahan ekosistem akibat penebangan hutan, pembangunan bendungan, pengeringan, perencanaan irigasi pertanian, dan perubahan iklim. Rodensia komensal yaitu rodensia yang hidup di dekat tempat hidup atau kegiatan manusia ini perlu lebih diperhatikan dalam penularan penyakit. Penyakit bersumber rodensia yang disebabkan oleh berbagai agen penyakit seperti virus, rickettsia, bakteri, protozoa dan cacing dapat ditularkan kepada manusia secara langsung, melalui feses, urin dan ludah atau gigitan rodensia dan tidak langsung, melalui gigitan vektor ektoparasit tikus (kutu, pinjal, caplak, tungau). Dengan adanya dampak tersebut maka perlu adanya penanggulangan/pengendalian tikus. Yang mungkin dapat dilakukan adalah usaha untuk mengurangi dan menurunkan populasi satu tingkat yang tidak membahayakan kehidupan manusia.</p>
<p align="center">
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB V</strong></p>
<p align="center"><strong>PENUTUP</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>A.    </strong><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>Dari kegiatan praktikum yang telah kami lakukan dapat diambil kesimpulan diantaranya yaitu:</p>
<ol>
<li>Untuk memgidentifikasi tikus bagian-bagian yang harus diamati diantaranya yaitu bagian kepala, ekor, kaki, perut dan ektoparasitnya.</li>
<li>Makanan yang disukai tikus adalah ketan dan kelapa. Tikus merupakan hewan nocturnal (aktif mencari makan pada malam hari)</li>
<li>Pengendalian tikus dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu fisik, mekanis, kimia dan biologis, salah satu cara pengendalian yang sering dilakukan yaitu dengan pemasangan trapping tikus. Tempat trapping yang kemungkinan dapat ditemukan tikus yaitu di gudang dan dibawah meja</li>
</ol>
<p><strong>B.     </strong><strong>SARAN</strong></p>
<p>Tikus merupakan salah satu vector penyakit yang merugikan manusia. Oleh karena itu diperlukan adanya tindakan pengendalian agar masalah yang ditimbulkan oleh adanya tikus dapat diminimalisir terutama masalah yang beerkaitan kesehatan.</p>
<p align="center"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tikus">http://id.wikipedia.org/wiki/Tikus</a>. Diakses tanggal 25 November 2011</li>
<li><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tikus_rumah">http://id.wikipedia.org/wiki/Tikus_rumah</a>. Diakses tanggal 25 November 2011</li>
<li>agus34drajat.files.wordpress.com/2011/03/laporan-identifikasi-tikus.pdf. Diakses tanggal 26 November 2011</li>
<li>http://www.google.co.id/url?sa=t&amp;rct=j&amp;q=identifikasi%20tikus&amp;source=web&amp;cd=3&amp;ved=0CC8QFjAC&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.depkes.go.id%2Fdownloads%2FPengendalian%2520Tikus.pdf&amp;ei=-ZfUTozbCoTprAei-N3BDg&amp;usg=AFQjCNFJvr7s0D1l7dZQcEYXkSvSqtYFHw&amp;cad=rja. Diakses tanggal 26 November 2011</li>
<li><a href="http://www.scribd.com/doc/24642380/identifikasi-tikus">http://www.scribd.com/doc/24642380/identifikasi-tikus</a>. Diakses tanggal 26 November 2011</li>
<li><a href="http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/03/02/hama-tikus-dan-pengendaliannya/">http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/03/02/hama-tikus-dan-pengendaliannya/</a>. Diakses tanggal 26 November 2011</li>
<li><a href="http://sayno2-rayap.blogspot.com/2008/08/ciri-ciri-tikus-masalah-dan.html">http://sayno2-rayap.blogspot.com/2008/08/ciri-ciri-tikus-masalah-dan.html</a>. Diakses tanggal 27 November 2011</li>
<li><a href="http://www.scribd.com/doc/62057837/TIKUS-Hewan-Pengerat">http://www.scribd.com/doc/62057837/TIKUS-Hewan-Pengerat</a>. Diakses tanggal 27 November 2011</li>
<li><a href="http://nasikucing.com/archive/index.php/thread-2709.html">http://nasikucing.com/archive/index.php/thread-2709.html</a>. Diakses tanggal 27 November 2011</li>
<li><a href="http://archive.kaskus.us/thread/6436286">http://archive.kaskus.us/thread/6436286</a>. Diakses tanggal 27 November 2011</li>
<li><a href="http://www.google.co.id/url?sa=t&amp;rct=j&amp;q=karakteristik%20tikus%20rumah&amp;source=web&amp;cd=8&amp;ved=0CEsQFjAH&amp;url=http%3A%2F%2Fagus34drajat.files.wordpress.com%2F2011%2F03%2Fpelatihan-modul-tikus-1.ppt&amp;ei=CKPUTqTaNcHMrQfwrdWeDg&amp;usg=AFQjCNGuyNhkLUipJmkxglSiXWLOOY_ZVg&amp;cad=rja">http://www.google.co.id/url?sa=t&amp;rct=j&amp;q=karakteristik%20tikus%20rumah&amp;source=web&amp;cd=8&amp;ved=0CEsQFjAH&amp;url=http%3A%2F%2Fagus34drajat.files.wordpress.com%2F2011%2F03%2Fpelatihan-modul-tikus-1.ppt&amp;ei=CKPUTqTaNcHMrQfwrdWeDg&amp;usg=AFQjCNGuyNhkLUipJmkxglSiXWLOOY_ZVg&amp;cad=rja</a>. Diakses tanggal 27 November 2011</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evynurhidayah.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evynurhidayah.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evynurhidayah.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evynurhidayah.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/evynurhidayah.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/evynurhidayah.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/evynurhidayah.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/evynurhidayah.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evynurhidayah.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evynurhidayah.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evynurhidayah.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evynurhidayah.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evynurhidayah.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evynurhidayah.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evynurhidayah.wordpress.com&amp;blog=31155626&amp;post=53&amp;subd=evynurhidayah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/06/trapping-tikus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f094908bcc9fc495933b50f9ae28a91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">evynurhidayah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Toleransi Organisme</title>
