Identifikasi Borak

LAPORAN PRAKTIKUM

EKOTOKSIKOLOGI

IDENTIFIKASI BORAK PADA MAKANAN

“KERUPUK RAMBAK”

DISUSUN OLEH:

EVI NURHIDAYAH

B 1003014

PROGRAM STUDI DIII KESEHATAN LINGKUNGAN

POLITEKNIK BANJARNEGARA

2011

 

BAB I

PENDAHULUAN

Latar belakang

Sekarang ini, dengan semakin pesatnya industrialisasi dan berkembangnya teknologi kimia telah melanda dunia dan bagi Indonesia menjadi keharusan untuk ikut memanfaatkannya. Pada saat ini kita masih tertinggal dalam mengendalikan dampak yang merugikan, khususnya dampak lingkungan dan lebih khusus bagi keracunan melalui makanan yang perlu dihindari.

Tidak diherankan lagi, saat ini banyak sekali bahan kimia dan berbagai campuran-campuran lain dibuat dan diciptakan untuk membuat pekerjaan manusia dalam membuat makanan lebih efektif dan efisien. Tetapi di samping untuk makanan dibuat juga bahan kimia untuk pembuatan kebutuhan lain. Di mana bahan kimia tersebut tidak boleh dipergunakan dalam pembuatan makanan dan dapat berakibat fatal.

Seperti yang kita ketahui sekarang, kata Borak sudah tidak asing lagi ditelinga. Boraks adalah senyawa berbentuk kristal, warna putih, tidak berbau dan stabil pada suhu tekanan normal dan bersifat sangat beracun, sehingga peraturan pangan tidak membolehkan boraks untuk digunakan dalam pangan. Banyak orang yang belum mengetahui pengertian bahkan bahaya borak pada makanan yang sering kita konsumsi sehari-hari yang dapat menimbulkan dampak buruk bahkan jika digunakan dalam waktu yang lama dapat menimbulkan kematian. Masyarakat sekarang ini hanya mengetahui bahwa makanan yang dibelinya enak dan harganya murah tanpa mengetahui kandungan zat-zat berbahaya didalamnya.

Bahan-bahan pengawet yang digunakan pada makanan umumnya digunakan untuk jenis pangan yang mempunyai sifat mudah rusak. Bahan tersebut dapat menghambat atau memperlambat proses fermentasi, pengasaman, atau penguraian yang disebabkan oleh mikroba. Akan tetapi, tidak jarang produsen menggunakannya pada pangan yang relative awet dengan tujuan untuk memperpanjang masa simpan atau memperbaiki tekstur.

Penggunaan pengawet dalam pangan harus tepat, baik jenis maupun dosisnya. Suatu bahan pengawet mungkin efektif untuk mengawetkan pangan tertentu, tetapi tidak efektif untuk mengawetkan pangan yang lainnya karena pangan mempunyai sifat yang berbeda-beda sehingga mikroba perusak yang akan dihambat pertumbuhannya juga berbeda. Pada saat ini, masih banyak ditemukan penggunaan bahan-bahan pengawet yang dilarang untuk digunakan dalam pangan dan berbahaya bagi kesehatan, seperti borak tersebut.

Pemakaian bahan pengawet dari satu sisi menguntungkan karena dengan bahan pengawet, bahan pangan dapat dibebaskan dari kehidupan mikroba, baik yang bersifat pathogen yang dapat menyebabkan keracunan atau gangguan kesehatan lainnya maupun microbial yang non pathogen yang dapat menyebabkan kerusakan bahan pangan, misalnya pembusukan. Namun dari sisi lain, bahan pengawet pada dasarnya adalah senyawa kimia yang merupakan bahan asing yang masuk bersama bahan pangan yang dikonsumsi. Apabila pemakaian bahan pangan dan dosisnya tidak diatur dan diawasi, kemungkinan besar akan menimbulkan kerugian bagi pemakainya; baik yang bersifat langsung, misalnya keracunan; maupun yang bersifat tidak langsung atau kumulatif, misalnya apabila bahan pengawet yang digunakan bersifat karsinogenik.

Dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, banyak dijumpai pemakaian bahan pengawet secara luas. Kebanyakan bahan pengawet memiliki ciri sebagai senyawa kimia yang relative sederhana jika dibandingkan dengan senyawa kimia lainnya yang diperlukan untuk memberikan tingkat toksisitas yang selektif.

Hal ini menjadi sangat penting dan juga memprihatinkan. Fenomena ini merupakan salah satu masalah dan kebobrokan bangsa yang harus diperbaiki. Oleh karena itu, kita harus mempelajari cara identifikasi Borak dengan benar sehingga dapat meminimalisir masalah yang ada. Karena apabila dibuarkan, hal ini terus berlarut dan akhirnya akibat menumpuk di masa depan.

Tujuan

Tujuan dari pelaksanaan praktikum adalah:

  1. Untuk mengetahui alat, bahan, dan cara kerja yang benar dalam mengidentifikasi Borak pada makanan,
  2. Untuk mengetahui interpretasi hasil dari praktikum yang telah dilaksanakan,
  3. Untuk mengetahui cirri-ciri dari makanan yang mengandung Borak.

Waktu dan tempat

Praktikum dilaksanakan di Dinas Kesehatan Kabupaten pada hari Kamis 29 Desember 2011 pukul 09.00 sampai selesai.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun yang tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan ataupun minuman bagi konsumsi manusia. Termasuk di dalamnya adalah bahan tambahan pangan, bahan baku pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan atau pembuatan makanan atau minumam (Saparinto dan Hidayati, 2006).

Kualitas pangan dapat ditinjau dari aspek mikrobiologis, fisik (warna, bau, rasa dan tekstur) dan kandungan gizinya. Pangan yang tersedia secara alamiah tidak selalu bebas dari senyawa yang tidak diperlukan oleh tubuh, bahkan dapat mengandung senyawa yang merugikan kesehatan orang yang mengkonsumsinya. Senyawa-senyawa yang dapat merugikan kesehatan dan tidak seharusnya terdapat di dalam suatu bahan pangan dapat dihasilkan melalui reaksi kimia dan biokimia yang terjadi selama pengolahan maupun penyimpanan, baik karena kontaminasi ataupun terdapat secara alamiah. Selain itu sering dengan sengaja ditambahkan bahan tambahan pangan (BTP) atau bahan untuk memperbaiki tekstur, warna dan komponen mutu lainnya ke dalam proses pengolahan pangan (Hardiansyah dan Sumali, 2001).

Boraks atau dalam nama ilmiahnya dikenal sebagai sodium tetraborate decahydrate merupakan bahan pengawet yang dikenal masyarakat awam untuk mengawetkan kayu, antiseptik kayu dan pengontrol kecoa. Tampilan fisik boraks adalah berbentuk serbuk kristal putih. Boraks tidak memiliki bau jika dihirup menggunakan indera pencium serta tidak larut dalam alkohol. Indeks keasaman dari boraks diuji dengan kertas lakmus adalah 9,5, ini menunjukkan tingkat keasaman boraks cukup tinggi (Bambang, 2008).

Boraks merupakan senyawa kimia berbahaya untuk pangan dengan nama kimia natrium tetrabonat (NaB4O7 10H2O). Dapat dijumpai dalam bentuk padat dan jika larut dalam air akan menjadi natrium hidroksida dan asam borat (H3BO3). Boraks atau asam borat biasa digunakan sebagai bahan pembuat deterjen, bersifat antiseptik dan mengurangi kesadahan air. Bahan berbahaya ini haram digunakan untuk makanan. Bahaya boraks jika terhirup, mengenai kulit dan tertelan bisa menyebabkan iritasi saluran pernapasan, iritasi kulit, iritasi mata dan kerusakan ginjal. Jika boraks 5-10 gram tertelan oleh anak-anak bisa menyebabkan shock dan kematian. Efek akut dari boraks bisa menyebabkan badan berasa tidak enak, mual, nyeri hebat pada perut bagian atas, perdarahan gastro-enteritis disertai muntah darah, diare, lemah, mengantuk, demam, dan sakit kepala.