		<link>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/06/toleransi-organisme/</link>
		<comments>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/06/toleransi-organisme/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 03:59:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>evynurhidayah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tugas Kuliah Semester 3]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi organisme_ekologi kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://evynurhidayah.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI KESEHATAN “Toleransi Organisme” &#160; BAB I PENDAHULUAN Latar belakang Air murni merupakan persenyawaan kimia yang terseri atas dua atom Hidrogen (H) berkaitan dengan satu atom oksigen (O). air serta bahan-bahan yang terkandung didalamnya merupakan lingkungan bagi jasad-jasad air. Air berpengaruh terhadap biota perairan seperti ikan, udang, kerang, dan lain-lain. Hal ini disebabkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evynurhidayah.wordpress.com&amp;blog=31155626&amp;post=45&amp;subd=evynurhidayah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>LAPORAN PRAKTIKUM</strong></p>
<p align="center"><strong>EKOLOGI KESEHATAN</strong></p>
<p align="center"><strong>“Toleransi Organisme”</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>BAB I</strong></p>
<p align="center"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<ol>
<li>Latar belakang</li>
</ol>
<p>Air murni merupakan persenyawaan kimia yang terseri atas dua atom Hidrogen (H) berkaitan dengan satu atom oksigen (O). air serta bahan-bahan yang terkandung didalamnya merupakan lingkungan bagi jasad-jasad air. Air berpengaruh terhadap biota perairan seperti ikan, udang, kerang, dan lain-lain. Hal ini disebabkan oleh sifat-sifat fisiknya yaitu sebagai medium tampat hidup tepat tumbuh-tumbuhan dan hewan. Selain itu, dengan sifat-sifat kimianya air berfungsi sebagai pembawa zat-zat hara yang diperlukan bagi pembentukan bahan-bahan organic oleh tumbuh-tumbuhan (Ghufran &amp; Tancun, 2007)</p>
<p>Salinitas menurut Boyd (1982) dalam <em>Ghufran et al. </em>(2007) salinitas adalah kadar seluruh ion-ion yang terlarut dalam air. Berdasarkan kemampuan ikan menyesuaikan diri pada salinitas tertentu, dapat digolongkan menjadi ikan yang mempunyai salinitas yang kecil (Stenohaline) dan ikan yang mempunyai salinitas yang lebar (Euryhaline).</p>
<p>Kandungan kadar garam pada suatu media berhubungan erat dengan sistem (mekanisme) osmoregulasi pada organism air tawar. Affandi (2001) berpendapat bahwa organism aquatic mempunyai tekanan osmotic yang berbeda-beda dengan lingkungannya. Oleh karena itu, ikan harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air agar proses-proses fisiologis didalam tubuhnya berlangsung normal.</p>
<p>Setiap organism mempunyai kemampuan yang berbeda-beda untuk menghadapi masalah osmoregulasi sebagai respon atau tanggapan terhadap perubahan osmotic lingkungan eksternalnya. Perubahan konsentrasi ini cenderung mengganggu kondisi internal yang mantap. Untuk menghadapi masalah ini hewan melakukan pengaturan tekanan osmotic dengan cara mengurangi gradien osmotic antara cairan tubuh dengan lingkungannya, melakukan pengambilan garam secara selektif. Pada organism aquatic seperti ikan, terdapat beberapa organ yang berperan dalam pengaturan tekanan osmotic atau osmoregulasi agar proses fisiologis didalam tubuhnya dapat berjalan dengan normal. Osmoregulasi ikan dilakukan oleh organ-organ ginjal, ingsang, kulit, dan saluran pencernaan.</p>
<p>Ikan dapat menjaga keseimbangan dalam air karena memiliki organ-organ keseimbangan. Organ-organ keseimbangan tersebut yaitu, linea lateralis (gurat sisik), gelembung renang, dan sirip. Apabila salah satu bagian organ keseimbangan tersebut tidak berfungsi, maka akan sangat berpengaruh terhadap kestabilan tubuh. Organ-organ ini dapat digunakan oleh ikan untuk menyeimbangkan proses osmoregulasi di dalam air. Osmoregulasi itu sendiri berarti regulasi atau difusi substansi-substansi melalui suatu membran.</p>
<p>Ikan adalah hewan yang hidup dalam air atau hewan aquatic yang memiliki mekanisme fisiologi yang tidak dimiliki oleh hewan darat, sehingga mengakibatkan ikan harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air dan ion antara tubuh dan lingkungan disebut osmoregulasi. Air merupakan media hidup ikan, media itupun berbeda-beda yaitu perairan tawar, laut dan payau.</p>
<p>Ikan yang hidup pada air tawar mempunyai cairan tubuh yang bersifat hipoosmotik terhadap lingkungan yaitu kadar garam dalm tubuh ikan lebih besar dari pada kadar garam yang ada di sekitarnya, sehingga untuk dapat menyusaikan diri, ikan tersebut banyak mengeluarkan urine. Batas toleransi kadar garam berbeda-beda untuk setiap jenis ikan. Ikan yang mempunyai batas toleransi yang besar terhadap salinitas disebut euryhaline, sedangkan yang mempunyai toleransi yang sempit terhadap salinitas disebut stenohaline.</p>
<p>Ketahanan terhadap kelaparan diduga berhubungan dengan kapasitas ikan dalam melakukan proses osmoregulasi dan penurunan konsumsi energi untuk proses metabolisme. Cara ikan untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungannya berhubungan dengan kandungan kadar garam dalam perairan oleh karena itu ikan mempunyai daya osmoregulasinya. Sehingga pada praktikum ini akan di bahas tentang toleransi ikan terhadap salinitas pada air di dalam akuarium.</p>
<ol>
<li>Tujuan</li>
</ol>
<p>Adapun tujuan dari praktikum yang telah kami laksanakan yaitu:</p>
<ol>
<li>Untuk mengetahui tentang ekosistem buatan</li>
<li>Untuk mengetahui interaksi antara faktor biotik dengan faktor abiotik</li>
<li>Untuk mengetahui mekanis faktor salinitas mempengaruhi organisme</li>
<li>Untuk mengetahui mekanisme merespon fdaktor biotik terhadap perubahan lingkungan</li>
<li>Untuk mengetahui daya toleransi organisme terhadap perubahan lingkungan.</li>
</ol>
<ol>
<li>Waktu dan Tempat</li>
</ol>
<p>Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Politeknik Banjarnegara pada tanggal 23 Desember 2011 pukul 10.00 WIB.</p>
<p align="center"><strong>BAB II</strong></p>
<p align="center"><strong>TINJAUAN PUSTAKA</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center"><strong>1.        </strong><strong>Ikan Mujair (<em>Oreochromis mossambicus</em>) </strong></p>
<p>Mujair adalah sejenis <a title="Ikan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan">ikan</a> <a title="Air tawar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Air_tawar">air tawar</a> yang biasa dikonsumsi. Penyebaran alami ikan ini adalah perairan <a title="Afrika" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Afrika">Afrika</a> dan di <a title="Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia">Indonesia</a> pertama kali ditemukan oleh Pak Mujair di muara <a title="Sungai Serang (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sungai_Serang&amp;action=edit&amp;redlink=1">Sungai Serang</a> pantai selatan <a title="Blitar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Blitar">Blitar</a>, <a title="Jawa Timur" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur">Jawa Timur</a> pada tahun <a title="1939" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1939">1939</a>. Meski masih menjadi misteri, bagaimana ikan itu bisa sampai ke muara terpencil di selatan <a title="Blitar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Blitar">Blitar</a>, tak urung ikan tersebut dinamai ‘mujair’ untuk mengenang sang penemu.</p>
<p>Nama ilmiahnya adalah <em>Oreochromis mossambicus</em>, dan dalam <a title="Bahasa Inggris" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Inggris">bahasa Inggris</a> dikenal sebagai <em>Mozambique tilapia</em>, atau kadang-kadang secara tidak tepat disebut &#8220;<em>Java tilapia</em>&#8220;.</p>
<p>Ikan mujair mempunyai toleransi yang besar terhadap kadar garam (<a title="Salinitas" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Salinitas">salinitas</a>), sehingga dapat hidup di <a title="Air payau" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Air_payau">air payau</a>. Jenis ikan ini memiliki kecepatan pertumbuhan yang relatif cepat, tetapi setelah dewasa kecepatannya ini akan menurun. Mujair juga sangat <a title="Peridi (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Peridi&amp;action=edit&amp;redlink=1">peridi</a>. Ikan ini mulai berbiak pada umur sekitar 3 bulan, dan setelah itu dapat berbiak setiap 1½ bulan sekali. Setiap kalinya, puluhan butir telur yang telah dibuahi akan ‘dierami’ dalam mulut induk betina, yang memerlukan waktu sekitar seminggu hingga menetas. Hingga beberapa hari setelahnya pun mulut ini tetap menjadi tempat perlindungan anak-anak ikan yang masih kecil, sampai anak-anak ini disapih induknya. Dengan demikian dalam waktu beberapa bulan saja, <a title="Populasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Populasi">populasi</a> ikan ini dapat meningkat sangat pesat. Apalagi mujair cukup mudah beradaptasi dengan aneka lingkungan perairan dan kondisi ketersediaan makanan.</p>
<p>Tidak mengherankan apabila ikan ini dianggap <a title="Invasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Invasi">invasif</a> dan menimbulkan berbagai masalah baru di perairan yang didatanginya, seperti halnya di <a title="Singapura" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Singapura">Singapura</a>, dan di <a title="California" href="http://id.wikipedia.org/wiki/California">California</a> Selatan, <a title="Amerika Serikat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat">Amerika Serikat</a>. Tidak luput pula adalah berbagai waduk dan danau-danau di Indonesia yang &#8216;ditanami&#8217; ikan ini, seperti misalnya Danau Lindu di <a title="Sulawesi Tengah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi_Tengah">Sulawesi Tengah</a>.</p>
<p>Asal mula ikan mujahir adalah dari salah satu orang yang bernama Bapak Iwan Dalauk yang akrab dipanggil Mbah Moedjair lahir di Desa Kuningan, 3 Km arah timur pusat Kota Blitar. Dari pasangan Bayan Isman dan Ibu Rubiyah, beliau lahir tahun 1890. Moedjair anak ke-4 dari 9 bersaudara, menikah dengan Partimah Desa Kuningan pada waktu itu. Dari pernikahan ini Moedjair dikaruniai 7 anak, yaitu : Wahanan, Napiyah, Thoyibah, Imam Soepardi, Ismoenir, Djaenuri, Daud. Kesemua anak beliau sekarang sudah meninggal kecuali Ismoenir yang tinggal di Kanigoro Blitar dan Djaenuri yang tinggal di Kencong Jember.</p>
<p>Menurut penuturan Mbah Ismoenir anak ke-5 dari Mbah Moedjair yang masih hidup. Untuk penghasilan sehari-hari, Moedjair dahulu membuka warung sate kambing yang pada zaman tersebut cukup terkenal didaerah Kuningan-Kanigoro. Pelanggan warung sate Moedjair dari berbagai kalangan dan ras, dari tua sampai muda, dari ras jawa sampai ras kuning ( keturunan tionghoa ).</p>
<p>Ada sisi negatif dari perilaku Mbah Moedjair waktu mengalami masa kejayaan warung sate yaitu suka bermain judi. Tetapi dalam berjudi, Mbah Moedjair hanya mau berjudi dengan orang Tionghoa. Beliau tidak mau berjudi dengan orang jawa dan beliau juga mendidik semua anak-anaknya untuk tidak berjudi. Salah satu efek negatif yang ditimbulkan dari kegemaran berjudi itu adalah kehancuran dari bisnis warung sate milik Mbah Moedjair, seperti yang dituturkan oleh Mbah Slamet cucu Mbah Moedjair dari Mbah Wahanan.</p>