Asam borat atau boraks (boric acid) merupakan zat pengawet berbahaya yang tidak diizinkan digunakan sebagai campuran bahan makanan. Boraks adalah senyawa kimia dengan rumus Na2B4O7 10H2O berbentuk kristal putih, tidak berbau dan stabil pada suhu dan tekanan normal. Dalam air, boraks berubah menjadi natrium hidroksida dan asam borat (Syah, 2005). Asam borat sering digunakan dalam dunia pengobatan dan kosmetika. Misalnya, larutan asam borat dalam air digunakan sebagai obat cuci mata dan dikenal sebagai boorwater. Asam borat juga digunakan sebagai obat kumur, semprot hidung, dan salep luka kecil. Namun, bahan ini tidak boleh diminum atau digunakan pada luka luas, karena beracun ketika terserap masuk dalam tubuh.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.722/Menkes/IX/1988, asam borat dan senyawanya merupakan salah satu dari jenis bahan tambahan makanan yang dilarang digunakan dalam produk makanan. Karena asam borat dan senyawanya merupakan senyawa kimia yang mempunyai sifat karsinogen. Meskipun boraks berbahaya bagi kesehatan ternyata masih banyak digunakan oleh masyarakat sebagai bahan tambahan makanan, karena selain berfungsi sebagai pengawet, boraks juga dapat memperbaiki tekstur bakso dan kerupuk hingga lebih kenyal dan lebih disukai konsumen (Mujianto, 2003).

Asam borat (H3BO3) merupakan senyawa bor yang dikenal juga dengan nama borax. Di Jawa Barat dikenal juga dengan nama “bleng”, di Jawa Tengah dan Jawa Timur dikenal dengan nama “pijer”. Digunakan/ditambahkan ke dalam pangan/bahan pangan sebagai pengental ataupun sebagai pengawet (Cahyadi, 2008).

Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan diperoleh data bahwa senyawa asam borat ini dipakai pada lontong agar teksturnya menjadi bagus dan kebanyakan ditambahkan pada proses pembuatan bakso. Komposisi dan bentuk asam borat mengandung 99,0% dan 100% H3BO3. Mempunyai bobot molekul 61,83 dengan B = 17,50% ; H = 4,88% ; O = 77,62% berbentuk serbuk hablur kristal transparan atau granul putih tak berwarna dan tak berbau serta agak manis (Cahyadi, 2008).

Karekteristik boraks antara lain (Riandini, 2008):

  1. Warna adalah jelas bersih
  2. Kilau seperti kaca
  3. Kristal ketransparanan adalah transparan ke tembus cahaya
  4. Sistem hablur adalah monoklin
  5. Perpecahan sempurna di satu arah
  6. Warna lapisan putih
  7. Mineral yang sejenis adalah kalsit, halit, hanksite, colemanite, ulexite dan garam asam bor yang lain
  8. Karakteristik yang lain: suatu rasa manis yang bersifat alkali.

Senyawa asam borat ini mempunyai sifat-sifat kimia sebagai berikut: jarak lebur sekitar 171°C, larut dalam 18 bagian air dingin, 4 bagian air mendidih, 5 bagian gliserol 85% dan tak larut dalam eter. Kelarutan dalam air bertambah dengan penambahan asam klorida, asam sitrat atau asam tetrat. Mudah menguap dengan pemanasan dan kehilangan satu molekul airnya pada suhu 100°C yang secara perlahan berubah menjadi asam metaborat (HBO2). Asam borat merupakan asam lemah dan garam alkalinya bersifat basa. Satu gram asam borat larut sempurna dalam 30 bagian air, menghasilkan larutan yang jernih dan tak berwarna. Asam borat tidak tercampur dengan alkali karbonat dan hidroksida (Cahyadi, 2008).

Efek boraks yang diberikan pada makanan dapat memperbaiki struktur dan tekstur makanan. Seperti contohnya bila boraks diberikan pada bakso dan lontong akan membuat bakso/lontong tersebut sangat kenyal dan tahan lama, sedangkan pada kerupuk yang mengandung boraks jika digoreng akan mengembang dan empuk serta memiliki tekstur yang bagus dan renyah. Parahnya, makanan yang telah diberi boraks dengan yang tidak atau masih alami, sulit untuk dibedakan jika hanya dengan panca indera, namun harus dilakukan uji khusus boraks di Laboratorium (Depkes RI, 2002).

Boraks bisa didapatkan dalam bentuk padat atau cair (natrium hidroksida atau asam borat). Baik boraks maupun asam borat memiliki sifat antiseptik dan biasa digunakan oleh industri farmasi sebagai ramuan obat, misalnya dalam salep, bedak, larutan kompres, obat oles mulut dan obat pencuci mata. Selain itu boraks juga digunakan sebagai bahan solder, pembuatan gelas,bahan pembersih/pelicin porselin, pengawet kayu dan antiseptik kayu (Aminah dan Himawan, 2009).

Meskipun bukan pengawet makanan, boraks sering pula digunakan sebagai pengawet makanan. Selain sebagai pengawet, bahan ini berfungsi pula mengenyalkan makanan. Makanan yang sering ditambahkan boraks diantaranya adalah bakso, lontong, mie, kerupuk, dan berbagai makanan tradisional seperti “lempeng” dan “alen-alen”. Di masyarakat daerah tertentu boraks juga dikenal dengan sebutan garam bleng, bleng atau pijer dan sering digunakan untuk mengawetkan nasi untuk dibuat makanan yang sering disebut legendar atau gendar (Yuliarti, 2007).

Boraks merupakan racun bagi semua sel. Pengaruhnya terhadap organ tubuh tergantung konsentrasi yang dicapai dalam organ tubuh. Karena kadar tertinggi tercapai pada waktu diekskresi maka ginjal merupakan organ yang paling terpengaruh dibandingkan dengan organ yang lain. Dosis tertinggi yaitu 10-20 gr/kg berat badan orang dewasa dan 5 gr/kg berat badan anak-anak akan menyebabkan keracunan bahkan kematian. Sedangkan dosis terendah yaitu dibawah 10-20 gr/kg berat badan orang dewasa dan kurang dari 5 gr/kg berat badan anak-anak (Saparinto dan Hidayati, 2006).

Efek negatif dari penggunaan boraks dalam pemanfaatannya yang salah pada kehidupan dapat berdampak sangat buruk pada kesehatan manusia. Boraks memiliki efek racun yang sangat berbahaya pada sistem metabolisme manusia sebagai halnya zat-zat tambahan makanan lain yang merusak kesehatan manusia.

Mengkonsumsi boraks dalam makanan tidak secara langsung berakibat buruk, namun sifatnya terakumulasi (tertimbun) sedikit-demi sedikit dalam organ hati, otak dan testis. Boraks tidak hanya diserap melalui pencernaan namun juga dapat diserap melalui kulit. Boraks yang terserap dalam tubuh dalam jumlah kecil akan dikelurkan melalui air kemih dan tinja, serta sangat sedikit melalui keringat. Boraks bukan hanya menganggu enzim-enzim metabolisme tetapi juga menganggu alat reproduksi pria (Artika, 2009).

Sering mengkonsumsi makanan berboraks akan menyebabkan gangguan otak, hati, lemak dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan bahkan kematian (Widyaningsih dan Murtini, 2006).

Keracunan kronis dapat disebabkan oleh absorpsi dalam waktu lama. Akibat yang timbul diantaranya anoreksia, berat badan turun, muntah, diare, ruam kulit, alposia, anemia dan konvulsi. Penggunaan boraks apabila dikonsumsi secara terus-menerus dapat mengganggu gerak pencernaan usus, kelainan pada susunan saraf, depresi dan kekacauan mental. Dalam jumlah serta dosis tertentu, boraks bisa mengakibatkan degradasi mental, serta rusaknya saluran pencernaan, ginjal, hati dankulit karena boraks cepat diabsorbsi oleh saluran pernapasan dan pencernaan, kulit yang luka atau membran mukosa (Saparinto dan Hidayati, 2006).