<p>Di saat masa-masa terpuruk itu, Mbah Moedjair menjalani laku tirakat dimana setiap tanggal 1 Suro penanggalan jawa, beliau mandi di Pantai Serang tepatnya Blitar Selatan. Awal ritual mandi ini, karena Mbah Moedjair diajak oleh Kepala Desa Papungan (Bapak Muraji),  juga karena beliau bermimpi rambut dan jenggotnya menjadi panjang menyentuh tanah. Pada suatu waktu ketika melakukan ritual mandi ini, Mbah Moedjair menemukan se-ekor ikan yang jumlahnya sangat banyak dan mempunyai keunikan yaitu menyimpan anak didalam mulutnya ketika ada bahaya dan dikeluarkan ketika keadaan sudah aman.</p>
<p>Melihat keunikan ikan ini, Mbah Moedjair berniat mengembangbiakkan dirumahnya didaerah Papungan-Kanigoro-Blitar. Untuk mengambil ikan ini Mbah Moedjair menjaring dengan menggunakan kain Udeng ( ikat kepala ) yang biasa beliau pakai. Dengan ditemani oleh 2 temannya yaitu Abdullah Iskak dan Umar, Mbah Moedjair membawa ikan ini pulang ke Desa Papungan. Tetapi karena habitat yang berbeda, maka ikan ini mati sewaktu dimasukkan ke air tawar yang berada di halaman rumah Mbah Moedjair di Papungan. Melihat kejadian seperti ini, Mbah Moedjair bukannya putus asa tetapi malah semakin gigih dalam melakukan percobaan dengan satu tujuan Spesies ikan ini dapat hidup di habitat air tawar. Habitat yang sangat berbeda dari aslinya yaitu air laut (asin).</p>
<p>Beliau bolak balik Papungan – Serang yang berjarak 35 Km, berjalan kaki dengan melewati hutan belantara, naik turun bukit dan akses jalan yang sulit serta memakan waktu dua hari dua malam. Di Pantai Serang beliau mengambil spesies ikan ini dengan menggunakan Gentong yang terbuat dari tanah liat. Beliau juga melakukan percobaan dengan mencampurkan air laut yang asin dengan air tawar, terus menerus dengan tingkat konsentrasi air tawar semakin lama semakin lebih banyak dari air laut yang kemudian kedua jenis air yang berbeda ini dapat menyatu. Menurut penuturan Mbah Ismoenir, percobaan ini menemui keberhasilan pada percobaan ke-11, yang berarti 11 kali perjalanan bolak balik Papungan-Serang.Pada percobaan ke-11 ini berhasil hidup 4 ekor ikan jenis baru ini dengan habitat air tawar. Kejadian ini terjadi pada tanggal 25 MARET 1936.</p>
<p>Keberhasilan percobaan ini, melegakan hati Mbah Moedjair. Segala jerih payah, kesulitan dan rintangan terbayar lunas dengan hidupnya 4 ekor ikan spesies baru ini. Ke-4 ekor ikan ini kemudian oleh Mbah Moedjair ditangkarkan di kolam daerah sumber air Tenggong Desa Papungan. Dari awalnya hanya satu kolam akhirnya bertambah menjadi 3 kolam. Mbah Moedjair juga membangun pondok yang sekaligus berfungsi sebagai tempat tinggal bagi keluargannya di sekitar kolam tenggong ini.</p>
<p>Karena cepat perkembangbiakkan dari spesies ikan ini, maka jumlah ikan milik Mbah Moedjair semakin lama semakin banyak. Untuk itu oleh Mbah Moedjair ikan spesies baru ini diberikan cuma-cuma ke masyarakat sekitar Papungan, selain itu juga dijual di sekitar Blitar dan luar Blitar.</p>
<p>Suatu ketika, penemuan ikan jenis baru ini sampai ke telinga Asisten Resident yang berkedudukan di Kediri. Asisten Resident yang juga seorang Ilmuwan ini tergoda untuk meneliti spesies ikan hasil temuan Mbah Moedjair ini. Dari literature yang ada dan berdasarkan data-data, Asisten Resident ini menyimpulkan bahwa nenek moyang dari ikan ini berasal dari perairan laut Afrika. Sang Asisten Resident ini juga melakukan riset dan wawancara dengan Mbah Moedjair tentang segala hal mengenai ikan ini .Mulai dari proses penemuan di pantai serang, sampai proses percobaan yang sebanyak 11 kali. Mendengar penuturan dari Mbah Moedjair, Asisten Resident ini merasa takjub dan kagum akan kegigihan dan keuletan Mbah Moedjair. <strong>Asisten Resident ini memberikan penghargaan kepada Mbah Moedjair berupa pemberian nama ikan spesies baru ini sesuai dengan nama beliau Moedjair yang kemudian dikenal sebagai ikan Moedjair</strong>.</p>
<p>Ikan Moedjair semakin menjadi buah bibir dan semakin banyak masyarakat yang mengembangbiakkan. Nama Mbah Moedjair pun semakin dikenal masyarakat luas. Dengan dibantu Wahanan, anak sulung beliau. Ikan Moedjair ini dipasarkan ke hamper daratan Jawa Timur dengan naik sepeda Kumbang.</p>
<p>Oleh Pemerintah beliau diangkat sebagai Jogo Boyo Desa Papungan serta juga mendapatkan gaji bulanan dari Pemerintah Daerah. Oleh Pemerintah Indonesia beliau diangkat sebagai Mantri Perikanan. Selain itu beliau juga memperoleh Penghargaan EKSEKUTIP COMMITTEE dari INDO PASIPIK FISHERIES COUNCIL atas jasanya menemukan ikan Moedjair. Penghargaan tersebut diberikan di Bogor tanggal 30 – JUNI – 1954. Selain penghargaan tersebut diatas masih ada beberapa pengharagaan yaitu dari KEMENTERIAN PERTANIAN atas nama Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 17 – AGUSTUS – 1951 yang pada waktu itu dijabat oleh Ir.Soeharto.<strong></strong></p>
<p><strong>2.        </strong><strong>Salinitas</strong><strong></strong></p>
<p>Salinitas menurut Boyd (1982) dalam Ghufran dkk (2007), salinitas adalah kadar seluruh ion – ion yang terlarut dalam air. Komposisi ion – ion pada air laut dapat dikatakan mantap dan didominasi oleh ion – ion tertentu seperti klorida, karbonat, bikarbonat, sulfat, natrium, kalsium dan magnesium. Berdasarkan kemampuan ikan menyesuaikan diri pada salinitas tertentu, dapat digolongkan menjadi Ikan yang mempunyai toleransi salinitas yang kecil (Ctenohaline) dan Ikan yang mempunyai toleransi salinitas yang lebar (Euryhaline). Pada Tabel 1. menyajikan klasifikasi air berdasarkan salinitas.</p>
<p>Tabel. 1 Menyajikan Klasifikasi Air Berdasarkan Salinitas</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="170">Sebutan/istilah</td>
<td width="189">Salinitas (ppt)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="170">Air tawar</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Fresh water</p>
<p>Oligohaline</p>
<p>Air payau</p>
<p>Mesohaline</p>
<p>Polyhaline</p>
<p>Air asin</p>
<p>Marine&lt; 0,5</p>
<p>0,5 – 3,0</p>
<p>3,0 – 16,0</p>
<p>16,0 – 30,0</p>
<p>30 – 40</p>
<p>Sumber : Mc Lusky, 1971 dalam Kordi, 1996 dalam Ghufran dkk 2007<strong></strong></p>
<p><strong>3.        </strong><strong>Osmoregulasi </strong><strong></strong></p>
<p>Organisme akuatik mempunyai tekanan osmotik yang berbeda-beda dengan lingkungannya, oleh karena itu ikan harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air, agar proses-proses fisiologis di dalam tubuhnya berlangsung normal. Pengaturan osmeotik cairan pada tubuh ikan disebut osmoregulasi.</p>
<p>Osmoregulasi adalah upaya hewan air untuk mengontrol keseimbangan air dan ion antara tubuh dan lingkungannya, atau dengan kata lain suatu proses pengaturan tekanan osmosis di dalam air (Fujaya, 2004).</p>
<p>Perbedaan proses osmoregulasi pada beberapa golongan ikan, maka struktur organ osmoregulasinya juga kadang berbeda. Beberapa organ yang berperang dalam proses osmoregulasi ikan yaitu ingsan, ginjal, dan usus. Organ ini melakukan fungsi adaptasi di bawah kontrol hormone osmoregulasi, terutama hormon yang di sekresi oleh pituitary, ginjal, dan urofisis ( Lesmana, 2001).</p>
<p>Proses osmoregulasi pada ikan air tawar menyebabkan mineral dan garam cepat hilang pada air pemeliharaan, sedangkan pada pemeliharaan ikan laut, air akan menjadi semakin pekat akibat pengeluaran garam dan pengambilan air (Subani, 1984).</p>
<p>Stickney (1979) menyatakan salah satu penyesuaian ikan terhadap lingkungan ialah pengaturan keseimbangan air dan garam dalam jaringan tubuhnya, karena sebagian hewan vertebrata air mengandung garam dengan konsentrasi yang berbeda dari media lingkungannya. Ikan harus mengatur tekanan osmotiknya untuk memelihara keseimbangan cairan tubuhnya setiap waktu. Brotowijoyo (1995), reproduksi pada ikan dipengaruhi oleh kadar air, distribusi dan lama hidup ikan serta orientasi migrasi dan kadar garam dapat juga mempengaruhi regulasi osmotik dan menentukan banyaknya telur-telur ikan yang dapat melayang di permukaan.</p>
<p>Osmoregulasi pada organisme akuatik dapat terjadi dalam dua cara yang berbeda (Gilles dan Jeuniaux, 1979 dalam Affandi et al., 2002) yaitu:</p>
<ul>
<li>Usaha untu menjaga konsentrasi osmotik cairan diluar sel (ekstraseluler) agar tetap kosntan terhadap apapun yang terjadi pada konsentrasi osmotik medium eksternalnya.</li>
<li>Usaha untuk memelihara isoosmotik cairan dalam sel (interseluler) terhadap cairan luar sel.</li>
</ul>
<p>Setiap organisme mempunyai kemampuan yang berbeda-beda untuk menghadapi masalah osmoregulasi sebagai respon atau tanggapan tehadap perubahan osmotik lingkungan eksternalnya. Perubahan kosentrasi ini cenderung mengganggu kondisi internal yang mantap. Untuk menghadapi masalah ini hewan melakukan pengaturan tekanan osmotik dengan cara:</p>
<ul>
<li>Mengurangi gradien osmotik antara cairan tubuh dengan ingkungannya.</li>
<li>Mengurangi permeabilitas air dan garam.</li>
<li>Melakukan pengambilan garam secara selektif.</li>
</ul>
<p>Pada organisme akuatik seperti ikan, terdapat beberapa organ yang berperan dalam pengaturan tekanan osmotik atau osmoregulasi agar proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat berjalan dengan normal. Osmoregulasi ikan dilakukan oleh organ-organ ginjal, insang, kulit dan saluran pencernaan.</p>
<ol>
<li>Ginjal</li>
</ol>
<p>Ginjal merupakan organ ekresi yang mempunyai peranan di dalam proses penyaringan (filtrasi). Ikan Jumlah glomerulus ginjal ikan betulang sejati (teleostei) air tawar lebih banyak dan diameternya juga lebih besar apabila dibandingkan dengan ikan bertulang sejati (teleostei) air laut. Kondisi ini dikaitkan dengan fungsinya untuk lebih dapat menahan garam-garam tubuh tidak keluar dan mengeluarkan atau memompa air keluar dengan menggunakan urine sebanyak-banyaknya. Urine yang dikeluarkan sangan ancer.</p>
<ol>
<li>Insang</li>
</ol>
<p>Insang emmpunyai peranan yang sangat penting sebagai organ yang mampu dilewati air maupun mineral, serta tempat dibuangnya sisa metabolisme (Moyle dan Cech, 1999 dalam Affandi, 2001). Permeabilitas insang yang tinggi terhadap ion-ion monovalen Na<sup>+</sup> dan Cl<sup>-</sup> , sehingga pasif brgerak dari media atau lingkungan air laut ke dalam plasma.</p>
<ol>
<li>Kulit</li>
</ol>
<p>Pada ikan yang bersifat hiperostomik terhadap media atau lingkungan hidupnya, masalah utama yang muncul adalah bagaimana memamsukkan air secara osmose.</p>
<ol>
<li>Saluran Pencernaan</li>
</ol>
<p>Saluran pencernaan yang berperan dalam osmoregulasi adalah bagian esofagus dan usus. Dinding saluran pencernaan memberikan sedikit resisten terhadap difusi garam-garam dan air ke dalam kamar-kamar cairan ekstraseluler pada kelompok ikan Peromyzonid, utuk mengganti kehilangan air hasil dari gradien difusi medium eksternal.</p>
<p>Menurut Fujaya (2004), bahwa dalam osmoregulasi dikenal tiga pola regulasi yaitu :</p>
<ol>
<li>Regulasi hipertonik atau hiperosmotik, yaitu pengaturan secara aktif konsentrasi cairan tubuh yang lebih tinggi dari konsentrasi media, misalnya pada ikan air tawar.</li>
<li>Regulasi Hipotonik atau hipoosmotik, yaitu pengaturan secara aktif konsentrasi cairan tubuh yang lebih rendah dari konsentrasi meia, misalnya pada ikan air laut.</li>
<li>Regulasi isotonik atau isoosmotik, yaitu bila konsentrasi cairan tubuh sama dengan konsentrasi media, misalnya pada ikan-ikan yang hidup pada daerah estuari.</li>
</ol>