Gejala awal keracunan boraks bisa berlangsung beberapa jam hingga seminggu setelah mengonsumsi atau kontak dalam dosis toksis. Gejala klinis keracunan boraks biasanya ditandai dengan hal-hal berikut:

  1. Sakit perut sebelah atas, muntah dan mencret
  2. Sakit kepala, gelisah
  3. Penyakit kulit berat
  4. Muka pucat dan kadang-kadang kulit kebiruan
  5. Sesak nafas dan kegagalan sirkulasi darah
  6. Hilangnya cairan dalam tubuh
  7. Degenerasi lemak hati dan ginjal
  8. Otot-otot muka dan anggota badan bergetar diikuti dengan kejang-kejang
  9. Kadang-kadang tidak kencing dan sakit kuning
  10. Tidak memiliki nafsu makan, diare ringan dan sakit kepala
  11. Kematian (Saparinto dan Hidayati, 2006)

BAB III

MATERI DAN METODE

MATERI

    1. ALAT
      1. Mortar  dan stemper
      2. Glass Beker 50 ml / 100 ml
      3. Labu Erlenmeyer 50 ml
      4. Cawan cruss
      5. Open
      6. Furnace
      7. Kompor
      8. Pipet
      9. Cawan penguap
      10. Kertas Curcumin
      11. Cuvet
      12. Spatula
      13. Korek api
      14. Tissue
      15. Alat tulis untuk mencatat
  1. BAHAN
    1. Kerupuk Rambak
    2. Asam sulfat pekat
    3. Methanol absolute
    4. Asam Klorida 5 N
    5. Asam Oksalat Jenuh
    6. Larutan Kurkumin 1% dalam methanol
    7. NH4OH

METODE

  1. Disiapkan seluruh alat dan bahan yang akan digunakan,
  2. Diambil 10 bagian sampel dan dicampur dengan 1 bagian kapur (CaO), dilembabkan dengan air, dan dikeringkan dalam oven kemudian diabukan hingga sempurna,
  3. Sebagian abu ditambah sedikit asam sulfat pekat dan methanol kemusian dibakar,
  4. Jika nyala api hijau maka menunjukkan adanya borak,
  5. Sebagian abu yang lain ditambah asam khlorida 5 N sampai larutan bereaksi asam, disaring ke dalam cawan penguap, ditambah 4 tetes larutan asam oksalat jenuh dan 1 ml larutan kurkumin 1% dalam methanol, kemudian diuapkan diatas tangas air,
  6. Warna merah cemerlang bila diberi uap Ammonia berubah menjadi hijau tua kehitaman, menunjukan adanya Borak.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL

Sampel  Kerupuk Rambak dinyatakan Negatif atau tidak mengandung Borak karena pada saat pembakaran nyala api tetap berwarna merah, dan pada saat diberi uap ammonia warna tidak berubah menjadi hijuan tua kehitaman.

PEMBAHASAN

Dari hasil yang ada, dapat dijelaskan bahwa kerupuk adalah salah satu makanan ringan yang dapat digunakan sebagai lauk pada saat makan ataupun sebagai camilan. Banyak orang yang gemar mengkonsumsi kerupuk pada saat makan. Apalagi jika menu makanan yang dikonsumsi menunjang untuk menggunakan kerupuk sebagai penyempurna makan, seperti bakso, soto, nasi goreng, gado-gado dan lain-lain.

Di daerah sekitar kita, ada berbagai macam kerupuk yang biasa dipasarkan kepada konsumen, diantaranya yaitu kerupuk rambak, kerupuk udang, kerupuk jengkol, kerupuk ikan, kerupuk terasi, dan lain sebagainya. Untuk menjadikan biaya produksi (modal) dikeluarkan sekecil-kecilnya dan hasil (laba) diperoleh sebesar-besarnya, para produsen menggunakan berbagai cara agar produksinya tetap berjalan normal bahkan meningkat seperti halnya menggunakan bahan tambahan pangan ataupun bahan pengawet misalnya Borak yang jika digunakan sembarangan (dosisnya) jelas berbahaya bagi tubuh manusia. Namun produsen tidak memikirkan dampak yang terjadi pada tubuh konsumen jika dikonsumsi secara terus menerus. Oleh karena itu kita sebagai konsumen harus dapat memilih makanan yang kita beli agar apabila dikonsumsi tidak menjadi racun pada tubuh kita dengan berbagai macam dampak yang mungkin terjadi bahkan hingga terjadi kematian.