<p>Kebanyakan invetebrata yang berhabitat di laut tidak secara aktif mengatur sistem osmosis mereka dan dikenal sebagai osmoconformer. Osmoconformer memiliki osmolanitas yang sama dengan lingkungannya sehingga tidak ada toleransi untuk memperoleh atau kehilangan air sedangkan osmoregulator adalah organisme yang menjaga osmoralitasnya tanpa tergantung lingkungan sekitar. Oleh karena itu karena adanya kemampuan meregulasi ini maka osmoregulator dapat hidup di lingkungan air tawar, daratan serta lautan (Wikipedia, 2011).</p>
<p align="center"><strong>BAB III</strong></p>
<p align="center"><strong>MATERI DAN METODE</strong></p>
<ol>
<li>MATERI
<ol>
<li>ALAT
<ol>
<li>Refraktometer</li>
<li>Aquarium</li>
<li>Pipet tetes</li>
<li>Spatulla</li>
<li>Neraca analitik</li>
<li>Cawan petri</li>
<li>Gelas kimia</li>
<li>Aquades</li>
<li>Tissue</li>
<li>Alat tulis untuk mencatat</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<ol>
<li>BAHAN
<ol>
<li>Ikan mujahir</li>
<li>Air tawar</li>
<li>Air garam</li>
</ol>
</li>
</ol>
<ol>
<li>METODE</li>
<li>Disiapkan aquarium dan isi dengan air sumur sebanyak 6 liter dan ukur salinitasnya (kurang lebih 5 <sup>0</sup>/<sub>00</sub>),</li>
<li>Dipilih 6 (sepuluh) ekor ikan yang sehat, lincah, tidak cacat dan stabil kondisinya,</li>
<li>Dimasukkan ikan kedalam aquarium dan aklimatisasikan ikan serta memelihara selama kurang lebih 24 jam,</li>
<li>Setelah 24 jam atau 1 hari, dipilih ikan dengan kondisi (sehat dan lincah) baik,</li>
<li>Dihitung frekuensi membuka dan menutup mulut ikan (FMI) selama 2 (dua) menit untuk setiap ekor ikan dan guna 5 (lima) ekor ikan untuk setiap aquarium,</li>
<li>Dicatat frekuensi (FMI) setiap ekor ikan pada table 1.1,</li>
<li>Ditambahkan air garam kedalam aquarium sampai salinitas mencapai 10<sup>0</sup>/<sub>00,</sub></li>
<li>Melakukan prosedur aklimatisasi dan perhitungkan FMI keesokan harinya,</li>
<li>Hitung jumlah ikan yang mati (mortalitas) dan catat pada table 1.2,</li>
<li>Demikian seterusnya dilakukan dengan penambahan salinitas 20 <sup>0</sup>/<sub>00 </sub>dan 30<sup>0</sup>/<sub>00,</sub></li>
<li>Digambar hubungan (interaksi) antara perubahan salinitas air dengan FMI pada gambar 1.1,</li>
<li>Digambar hubungan interaksi antara perubahan salinitas air dengan laju kematian / mortalitas ikan pada gambar 1.2,</li>
<li>Dibandingkan hasil praktikum yang ada dengan hasil penelitian lainnya dari artikel ilmiah yang telah dipublikasikan.</li>
</ol>
<p align="center"><strong>BAB IV</strong></p>
<p align="center"><strong>HASIL DAN PEMBAHASAN</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="center">HASIL</p>
<p>Hasil praktikum dilampirkan</p>
<p>PEMBAHASAN</p>
<p>Ikan Mujair <em>(Oreochromis mossambicus)</em> merupakan suatu jenis ikan yang memiliki toleransi yang besar pada media dengan tanah yang liat atau lempung dan salinitas yang tinggi (Anonim, 2008). Untuk itu <em>Oreochromis mossambicus</em> dipilih sebagai hewan uji, sebab habitat alaminya mewakili lingkungan dan media pemeliharaan yang akan digunakan, sehingga dapat digunakan sebagai spesies bioindikator untuk kondisi yang paling ekstrim.</p>
<p>Pengamatan atau monitoring terhadap efek sub lethal sangat penting dan merupakan gejala awal terhadap perubahan faal akibat keracunan sebelum terjadinya kematian, sehingga akibat buruk selanjutnya bahkan kerusakan ekosistem dapat dihindari atau dicegah (Chahaya, 2003). Untuk itu diperlukan suatu uji yang dapat memberikan data kuantitatif suatu organisme sehingga diperoleh informasi perkiraan efek lingkungan (Soemirat, 2004). Laju respirasi ikan merupakan suatu parameter respon fisiologis ikan terhadap substansi beracun yang ada di lingkungan. Laju respirasi diukur dari volume air yang dilintaskan untuk mengkonsumsi oksigen yang terlarut di dalam air, dengan demikian bila konsumsi oksigen meningkat akan meningkatkan laju respirasi.</p>
<p>Berikut adalah klasifikasi Ikan Mujahir:</p>
<table border="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">Kerajaan:</td>
<td valign="top"><a title="Animalia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Animalia">Animalia</a></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Filum:</td>
<td valign="top"><a title="Chordata" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Chordata">Chordata</a></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Kelas:</td>
<td valign="top"><a title="Actinopterygii" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Actinopterygii">Actinopterygii</a></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Ordo:</td>
<td valign="top"><a title="Perciformes (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perciformes&amp;action=edit&amp;redlink=1">Perciformes</a></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Famili:</td>
<td valign="top"><a title="Cichlidae (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Cichlidae&amp;action=edit&amp;redlink=1">Cichlidae</a></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Genus:</td>
<td valign="top"><a title="Oreochromis (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Oreochromis&amp;action=edit&amp;redlink=1"><em>Oreochromis</em></a></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Spesies:</td>
<td valign="top"><strong><em>O. mossambicus</em></strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a title="Tatanama biologi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tatanama_biologi">Nama binomial</a>: <strong><em>Oreochromis mossambicus</em></strong><strong><em></em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>Adapun organ-organ osmoregulasi antara lain yaitu insang, pada insang sel-sel berperan dalam proses osmoregulasi adalah sel-sel chloride yang terletak pada dasar membran insang. Ginjal, melakukan dua fungsi utama. Pertama mengeksresikan sebagian besar produk akhir metabolisme tubuh dan kedua, mengatur konsentrasi cairan tubuh dan yang terakhir ialah usus. Setelah air masuk ke dalam usus, dinding aktif mengambil ion-ion monovalen (Na+, K+, Cl-) dan air (Wikipeda, 2011).</p>
<p>Pada praktikum kali ini, terjadi perubahan jumlah respirasi ikan yang tidak menentu. Hal ini diakibatkan oleh jumlah kadar garam yang dimasukkan ke dalam akuarium juga berbeda-beda. Kegiatan merubah jumlah respirasi ini dilakukan oleh ikan untuk dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan kadar garam sekitarnya. Hal ini serupa dengan pernyataan Fujaya (2004), bahwa osmoregulasi adalah upayah hewan air untuk mengontrol keseimbangan air dan ion antara tubuh dengan lingkungannya, atau suatu proses pengaturan tekanan osmose.</p>
<p>Siregar (1993) berpendapat bahwa semakin jauh perbedaan tekanan osmose antara tubuh dengan lingkungannya, juga akan semakin banyak energi metabolisme yang dibutuhkan untuk memerlukan osmoregulasi sebagai metode adaptasi. Hal ini serupa pada saat ikan dimasukkan ke dalam lingkungan di mana tingkat salinitas lingkungannya terus menerus diubah, terlihat bahwa jumlah respirasi ikan semakin bertambah seiring dengan penambahan tingkat salinitas lingkungannya. Hal ini terus terjadi sampai pada saat ikan sudah tidak dapat mentolerir perubahan salinitas lingkungannya, maka jumlah respirasi ikan akan berkurang dan ikan akan mati. Sebelum mencapai batas toleransi terhadap perubahan salinitas yang terjadi, saat itu ikan memerlukan banyak energi untuk beradaptasi.</p>
<p>Pada praktikum yang telah kami laksanakan, respon ikan terhadap perubahan salinitas dapat dilihat selalu menurun, tetapi ada satu ikan yang frekuensi membuka dan menutup mulutnya bertambah. Pada salinitas 5<sup>0</sup>/<sub>00</sub>, rata-rata FMI ikan selama 1 menit yang telah kami ukur adalah 119, pada 10<sup>0</sup>/<sub>00</sub> adalah 87,5, pada salinitas 20<sup>0</sup>/<sub>00</sub> adalah 80, dan pada 30<sup>0</sup>/<sub>00</sub> adalah 0. Hal tersebut dapat diketahui bahwa pada salinitas 5<sup>0</sup>/<sub>00</sub>hingga 20<sup>0</sup>/<sub>00</sub> ikan mujahir masih dapat beradaptasi dengan keadaan airnya meskipun harus memerlukan banyak energy untuk beradaptasi. Namun pada kadar salinitas 30<sup>0</sup>/<sub>00</sub>, ikan-ikan tersebut sudah tidak dapat beradaptasi lagi hingga semua ikan mati.</p>
<p>Perubahan salinitas air erat hubungannya dengan perubahan FMI ikan. Dari praktikum yang dilaksanakan, pada salinitas 5<sup>0</sup>/<sub>00</sub>hingga 20<sup>0</sup>/<sub>00</sub> hanya terjadi pergeseran garis sedikit, namun pada salinitas 20<sup>0</sup>/<sub>00 </sub>menuju 30<sup>0</sup>/<sub>00 </sub>terjadi penurunan yang sangat drastis. (lampiran gambar 1.1). Hal tersebut dapat dikatakan bahwa semakin bertambahnya salinitas air, maka semakin berkurang frekuensi membuka dan menutup mulut ikan sebagai respon adaptasi dari perubahan salinitas air yang ada.</p>
<p>Selain salinitas berhubungan dengan perubahan FMI, salinitas juga berhubungan dengan jumlah kematian ikan. Seperti praktikum yang telah dilaksanakan, pada salinitas 5<sup>0</sup>/<sub>00</sub>hingga 20<sup>0</sup>/<sub>00</sub> ikan masih bisa hidup namun pada salinitas 30<sup>0</sup>/<sub>00 </sub>terjadi kematian total karena ikan sudah tidak dapat beradaptasi lagi. Sehingga semakin banyak salinitas yang terkandung dalam air, maka semakin bertambah pula kematian pada ikan. Dapat dilihat pula grafik antara perubahan salinitas dengan mortalitas terjadi peningkatan yang hebat pada salinitas 30<sup>0</sup>/<sub>00 </sub>yang mencapai hingga 100%. (lampiran gambar 1.2).</p>
<p>Berdasarkan jurnal yang kami gunakan sebagai materi pembanding, dikatakan bahwa salinitas diartikan sebagai ukuran yang menggambarkan tingkat keasinan (kandungan NaCl) dari suatu perairan. Satuan salinitas umumnya dalam bentuk promil (<sup>0</sup>/<sub>00</sub>) atau satu bagian per seribu bagian atau dalam istilah lainnya psu (practical salinity unit). Air tawar memiliki salinitas 0<sup>0</sup>/<sub>00</sub>, air payau memiliki salinitas antara 1-30<sup>0</sup>/<sub>00</sub>, sedangkan air laut/asin memiliki salinita lebih dari 30<sup>0</sup>/<sub>00</sub>. Salinitas ditentukan oleh garam-garam yang larut dalam air. Parameter kimia tersebut dipengaruhi oleh curah hujan dan penguapan (evaporasi) yang terjadi disuatu daerah. Ikan mas termasuk golongan family <em>Cyprinidae</em>. Ikan mas memiliki tempat hidup diperairan tawar yang tidak terlalu dalam. Sama seperti jenis ikan yang kami pilih dalam praktikum adalah jenis ikan yang hidup di air tawar.</p>
<p>Salinitas 12 (11-15) ppt memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap jumlah ikan mas yang bertahan hidup (munurut penelitian pada jurnal) sama halnya seperti praktikum yang kami laksanakan, salinitas juga sangat berpengaruh terhadap jumlah kematian ikan mujahir. Pada salinitas 30<sup>0</sup>/<sub>00</sub> ikan mujahir mati semua. Sehingga semakin tinggi salinitas, maka semakin berpengaruh pula jumlah ikan yang bertahan hidup.</p>
<p align="center"><strong><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>BAB V</strong></p>
<p align="center"><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>Pada praktikum yang kami lakukan, dapat di tarik kesimpulan bahwa:</p>
<ol>
<li>Ikan Mujair <em>(Oreochromis mossambicus)</em> merupakan suatu jenis ikan yang memiliki toleransi yang besar pada media dengan tanah yang liat atau lempung dan salinitas yang tinggi.</li>
<li>Semakin bertambahnya salinitas air, maka semakin berkurang frekuensi membuka dan menutup mulut ikan sebagai respon adaptasi dari perubahan salinitas air yang ada.</li>