Pada praktikum identifikasi borak dalam makanan, kelompok kami menggunakan sampel berupa kerupuk rambak. Kerupuk rambak sering dijumpai diwarung-warung sekitar kita. Selain rasanya enak untuk makan, harganya juga relative murah. Sehingga memicu pembeli untuk lebih memilihnya. Kerupuk rambak yang dipasarkan diwarung-warung sekitar kita biasanya telah dibungkus menggunakan plastik sesuai harga yang ada, mulai dari Rp. 1.000 per bungkus, Rp. 2000 per bungkus namun ada juga yang diecerkan perbiji.

Kita sebagai konsumen hanya dapat menikmati kerupuk tersebut tanpa mengetahui bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatannya. Setelah kita melaksanakan praktikum identifikasi ini, kita dapat mengetahui ada tidaknya kandungan bahan tambahan makanan Borak pada kerupuk rambak.

Boraks adalah senyawa kimia yang mempunyai sifat dapat mengembangkan, memberi efek kenyal, serta membunuh mikroba. Boraks sering digunakan oleh produsen untuk dijadikan zat tambahan makanan (ZTM) pada bakso, tahu, mie, bihun, kerupuk, maupun lontong. Keberadaan boraks pada makanan tidak ditoleransi (tidak boleh ada dalam kadar berapapun, red.) karena sangat berbahaya bagi kesehatan, oleh sebab itu penggunaan boraks dilarang (tidak ada standar kadar boraks dalam makanan) oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Boraks sejak lama telah digunakan masyarakat untuk pembuatan gendar nasi, kerupuk gendar, atau kerupuk puli yang secara tradisional di Jawa disebut “Karak” atau “Lempeng”. Disamping itu boraks digunakan untuk industri makanan seperti dalam pembuatan mie basah, lontong, ketupat, bakso bahkan dalam pembuatan kecap. Jika kerupuk tidak pakai boraks biasanya kerupuk akan menjadi bantat dan tidak mekar sehingga bentuknya jelek serta tidak menarik. Sedangkan untuk industri mie akan membuat tekstur mie menjadi lebih baik, lebih elastis, lebih kenyal serta tidak mudah putus.

Bagi masyarakat awam mungkin agak sulit untuk membedakan mana kerupuk yang memakai boraks dan tidak. Biasanya jika teksturnya bagus dan renyah biasanya kerupuk itu mengandung boraks. Meskipun demikian, sebetulnya kandungan boraks tersebut bisa dirasakan oleh lidah kita yaitu adanya suatu rasa yang agak getir atau pahit yang tertinggal di mulut setelah mengkonsumsi beberapa kali kerupuk atau makanan tersebut.

Mengkonsumsi boraks dalam makanan tidak secara langsung berakibat buruk, namun sifatnya terakumulasi (tertimbun) sedikit-demi sedikit dalam organ hati, otak dan testis. Boraks tidak hanya diserap melalui pencernaan namun juga dapat diserap melalui kulit. Boraks yang terserap dalam tubuh dalam jumlah kecil akan dikeluarkan melalui air kemih dan tinja, serta sangat sedikit melalui keringat. Boraks bukan hanya menganggu enzim-enzim metabolisme tetapi juga menganggu alat reproduksi pria.

Setelah praktikum dilaksanakan, sebagian abu dari proses pembakaran kerupuk yang telah dihancurkan kemudian dicampur kapur dan diberi sedikit asam sulfat pekat + methanol, pembakaran abu tersebut menghasilkan warna api merah yang menunjukkan bahwa kerupuk rambak tersebut Negatif atau tidak mengandung borak.