<li>Sehingga semakin banyak salinitas yang terkandung dalam air, maka semakin bertambah pula kematian pada ikan.</li>
</ol>
<p align="center"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://wahyusukmana.blogspot.com/2009/04/salinitas.html">http://wahyusukmana.blogspot.com/2009/04/salinitas.html</a>. Diakses tanggal 25 November 2011</li>
<li><a href="http://www.google.co.id/url?sa=t&amp;rct=j&amp;q=uji%20salinitas%20pada%20ikan%20mujahir&amp;source=web&amp;cd=10&amp;ved=0CGUQFjAJ&amp;url=http%3A%2F%2Fdigilib.its.ac.id%2Fpublic%2FITS-Undergraduate-8073-1505100013-Bab1.pdf&amp;ei=VrTxToeuF4TRrQfhh6XfDw&amp;usg=AFQjCNE3rZ09hvaUwNukeiWFoLjHcydDOw&amp;cad=rja">http://www.google.co.id/url?sa=t&amp;rct=j&amp;q=uji%20salinitas%20pada%20ikan%20mujahir&amp;source=web&amp;cd=10&amp;ved=0CGUQFjAJ&amp;url=http%3A%2F%2Fdigilib.its.ac.id%2Fpublic%2FITS-Undergraduate-8073-1505100013-Bab1.pdf&amp;ei=VrTxToeuF4TRrQfhh6XfDw&amp;usg=AFQjCNE3rZ09hvaUwNukeiWFoLjHcydDOw&amp;cad=rja</a>. Diakses tanggal 25 November 2011</li>
<li><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mujair">http://id.wikipedia.org/wiki/Mujair</a>. Diakses tanggal 25 November 2011</li>
<li><a href="http://gugling.com/2010/07/09/asal-mula-ikan-mujair/.html">http://gugling.com/2010/07/09/asal-mula-ikan-mujair/.html</a>. Diakses tanggal 25 November 2011</li>
<li><a href="http://ummymahmuda.blogspot.com/html">http://ummymahmuda.blogspot.com/html</a>. Diakses tanggal 25 November 2011</li>
<li><a href="http://laporanfisiologibiotaair.blogspot.com/2011/05/i.html">http://laporanfisiologibiotaair.blogspot.com/2011/05/i.html</a>. Diakses tanggal 25 November 2011</li>
<li><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ekosistem">http://id.wikipedia.org/wiki/Ekosistem</a>. Diakses tanggal 25 November 2011</li>
<li><a href="http://sumbermakalah.blogspot.com/2008/12/ekosistem-buatan.html">http://sumbermakalah.blogspot.com/2008/12/ekosistem-buatan.html</a>. Diakses tanggal 25 November 2011</li>
<li><a href="http://www.google.co.id/url?sa=t&amp;rct=j&amp;q=materi%20ekosistem%20buatan&amp;source=web&amp;cd=8&amp;ved=0CFYQFjAH&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.undiksha.ac.id%2Fe-learning%2Fstaff%2Fdsnmateri%2F4%2F1-135.pdf&amp;ei=n53xTsukHsizrAfCy8z4Dw&amp;usg=AFQjCNGPgHjqLp5PUKWvlO7bl4R4_ifCyA&amp;cad=rja">http://www.google.co.id/url?sa=t&amp;rct=j&amp;q=materi%20ekosistem%20buatan&amp;source=web&amp;cd=8&amp;ved=0CFYQFjAH&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.undiksha.ac.id%2Fe-learning%2Fstaff%2Fdsnmateri%2F4%2F1-135.pdf&amp;ei=n53xTsukHsizrAfCy8z4Dw&amp;usg=AFQjCNGPgHjqLp5PUKWvlO7bl4R4_ifCyA&amp;cad=rja</a>. Diakses tanggal 25 November 2011</li>
<li><a href="http://www.damandiri.or.id/file/marganofipbbab2.pdf">www.damandiri.or.id/file/marganofipbbab2.pdf</a>. Diakses tanggal 25 November 2011</li>
<li><a href="http://bagas-redland.blogspot.com/2010/07/makalah-biologi-ekosistem-air-tawar-dan.html">http://bagas-redland.blogspot.com/2010/07/makalah-biologi-ekosistem-air-tawar-dan.html</a>. Diakses tanggal 25 November 2011</li>
</ul>
<ul>
<li><a href="http://organisasi.org/ciri_ciri_habitat_dan_ekosistem_di_air_tawar_dan_air_laut_ilmu_sains_biologi">http://organisasi.org/ciri_ciri_habitat_dan_ekosistem_di_air_tawar_dan_air_laut_ilmu_sains_biologi</a>. Diakses tanggal 25 November 2011</li>
<li><a href="http://bebas.ui.ac.id/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/0027%20Bio%201-6b.html">http://bebas.ui.ac.id/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/0027%20Bio%201-6b.html</a>. Diakses tanggal 25 November 2011</li>
<li><a href="http://www.google.co.id/url?sa=t&amp;rct=j&amp;q=uji%20salinitas%20pada%20ikan%20&amp;source=web&amp;cd=1&amp;ved=0CC4QFjAA&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.sidik.litbang.kkp.go.id%2Findex.php%2Fsearchkatalog%2FdownloadDatabyId%2F2133%2F93-100.pdf&amp;ei=EKjxTtThM4KyrAeXvC0&amp;usg=AFQjCNHkyiZ697rj8_qWa_uUXEimBjFi8A&amp;cad=rja">http://www.google.co.id/url?sa=t&amp;rct=j&amp;q=uji%20salinitas%20pada%20ikan%20&amp;source=web&amp;cd=1&amp;ved=0CC4QFjAA&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.sidik.litbang.kkp.go.id%2Findex.php%2Fsearchkatalog%2FdownloadDatabyId%2F2133%2F93-100.pdf&amp;ei=EKjxTtThM4KyrAeXvC0&amp;usg=AFQjCNHkyiZ697rj8_qWa_uUXEimBjFi8A&amp;cad=rja</a>. Diakses tanggal 25 November 2011</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/evynurhidayah.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/evynurhidayah.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/evynurhidayah.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/evynurhidayah.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/evynurhidayah.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/evynurhidayah.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/evynurhidayah.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/evynurhidayah.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/evynurhidayah.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/evynurhidayah.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/evynurhidayah.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/evynurhidayah.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/evynurhidayah.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/evynurhidayah.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=evynurhidayah.wordpress.com&amp;blog=31155626&amp;post=45&amp;subd=evynurhidayah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://evynurhidayah.wordpress.com/2012/01/06/toleransi-organisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f094908bcc9fc495933b50f9ae28a91?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">evynurhidayah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