Selain itu, sebagian abu yang disisihkan, kemudian ditambah asam klorida 5 N, disaring ke dalam cawan penguap, ditambah 4 tetes asam oksalat jenuh, dan 1 ml larutan kurkumin 1% dalam methanol, kemudian diberi uap ammonia menghasilkan warna yang tetap seperti semula (tidak terjadi perubahan warna). Hal tersebut menunjukkan bahwa kerupuk rambak yang kami gunakan sebagai sampel tidak mengandung borak pada produksi hari tersebut. Karena apabila mengandung borak, warna merah cemerlang bila diberi uap ammonia akan menjadi hijau tua kehitaman.

Dari hal tersebut dapat diketahui ciri-ciri kerupuk yang mengandung boraks yaitu: teksturnya renyah dan bagus dan bisa menimbulkan rasa getir, jika digoreng akan mengembang dan empuk.

Berikut beberapa tips aman memilih makanan:

  1. Amati warnanya, mencolok atau tidak.

Amati apakah makanan tersebut berwarna mencolok atau jauh berbeda dari warna aslinya. Snack, kerupuk, mi, es krim yang berwarna terlalu mencolok ada kemungkinan telah ditambahi zat pewarna yang tidak aman.

  1. Cicipi rasa.

Biasanya lidah cukup jeli untuk membedakan mana makanan yang aman atau tidak. Makanan yang tidak aman umumnya berasa tajam, misal sangat gurih, membuat lidah bergetar dan tenggorakan gatal.

  1. Baui aromanya.

Bau apek atau tengik pertanda makanan tersebut sudah rusak atau terkontaminasi oleh mikroorganisme.

  1. Amati komposisi.

Bacalah dengan teliti adakah kandungan bahan-bahan makanan tambahan yang bahaya dan bisa merusak kesehatan.

  1. Perhatikan kualitas.

Perhatikan kualitas makanan, apakah masih segar atau sudah berjamur yang bisa menyebabkan keracunan. Makanan yang sudah berjamur menandakan proses tidak berjalan dengan baik atau sudah kedaluwarsa.

  1. Terdaftar di BPOM.

Bila hendak membeli makanan impor, usahakan produknya telah terdaftar di BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), yang bisa dicermati dalam label yang tertera di kemasannya.

BAB V

KESIMPULAN

 

Dari pembahasan yang ada, dapat disimpulkan:

  1. Praktikum dilaksanakan dengan menggunakan Kerupuk Rambak sebagai sampel.
  2. Boraks atau dalam nama ilmiahnya dikenal sebagai sodium tetraborate decahydrate merupakan bahan pengawet yang dikenal masyarakat awam untuk mengawetkan kayu, antiseptik kayu dan pengontrol kecoa. Tampilan fisik boraks adalah berbentuk serbuk kristal putih. Boraks tidak memiliki bau jika dihirup menggunakan indera pencium serta tidak larut dalam alkohol. Borak juga merupakan senyawa kimia berbahaya untuk pangan dengan nama kimia natrium tetrabonat (NaB4O7 10H2O). Dapat dijumpai dalam bentuk padat dan jika larut dalam air akan menjadi natrium hidroksida dan asam borat (H3BO3). Boraks atau asam borat biasa digunakan sebagai bahan pembuat deterjen, bersifat antiseptik dan mengurangi kesadahan air. Oleh karena itu penggunaannya dilarang untuk bahan tambahan pangan.
  3. Pembakaran sebagian abu menghasilkan warna api merah yang menunjukkan bahwa kerupuk rambak tersebut Negatif atau tidak mengandung borak. Dan sebagian abu yang lain setelah diberi uap ammonia menghasilkan warna yang tetap seperti semula (merah cemerlang) atau tidak terjadi perubahan warna. Hal tersebut menunjukkan bahwa kerupuk rambak yang kami gunakan sebagai sampel tidak mengandung borak pada produksi hari tersebut.
  4. Ciri-ciri kerupuk yang mengandung boraks yaitu: teksturnya renyah dan bagus dan bisa menimbulkan rasa getir, jika digoreng akan mengembang dan empuk.

DAFTAR PUSTAKA


 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s